PANGERAN TIGA SERANGKAI. MAKTAB NANGQ 1857 PANGERAN BENDAHARA TUA SYARIF JA'FAR BIN SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI KESULTANAN KADRIAH PONTANAK. KANTOR PUSAT JALAN SELIUNG


          PANGERAN TIGA SERANGKAI

Pangeran Tinggi Al - Kabar Wijayakusuma Syarif Alwi Al - Akbar Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dari Banjarmasin Wafat di Solo Komplek Maqam Tia Dasiknoloyo Solo. Pada tahun 1984 M Ketika Almarhum Pangeran Bendahara Tua Syarif Ibrahim Alkadri Bin Ahmad Jiarah hanya tersisah Logo Bulan Bintang. Pakaian Pangeran Distrik Jateng berciri Khas Logo Kesultanan Kadriah Pontianak yang juga terpasang di batu Nisan Beliau

Keluarga Besar Alkadri Pontianak Kalbar Silaturahmi ke Keluarga Besar Alkadri Kandangan Kalsel Indonesia 🇮🇩 Jalan Raya  Al - Falah Depan Pontren Raudhatul Ghanna  Annabawiyah  Kelurahan Kandangan Kota Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalsel  🇮🇩


Pangeran Tinggi Al - Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi Al - Akbar Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri. Solo Pakaian sebagai seorang Kepala Pengamanan  Distrik Perdagangan Jateng di Solo, sebagai Komandan Perlindungan Distrik Dagang Jateng di Solo, berpose salah satu Candi yang terdapat di Jateng 

Pangeran Tinggi Al - Akbar Wijayakusuma Kesuma Syarif Alwi Al - Akbar Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ketika berdarah di Kalsel Martapura 

Makam Martapura Banjarmasin Kalimantan Selatan Indonesia tanda Panah di balut kain Hijau dan bawahnya kain putih adalah makan Pangeran Hadikusuma Syarif Abdurrahman Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, sebelah kanannya makam Pangeran Kacihl Syarif Alwi Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri kirinya lagi makam Ratu Syahranum Binti Sultan Sa'ad Tanji Tahmidillah Sultan Banjar, kirinya lagi makam Ratu Parabu Khodijah Binti Abdullah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri sedangkan sebelah kanan dekat makam Pangeran Hadikusuma Syarif Abdurrahman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie adalah makam Pangeran Adikarya Syarif Alwi Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri  lahir Palembang ibunya Ratu Parabu Inche Aminah, bagian di atas juga terdapat tiga lagi makam istri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri termasuk keturunanya dan makam keturunan dari anak cucu Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar bin Sayyid Husein Alkadri

Di Komplek Pemakaman ini juga terdapat beberapa makam Alkadri lainya baik yang sejaman maupun generasi berikutnya yang berdiam di Martapura Banjarmasin Kalimantan Selatan Indonesia saat itu, semua makam - makam tersebut sudah terdaftar sejak tahun 1840 M -  1261 H, secara turun temurun di Maktab NanGq 1857 Pusat Pontianak hingga saat ini makam - makam tersebut tetap terdata dengan baik, sekalipun makamnya 99 % tidak terurus oleh anak cicitnya generasi sekarang 2025 M - 1446 H, 

Karena ketidak tahuan mereka karena rasa kepedulian terhadap makam Leluhur sangat berkurang sehingga Keluarga Besar Alkadri Banjarmasin Kalimantan Selatan Indonesia yang mengetahui juga engan untuk merawatnya, sebab jika mereka peduli apa salahnya meluangkan waktu setiap tiga bulan sekali atau enam bulan sekali patungan membeli kain Hijau dan kuning untuk membalutnya dan membersihkannya sehingga makam tersebut kelihatan terawat, sebab bagaimanapun juga itu merupakan bagian saudara mereka satu Bapak yaitu Sultan Syarif Abdurrahman Bin Sayyid Husein Alkadri sekalipun berlainan ibu kandung, tetapi tetap merupakan saudara kandung sebapak

Salah satu Pintu Gerbang Selamat Datang Di Martapura Kabupaten Banjar Kalsel Indonesia 🇮🇩

PANGERAN TIGA SERANGKAI 

1. Pangeran Tinggi Al - Akbar Wijayaikusuma  Syarif Alwi Al - Akbar Solo' Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

2. Pangeran Kachil Syarif Alwi Martapura Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

3. Pangeran  Hadikusuma Syarif Alwi Palembang Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Terkenal sebagai :

1. Pangeran Awli Tiga Serangkai / Pangeran Tiga Serangkai 

2. Alwi Tiga Bersauda 

3. Pangeran Tiga Bersauda 

Dari ketiga gelar tersebut yang terkenal adalah : 

PANGERAN TIGA SERANGKAI 

Gerbang utama Kota Solo

1.36. PANGERAN TINGGI AL- AKBAR ALWI  SOLO 
 Pangeran Tinggi Al - Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi  Al - Akbar Solo' Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Lahir :  Banjarmasin 7 Syawal 1190 H -  1768 M dan 
Wafat : Solo 17 Rabiul Akhir  1261 H - 1839 M 

Ketika Wafat Usia : 71 tahun

Makam : Pemakaman Umum Tua Daksinoloyo Solo Jawa Tengah  di batu nisanya hanya tersisa Logo Bulan Bintang yang juga sudah samar - samar  (1984 M) hasil identifikasi Pangeran Bendahara Syarif Ibrahim Bin Ahmad Alkadri Ketua Maktab NanGq 1857 Pusat Generasi Ke V) dan hasil Identifikasi tahun 2004 M).

Ayahnda : Sultan Syarif Abdurrahman Bin Sayyid Husein Alkadri 

Ibundah : Ratu Parabu Khodijah Binti Abdullah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkdri

Pangeran Tinggi Al - Akbar Syarif Alwi Solo' adalah orang yang pertama kali di tugaskan ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrii untuk Distrik Perdagangan Wilayah Solo 1787 M di Solo Jawa Tengah Untuk pendataan keluar masuknya Barang  - barang Dagangan dari Jawa Tengah ke Pontianak Borneo Barat, akan tetapi pada tahun 1788 M beliau harus datang ke Martapura untuk membantu merawat adiknya Pangeran Kacihl Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie karena dalam ke adaan lumpuh total tidak bisa berjalan bersama ibundanya Ratu Parabu Khodijah binti Abdullah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri 

Tugu Selamat Datang Di Martapura 

2.36. PANGERAN KACIHL ALWI MARTAPURA 
Pangeran Kacihl Syarif Alwi Martapura Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Lahir : Martapura 17 Julqaidah 1197 H - 1775 M dan
Wafat : Martapura 9 Julhizah 1214 H - 1792 M
Ketika Wafat Usia : 17 tahun 

Makam : Martapura Banjar Kalimantan Selatan (Borneo Selatan)

Ayahnda : Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Ibundah : Ratu Syahranum Binti Sultan Sa'ad Tanji Tahmidillah Banjar

Pangeran Kacihl Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri meninggal di usia muda karena mengalami penyakit Singdrom Tulang  (Keropos tulang rangka)  sejak lahir  menurut Tabib Cina Sing Thai Shun dari Banjarmasin, sehingga postur tulang tubuhnya lembek tidak bisa berdiri tegak hingga umur 17 juga tetap di papah baik mandi maupun ke buang hajat (Kotoran)

3.36. PANGERAN HADIKESUMA JAYA SYARIF ALWI  35. BIN SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN  ALKADRI  PALEMBANG 
((ALWI PALEMBANG) 

Lahir : Palembang 9 Maret 1770 M - 1192 H dan

Wafat : Martapura 27 Desember 1837 M - 1259 H

Ketika Wafat Usia : 67 tahun

Makam : Martapura 

Ibundah : Ratu Parabu Inche Aminah binti Abdul Wahab  Asal Palembang 

Mereka di sebut / dikenal :
ALWI TIGA BERSAUDARA 

dikenal juga sebagai :
PANGERAN TIGA BERSAUDARA

dan sangat terkenal dengan :
PANGERAN ALWI TIGA SERANGKAI/ PANGERAN TIGA SERANGKAI 

