PENEMBAHAN SEGERAM. MAKTAB NANGQ 1857 Dewan Pimpinan Pusat Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Kesultanan Kadriah Pontianak. Kantor Pusat Jalan Seliung
Masjid Agung Natuna di bangun pada tahun 2007 M dan selesai di bangun pada tahun 2009 M
Saat ini Masjid Agung Natuna Bunguran Timur sudah berusia 16 tahun, di sekeliling Masjid Agung Natuna Kota Ranai Bungguran Timur ini terdapat instansi pemerintah yang di bangun melingkari Madjid Agung Natuna
Berhadapan Masjid Agung Natuna terdapat tiga buah bangunan yang megah yaitu STAI NATUNA yang saat ini sebagai kepala STAI NATUNA RANAI adala
h Dr. Umar Natuna. M.Pd.I
Kampus STAI NATUNA RANAI di Poto dari arah Masjid Agung Natuna Kota Ranai Bungguran Timur Natuna Kepulauan Riau, salah satu pemandangan yang sangat indah
Hari ini : Rabu 7 Mei 2025 M / 8 Julqidah 1446 H
Pengiriman 10 Mahasiswa STAI NATUNA di Kampung Segeram Kelurahan Sedanau Kecamatan Bungguran Barat Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Konferensi Internasional Seminar Sehari Kampung Segeram Minggu 6 Oktober 2024 di Aula STAI NATUNA RANAI Bungguran Timur Natuna,
merupakan salah satu Agenda STAI NATUNA RANAI Bungguran Timur setiap tahun
Pintu Gerbang Selamat Datang Di Kampung Tua Segeram
Kampung Adat Betua Segeram Kampung yang menyimpan sejuta misteri yang meninggalkan begitu banyak Sejarah masa lampau yang belum dapat terungkap dengan sempurna
Kampung Tua Betua Segeram Kampung yang menyimpan sejuta pertanyaan karena di kampung ini misteri - misteri masa lalu belum mampu di buka tiranya hingga lebih dari 500 tahun yang lalu
Kampung Betua berawalnya Makan Hol oleh penghuni awal peradaban Segeram sebagai titik Awal Islam Natuna
Yang sedikit demi sedikit tabir yang menutup Sejarah kampung Segeram mulai terkuak dia adalah Manusia pertama dari kalangan Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam baik di akui atau tidak di akui dunia tetapi alam ghaib telah mengakui itu dengan sempurna tanpa dinding pemisah, hanya manusia Munafik yang berkedok Islam yang menolak hal tersebut
Segeram Kampung Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam Pertama yang masuk di Natuna yang membangun Peradaban Islam sebagai titik awal peradaban Islam di Bungguran Pulau Natuna tepatnya di Kampung Adat Betua Segeram
Kampung awalnya tempat ""Makan Hol"" yang kemudian berkembang di Natuna dan Pulau - pulau sekitar Natuna
Berawal dari Dua Orang Sahabat Sayid Tun Jana Al - Hatib dan Sayid Ahmad Jamalullail.masuk Natuna melalui Samudra Pasai pada tahun 1417 M
Sayid Tun Jana Hatib berasal dari Maroko sedang Sayid Ahmad Jamalullail berasal dari Ariadha Yaman Selatan
Setelah mereka bertemu kemudian berangkat dengan tujuan Negeri Asia sebuah Pulau "Qumuran" pulau yang berbentuk bawang merah
yang kemudian oleh Maharaja Singgapura beliau di kenal sebagai Tun Bungguran ''Qumuran" yang bearti Pulau mirip bawang Merah 1448 M, ketika silaturahmi sejak saat itu di kenalah sebagai ""BUNGURAN "" dan Sahabat Beliau Sayid Ahmad Jamalullail yang kemudian di kenal sebagai Wan Abdul Kahar yang menetap sebuah kampung yang tiada bernama kemudian satu tahun Kemudian oleh anaknya Wan Hamid Jamalullail 1449 M memberinya nama dengan nama ""SEGARAM " sesuai kondisi saat itu Rakyat Segaram membuka Tambak - tambak Garam atas saran dan ajakan Wan Hamid Jamalullail
Sedangkan nama Wan Abdul Kahar Jamalullail di beri atas kelakar mereka berdua ketika Sayid Tun Jana Hatib berkunjung di Istana Raja Singgapura, Raja bertanya tentang prihal "'Qumuran" sehingga menjadi bahan candaan mereka berdua tentang nama baru yang di sematkan Raja kepada Sayid Tun Jana Hatib menjadi ""Tun Bungguran""
Karena Sayid Ahmad Jamalullail tertawa terbahak - bahak tiba - tiba Sayid Tun Jana Hatib berkata tertawanya Sayid Ahmad Jamalullail sangat Kahar
Sehingga timbullah ide Sayid Ahmad Jamalullail akan memberi nama cucunya jika Wan Hamid Jamalullail bin Sayid Ahmad Jamalullail melahirkan anak laki-laki pertama
Yang kemudian setelah benar melahirkan anak laki-laki pertama maka cucunya di beri nama Wan Abdul Kahar Jamalullail
Konferensi Internasional Sehari Kampung Segeram Minggu 6 Oktober 2024 M di Kampus STAI NATUNA RANAI Bungguran Timur Natuna Kepulauan Riau
Kepala STAI NATUNA RANAI Dr Umar Natuna.,M.Pd.I dalam Sambutan Pembukaan Konferensi Internal Nasional Seminar Sehari Kampung Segeram Minggu 6 Oktober 2024 M
Dengan Tema ""Transformasi Warisan Khazanah Dan Modal Sosial Bangsa Melayu Menuju Melayu Baru"" yang bertujuan menggali Khazanah Melayu, Khususnya di Kampung Segeram
Bahwa Kampung Segeram, sebagai perkampungan tua di Pulau Bungguran, menyimpan sejuta kisah peradaban Melayu yang gemilang.