Pangeran Hadikusuma Jaya Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie juga di minta ayah membantu merawat Pangeran Kacihl Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie bersama ibundahnya Ratu Parabu Inche Aminah binti Abdul Wahab Palembang agar segera berangkat ke Martapura, akan tetapi harus berkumpul terlebih dahulu ke Istanah Kadriah lalu berangkat bersama sama ke Martapura Banjarmasin tahun 1788 M termasuk Pangeran Tinggi Al - Akbar Hadikusuma Wijaya Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Solo juga ke Istanah Kadriah Pontianak terlebih dahulu untuk berangkat ke Banjarmasin Martapura bersama ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie 1788 M

Sebenarnya masih ada dua ALWI lagi yaitu

Pintu Gerbang Selamat Datang Di Manokwari Papua 

1.36. Pangeran Syarif Alwi Manokwari Papua bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri  yang saat itu masih kecil baru berusia 7 tahun sementara ibunda juga merupakan satu - satunya anak perempuan yang membantu orang tuanya perempuan yang juga dalam kondisi keadaan yang tidak sehat sehingga sering sakit' - sakitan sehingga harus mengantikan mengurus ibunya sekaligus mengantikan posisi ibunya untuk mengurus rumah tangga sebab ayahnya pada saat itu membantu Distrik Perdagangan Wilayah Papua kuhsusnya Manokwari sehingga jarang pulang kerumah 

Berdasarkan Manuskrip yang di tulis Pangeran Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie yang di serahkan kepada  saudaranya Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie 

 (Dokumen Tahun 1840 M Maktab NanGq 1857 Pusat)

Distrik Perdagangan Wilayah Papua kuhsusnya Manokwari pada saat itu merupakan satu - satunya pusat Perdagangan yang ramai sebab daerah ini termasuk daerah yang aman dari konplik antar suku dan suku lainya, di mana yang merupakan daerah Basis yang sering terjadi konplik antar suku adalah Papua Nugini, sehingga termasuk orang asli Nugini sendiri yang tidak suka dengan konplik tersebut terpaksalah pindah ke Manokwari 

Pintu Gerbang Selamat Datang Di Kota Aceh 

2.36. Pangeran Syarif Alwi Pide Aceh bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang baru berusia 5 tahun

Sehingga mereka tidak di panggil / di bawah ke Martapura 

Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat Yogyakarta Jawa Tengah Indonesia 🇮🇩

Sebenarnya Gelar Rstu Prabu adalah pemberian dari  Sultan Hamengkubuwono II  yang berkuasa sejak 7 Maret 1750 M sd  3 Januari 1828 M.,  yang merupakan Kerajaan Ke II  Kerajaan Yogyakarta yang bergelar Prabu 

Gelar tersebut akan di sematkan kepada Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang Derajatnya sama dengan Prabu   karena menguasai wilayah Kalimantan Barat yang sangat luas dari Kesultanan dan Karajaan yang ada di Kalimantan Barat dan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri juga terkenal sebagai Penjelajah Samudra yang sangat luas bahkan hampir semua Samudra beliau  Layari dengan 27 Kapal Layar hingga mencapai 70 Kapal layar yang membawa barang dagangan lengkap dengan Pasukan Perang yang menurut Sultan Hamengkubuwono II belum pernah di lakukan para Sultan termasuk Kerajaan Majapahit yang menguasai Wilayah Nusantara sehingga sangat wajar jika Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri bersama adiknya Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri bin Asyayid Syarif Husein Alkadri mendapat Gelar Dua Harimau Samudra yang menjadi Lambang Kesultanan Pontianak

Karena Gelar Prabu tidak cocok di berikan kepada Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sebab beliau adalah seorang Sultan bukan bergelar Raja 

Penguasa terluas Pulau Kalimantan Barat., ahirnya gelar tersebut di sematkan kepada kedua orang istrinya  yang hadir bersama Sultan saat itu 

Sehingga kedua istri Sultan  yang hadir bersama Sultan mendapat Gelar Prabu / Perbu

Sementata Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan adiknya Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri mendapat gelar Singga Samudra / Macan Samudra 

Syarif Abdul Wahid bin Aran Alkadri salah satu keturunan dari Pangeran Tiga Serangkai yaitu Pangeran Tinggi Al - Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi  Al-Akbar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Kandangan  Kabupaten  Hulu Sungai Selatan  Kalsel Indonesia 🇮🇩

Raudah binti Ruslan Al-Quds istri Syarif Abdul Wahid Alkadri. Kelurahan Kandangan Kota Kecamatan Kandangan Kab Tanah Laut Kalsel

Kedua istri inilah yang paling dekat dengan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri setiap saat dsri ke 67 istri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Sebab kedua adalah yang selalu ikut berlayar  bersama Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri  kemanapun Sultan berlayar sehingga menurut  Sultan  Hamengkubuwono II  kedua istri inilah yang berhak mendapatkan  gelar tersebut sast berkunjung di Kedaton Yogyakarta

Sebab istri yang berhak mendapatkan gelar tersebut adalah istri yang setiap saat bersama Sultan dalam suka dan duka yang senantiasa ikut berlayar bahkan mengarungi Samudra, serta menyiapkan  keperluan Sultan merangkap sebagai Datang 


Pangeran Angga Buana Purnawirawan Kostrad TNI AD Sayid Aris Waskito Alkadri. BCHK  bin  Purnawirawan Jendral Bintang III Sayid  Sostroadmojo bin Sayid Pangeran Angga Buana Sayid Brahman Blitar.bin  Basaruddin Farug Malang  bin Pangeran Tinggi Alwi Al-akbar Syarif Alwi Al-Akbar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Ketua Maktab NanGq 1857 DPW Provinsi DKI Jakarta

Bahkan kedua istri ini sangat sering ikut melamar perempuan - perempuan yang akan di nikahi oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dalam memenuhi Nazarnya untuk memiliki 101 orang anak

Kedua istri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sedikitpun tidak ada rasa cemburu judyri yang ada rasa cinta dan pengabdian kepada Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri., sebab mereka sadar saat sebelum akad nikah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sudah memberi tau bahwa tujuan belisu menikahi perempuan - perempuan untuk memenuhi Nazdar 101 anak yang pernah di ucapkan dan itu wajib hukumnya untuk di penuhi, dan kenyataannya Allah memberi belisu rejeki yang melimpah sehingga istri - yang di nikahi paling sedikit maharnya 1 peti emas yang berukuran lebar 50 CM x Panjang 75 CM dengan ketinggian peti mencapai 55 CM di mana di dalamnya berisikan berbagai perhiasan termasuk mahkota., Sehingga menurut Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ke 67 istrinya adalah para Ratu akan tetapi dalam hukum Kerajaan dan Kesultanan tetap hanya 1 saja yang bergelar "" Maharatu Suri Mahkota Agung" Yang selalu mendampingi ketika di Istanah

Sedangkan istri - istri yang lain ya mendampingi hanya ketika Sultan berada di samping mereka

Sedangkan istri- istri yang hampir 24 jam mendampingi ada 3 istri yang tetap ikut dalam berlayar kemanapun Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri berlayar mengarungi Samudra yang luas

Pangeran Tinggi Al - Akbar Wijayakusuma  VII Syarif Ubaidillah bin Abdul Wahid Alkadri salah satu Keturunan dari Pangeran Tinggi Al - Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi Al-Akbar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang di Nobatkan sebagai Pangeran atas titah leluhur Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri., Kandangan Kabupaten  Hulu Sungai Selatan Kalsel Indonesia 🇮🇩

Ketika Sultan berkunjung ke istri - istri yang lainnya.,  kedua istri Sultan ini lebih senang berada di dalam kapal bersama dayang yang membantu untuk memasak keperluan sehari - hari di dalam kapal menurut catatan kapal - kapal yang di miliki Sultan rata - rata berukuran lebar 7 M dengan Panjang mencapai 40 M yang di lengkapi semua keperluan setiap kapal ada 17 Pasukan, nahkoda, 2 orang datang dapur dan 2 orang istri Sultan dan Sultan sendiri, sedangkan kapal yang lai  jumlah tetap sama dengan Kapal Sultan yang terdiri dari  pasukan dan Nahkoda akan tetapi tidak ada dayang sebab yang menjadi petugas dapur adalah pasukan yang di jadwal, hanya kapal layar Sultan saja yang di lengkapi dengan Dayang sebab ada kedua istri Sultan yang juga perlu mereka layani

Maka ketika Sultan keluar jika sudah tiba di suatu tempat Dayang - Dayang inilah yang menemani kedua istri Sultan sedangkan para Pasukan keluar ikut mendampingi Sultan sampai di rumah istri Sultan untuk berjaga - jaga di luar rumah dan sebagian yang lain membantu bongkar muat barang dagangan yang akan di jual maupun yang di beli untuk di pasar kangen di tempat lain sesuai pesanan Rakyat yang memerlukan. , akan tetapi anak - anak Sultan dari istri yang di kunjungi sering betada di dalam kapal untuk bertemu dengan dayang dan istri Sultan. , kedua istri Sultan senang bermain dengan kedua istri dan dayang yang menunggu di dalam kapal dan serekali mereka juga keluar dari kapal untuk melihat suasana di luar kapal

Sultan sering memperhatikan kedua istri nya ini dengan penuh kasih sayang tanpa mbedakan keduanya bermain bersama-sama dengan anak-anak nya dari istrinya yang lain

Sebab itu sebelum Sultan menawarkan kepada kedua istrinya ini, Sultan terlebih dahulu menawarkan ke istri - istri yang lainya untuk merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri. , demikian juga kepada istr - istrinya yang tidak memiliki anak

Ternyata rata - rata istrinya menolak dengan lembut dengan memberikan berbagai alasan masing-masing., bahkan pernah Sultan menawarkan dengan imbalan yang besar asal mau merawat anaknya Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Hal ini di sebabkan kondisi ibunda Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri kondisi terus menurun karena kelelahan merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Syarifah Ikrimatussa'diah binti  Abdul Wahid bin Aran Alkadri keturunan dari Pangeran Tiga Serangkai Pangeran Tinggi Al-Akbar Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalsel Indonesia 🇮🇩

Yang mengakibatkan ibunya Ratu Syahranum Ratu Banjar tidak bisa lagi merawat Pangeran Kachil karena hampir selama 15 tahun semua di urus sendirian oleh ibunya, sebab tidak ada dayang yang mau mengurus Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri., salah satu penyebabnya ketika akan buang air kecil dan buang air besar bahkan mandi dan menganti pakaian luar maupun dalam harus di kerjakan oleh ibunya hingga di usia tersebut bahkan hsrus di papa atau di gendong di sebabkan tubuhnya yang lembek gemulai sehingga tidak bisa duduk apalagi bangun dan berdiri., sehingga keseharianya dalam posisi berbaring atau di sandarkan yang membuat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri menjadi sedih melihat kondisi anaknya tersebut

Sedangkan gelar Pangeran Kachil di berikan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ketika Pangeran Kachil  Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri setelah berusia 7 tahun tidak ada tanda-tanda anak tersebut bisa bangun maupun berdiri bahkan makan dan minum juga harus di siapkan., tubuhnya yang semampai tetapi lembek dan sedikit kerdil / kecil dari anak - anak beliau yang lain termasuk adik ya sendiri jauh lebih besar dan tinggi dari Pangeran Kachil ahirnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri membeinya gelar dengan nama Kachil "" Yang Brarti Tumbuh Dengan Kerfhil, lembek Dan Gemulai Serta Pertumbuhan Yang Lambat Dan Bicaranya Juga Sepatah - Sepatah" Sehingga di Panggil dengan "" PANGERAN KACHIL "" Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan ibu Kandung Rstu Banjar,, Rstu Syahranum binti Sultan Sa'ad Tanjih Tahmidullah beliau juga di kenal dengan sebutan Ratu Shabarnun seorang Rstu yang penuh perhatian serta kasih sayang merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri "" Sehingga beliau tidak memperdulikan dengan dirinya sehingga sampai jatuh sakit,, demikian kesabaran dan ketekunan Ratu Syahranum merawat anaknya tersebut

Anehnya masih saja ada Orang-orang yang mengaku sebagai keturunan Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, ini bearti mereka tidak mengerti dan tidak paham, tidak pernah mendengar bahkan tidak tau sama sekali dengan Sejarah kehidupan Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri., 

Bahkan keturunan ini justru sebaliknya banyak yang suka membongkar makam Panglima Laksamana I Syarif Abu bakar bin As-sayyid Husein Alkadri dan berani juga mengatakan bahwa Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri wafat masih kecil dan tidak memiliki istri dan anak

Yang akhirnya menjadi fitnah yang berkepanjangan tanpa mereka sadari justru mereka lah yang terputus karena mengaku sebagai keturunan Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Sebab itu Maktab NanGq 1857 Dewan Pimpinan Pusat wajib meluruskan Sejarah keduanya bshkan Semua Sejarah Keturunan As-sayyid Husein bin Ahmad Aljadri jika di Perlukan agar satu sama lain tidak saling memfitnah, sekaligus sebagai Tanggungjawab Maktab NanGq 1857 untuk meluruskan Nasab Keluarga Besar Aljadri seluruh Dunia yang saat ini sudah sangat memprihatinkan karena banyak jalur yang salah Nisbah (Sandar) ahirnya jadi terputus

Sebab itu Maktab NanGq 2857 wajib bertindak tegas untuk meluruskan Nasab Keluarga Besar Aljadri dengan berbagai Resikonya dan Konsekuensi yang harus di hadapi dan itu sudah terjadi dari generasi Kepemimpinan Maktab NanGq 1857 sebelum

Hal ini juga di perparah dengan adanya campur tangan Maktab - Maktab lain yang membuat Silsilah Nasab Keluarga Besar Alkadri menjadi amburadul

Syarif Muhammad Anshar Maulidi bin Abdul Wahid bin Aran Alkadr keturunan dari Pangeran Tiga Serangkai Pangeran Tinggi Al-Akbar Kesumajaya Syarif Alwi Al-Akbar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri., i Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalsel Indonesia 🇮🇩

Salah seorang istri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yaitu Rstu Parabu Mulia  binti Husein Jamalullail yang merupakan istri yang ke 20  menawarkan diri untuk merawat Pangeran  Kachil  Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri akan tetapi di tolak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan alasan anaknya masih kecil dan perlu perhatian perawatan  ibunya / masih harus menunggu lama baru bisa di ijinkan untuk merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Sebenarnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sudah mendapatkan istri - istri yang bersedia merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Akan tetapi jika Sultan menyuruh kedua istrinya ini., maka dengan sendirinya setiap perjalanan perlaysran Beliau  tidak ada lagi yang mengikutinya, sehingga merepotkan dirinya ketika berada di dalam Kapal dalam segala keperluan di dalam kapal. 