Sambutan PJS Bupati Natuna Dr. Rika Azmi dalam Konferensi Internasional Seminar Sehari Kampung Segeram Minggu 6 Oktober 2024 M
Di Kampus STAI NATUNA RANAI Bungguran Timur Natuna Kepulauan Riau
Dr. Rika Azmi mengatakan Kampung Tua Segeram merupakan Titik Awal dari Peradaban Islam di Natuna
Sambutan dan Testimoni Ketua Maktab NanGq 1857 Dewan Pimpinan Pusat Pontianak, Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Syarif Ja''far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri, Arif Candra Alkadri., LC. S.Pd.I., MSi
Hasil dari testimoni Kampung Segeram yang di sampaikan secara garis besarnya adalah :
1. Penembahan Kerajaan Segeram Wan Hamid Jamalullail I bin Wan Abdul Kahar (Sayid Ahmad Jamalullail) pendiri dan Raja Pertama memerintah dari tahun 1449 M sd 1519 M dan berlanjut hingga Enam Generasi berakhir di Pangeran Negara Segeram Wan Abdullah Jamalullail Generasi ke VI dari tahun 1449 M sd 1769 M selama 320 tahun Enam Generasi
2. Runtuhnya Penembahan Kerajaan Segeram di tangan Portugis Ahir tahun 1769 M sd 1771 M dan Portugis meninggal Segeram pada tahun 1778 M karena kalah dalam perang laut dengan Belanda kemudian Belanda menguasai perairan Natuna / Bungguran
3. Masuknya Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Bin Sayyid Husein Alkadri dari tahun 1779 M sd 1944 M bersama anak cucunya termasuk cucunya Penembahan Kerajaan Segeram yaitu Wan Abdul Wahid Bin Pangeran Negara Wan Abdullah Jamalullail
4. Penyampaian Data nama - nama Leluhur Makam Kampung Segeram dan ciri khas makam Periode Pertama dan Periode ketiga
Empat rangkuman ini menjadi catatan sangat penting karena saling berkaitan satu sama lainnya tentang peradaban Kampung Segeram sebagai titik awal peradaban Islam di Pulau Natuna / Bungguran yang berciri khas MELAYU
Prof. Dr. Wan Mohammad Yusuf dari Universitas Ali Jainal Abiddin Terengganu Malaysia
Sejarah merupakan awal dari sebuah peradaban dari suatu Wilayah, maka Kampung Segeram merupakan awal dari peradaban di Pulau Natuna
Tarian ciri Khas Melayu Natuna Sambutan Pembukaan Konferensi Internasional Seminar Sehari Kampung Segeram Minggu 6 Oktober 2024 M di Aula Kampus STAI NATUNA RANAI Bungguran Timur Natuna Kepulauan Riau
Diskusi aktualisasi tentang Kampung Segeram dalam Konferensi Internasional Seminar Sehari Kampung Segeram Minggu 6 Oktober 2024 M Aula Kampus STAI NATUNA RANAI Bungguran Timur
Duflikat Istanah Penembahan Kerajaan Segeram Hasil Wan Muhammad (terkenal sebagai Datuk Kaya Pulau Bungguran) Bin Wan Abdul Wahid Jamalullail (Datuk Kaya Muara Segeram) ukuran 27 x 27 Meter
Duflikat Istanah Penembahan Kerajaan Segeram di buat sekitar tahun 1779 M karena di rencanakan akan di bangun kembali sebagai Bukti Historis tentang Penembahan Kerajaan Segeram kemudian di kirim ke Pontianak oleh Utusan dari Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri, akan tetapi setelah tiba di Pontianak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sejak 11 Juli 1779 M sudah berlayar ke Belanda, sehingga Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri memutuskan untuk membatalkanya karena menunggu terlalu lama tanpa kepastian
Manuskrip tahun 1449 M sd 1769 M Penembahan Kerajaan Segeram Wan Hamid Jamalullail Satu,
Kemudian Poto Duflikat Istanah Penembahan Kerajaan Segeram di Pegang Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri untuk di jadikan Dokumen Kuhsus dari Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri tentang Penembahan Kerajaan Segeram Wan Hamid Jamalullail I, hingga saat ini menjadi Manuskrip tua Maktab NanGq 1857
Makna ukuran 27 x 27 Meter Istanah Penembahan Kerajaan Segeram mengandung Falsafah bahwa :
1. Kesetiaan yang selaras Seimbang antara umat manusia dengan makhluk lainya
2. Kejujuran yang selaras antara umat manusia
3. Keihklasan yang selaras antara umat manusia
4. Kepercayaan yang selaras antara sesama umat manusia
5. Kearifan lokal yang selaras antara budaya leluhur umat manusia
6. Keimanan yang selaras dengan alam manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala
Manuskrip tahun 1449 M sd 1769 M Penembahan Kerajaan Segeram Wan Hamid Jamalullail Satu generasi pertama 1449 M sd generasi ke enam Penembahan Kerajaan Segeram 1769 M
Istanah Penembahan Kerajaan Segeram berukuran 27 x 27 Meter terdiri dari :
1. Teras Depan berukuran panjang 27 M x lebar 5 M
2. Teras samping kanan dan kiri masing masing panjang 27 M x lebar 2,5 M
3. Dapur Lebar 22 M x Panjang 4 M, kanan dan kiri bagian Selasar yang memanjang dari luar hingga ke dapur
4. Ruang tamu Lebar 22 M x Panjang 7 M
5. Sisa ruangan Lebar 22 M x Panjang 11 M digunakan untuk :
1. Kamar Raja dan Permaisuri
2. Kamar Putri
3. Kamar Putra
4. Kamar Dayang dan
5. Kamar Dayang Dapur berada di dapur dan gudang tersendiri
6. Istanah Penembahan Kerajaan Segeram di pagar keliling dan di sediakan empat pintu gerbang masuk. dan satu Pintu Gerbang Utama
Sistem penjagaan di Istanah Penembahan Kerajaan Segeram Wan Hamid Jamalullail I Satu
1. Penjagaan Lingkungan Istanah :
1. Pintu gerbang utama di jaga 7 pasukan
2. Pintu gerbang kanan dan kiri masing masing 2 pasukan
3. Pintu gerbang belakang di jaga 2 pasukan, pintu ini sekaligus tempat masuknya pejiarah karena Istanah di pagar menjadi satu dengan lokasi makam sedangkan di dalam makam di jaga empat Pasukan setiap penjurunya
2. Penjagaan dalam Istanah :
1. Pintu utama Istanah di jaga 2 pasukan
2. Samping raja kanan dan kiri masing masing 2 pasukan,
3. Kamar Raja dan Permaisuri 2 pasukan
4. Kamar Putra dan putri masing masing 2 pasukan
5. Kamar Dayang dan Dapur umum masing masing 2 pasukan
3. Penjagaan Wilayah Kerajaan Penembahan Segeram :
1. Teluk Panglime di jaga 7 Pasukan satu pos jaga dengan rumah tinggal
2. Tanjung Senibung di jaga 7 Pasukan satu pos jaga dengan rumah tinggal pasukan
3. Pantai. Sahi di jaga 7 Pasukan satu pos jaga dengan rumah tinggal pasukan
4. Aek Licen di jaga 7 Pasukan satu pos jaga dengan rumah tinggal pasukan
5. Pantai Panjang di jaga 7 Pasukan satu pos jaga dengan rumah tinggal pasukan
6. Pantai Buton di jaga 7 Pasukan satu pos jaga dengan rumah tinggal pasukan
7. Tanjung Pasir di jaga 17 Pasukan dua pos jaga dengan rumah tinggal pasukan, termasuk pengamanan Tambang Pasir Caliska / Kwarsa
8. Pasir Panjang di jaga 17 Pasukan dua pos jaga dengan rumah tinggal pasukan, termasuk pengaman Tambang Pasir Caliska / Kwarsa
9. Pantai Pasir Maruk di jaga 7 Pasukan satu pos jaga dengan rumah tinggal pasukan
10. Tanjung Bayan di jaga 7 Pasukan satu pos jaga dengan rumah tinggal pasukan
11. Tanjung Belitong 7 pasukan satu pos jaga dengan rumah tinggal pasukan
12. Pulau Batang 17 Pasukan dua pos jaga dengan rumah tinggal, termasuk pengamanan Darmaga angkutan Pasir Caliska / Kwarsa
13. Kampung Sebuton 7 pasukan satu pos jaga dengan rumah tinggal pasukan
14. Pulau Tiga 17 Pasukan dua pos jaga dengan rumah tinggal pasukan
15. Selat Lampa 17 Pasukan dua pos jaga dengan rumah tinggal pasukan
16. Teluk Depe 7 Pasukan satu pos jaga dengan rumah tinggal pasukan
17. Sedanau 17 Pasukan dua pos jaga dengan rumah tinggal pasukan
Dengan adanya pos jaga pasukan menunjukkan Penembahan Kerajaan q BuSegeram, Wilayah Kekuasaannya hanya di Natuna / Bungguran dan Pulau - pulau sekitarnya
Kondisi Kampung Tua Adat Segeram Kelurahan Sedanau Kecamatan Bungguran Barat Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau saat ini 2025 M
PENEMBAHAN KERAJAAN SEGERAM
31. WAN HAMID JAMALULLAIL I DUA (1449 M - 1519 M) selama 70 tahun
30. Bin Wan Abdul Kahar Sayid Ahmad Jamalullail
Pendiri dan Raja Kerajaan Penembahan Segeram Pulai Bungguran Natuna
RAJA PERTAMA KERAJAAN SEGERAM
Berkuasa selama 70 tahun dari tahun 1449 M.sd 1519 M
Gelar :
1. Maharaja Di Pertuan Agung Segeram
2. Pangeran Negara Kerajaan Segeram
Isttri :
DAYANG KOMALASARI
Binti Opu Daeng Borang Sayid Syek Alwi Aladeni Qaulan Jazirah
Gelar :
1. Maharatu Suri Mahkota Agung Segeram
2. Ratu Segeram
Menjadi Ratu selama 80 tahun 1449 M sd 1529 M
Dayang Komalasari memiliki adik kandung bernama Opu Daeng Tandre Sayid Ali Adeni Qaulan Jazirah yang memiliki salah satu anak bernama Opu Daeng Ladamusilat Sayid Syech Moehammad Adeni Qaulan Jazirah Raja Ulu Sulawesi Selatan memiliki anak bernama Opu Daeng Tandre Borang Daeng Rilaka Sayid Syech Ahmad Adeni Qaulan Jazirah Raja Ulu Sulawesi Selatan dan memiliki beberapa anak salah satunya Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu bakar Aldeni Qaulan Jazirah Raja Penembahan Mempawah
Ketika menjadi RAJA Penembahan Kerajaan Segeram I SATU usaha Kerajaan yang menjadi unggulan adalah :
1. Perluasan tambak Garam di Seluruh Pantai - pantai Pulau Natuna yang berpotensi menghasilkan garam terbaik
2. Membuka jaringan penjualan hasil tambang Pasir Cilikan / Kwarsa ke Negeri Cina
3. Membuka perluasan usaha perkebunan cengkeh juga di kirim ke cina dan juga untuk keperluan rakyat Penembahan Kerajaan Segeram
4. Memperluasan usaha pengeringan ikan dan ikan basa yang di kirim ke Pulau Borneo Barat
5. Kerajinan Keramik dari Batu Karang yang di jual di pasaran Natuna juga di kirim ke luar Natuna
Kelima usaha ini menjadi Prioritas utama Kerajaan Penembahan Segeram dalam usaha bidang ekonomi
Bidang Sosial dan Ke Agamaan Kebijakan Raja Penembahan Segeram adalah :
1. Kampung Makan Hol di kenal sebagai ""Makan Hol" adalah tradisi yang di laksanakan setiap tahun untuk mengenang arwah leluhur Segeram maupun Pulau Bungguran Natuna dan Pulau sekitarnya yang menjadi wilayah kekuasaan Penembahan Kerajaan Segeram baik di kalangan Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam maupun dari Masyarakat biasa dalam bentuk acara yang di dalamnya biasa di bacakan Sholawat (Semacam Berjanji) yang di iringi alat - alat Hadroh perpaduan Adat Melayu dan Arab karena Syair Sholawat dalam bahasa Arab" baik yang di karang sendiri oleh Ulama - ulama di jaman Penembahan Kerajaan Segeram Wan Hamid Jamalullail I maupun Ulama terdahulu awal masuknya Islam tetapi nama - nama mereka tidak tercantum dalam sejarah seperti Sayid Muhammad Jeumpa Ulama asal Jeumpa yang menjadi Mufthi Pertama Penembahan Kerajaan Segeram 1450 M sd 1509 M selama 59 tahun, sebab meninggalnya beliau inilah pertama kali di mulainya ""Tradisi Makan Hol"" yang pertama kali di buat oleh Wan Hamid Jamalullail I Penembahan Kerajaan Segeram, yang kemudian berkembang hingga saat ini di Natuna dan Pulau sekitarnya, setelah beliau wafat maka anaknya Sayid Ali Jainuddin Jeumpa Aceh mengantikan ayahnya sebagai Mufthi Kerajaan Penembahan Segeram WAN Hamid Jamalullail I Satu 1509 M - 1569 M, Selama 60 tahun hingga wafatnya beliau, saat sakit beliau pulang ke Jeumpa dan meninggal di Jeumpa Aceh sedangkan ayahnya di makamkan di Segeram komplek makam Penembahan Kerajaan Segeram
Tradisi "" Makan Hol "'Haulnya leluhur makam Segeram"" terakhir juga di laksanakan Sabtu Malam Minggu 5 Oktober 2024 M ba,da Isa di Masjid Baru Al - Bihar Segeram di Laksanakan oleh STAI NATUNA RANAI bersama Masyarakat Segeram secara sederhana setelah selesainya Identifikasi makam Tua Segeram
2. Pembentukan Majelis - majelis Pengajian di malam Jum'at
3. Pembentukan Group - group Sholawat yang di iringi alat Hadroh maupun Gambus perpaduan Arab Melayu dan Syair Sholawat di serta Syair - syair berciri khas Melayu Bungguran Natuna dan lainya
Anak - anak WAN Hamid Jamalullail dengan Permaisuri Dayang Komalasari salah satunya adalah :
Istanah Penembahan Kerajaan Segeram Wan Hamid Jamalullail I Satu dapat di lihat dengan jelas dari arah Muara Laut Segeram
32. WAN ABDUL MAJID JAMALULLAIL II DUA (1519 - 1569 M) menjabat selama 50 tahun
Bin Wan Hamid Jamalullail Pendiri dan Raja Penembahan Segeram Satu merupakan anak bungsu dari empat bersaudara, karena Abang kandung tertua menetap di Teluk Panglime dan tidak mau menjadi RAJA Penembahan Kerajaan Segeram II Dua beliau adalah :
WAN Abdul Kahar Jamalullail demikian juga dengan
WAN Moehammad Jamalullail menetap di Aek Licen dan juga tidak mau meneruskan Kerajaan Segeram
WAN Abdul Kahar Jamalullail terkenal sebagai Datuk Kaya Dina Mahkota Teluk Panglime Bungguran Barat Pangeran Mahkota Segeram pertama sedangkan
WAN Moehammad terkenal sebagai Datuk Kaya Dina Mahkota Aek Licen Bungguran Utara Laut Pangeran Mahkota Segeram Kedua
Gelar :
PANGERAN NEGARA SEGERAM
WAN ABDUL MAJID JAMALULLAIL
Istri : Dayang Fatimah binti Opu Daeng Andi Karaeng
Gelar :
PUTRI NEGARA SEGERAM
WAN ABDUL MAJID JAMALULLAIL dari Pernikahan dengan Dayang Fatimah memiliki tiga anak salah satunya adalah :
Salah satu rumah masyarakat pinggiran Muara Laut Segeram
33. WAN MOEHAMMAD JAMALULLAIL III TIGA 32. Bin Wan Abdul Majid 31. Bin Wan Hamid Jamalullail Satu
Menjabat dari tahun 1569 M sd 1626 M Selama 57 tahun
Gelar :
PANGERAN NEGARA SEGERAM
Istri : Dayang Kesuma binti Opu Daeng Andi keturunan dari Opu Daeng Tondreng Sayid Ali Adeni Qaulan Jazirah Cucu sepupuh dari Dayang Komalasari Adeni Qaulan Jazirah
Memiliki dua orang anak salah satunya adalah :
Rumah Masyarakat pinggiran Muara Laut Segeram
34. WAN ABDUL JABAR JAMALULLAIL IV EMPAT 33. Bin Wan Moehammad 32. Bin Wan Abdul Majid 31. Bin Wan Hamid Jamalullail Satu
menjabat dari tahun 1569 M - 1626 M, menjabat selama 57 tahun
Gelar :
PANGERAN NEGARA SEGERAM
Istri : Dayang Kesumbi Binti Wan Muhammad Jeumpa .....