Salah satu istrinya yang bersedia mengikuti beliau di dalam kapal adalah Ratau Parabu Mulia binti Husein Jamalullail  yang pernah menawarkan diri untuk merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang tinggal di Sambe

Sultan bersedia dengan catatan harus membawa anaknya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang terkenal sebagai Panglima Mamgku Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri (di masyarakat Dayak pedalaman Sambe belisu di beri gelar oleh pemangku adat Dayak Sambe dengan Panglima Terbang Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri., Karena memiliki Ilmu Laduni yang cukup tinggi, pemberian gelar tesebut ketia berumur 30 tahun

Sedangkan gelar Panglima Mamgku di Nobatkan langsung Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri krgika berusia 5 tahun

Karena menurut Sultan anaknya ini telah lama tinggal di hutan Rimba wilayah Sambe yang harus berpengalaman melalang buana sebagai Pelaut bersama ibunya Ratu Parabu (nama asli bukan gelar dari Sultan Hamengkubuwono II) ma'na Parabu adalah suatu nama kemuliaan suku Dayak pedalaman Sambe yang berasal dari keturunan Raja - raja yang berhubungan dengan Kerajaan Majapahit di Jaman  Gajah Mada) sedangkan gelar dari Sultan Hamengkubuwono II adalah PERBU / PRABU bukan Parabu yang intinya dan makanannya sama saja gelar dari Raja - raja fm di tanah Jawa jaman Kerajaan Majapahit

Akan tetapi supaya tidak ada yang salah pengertia dari istri - istri yang lainya., maka Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri menobatkan istrinya menjadi "" RATU PARABU MULIA' yang siap menemani belisu saat berlayar di lautan Samudra penuh dengan resiko badai, ombak, hujan, angin dan bajak laut yang suatu saat bisa menjadi ancaman bagi mereka, sebab itulah dalam berlayar Sultan paling sedikit membawa 17 Kapal Layar yang beriringan ibarat Kapal persng dan jika suatu rencana dalam berlayar laut yang di lewati banyak bajak lautnya, biasa Sultan mengerahkan hingga sampai 40 kapal yang di padang bendera Kesultanan Pontianak dan bendera perang yang siap berperang dengan siapa saja yang akan menganggangj sehingga setiap kapal di padang satu Bush meriam yang bisa mendentum sehingga dengan suara tersebut membuat bajak laut lari kocar kacir, ini merupakan salah satu taktik yang fi tetapkan Sultan ketika berlayar., sehingga membuat musuh menjadi segan karenanya

Syarif Muhamad Ricky Anwari Bin Abdul Wahid Alkadri salah satu keturunan dari Pangeran Tiga Serangkai Pangeran Tinggi Al-Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi Al-Akbar ibn Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Kandangan Kabupaten Tanah Laut Kalsel Indonesia 🇮🇩

Taktik tersebut ternyata cukup berhasil sehingga sebaliknya ada di antara bajak laut yang ikut bergabung untuk menjadi pasukan belau karena mendapat gaji bulanan yang cukup besar, sementara ketika menjadi bajak laut hasil yang tidak tetap bshkan bisa mengorbankan nyawa jika kapsl yang di bajak memiliki perlengkapan dan pasukan perang yang dj miliki oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Maka jangan heran jika pasukan laut Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri banyak dari kalangan bajak laut Bugis Buton, Bugis Perahu, dan Bugis - Bugis lainya, ketika berada fi Pontianak mereka menikahi orang Asli di Pontianak sehingga Etnis Bugis menjadi Banyak yang akhirnya terbentuklah Kampung Bugis (Sekarang Kelurahan Dalam Bugis) mereka  adalah Pelaut yang ulung fi medan Samudra

Taatnya mereka kepada Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri karena merupakan Ahlulbait Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang mereka junjung tinggi sehingga titah Sultan mereka junjung tinggi di tambah mereka juga mengetahui bahwa Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri juga merupakan Bagian dari Kerajaan Bugis Opu Daeng Manambon Sayid Syekh Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah yang juga merupakan Ahlulbait dari keturunan Bugis dari jalur leluhurnya Raja Lamudasilat Sayid Syekh Muhammad Adeni Qaulan Jazirah yang menikahi anak Dato Batara Guru Sulawesi, yang merupakan keturunan dari istri Sultan Putri Utin Candramidi jalur leluhurnya perempuan

Pangeran Tinggi Al - Akbar Wijayakusuma Syarif Mahrani bin Bahrudin Alkadri salah satu keturunan Pangeran Tinggi Al - Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi Al-Akbar ibn Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri., salah satu Keturunan yang di Nobatkan sebagai Pangeran atas Titah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri., Martapura  Kabupaten Banjar  Kalsel Indonesia 🇮🇩

Syarif Bahrudin bin Muhammad Jahri Alkadri Martapura Kalsel

Syarif Muhammad Jahri bin Umar bin  Ali Muhammad bin Pangeran Tinggi Al-akbar Syarif Alwi Al-akbar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ( Alwi Tiga Setangkai) 

Sedangkan istri beliau Ratu Prabu Khodijah binti Abdullah banten bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri

Dan Ratu Prabu Inche Aminah binti Abdullah Wahab Palembang  di minta untuk merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Bersama kedua anaknya  yaitu :

1. Pangeran Tinggi Al-Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi Solo Provinsi Yogyakarta bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ibunda Rstu Prabu Khodijah binti Abdullah Banten bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alka Alkadri. Pontianak

2. Pangeran Hadijaya Kesuma Syarif Alwi Palembang Provinsi Palembang  bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ibunda Rstu Prabu Inche Aminah binti Abdul Wahab Palembang 

Kedua istri inilah  yang bersedia merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri termasuk kedua anaknya 

Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, ibunda Pangeran Kachil adalah Ratu Banjar  Ratu Syahranum binti Sultan Sa'ad Tanjih Tahmidullah., Ratu Syahranum terkenal juga dengan nama Ratu Syabarnum yaitu seorang Ratu yang dengan penuh keikhlasan dan keyakinan dengan menanamkan jiwa kesabaran yang sangat tinggi hingga mampu merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri hingga berusia 14 tahun dengan penuh kesabaran merawat anaknya Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan di bantu beberapa Dauang., tetapi hanya dalam batas menyiapkan pakaian, makanan dan membersihkan ruang tidur dan tidak untuk memandikan, membersihkan kotoran Tinja dan kencing dan tidak juga memapah, sehingga biasanya di bantu oleh 2 orang Pasukan, akan tetapi hanya bersipat sementara

Maka  ketika para pasukan bertugas di luar sehingga tinggal ibundanya sendiri yang harus mengurusnya,., sebab itulah di perlukan orang yang bersedia mengurus Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan sepenuh hati serta menjadikan sebagai anak sendiri., sebab kakak kandung Pangeran Kachil sudah berkeluarga dan ikut bersama suaminya sehingga juga tidak bisa membantu, sedang kan adiknya mendapat tugas mengurus Distrik Perdagangan Wilayah Kalteng

Rstu Syahranum sangat bersyukur sekali ada 2 orang istri dan 2 anak yang masih mau merawat Pangeran Kachil

Pintu Gerbang Selamat Datang Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalsel Indonesia 🇮🇩

Sehingga baik Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri maupun istrinya merasa terharu dan sangat bersyukur kepada Ratu Prabu Khodijah binti Abdullah banten bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri dan Ratu Prabu Inche Aminah binti Abdul Wahab Palembang bersama kedua anak mereka., sehingga Sultan dan Ratu sempat meneteskan air mata

Sudah di upayakan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri mengobati Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Akan tetapi tidak ada perubahan sedikitpun., sehingga harus di rawat secara intensif

Bahkan para dayangpun banyak yang tidak mau sekalipun di beri upah yang besar. , terutama saat membuang tinja dan kotoran lainya karena adanya rasa sipat malu dan menjaga batas norma

Sedangkan ibunya Ratu Syahranum yang sudah merawatnya dari kecil Drop hingga jatuh sakit

Akibatnya terpaksa 

1. Pangeran Tinggi Al-Akbar Syarif Alwi Al-Akbar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Solo terpaksa meninggalkan tugasnya untuk Perdagangan Distrik Solo Jateng kemudian di ganti dengan anaknya  Syarif Hasan bin Alwi Alkadri  Pangeran Tinggi Al-Akbar dan beliau ikut ibunya untuk membantu merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan 

2. Pangeran Hadkusuma Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Palembang  juga bersama ibunya

Anak-anak Pangeran Tinggi Al-Akbar Hadkusumajaya Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan istri Intan Sari binti Rahmad Al-idrus Martapura adalah :

37.1. 768..0. Pangeran Hadikusumajaya Syarif Muhammad bin Alwi Solo bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ibunda Intan Sari binti Rahmad Al-idrus. , keturunan terdapat di Kalbar, Kalteng, Kalsel termasuk Pulau Jawa. , Makam  di Kecamatan Segedong  Kabupaten Mempawah Kalbar Indonesia 🇮🇩