Memiliki Lima anak, salah satu keturunan anak yang bungsu adalah :
Aktivitas masyarakat Segeram
35. WAH ABDUL MUFTHI JAMALULLAIL V LIMA, 34. Bin Wan Abdul Jabar 33. Bin Wan Moehammad 32. Bin Wan Abdul Majid 31 Bin Wan Hamid Jamalullail Satu
Pmmenjabat dari tahun 1626 M ,- 1679 M , selama 53 tahun
Istri :
Putri Dayang Intan Sukmah binti Opu Daeng Narang
memiliki dua orang anak, anak tertua adalah :
Masjid Al - Bihar Kampung Tua Adat Segeram di bangun tahun 1980 M menurut informasi Sesepuh Kampung Segeram
36. WAN ABDULLAH JAMALULLAIL VI ENAM,
35. Bin Wan Abdul Mufthi 34. Bin Wan Abdul Jabar 33.Bin Wan Moehammad 32. Bin Wan Abdul Majid 31 Bin Wan Hamid Jamalullail I
Menjabat dari tahun 1679 M - 1769 M, Menjabat Selama 90 tahun
Gelar : PANGERAN NEGARA SEGERAM VI ENAM PENERIMA SEGERAM TERAKHIR
Pada Ahir tahun 1769 M Kerajaan Segeram di serang Portugis ketika akan pergantian Tampuk dari generasi ke Enam ke Generasi ke Tujuh Wan Abdul Wahid Jamalullail tetapi gagal karena serangan tersebut, sebab Istanah dan Makam Penembahan Kerajaan Segeram di hancurkan Portugis hingga menyisakan puing - puing kehancuran sementara Wan Abdul Wahid Jamalullail mengungsi salah satu pulau kecil yang tidak bertuan
Beliau kembali lagi ke Segeram setelah mendengar berita bahwa Portugis sudah keluar dari Segeram 1778 M karana kalah perang laut dengan pihak Belanda, saat itu Belanda tidak masuk Segeram melainkan masuk di Aek Licen, maka sejak saat itu perairan Natuna di kuasai oleh pihak Belanda
Istri :
Dayang Usmadewi binti Opu Daeng Samboja merupakan keturunan dari Opu Daeng Tandre Sayid Syech Ali Adeni Qaulan Jazirah
Memiliki tiga anak yaitu :
37.1. WAN ABDUL WAHID JAMALULLAIL Datuk Kaya Dina Mahkota Pangeran Segeram Wafat : 1846 M
37.2. WAN MOEHAMMAD JAMALULLAIL , terkenal sebagai WAN MOEHAMMAD SENIBUNG, ""Datuk Kaya Di Pulau Bungguran, ""Orang Kaya Dina Mahkota"" Wafat : 1848 M
37.3. WAN ABDUSSALAM JAMALULLAIL Orang Kaya Dina Mahkota Teluk Panglime Wafat : 1854 M
KKN STAI NATUNA RANAI di Kampung Tua Adat Segeram pada Tahun 2023 M 1 tahun yang lalu
1.37. WAN ABDUL WAHID JAMALULLAIL (Wafat : 1846) Datuk Kaya Dina Mahkota Pangeran Segeram 36. Bin Wan Abdullah 35. Bin Wan Abdul Mufthi 34 Bin Wan Abdul Jabar 33 Bin Wan Moehammad 32 Bin Wan Abdul Majid 31 Bin Wan Hamid Jamalullail I Penembahan Kerajaan Segeram
Kepala STAI NATUNA RANAI Dr Umur Natuna.,M.Pd.I ketika Jisrah Makam leluhur Kampung Adat Tua Segeram ketika KKN STAI NATUNA RANAI tahun 2023 M, 1 tahun yang lalu
2.37. WAN MOEHAMMAD JAMALULLAIL (Wafat : 1848 M)
Terkenal sebagai WAN MOEHAMMAD SENIBUNG Orang Kaya Dina Mahkota/ Datuk Kaya Di Pulau Bungguran, di generasi ini mereka sudah tidak lagi memakai gelar karya yang di tonjolkan gelar Kekayaan dan harta. sesuai kondisi di mana mereka tinggal demikian juga generasi di bawahnya, sehingga anak cucu - cicit mereka sudah kehilangan jejak akan tetapi tetap memakai WAN
Sebab makna WAN saat itu mereka beranggapan masih memiliki leluhur yang tersambung kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam baik jalur ayah' atau jalur ibu
Maka WAN mengandung dua makna :
1. WAN jalur ayah' tetap tersambung kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, sekalipun mereka tidak mampu menelusuri Nasabnya karena leluhur yang lebih senang mengunakan Gelar : Orang Kaya atau Datuk Kaya yang Ahirnya menjadi tradisi adat Turun - temurun, sedangkan WAN mereka yakini sebagai keturunan yang ada hubungan dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam
2. WAN jalur ibu yang menikahi penduduk asli Bungguran/ Natuna yang tidak ada hubungan dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam sehingga jalur ini menjadi terputus, maka gelar WAN inilah menjadi tradisi adat, yang bearti sekalipun mereka sudah terputus dari generasi ke generasi tetapi mereka meyakini dulu - dulunya leluhur mereka juga tersambung dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi tetapi mereka sudah terputus, maka WAN seperti ini menjadi WAN adat tradisi panggilan di Bungguran/ Natuna
Maka dalam hal ini perlu penelitian yang sangat mendalam dan teliti, serta di tunjang Manuskrip yang jelas kemudian juga harus menghadirkan leluhur mereka agar sebab WAN jalur ibu atau WAN tradisi lalu di angkat sebagai Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam yang tersambung, maka ini sangat berbahaya sekali sebab menyebabkan terhukum sebagai ""Kapir Kurapat, semua amalanya menjadi sia - sia
Tentu ini akan berbeda jika jalur ibu menikah dengan sesama Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam tetapi beda marga, maka anak yang lahir akan mengikuti marga bapaknya seperti Albarakat, AlKhatib atau Alkadri, sesuai marga yang di nikahi jalur ibu
Istri : Dayang Fatimah binti Upu Daeng Sembiring keturunan dari Opu Daeng Celak Yang Di Pertuan Muda Riau II Sultan RIAU II
Dari hasil pernikahan memperoleh Anak - anak :
1.38. WAN GHAFUR / WAN SAMPANG 37. Bin Wan Moehammad Senibung Wafat
Pantai Senoa Natuna
2.38. WAN RAWE Wafat : 1860 M
37. Bin Wan Moehammad Senibung 36. Bin Wan Abdullah Pangeran Negara Segeram 35. Bin Wan Abdul Mufthi 34. Bin Wan Abdul Jabar 33 Bin Wan Moehammad 32. Bin Wan Abdul Majid 31 Bin Wan Hamid Jamalullail I Pendiri dan Raja Penembahan Kerajaan Segeram
Istri : Dayang Meranti binti Opu Daeng Tambei Tembuyung Keturunan dari Opu Daeng Celak Raja Yang Di Pertuan Muda Riau II
Anak - anak WAN RAWE dengan istri Dayang Meranti adalah :
1.39. WAN PASAK terkenal sebagai Datuk Kaya Bungguran Barat Wafat : 1870 M
2.39. WAN TERAS terkenal sebagai Datuk Kaya Bungguran Timur Wafat 1878 M
3.39. WAN JIWE Wafat 1881 M
4.39. WAN TIKE Wafat 1883
5.49. WAN ISHAK Wafat 1880 M
Keturunan mereka saat ini jika di temukan sudah mencapai generasi 44 hingga 46 kelahiran baru 2020 M - 2025 M
Manuskrip Keturunan Opu Daeng Tandre Borang Daeng Rilaka, menurut Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu bakar Aldeni Qaulan Jazirah Manuskrip ini terpotong bagian atasnya
Sehingga beliau pada tahun 1729 M, mengirim Surat di dalam surat beliau meminta bantuan Sayid Husein Alkadri untuk menelusuri jalur di atasnya
Dalam surat Opu Daeng Manambon mencatumkan .juga nama aslinya Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu bakar Aldeni Qaulan Jazirah
Sayyid Husein menyatakan akan menelusuri setelah menjadi Mufthi Mempawah, sebab saat itu Sayid Husein Alkadri masih menjabat sebagai Mufthi Kesultanan Matan, Akan tetapi Opu Daeng Manambon mengatakan bahwa istrinya Ratu Kesumbi sedang hamil muda dan ini sangat penting jika dia lahir gelar tersebut akan di sematkan kepada anak - anak berikutnya
Hampir 3 bulan Sayyid Husein Alkadri menelusuri Silsilah tersebut baru beliau memberi jawaban bahwa benar beliau memiliki marga Al - Adeni Qaulan Jazirah, Marga Al - Adeni adalah nama sebuah perkampungan di Aden Negeri Yaman
Maka setelah Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu bakar Aldeni Qaulan Jazirah membaca surat jawaban tersebut beliau merasa lega
Untuk selanjutnya anak - anak beliau yang lahir baru kemudian di beri gelar Syarif di antara adalah :
1.32. Syarif Ahmad
2.32. Syarif Ali
3.32. Syarif Alwi dan
4.32. Syarif Muhammad
Sedangkan Kedua anaknya yang lahir terlebih dahulu yaitu :
1.32. Putri Utin Chandramidi dan
2.32. Gusti Jamiril namanya tidak perlu di rubah kata Sayid Husen Alkadri (Manaqib / Sejarah tersendiri tentang Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu bakar Aldeni Qaulan Jazirah)
Agar putrinya Utin Chandramidi tidak terputus Nasabya Ahirnya di jodohkan dengan Syarif Abdurrahman Alkadri, Utin Chandramidi mau menerimanya dengan permintaan Tujuh Peti Mas sebagai ""Mahar Emas Kawin"" dan itu di sanggupi oleh Sayyid Husein Alkadrie
Artinya keberadaan mereka sebagai Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam sudah di ketahui dengan Shohe sejak tahun 1729 M bahkan jauh dari itu sejak tahun 1449 M - 870 H yang lalu, Opu Borang Syarif Alwi bin Syek Abdul Wahid Aladeni Qaulan Jazirah rela mencari jauh - jauh dari Uu Sulawesi Selatan untuk mencarikan seorang Sayid agar putri semata wayangnya Dayang Komalasari tidak terputus nasab hingga Ke Segeram akan tetapi banyak yang tidak peka maksud tersebut, demikian juga Opu Daeng Manambon menyurati Sayid Husein meminta kepastian tentang Nasabnya karena beliau ingin Segera menikahkan Utin Chandramidi yang beliau rasa sudah saatnya agar anaknya juga tidak terputus nasabnya, sebab saat itu Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi masih sangat langkah sedikit sekali
Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri pernah tiba di SEGERAM bersama adiknya Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri ketika berlayar menuju ke Sultan Riaui untuk bertemu Raja Haji Fisabilillah untuk mendapatkan Restu berdirinya Kesultanan Kadriah Pontianak pada Tahun 1778 M, yang saat itu kondisi SEGERAM sudah porak poranda karena di tinggalkan Portugis dan hanya menyisahkan satu Pos / Pondopo
Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri ketika berada di SEGERAM berdiri di Pendopo / Pos yang bagianya masih ada yang utuh, pada tanggal 8 Juli 1779 Beliau berlayar kembali dari Pontianak dan menetap di Kampung Segeram untuk memulai kehidupan yang baru di Segeram yang saat itu kondisinya masih berantakan karena di tinggalkan Portugis
Selain itu menurut peneliti Arina Wati, peneliti Sejarah Nasab Opu Tandre Borang Daeng Rilaka banyak ejaan Melayu Asli terdapat Nama yang tidak sesuai dengan Bahasa Bugis dan cenderung ke Arab - Araban terutama nama - nama di bagian atas Opu Daeng Tandre Borang Daeng Rilaka/ Dilaga hal yang mencurigakan juga mengapa silsilah Nasab tersebut di tulis dalam Bahasa Arab dan tidak di tulis dalam bahasa Bugis jika memang benar Opung Daeng Tandre Borang Daeng Rilaka Dilaga asli sebagai keturunan Bugis di mana saat itu Islam baru di kalangan mereka sedangkan adanya anggapan mereka, selain itu juga juga tertulis dalam bahasa Jawi (Jawa yang menghubungkan Opu Daeng Tandre Borang Daeng Rilaka Dilaga adalah keturunan dari Datu Luwu I Batara Guru yang belum beragama Islam
Maka mustahil silsilah tersebut bertulis Arab Melayu
Dan tidak mungkin Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu bakar Aldeni Qaulan Jazirah Raja Pertama Mempawah meminta Sayid Husein Alkadrie Jamalullail terburu - buru saat itu untuk meluruskan nasab mereka hanya karena masalah ingin menikahkan anak tertuanya Putri Utin Chandramidi
Dokumen Manuskrip Lukisan asli Poto Opung Daeng Manambon Sayid Syech Abu bakar Aldeni Qaulan Jazirah tersimpan dengan rapih di rumah salah satu cicitnya Pangeran Hamdan
Di mana tertulis dengan jelas nama Sayid Syech Abu bakar Aldeni Qaulan Jazirah Opu Daeng Manambon bin Sayyid Syech Ahmad Adeni Qaulan Jazirah Opu Daeng Tandre Borang Daeng Rilaka Dilaga.