37.2.768.1. Pangeran Hadkusuma Syarif Hasan bin Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ibunda Intan Sari binti Rahmad Al-idrus Martapura. , keturunan ada di Kalsel, Kaltim, Kalbar dan Pulau Jawa

37.3.768.2. Pangeran Hadkusuma Syarif Husein bin Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ibunda Intan Sari binti Rahmad Al-idrus Martapura., keturunan ada di Kalsel, Kalbar, Kalteng, Kaltim, Kaltara, Pulau Jawa

37.4. 768.3.  Pangeran Hadkusuma Syarif Basyaruddin Faruk 36. bin Alwi  35. bin  Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ibunda Intan Sari binti Rahmad Al-idrus Martapura Banjar , keturunan ada di Kalsel, Kslten, Kalbar Sekadau dan Sanggau (Data 1997 M -  1418 H) 

37.5. 768. 4. Pangeran Hadkusuma Syarif Ali Muhammad bin Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ibunda Intan Sari binti Rahmad Al-idrus Martapura Banjar., keturunan ini ada di  Kalsel, Kaltim, Kalbar ada di Kubu Raya dan Ketapang, Kayong Utara (Data 1997 M -  1418 H) 

37.6. sd 12. 768. 5 sd 11 belum terkonfirmasi keturunannya, keturunan yang belum terkonfirmasi dalam Rahasia Maktab NanGq 1857  mereka berjumlah 7 orang dari anak Pangeran Tinggi Al-Akbar Hadkusuma Syarif Alwi Al-Akbar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dalam Dokumen Tus Maktab NanGq 1857 Peningkatan  Pangeran Bendahara Ahmad bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri., menyatakan bahwa Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri adalah anak yang di lahirkan dalam kondisi Cacat pisik berupa tualang belakang dan kaki yang lembek berpostur kerdil tetapi tinggi semampai., akibat tubuh yang kecil dan tinggi semampai sehingga di gelar KACHIL "" Orang yang bertubuh kecil / kerdil dan harus di papa jika akan membawanya ketika mandi, buang air kechil dan air besar

Bahkan berdasarkan kehadiran secara ghaib Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan tegas menyatakan bahwa dari 101 anak belisu hanya Pangeran Kachil yang cacat pisik sehingga tidak bisa memiliki keturunan sebab tidak bisa menikah

Dengan demikian dengan mengetahui Sejarah Pangeran Tiga Serangka"  tujuan utamanya agar tidak keliru menisbatkan diri dengan Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Sebab Keturunan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang bernama Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ada 5 orang., dari ke 5 orang tersebut hanya Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang tidak memiliki istri dan juga tidak memiliki anak dan ibunya adalah Ratu Syahranum binti Sultan Sa'ad Tanjih Tahmidullah atau juga di kenal sebagai Ratu Banjar / Ratu Syabarnum karena kesabarannya merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Syarif Khalid  bin Arab Alkadri salah satu Keturunan Pangeran Tiga Serangkai Pangeran Tinggi Al-Akbar Syarif Alwi Al-Akbar ibn Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri., Jalan Balai Mas Desa Pantai Ulin Kecamatan Simpur Kabupaten  Hulu Sungai Selatan Kalsel Indonesia 🇮🇩

Gelar Ratu Syabarnum merupakan bentuk kesabaran Ratu Syahranum dalam merawat anaknya Pangeran Kachil Syarif Alwi. Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Pangeran Kachil Syarif Alwi tidak menikah dan tidak juga memiliki anak, akan tetapi masih ada saja yang menyandarkan Nasabnya kepada Pangeran Kachil Syarif Alwi Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sehingga Nasab tersebut terputus hal ini di sebabkan mereka - mereka yang menyandarkan tidak pernah tau Sejarah kehidupan Pangeran  Kachil Syarif Alwi Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri bahkan ada Lembaga yang sudah menerbitkan buku Nasabnya dan anehnya sementara yang memiliki keturunan justru sebaliknya di bilang terputus, artinya Kredibiltas Lembaga tersebut perlu di pertanyakan dalam menelusuri Marga Alkadri baik yang ada di Indonesia maupun yang ada di Luar Negeri bilkuhsus Keturunan  Sayid Husein Alkadri Mufthi Mempawah

Sebab - sebab yang membuat Pangeran Kachil Syarif Alwi Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri tidak bisa menikah karena kondisi Pisiknya yang memang tidak bisa untuk melakukan Pernikahan dan beliau juga Wafat dalam Usia Relatif Muda yaitu 17 tahun dalam kondisi Perawatan Ibu - ibunya dari Istri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang lain dan peduli dengan Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Yang merasa kasihan dan iba kepada Pangeran Kachil Syarif Alwi Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri.. 

Akibat kondisi Pangeran Kachil Syarif Alwi Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang terus menurun maka Sultan meminta 2 orang istrinya untuk merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Baik Ratu Parabu Khodijah Binti Abdullah Alkadri Banten maupun  Tstu Parabu Inche AMINAH Binti Abdul Wahab, silih berganti merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Sementara ketika mau ke WC atau ke kamar Mandi di papah oleh 2 orang saudaranya yaitu Pangeran Tinggi Al-Akbar Hadikusumajaya Syarif Alwi Al-Akbar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Solo dengan Pangeran  Hadikusuma  Syarif Alwi Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Palembang

Kesungguhan kedua istrinya dan kedua anak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dalam merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri  sering membuat Beliau meneteskan air mata .  Karena masih ada anak dan istrinya yang menyayangi Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Hal semacam ini membuat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri menjadi tenang meninggalkan anaknya untuk berlayar sekaligus untuk memenuhi Nazar yang belum tersampaikan dengan sempurna

Untuk mengantikan kedua istrinya berlayar maka Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri  meminta bantuan Ratu Parabu Mulia binti  Husein Jamalullail  istri ke 20 Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang berasal dari Sambe yang saat itu hanya memiliki seorang anak bernama Panglima Mangku Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang setelah dewasa terkenal sebagai Panglima Terbang Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri.  Ibu Panglima Mangku inilah yang kemudian menemani Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dalam berlayar mengarungi Samudra

Syarfah Aminah binti Aran Alkadri di Alabio dengan Syarif Abdul Wahid bin Aran Alkadri, adik kadungnya merupakan keturunan dari Pangeran Tiga Serangkai Pangeran Tinggi Al-Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi Al-Akbar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalsel Indonesia 🇮🇩

Ratu Parabu Mulia juga memiliki dipst yang hampir sama dengan kedua istri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi

Atas saran istrinya agar beliau juga di bantu seorang Dayang, ketika di cari maka dapatlah seorang Dayang  bernama Hafizah binti Abu Bakar Alidrus berusia 19 tahun yang berasal dari Kandangan Kalsel

Dalam perlayaran selama 2 tahun Sultan Syarif dapat menikahi lebih dari 10 orang perempuan akan tetapi rata-rata hanya melahirkan tidak lebih dari 3 bahkan lebih banyak yang tidak memiliki keturunan, maka Ratu Parabu Mulia binti Husein jamalullail menyarankan agar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri melamar Dayang Hafizah binti Abu Bakar Alidrus untuk di jadikan istrinya

Atas saran tersebut Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri meminta kepada istrinya Ratu Parabu Mulia untuk menanyakan kepada Hafizah apakah bersedia di lamar dan menjadi istri yang ke 61 Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri 

Ternyata gadis Hafizah binti Abu Bakar Alidrus mengiyakan dan bersedia menjadi Istri yang ke 61 Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan sekaligus tetap bersedia berlayar setelah menikah

Ketika Ratu Parabu Mulia menyampaikan amanah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri kapal mereka sudah berada di Nusa Tenggara Timur "" NTT" Setelah 1 Minggu di NTT Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri memutuskan untuk kembali ke Banjarmasin untuk menemui orang tua Hafizah di Kandangan