Beliau juga menyimpan Silsilah Nasab lengkap hingga ke Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dalam tulisan Arab Melayu yang telah di sempurnakan oleh Sayyid Husein Alkadrie atas permintaan Opu Daeng Manambon di mana dalam silsilah tersebut Opu Daeng Ladamusilat Sayid Syech Muhammad Aladeni Qaulan Jazirah Raja Ulu Sulawesi Selatan memiliki ibu bernama We Tenrilrleang anak dari Datu Luwu I Bata Guru, yang bearti jalur ibu dan bukan dari jalur Laki - laki, hal ini juga sudah di bantah oleh keturunan dari Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu bakar Aldeni Qaulan Yaitu Pangeran Hamdan yang saat ini sudah berusia 130 tahun dan sudah tidak bisa mendengar lagi, beliau menegaskan bahwa Leluhur Raja Ulu Sulawesi Selatan La Damusilat Sayid Syech Muhammad ayahnya bernama Opu Daeng Tandre Sayid Syech Ali Adeni Qaulan Jazirah sedangkan ayahnya lagi bernama Opu Daeng Borang Sayid Syek Alwi Aladeni Qaulan Jazirah beliau juga mempunyai anak perempuan bernama Dayang Komalasari yang menikah dengan Wan Hamid Jamalullail Satu Penembahan Kerajaan Segeram, dan beliau memiliki ayah bernama Syech Abdul Wahid Aladeni Qaulan Jazirah, mereka dua bersaudara Sayid Syech Ali Almurthado hijrah dari Ridha Yaman kemudian menetap di Thailand kemudian pindah lagi ke Trenggonu setalah Pasih belajar Bahasa Bugis Luwu dari Malaysia Trenganu mereka hijrah ke Sulawesi menyamar sebagai orang Bugis Luwu, demikian ungkap Pangeran Hamdan cicit dari Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu bakar Aldeni Qaulan Jazirah
Kemudian pada tahun 1974 beliau pernah mengajukan Silasilah Nasab mereka pada salah satu Maktab, akan tetapi di tolak karena karena di anggap tidak jelas dan pada tahun 2010 M beliau mengajukan juga pada Maktab yang sama juga di tolak, karena Maktab tersebut meneliti di Google bahwa Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu bakar Aldeni Qaulan Jazirah adalah keturunan Bugis asli, Sehingga Pangeran Hamdan tertawa terbahak bahak dan mengatakan Maktab Google
Pangeran Bendahara Syarif Ibrahim bin Ahmad Alkadri bersama istrinya Sae'dah binti Muhammad Johan Aladeni Qaulan Jazirah
Pada tahun 2015 M Pangeran Hamdan menemui Keponakanya Pangeran Bendahara Syarif Ibrahim bin Ahmad Alkadri, karena istri dari Pangeran Bendahara Syarif Ibrahim bin Ahmad Alkadri adalah keponakan dari Pangeran Hamdan yaitu : Sae'dah binti Muhammad Johan Aladeni Qaulan Jazirah dan meminta untuk menunjukkan Silsilah Nasab dari Sae'dah Aladeni Qaulan Jazirah, Nasab ini baru benar sesuai Manuskrip yang terpotong bertuliskan dalam Arab Melayu, bearti benar ini, ana keturunan Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi dan leluhur ana yang Laki - laki menikahi salah satu anak perempuan keturunan dari Datuk Luwu I Batara Guru, demikian kelakar Pangersa Hamdan sambil tertawa saat itu ((Manaqib Sejarah tersendiri))
3.38. WAN LOEAT 37. Bin Wan Moehammad Senibung Wafat :
Dua makam Tua Segeram di bawah pohon Kelapa ini sudah musnah ketika Identifikasi makam Tua Segeram Jum'at sd Sabtu 4 sd 5 Oktober 2024 M bersama Ketua RT Segeram Heru Diwan Apras pada saat Identifikasi areal makam sudah di tanami ubi Kayu / Singkong
3.37. WAN ABDUSSALAM JAMALULLAIL Orang Kaya Dina Mahkota Teluk Panglime Wafat : 1854 M
Istri : Dayang Kanti binti Opu Daeng Karanting merupakan cicit dari Opu Daeng Merewah
Dari Hasil pernikahan ya memiliki anak :
1.38. WAN MOH Datuk Kaya Dina Mahkota Sedanau Bungguran Barat
2.38. WAN JOEB Datuk Kaya Dina Mahkota Pulau Tiga
3.38. WAN TAM Datuk Kaya Dina Mahkota Teluk Lampa Bunguran Timur
MAKAM :
WAN HAMID JAMALULLAIL I
Bin Wan Abdul Kahar (Sayyid Ahmad Jamalullail)
Pendiri dan Raja Penembahan Kerajaan Segeram menjabat dari tahun 1449 M - 1519 M selama 70 tahun
Istri : Maharatu Suri Segeram Dayang Komalasari Binti Opu Daeng Borang (Sayid Alwi Aladeni Qaulan Jazirah)
Gelar : MAHARATU SURI SEGERAM
Makam : Dayang Komalasari saat ini belum di temukan
Lokasi Makam
1. Penembahan Segeram Wan Hamid Jamalullail Bin Wan Abdul Kahar (Ahmad Jamalullail) Duli Yang Mulia Raja Segeram berada antara 1,5 KM sd 2 KM dari Dermaga Kampung Segeram berada di dataran tinggi
2. Sebelah Kiri Makam Maharatu Suri Mahkota Agung Segeram Dayang Komalasari Binti Opu Daeng Tondreng (Sayid Syech Alwi Adeni Qaulan Jazirah) yang di atasnya sudah di tumbuhi akar Kayu
Makam Maharatu Suri Mahkota Agung Segeram Dayang Komalasari binti Opu Daeng Tondreng (Sayid Syech Alwi Adeni Qaulan Jazirah) berada di dataran tingggi Kampung Segeram dsri Bagan Masyarakat muara pantai Segeram berjarak antara 1,5 KM sd 2 KM
Koin logam merupakan peninggalan Kerajaan Penembahan Segeram Wan Hamid Jamalullail
Di dalam lingkaran bulan bintang pinggir kanan menurut Manuskrip terdapat tulisan Arab ""سغرمب" ( Segaramb" dan bulatan telur dalam bulan Sabit berbentuk lonjong melintang koin ini sudah rusak sehingga sangat tidak jelas melambangkan pulau Bungguran / Natuna
Sebelah koin ini terdapat perahu layar di atas bulan sabit tipis dan angka 25 yang samar, menurut Pangeran Bendahara Syarif Ahmad bin Usman Alkadri Koin ini berdasarkan Manuskrip adalah uang logam Penembahan Wan Hamid Jamalullail I, tetapi beliau tidak bisa memastikan
Apakah uang logam atau hanya perhiasan jaman itu, karena sudah sangat tidak jelas
Pengurus Maktab NanGq 1857 Generasi ke IV EMPAT 1941 M sd 1958 M sudah 84 tahun yang lalu 2025 sekarang
Menurut Manuskrip Koin logam tersebut juga merupakan Lambang / Logo Penembahan Kerajaan Segeram, akan tetapi sudah rusak sehingga Lambang tersebut sangat Sulit untuk terbaca, satu - satunya sebagai sumber hanya menurut keterangan manuskrip, adapun maksud Lambang Kerajaan tersebut adalah :
1. Bulan Sabit mengandung makna Bumi Segeram / Natuna yang bercahaya seperti Bulan Sabit
2. Air beiak / Bergelombang mengandung makna Segeram / Natuna berada di tengah Laut di mana pinggiri air yang menyentuh bulan sabit adalah pantai yang menghasilkan garam dan hasil laut
3. Kapal layar mengandung makna sumber kehidupan Rakyat Segeram adalah transfortasi dengan Kapal Layar / Perahu Klotok/ Perahu Bandung
4. Keris sebagai tiang Layar dan dua buah tombak cakar sebagai benteng Perisai Penembahan Kerajaan Segeram
5. Bintang di atas perahu layar yang di ikat tali kanan kiri mengandung makna lima sumber kehidupan Rakyat Segeram :
1. Ibadah Kepada Tuhan Yang Maha Esa / Tunggal berdasarkan agama yang ada di Segeram / Natuna
2. Keamanan, Ketentraman dan Kenyamanan antara Umat beragama
3. Sumber Penghidupan Ekonomi yang Layak Rakyat Segeram / Natuna
4. Adil dan bijaksana dalam menerapkan hukum Negara'
5. Sumber Ekonomi di kuasai bersama antara Raja dan Rakyat (Bungguran dan Pulau sekitarnya)
Warna pada Logo Kerajaan Segeram :
1. Bintang Kuning keemasan
2. Keris dan tombak warna Coklat kehitaman gagang kuning keemasan
3. Tali - tali atau rantai Coklat Kekuningan
4. Body Perahu Kuningan keemasan bagian depan tanpa garis hijau keemasan termasuk tempat berteduh atau Bandung ya juga kuning keemasan
5. Air laut biru muda
6. Bulan warna putih cerah
Akan tetapi sayangnya lambang bintang di atas perahu sudah tidak ada lagi
Hasil Lukisan Logo Kerajaan Segeram berdasarkan Penjelasan Manuskrip dan Penempatan mata kasar dari Uang logam berdasarkan keterangan manuskrip
MAKAM :
36. Syarif Ibrahim 35. Bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri
Gelar : Panglima Hitam Paku Alam
Istri : Fatimah binti Pangeran Ali Alidrus Sabamban Raja Penembahan Sabamban Ke I Pertama berdampingan dengan makam Panglima Hitam Paku Alam Syarif Ibrahim Alkadri suaminya
SAID IDRIS bin Umar bin Ahmad bin Musthofa Serasan bin Panglima Hitam Paku Alam Syarif Ibrahim Alkadri Segeram
Lahir : Cemaga 1917 M - 1338 H
Wafat : Pontianak 8 Rajab 1400 H / 22 Mei 1980 M
Panglima Singgapati Syarif Hasan Bin Umar Alkadri bersama Panglima Laksamana VII Wierieles Syarif Abdullah Bin Yahya Alkadri salah satu keturunan dari Syarif Muhammad Alkadri (Wan Kundoy) Bin Panglima Hitam Paku Alam Syarif Ibrahim Alkadri
SAID NONG ALI bin Idris Cemaga bin Musthofa Serasan bin Panglima Hitam Paku Alam Syarif Ibrahim Alkadri Segeram., Mantan Anggota DPRD Kabupaten Natuna
Syarifah Fiah Binjai Natuna binti Kadir Seratas Natuna bin Musthofa Serasan bin Panglima Hitam Paku Alam Syarif Ibrahim Alkadri Segeram
WAN ABDUL WAHID Nusapati bin Ismail Peniraman bin Abdul Muthalib Serasan bin Musthofa Serasan bin Panglima Hitam Paku Alam Syarif Ibrahim Alkadri Segeram
WAN INDRA Jeruju Pontianak Barat bin Abasuni Peniraman bin Abdul Muthalib Peniraman bin Abdul Wahid Nusapati bin Musthofa Serasan bin Panglima Hitam Paku Alam Syarif Ibrahim Alkadri Segeram
MAKAM :
Aminah binti Abdullah Alidrus Trenggonu istri dari Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri dan
36. Syarif Abdurrahman bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri, anak kandung Aminah Trenganu
Gelar :
Panglima Karang Tanjung, posisi makam berdirinya empat orang
Istri : Dayang Intan Salmah Binti Wan Abdussalam Jamalullail keturunan dari Wan Hamid Jamalullail I Penembahan Kerajaan Segeram I SATU
MAKAM :
36. Syarif Jamalullail 35. Bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri Gelar :
Panglima Junjung Buih
Istri : 37. Dayang Aminah binti Wan Abdul Wahid Jamalullail keturunan dari Wan Hamid Jamalullail I Penembahan Kerajaan Segeram.