Setelah beberapa hari berlayar  kapal tiba di Banjarmasin, untuk selanjutnya  dari 17 Kapal tersebut baik nahkoda maupun pasukan dan kruh Kapal menuju Kandangs dan setiap kapal di suruh tinggal 2 orang saja setiap kapal sedangkan yang lainya menuju Kandangan untuk mengantarkan Lamaran dan sekaligus mahar Kawin yang sudah di siapkan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Ketika tiba di rumah Abu Bakar  Alidrus beliau terkejut karena ada rombongan Kesultanan Pontianak datang di rumah beliau,  Beliau hampir dok karena di kiranya anak perempuannya bikin masalah,  tetapi setelah di ketahui hajat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri  untuk melamar putrinya Hafizah  yang bekerja sebagai Dayang Sultan, belisu menjadi tenang dan kegelisahan yang menghilang

Setelah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri menyampaikan hajatnya untuk melamar dan sekaligus mengadakan tesefsi jika di terima, maka Abu Bakar Alidrus langsung menyampaikan hajat Sultan kepada Hafizah dan menyerahkan sepenuhnya kepada Hafizah

Anaknya memberikan jawaban bersedia untuk menikah dengan Sultan dan sekaligus tetap ikut menemanimu berlayar ke mana saja Sultan berlayar bersama istri Dultan Ratu Parabu Mulia binti Husein jamalullail

Setelah 1 minggu pihak perempuan mengadakan persiapan Sultan menyampaikan mahar mas kawin dengan 1 Peti emas sedangkan 1 peti mas lagi untuk acara Resepsi pernikahan 

Sultan meminta agar mengundang seluruh masyakat Kandangan dan di larang membawa bingkisan termasuk mengundang Sultan Banjar 1787 M -  1209 H

Setelah menikah Sultan memberi gelar Idtrinya Ratu Parabu Muda Hafizah binti Abu Bakar Alidrus, dari pernikahan memperoleh 1 orang anak yang lahir saat berlayar merupakan anak yang ke 97 

Ternyata setelah ini Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri menikah lagi sebanyak 6 orang Istri sehingga jumlah istrinya menjadi 67 orang dan memiliki anak berjumlah 101 orang  sehingga NAZAR SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRI untuk memiliki 101 terpenuhi

Sebab itulah setiap menikah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri tatap menyampaikan Nazarnya kepada calon istrinya untuk memiliki 101 orang anak, sehingga istri- istrinya sering bertanya apakah jumlah anak sudah mencapai 101 atau belum, jika belum para istri Sultan yang sudah tidak mampu melahirkan maupun yang mandul tidak bisa melahirkan sering menyuruh Sultan agar segera menikah sebab Nazar hukumnya wajib untuk di tunaikan, 

Keluarga Syarif Abdul Wahid bin Aran Alkadri Kandangan bersama Keturunan Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri dengan istrinya Nursiah Al - Adeni Qaulan Jazirah keturunan dari Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah ketika bersilaturahmi di kediaman Keturunan Pangeran Tinggi Al-Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi Al-Akbar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri di Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalsel Indonesia 🇮🇩

Pada saat anaknya lahir di tengah laut Sultan sedikit bingung untuk menentukan tempat lahirnya, sehingga setelah sampai di Kandangan dan bertemu dengan mertuanya, maka di sarankan lahir fi Kandangan akan tetapi tanggal lahirnya tetap memakai tanggal lahir ketika melahirkan

Mertuanya Abu Bakar Alidrus memberikan tempat lahirnya Kandangan, 17 Maret 2788 M - 1210 H dengan nama  36. 816. 97. 35.3. 61.1. Pangeran Mas Adikusuma Syarif Kasim Ghasim 35.3. Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Saat ini keturunan ini baru fi temukan di Bersu Kalimantan Timur. Sementara jejak keturunan ini di Kandangan belum dapat di ketahui

Setelah Rstu Syaranum binti Sultan Sa'ad Tanjih Tahmidullah wafat  1789 M -  1210 H,  dalam usia 57 tahun, maka Pangeran Kachil Syarif Alwi tetap di rawat kedua Ibu dan kedua saudara kandungnya dari lain ibu. Kedua ibunya bersungguh-sungguh merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi demikian juga kedua saudara kandungnya dari lain ibu

Sementara Rstu Syahranum binti Sultan Sa'ad Tanjih Tahmidullah meninggal 3 orang anak yaitu :

1. Ratu Anom Syarifah Salmah binti Sultan
    Syarif Abdurrahman Alkadri

2. Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan
    Syarif Abdurrahman Alkadri

3. Pangeran Tinggi Syarif Abdurrahman 
    bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Pemberian anak ketiga seperti nama ayahnya merupakan rasa kecewa Rstu Syahranum terhadap lahirnya anak kedua yang ternyata setelah tumbuh besar ternyata mengalami kelaiansn pisik

Ratu Syahranum berharap anak ketiganya sebagai ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sehingga memberinya nama yang sama dengan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, ternyata harapan tersebut membuat Rstu Syahranum terkabul karena Pangeran Tinggi Syarif Abdurahman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri selain bertubuh tinggi juga gagah seperti ayahnya sehingga rasa kecewa tersebut justru terkalahkan dengan kasih sayangnya dengan sepenuh hati merawat anaknya Pangeran Kachil. Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Bahkan Rstu Syahranum memisahkan anaknya Pangeran Tinggi Wijaya Kesuma Syarif Abdurrahman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, karena tidak ingin penyakit Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri menurun atau tertular sehingga fi titipkan dengan ayahnya Sultan Sa'ad Tanjih Tahmidullah di Kesultanan Banjar dan hampir setiap hari Rstu Syahranum menemui anaknya di Istanah  Banjar sekalipun hanya sebentar sebab setelah menikah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri membangun rumah sendiri di Martapura yang terletak tidak jauh dari makam Ratu Syahranum, setelah Rstu Syahranum wafat barulah Pangeran Tinggi  Wijayakusuma Syarif Abdurrahman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri bisa bertemu dengan abangnya  Psngeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri untuk ikut membantu merawat Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Akan tetapi memegang janji kepada istrinya maka Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri memisahkan Pamgeran Kachil Syarif Alwi Alkadri dengan menugaskan Pangeran Tinggi Wijayakusuma Syarif Abdurrahman Alkadri di Distrik Perdagangan di Kalimantan Tengah tepatnya di Kota Waringin bersama  menemui Saudaranya Raden Pangeran Adijaya  Negara Syarif Syirskudinsysh di Kota Waringin kemudian oleh Raja Kota  Wsringin pada tahun 1805 Kerajaannya di Pindahkan ke Pangkalan Bun, setelah itu Sudah Syarif Abdurrahman Alkadri pulang ke Pontianak untuk mengurus  Istanah Ksdriah Kesultanan Pontianak hingga wafat pada tahun  1808 H, 

Menurut Dokumen Maktab NanGq 1857 Pusat Pontianak dari Catatan Pangeran Bedshara Tua Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri wafat pada tahun   1792 M - 1213 H, artinya Psngeran Tinggi Wijayakusuma Syarif Abdurrahman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sempat metawst abangnya selama 3 tahun sejak wafat ibunya Ratu Syaranum  1795 M - 1210 H, artinya Pangeran Tinggi Wijayakusuma Syarif Abdurrahman Alkadri di bertugas di Kalteng setelah wafat abangnya Pangeran Kachil Syarif Alwi Alkadri, sehingga Sultan Abdurrahman Alkadri memberi tugas di Kalteng di Distrik perdagangan Kalteng melalui pesan dari Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Syafaruddin Najamuddin Alkadri 1792 M - 1213 H, sebab saat itu setelah wafat anaknya Pangeran Kachil Syarif Alwi Alkadri Sultan Pulang ke Pontianak untuk meneruskan tugas ke Istanah dan berlayar di beberapa tempat lainnya demi memenuhi nazar beliau

Sementara Ratu Parabu Khodijah binti Syarif Abdullah temenggung Banten wafat dan di makamkan di samping kanan Rstu Syahranum demikian juga Ratu Parabu  Minah binti Abdul Wahab Palembang juga di makamkan di bagian atas kepala Rstu Syahranum karena sudah ada makam salah satu dari anak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dari istri yang lain sehingga berjejer