Makam di samping kiri .antara berdirinya dua orang, karena batu nisan terlalu pendek sehingga tidak bisa di ikat dengan kain kuning
MAKAM :
36. Syarif Yusuf 35. Bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri "" Gelar :
Panglima Jubah Putih Pemberian dari Sultan Syarif Kasim Alkadri""
Istri : Rahmah binti Abdul Razak Jeumpa Aceh keturunan dari Syahriansyah Salman, keturunan dari Sayid Abdullah bin Hasan bin Ja'far Shodiq, Pendiri Kerajaan Jeumpa 777 M - 198 H
MAKAM :
36. Makam Syarif Muhammad 35. bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri ""
Gelar :
Panglima Dijaya Pemberian dari Sultan Akammaddin II Sambas""
Istri : Dewi Asmairah Al - Adeni Qaulan Jazirah keturunan dari Opu Daeng Kemasi Sambas
Makam Sayid Abdullah Bin Muhamad Jeumpa Generasi ke 22 keturunan Abdullah Bin Husein Raja Jeumpa dengan gelar Salman
Manuskrip Syarif Muhammad Alkadri
Gelar Pemberian Sultan Sambas dengan Gelar: Panglima Dijaya. Karena istrinya menikah dengan keturunan dari Opu Daeng Kemasi sementara istri.Opu Daeng Kemasi adalah adik kandung tengah Raden Tengah Aisyah Albarakat dengan adanya hubungan kekeluargaan tersebut maka Syarif Muhammad Bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri mendapat gelar tersebut yang sebelumnya bergelar Panglima V saja menjadi ""Panglima Dijaya"" Manuskrip ini sudah robek - robek namun berhasil di satukan kembali oleh ketutunya di Sambas dengan mengelem bagian belakang Manuskrip tersebut
KKN Mahasiswa STAI NATUNA RANAI di Kampung Tua Adat Segeram sedang membuat nama - nama makam leluhur Segeram 2 Desember 2024 M sd 2 Pebruari 2025 M
KKN Mahasiswa STAI NATUNA RANAI di Kampung Tua Adat Segeram 2 Desember 2024 M - 2 Pebruari 2025 M
Aktivitas Mahasiswa sedang mengecat papan nama
Daftar nama - nama leluhur makam tua Segeram yang sudah di identifikasi
Salah satu piagam penghargaan yang akan di berikan kepada Mahasiswa STAI NATUNA yang mengadakan KKN dari tanggal 2 Desember 2024 M - 2 Pebruari 2025 M, dari Maktab NanGq 1857 Pusat atas dedikasnya terhadap makam - makam tua Kampung Segeram
Penghargaan yang setinggi-tingginya juga akan di berikan kepada KEPALA STAI NATUNA RANAI yang sangat berperan penting dalam mengangkat Situs - situs makam Segeram dengan mengerakan semua elemen masyarakat umum termasuk PEMKAB NATUNA
Jembatan Segeram dari jalan darat
Makam - makam Tua Segeram yang sudah ada Ahli Warisannya
Sebaiknya Ahli waris membuat program perawatan berkala Kepada orang - orang yang di percaya atau minimal enam bulan sekali jiarah ke Segeram sekaligus mengadakan Rehab kecil agar makam tersebut tetap terawat di antara bahan - bahan yang harus di bawa ketika jiarah adalah :
1. Semen paling sedikit satu sak, pasir paling sedikit satu sak dan alat perlengkapanya
2. Cat warna kuning dan hijau paling sedikit 5 Kg warna Kuning dan 2 Kg warna hijau, usahakn cat minyak agar lebih bertahan lama
3. Besi beton ukuran 3 mil dan Seng tergantung kesepakatan ahli waris
Tujuannya adalah untuk melakukan Rehab kecil agar makam tetap terawat, jika setiap enam bulan sekali di jiarahi dan membawa ke 3 poin barang - barang tersebut insyaallah makam Segeram akan menjadi indah dan bagus serta terawat dan enak di pandang mata, terutama bagi keturunan yang berada di Natuna dan sekitarnya, sehingga membuka peluang akan di jiarahi orang lain yang datang ke Segeram
Pintu Gerbang Selamat Datang Di Kampung Tua ""Segeram"' dari jalan Darat
Pembersihan Lokasi untuk Pembangunan Posko dan Hom Stay di Kampung Tua Adat Segeram
PENGAJUAN PROPOSAL PEMEKARAN
KAMPUNG SEGERAM MENJADI
DESA ADAT SEGERAM
Lokasi Pembangunan Posko dan Hom Stay d Kampung Tua Adat Segeram
Mahasiswa KKN STAI NATUNA dan Ketua STAI NATUNA Dr. H.Umar Natuna.,S.Ag. M.Pd.I bersama Dosen Pembimbing di Kampung Tua Adat Segeram meninjau Lokasi untuk Pembangunan Posko dan Hom Stay di Kampung Tua Adat Segeram Kelurahan Sedanau Kecamatan Bungguran Barat Kabupaten Natuna Kepulauan Riau
Acara Perpisahan Mahasiswa KKN STAI NATUNA RANAI di Kampung Tua Adat Segeram Sabtu Malam Minggu 1 Pebruari 2025 M - 1446 H
Pemasangan Papan Nama Makam
36.1. Makam Panglima Hitam Paku Alam Syarif Ibrahim Bin Panglima Laksamana I Wiesreales Syarif Abu Bakar Alkadri
2. Makam istrinya Syarifah Fatimah Binti Pangeran Ali Al-idrus Raja Penembakan Sabamban Banjarmasin di Buat oleh KKN STAI NATUNA RAMAI pada KKK tanggal 2 Desember 2024 sd 2 Oktober 2025
Berita Acara Kunjungan Kepala STAI NATUNA RAMAI, Dr. Umar Nstuna dalam Rangka usaha "" Pemekaran Kampung Segeram Menjadi "Desa Adat Segeram" Rabu 29 Januari 2026 M
Rapat Pemekarang Kampung Adat Segeram menjadi "Desa Adat Segeram" 29 Januari 2025 M di Rumah RW Kampung Segeram
Peta Wilayah Natuna / Bungguran Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau
Kabupaten Natuna yang beribukota Ranai merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Riau dengan jumlah penduduk tahun 2024 sebanyak 84. 017 jiwa
Natuna merupakan kepulauan yang paling Utara di Selat Karimata
Ranai Kota merupakan sebuah Kelurahan sekaligus sebagai Ibukota Kabupaten Natuna
Ranai merupakan sebagai pusat Administrasi dan ekonomi di Kabupaten Natuna
Natuna merupakan Teritorial Negara Republik Indonesia
Indonesia sebagai Negara Kepulauan dan Laut Natuna bagian Negara Republik Indonesia di pertegas oleh UNCLOS
Pada saat Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Kepulauan Natuna sudah termasuk dalam bagian Republik Indonesia, yang awalnya masuk dalam Provinsi Sumatra Bagian Tengah
Natuna merupakan Alur Laut Kepulauan Indonesia ALKI dan sekaligus sebagai Jalur Lintasan Internasional, bagi Kapal Asing yang melewati Samudra Hindia untuk kepentingan Ekspor dan Impor yang juga merupakan jalur dari Samudra Fasipik
Karena demi lancarnya arus Administrasi maka pada tanggal 12 Oktober 1999 M, Natuna di mekarkan menjadi Kabupaten Natuna dengan Provinsi Kepulauan Riau
Kemudian terdiri dari Kecamatan :
1. Kecamatan Bungguran Timur terdiri dari 7 Kelurahan / Desa
2. Kecamatan Bungguran Barat terdiri dari 5 Kelurahan / Desa
3. Kecamatan Bungguran Timur Laut 7 Kelurahan / Desa
4. Kecamatan Bunguran Selatan 4 Kelurahan / Desa
5. Kecamatan Bungguran Tengah 3 Kelurahan / Desa
6. Kecamatan Bunguran Utara 8 Kelurahan / Desa
7. Kecamatan Pulau Tiga 6 Kelurahan / Desa
8. Kecamatan Serasan 7 Kelurahan / Desa
9. Kecamatan Serasan Timur 4 Kelurahan / Desa
10. Kecamatan Midai 3 Kelurahan / Desa
11. Kecamatan Subi 8 Kelurahan / Desa
12. Kecamatan Pulau Laut 3 Kelurahan / Desa
13. Kecamatan Bungguran Batu i 5 Kelurahan / Desa
14. Kecamatan Suak Midai 3 Kelurahan / Desa
15. Kecamatan Pulau Tiga Barat 4 Kelurahan / Desa
Desain : Bayu Senja., ST
MAKTAB NANGQ 1857
Dewan Pimpinan Pusat
Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Syarif Ja''far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Pontianak Jalan Seliung
Seting Louyat dan Hak Cipta ada Pada :
MAKTAB NANGQ 1857
Di Lindungi Undang-Undang
Minggu 2 Pebruari 2025 M / 3 Sya'ban 1446 H
17 : 22 WIB