Keluarga Besar Alkadri Kandangan Syarif Abdul Wahid bin Aran Alkadri Kandangan menerima Kunjungan Keluarga Besar Alkadri  kunjungan Silaturahmi dari keluarga Besar Alkadri keturunan dari :

1. Keluarga Besar Alkadri Keturunan Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Alkadri., Syarif Arif Candra., LC., S. Pd. I., MSi dari Pontianak Ketua Maktab NanGq 1857 DPP
2. Keluarga Besar Alkadri Keturunan Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Syafruddin Najamuddin bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, Pangeran Hadikarya Wijayakusuma VII Syarif Norliansyah Bin Abdul Mu'in Aljadri Ketua Maktab NanGq DPW Kalsel dan Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Negara VII Syarif Jazuli Rahman bin Shadri Aljadri Ketua Perwakilan Maktab NanGq 1857 DPP dan
3. Keluarga Besar Alkadri Keturunan Panglima Hitam Paku Alam Syarif Ibrahim Aljadri Segeram., Panglima Hitam Paku Alam VII Syarif Syahrani Alkadri  Kalsel 

Adapun urutan makam tersebut adalah sebagai berikut :

1. Makam Pamgeran Hadikesumajaya Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

2. Pangeran Tinggi Wijayakusuma Syarif Abdurrahman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri di balut lain hijau dan putih yang di klaim sebagai Makam Pangeran Kachil (Klaim tersebut keliru) 

3. Makam Pamgeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

4. Makam Ratu Syahranum binti Sultan Sa'ad Tanjih Tahmidullah istri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

4. Makam Rstu Parabu Khodijah binti Syarif Abdullah Banten bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri

5. Makam Syarif Muhammad Bin Pamgeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Syafaruddin Najamuddin Alkadri

6. Di atas kepala makam Ratu Parabu AMINAH binti Abdul Wahab Kelahiran Palembang

7. Dan makam - makam Alkadri isinya termasuk makam keturunan dari Panglima Laksamana Leacsa III Syarif Abu Bakar bin Abdullah Banten

8. Makam - makam tersebut hingga saat ini 2025 sangat memprihatinkan karena kurang perawatan

Sedangkan makam Pangeran Tinggi Al-Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi Al-Akbar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri setelah ibunya Ratu Parabu Khodijah binti Abdullah Banten Wafat, beliau memutuskan untuk pulang ke Solo hingga wafat di Solo  pada tahun 2839 M - 1261 H di Pemakaman  Tua Daksiknoloyo Solo Jawa Tengah Indonesia 🇮🇩

Dari Tiga Serangkai ini hanya Pangeran Tinggi Al-Akbar Syarif Alwi Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang memiliki anak hingga 12  orang sedangkan Pangeran Wijayakusuma Kesuma Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri hanya memiliki 2 orang anak saja

Rata-rata semua keturunan ini sudah terkonfirmasi 

Baik Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri maupun Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri keduanya berpostur tubuh besar dan tinggi sehingga rata-rata keturunannya tinggi dan berpostur tuh besar

Dementsta dari Rstu Syahranum karena ayahnya berpostur tibub tinggi tetapi kurus sehingga dari jalur keturunan ini hanya berpostur Tinggi seperti putrinya dan anak bungsungsunya, sementara Pangeran Kachil Syarif Alwi berpostur tubuh tinggi semampai tetapi bertubuh kecil dan lembek sehingga untuk berdiri saja tidak bisa

Maka sangat berbeda dengan keturunan Pangeran Tinggi Al-Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi Al-Akbar ibn Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri  Solo yang berpostur tubuh tinggi dan besar

Salah satu keturunan Pangeran Tinggi Al-Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi Al-Akbar  bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ada yang menjadi korban pembunuhan Jepang  1944 M -  1365 H yang tinggal di daerah Segedong dalam di Kelapa tinggi  beliau adalah :

1. Pangeran Hadikusuma  Syarif Muhammad bin  Alwi bin Mansur bin Muhammad bin Pangeran Tinggi Al-Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi Al-Akbar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan

2. Pangeran Hadikusuma Syarif Husein bin Alwi bin Mansur bin Muhammad bin Pangeran Tinggi Al-Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi Al-Akbar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Kecuanya wafat di kelapa tinggi di bunuh Jepang sebab melawan ketika akan di tangkap karena membawa keris kecil yang di selip dengan kepalan di telapak tangan, keris beracun tersebut dapat menyayat lehernya Jepang sehingga beberapa pasukan Jepang tewas mengenaskan karena keris tersebut beracun, akan tetapi keduanya tewas di tembak kemudian jenazahnya di masukan di dalam. Karung dan di bawah pakai  Trak Oto Sungkap untuk di kumpulkan di Mandor dalam catatan labih dari 10 tentara Jepang yang tewas karena tersayat keris beracun dari kedua keturunan Pangeran Tinggi Al-Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi Al-Akbar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Sebab itulah Segedong pada saat itu menjadi daerah yang paling mencekam karena siapa saja yang mereka temui langsung di bunuh tidak peduli anak kecil karena membalas tewasnya kawanan pasukan mereka

Gelar Pangeran Kachil di beri ketika Pangeran Kachil berusia antara 5 hingga 7 tahun, Gelar tersebut di berikan karena tubuhnya mengalami kelainan yaitu tinggi tetapi kerdil / Kecil dan lembek sehingga Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri memberi Gelar : ""PANGERAN KACHIL"" karena sesuai kondisi tubuhnya saat itu. 

Sebab di usia hingga 5 tahun tetap terbaring dan tidak bisa berjalan

Menurut Tabib Cina di Kota Banjarmasin  yaitu Tabib Shin Thai Shun Pangeran Kachil Syarif Alwi mengalami Shindrom Tulang ((Keropos Tulang Rangka Tubuh)) sejak di lahirkan karena kekurangan Zat besi dan zat Kapur,  hanya Kesultanan ibunya Ratu Syahranum saja membuat tubuhnya mampu bertahan hingga umur 27 tahun dan itu merupakan salah satu kebesaran Allah. SWT

Setelah ibunya Ratu Syahranum wafat tahun 1789 M -  1210 H, maka setelah 3 tahun wafat ibunya karena kelelahan Pangeran Kachil Syarif Alwi Alkadri juga wafat pada tahun 1792 M -  1213 H,  berdampingan langsung dengan makam ibunya, maka makam yang di balut dengan kain hijau putih tersebut adalah makam adiknya Pangeran Tinggi  Hadijayakesuma Syarif Abdurrahman Alkadri dan bukan makam Pangeran Kachil

Ini beatti mereka yang memgikatnya tidak mengetahui Sejarahnya dan bahkan yang lebih aneh mengaku sebagai keturunan langsung Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Maka jika ada seseorang yang mengaku sebagai keturunan Pangeran Kachil Syarif Alwi Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dapat di pastikan Nasabnya terputus bearti mereka termasuk bukan Keluarga Alkadri / hanya mengaku / Alias Aspal, maka Sejarah merupakan bukti yang sangat kongkrik untuk fi ketahui dan di pelajari agar tidak berspekulasi kata si anu begini / kata si a begitu sehingga menjadi kisah dituturkan yang simpang siur. Ini merupakan salah tugas Maktab NanGq 1857 untuk meluruskanya dengan selurus - kurusnya dengan menerapkan Semboyan : Melintang Patah Membujur Lalu" Dengan siapa menerima berbagai resiko dari orang-orang yang mengaku paham sejarah tapi sebenarnya justru mereka hanya sekedar mendengar cerita dituturkan yang kebenarannya masih di ragukan

Sebab itu ketika seseorang mengirim sejarah leluhurnya kepada Maktab NanGq 1857 Pusat, tidak langsung di masukan di dokumen melainkan di seleksi terlebih dahulu dengan Dokumen Maktab NanGq 1857 Pusat, jika  di ragukan pengurus Maktab NanGq 1857 Pusat dapat memanggil leluhur yang di ceritakan agar membeberkan kisah yang sebenarnya, jika kisah tersebut sesuai bearti fitur tersebut Benar dan SHOHE sesuai rekam jejak hidup leluhur tetsebut, maka dituturkan tersebut akan di masukan dalam dokumen tambahan dengan Nara sumber dari keturunan leluhur yersebut dan jika dituturkan tersebut Keliru tidak sesuai apa yang di sampaikan dari orang yang mengaku sebagai keturunannya, maka Fitutur adalah bohong dan orang juga bisa di ragukan, maka dalam hal ini tergantung dari leluhur yang hadir apakah benar keturunanya atau bukan leluhur tersebutlah yang menjelaskan. Maktab NanGq 1857 Pusat hanya mendata iya atau tidak 
1. Jika Ia akan masuk dalam Dokumen
     Maktab NanGq 1857 dan 

2. Jika tidak dokumen atau fittutr tersebut
     akan di musnahkan / hapus

Sehingga sangat simpel dan Praktis
Sehingga cepat atau lambat kebohongan tersebut pasti akan di ketahui baik dari lisan yang menyampaikan fitutur Adau dari data dokumen Sejarah asli atau justru langsung dari leluhur yang di klaim

Saat ini sebagai contoh kasus lampung justru me imbulkan masalah atas klaim makam, maka untuk membuktikan benar atau tidaknya makam Muhammad Kana yang di klsim maka yang bersangkutan harus mengirim poto makam tersebut, jika sudah di rehab harus memberikan bukti asli sebelum makam di rehab dan mbetikan titik koordinatnya serta adanya pengakuan dari leluhur yang bersangkutan benar atau tidak sebagai keturunan leluhur yang di klaim, karena hingga Sa'ad ini leluhur tersebut  belum hadir dan poto makam Muhammad Kanan juga belum fi kirim, dengan sendirinya dsta mereka dalam garis Merah (diragukan) sampai ada hadirnya leluhur dan bukti makam yang di klaim, maka dalam hal ini tergantung dari orang yang mengaku sebagai keturunan Muhammad Kanah tersebut

Keluarga Besar Alkadri Kandangan Kalsel Syarif Abdul Wahid bin Aran Alkadri silaturahmi di keluarga Besar Aljadri Garut Syarif Abdullah Ghoniyun Alkadri Ketua Maktab NanGq  Garut Jabar Indonesia 🇮🇩 Keturunan dari Pangeran Cakra Buana / Pangeran Puncung Putih Syarif Abu Bakar  bin Sultan Syarif Usman Aljadri di Kersamana Kabupaten Garut Provinsi Jabar Indonesia 🇮🇩., Semoga Silaturahmi Keluarga Besar Alkadri di Nusantara terus terjalin sepanjang masa dari generasi ke generasi 

Setelah wafatnya pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri tahun 1792  M  -  12q3 H maka pada tahun 1793 M - 1214 ibu asuhnya  Ratu Parabu Khodijah binti Abdullah  Banten bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri juga wafat dan di makamkan di samping kanan Ratu Syahranum binti Sultan Sa'ad Tanjih Tahmidulla, setelah 2 tahun wafatnya Ratu Parabu Khodijah, maka Ratu Parabu Inche AMINAH binti Abdul Wahab  Palembang juga wafat pada tahun 1795 M - 1216 H dan di makamkan bagian atas makam Ratu Syahranum karena di deretan tersebut sudah terdapat makam keturunan dari . Keluarga Alkadri yang lainya

Setelah semuanya wafat maka Pangeran Tinggi Al-Akbar Wijayakusuma Syarif Alwi  Al-Akbar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri memutuskan untuk kembali lagi ke Solo hingga wafat di Solo pada tahun 1839 H

Kemudian pada tahun yang sama 1839 adiknya Pangeran Kachil yaitu Pangeran Tinggi Wijayakusuma Syarif Abdurrahman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri wafat dan di makamkan samping kiri dari makam Pangeran Kachil sebab sampi!ng kanannya adalah makam ibunya sesuai deretan dan juga samping kiri dari makam Pangeran Tinggi Wijayakusuma Syarif Abdurrahman Alkadri juga di makamkan Pangeran Hadiwijayakesuma Jaya Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Palembang sehingga makam tersebut berderet dari Keluarga Besar Alkadri

Pada tahun 1841 M - 1262 H Wafat juga Pangeran mas Muda Syarif Kasim Ghasim bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ibundahnya adalah Rstu Parabu Hafizah binti Abu Bakar Alidrus di makamkan di samping Ratu Parabu Khodijah karena terdapat pohon kapas yang besar sehingga di jarak 3 M dari makam Ratu Parabu Khodijah, jika di lihat dari poto ada makam masyarakat yang baru yang di pasang poselin ini bearti pohon tersebut sudah di musnahkan

Sedangkan ibunya Rstu Parabu Hafizah Binti Abu Bakar Alidrus di makamkan di makam tua Kandangan 

Sehingga makam di Areal pemakaman Pangeran Kachil berderet makam keluarga besar Alkadri saat itu

Selain itu di areal makam ini juga terdapat makam istri- istri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang tidak memiliki keturunan, juga terdapat makam Syarif Muhammad bin Pangeran Hadikusuma Syarif Abdurrahman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri 

Makam - makam tersebut di lokasi ini hingga tahun 2025 tidak terawat dengan baik

Demikian Sejarah Singkat / manaqib Singkat 

PANGERAN TIGA SERANGKAI

Semoga bermanfaat bagi Keluarga Besar Alkadri Bilkhuhsus keturunan tersebut dan pada umumnya Keluarga Ahlulbait Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam agar peduli untuk merawat makam - malam leluhurnya


                
Syarif Wasi'un bin Muhammad Marmin Alkadri. Makam Desa Luwung Solo Jateng (keturunan Alwi Tiga Setangkai) 

SELAYANG PANDANG

Fitutur Syarif Syaifuddin Puji Hartono Alkadri Kepada  :
Dewan Nasab Maktab NanGq 18t7 Pusat Pontianak Panglima Laksamana  Wiereles VII Syarif Abdullah Bin Yahya Alkadri 

Jum'at 12 Maret  2020 M /  1441 H
Waktu : 19 : 27 WIB

Di Sampaikan Kepada Ketua Maktab NanGq 1857 Pusat Pontianak 
Istanah Indah Jalan Cendana Pontianak Kalbar Indonesia 🇮🇩

Terbaru 2025  M Susun Oleh  : Tengku Turiman Mulia Dilaga Mentri Dalam Negeri Kesultanan Kadriah Pontianak

Sejarah ini / Manaqib ini bisa bertambah jika ada fitutur dari keturunan yang bersangkutan dan bisa di tambahkan di Blog ini jika sudah di benarkan oleh leluhur yang bersangkutan dan sesuai dokumen Resmi Maktab NanGq 1857 Pusat 


Pangeran Tinggi Al - Akbar Syarif Alwi Al - Akbar Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Solo Maqam  Dasiknoloyo Solo Jateng

MAKTAB NANGQ 1857
Dewan Pimpinan Pusat Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Pontianak Jalan Seliung

Seting Louyat Dan Hak Cipta Ada Pada :
MAKTAB NANGQ 1857

Di Lindungi Undang-Undang

Pontianak Sabtu 22 Maret 2025 M / 22 Ramadhan  1446 H

06 : 09 WIB 
Waktu Pertama Kali Di Masukan Di Blog Maktab NanGq 1857



Postingan populer dari blog ini

MANAQIB PANGERAN LAKSAMANA TUANKU JAKSA II SYARIF ALI MUHAMMAD ALKADRI. MAKTAB NANGQ 1857 PANGERAN BENDAHARA TUA SYARIF JAFAR BIN SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI KESULTANAN KADRIAH PONTIANAK.., JALAN SELIUNG

BLOG I SAYID HUSEIN DAN KETURUNANYA.. MAKTAB NANGQ 1857 Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Kesultanan Kadriah Pontianak. Kantor Pusat Jalan Seliung 78353

PENGURUS MAKTAB NANGQ 1857 PUSAT - WILAYAH - KAB/KOTA - LUAR NEGERI