SAEDAH ALKHOTIB., MAKTAB NANGQ 1857 PANGERAN BENDAHARA TUA SYARIF JA'FAR BIN SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI KESULTANAN KADRIAH PONTIANAK. KANTOR PUSAT JALAN SELIUNG
SYEHKAH SAEDAH BINTI ABDULLAH
ALKHOTIB KAMPUNG DAGANG ..SAMBAS
Istri Syekh Mahmud Syarwani Mufti Kesultanan Kadriah Pontianak Tahun 1889 M - 1896 M
Makam Syeckah Saedah Binti Abdullah
Alkhotib Gang Meliau Tanjung Pura
Pontianak anak Bungsu
dari 9 Bersaudara
32. SULTANUL AULIA WALIYUL HAQUN WALIYUL HAQ WALIYUL AHAD JALALLLUDDIN ALKHOTIB
31. Bin Ibrahim 30. Bin Musa Alkhotib
Lahir : Maroko 12 Julhizah 1106 H - 1685 M dan
Wafat : Sulu Brunaidarussalam 1179 H - 1758 M
Dalam Usia : 73 tahun
Gelar : SULTAN HAQUN SULTANAH BOLKIAH 16 (Sultan Pengati)
Istri : Fatimah binti Sultanah Bolkiah 16 Brunaidarussalam
Gelar : RATU PUTRI BOLKIAH 16
Pada umur 25 tahun beliau Hijrah dari Maroko ke SULU Brunaidarussalam kemudian di angkat menjadi Mufthi dalam usia yang masih sangat muda
Selanjutnya oleh Sultan di nikahkan dengan Putrinya Fatimah binti Sultanal Bolkiah 16
Selama menjadi Mufthi Kesultanan SULU di Brunaidarussalam banyak yang dapat beliau sumbangkan terutama pembangunan Pelabuhan terbesar Kesultanan SULU Brunaidarussalam yang merupakan akses antar Negara
Ketika Sultan Wafat beliau mewasiatkan agar jika beliau Wafat Untuk menjadi Sultan Pengati karena anaknya baru berusia 4 tahun dan belum layak untuk menjadi Sultan
Pada tahun 1740 M sd 1744 M beliau mengantikan menjabat sebagai Sultan Selama 4 tahun
Ketika anak Sultan berusia 9 tahun kemudian oleh Sultan Haqun beliau melantik anak Sultanal Bolkiah 16 menjadi Sultan Bolkiah Ke 17, yang seharusnya berdasarkan wasiat baru boleh di nobatkan ketika sudah berusaha 12, karena Sultan Haqun di tarik ke Maroko beliau terpaksa menobatkan pada usia 9 tahun
Kemudian selanjutnya beliau Hijrah ke Maroko 1744 M dan di beri jabatan menjadi Sultan dari tahun 1745 M sd 1750 M menjabat selama 5 tahun sebagai Sultan Maroko
Akan tetapi baru berjalan 3 tahun menjabat sebagai Sultan, maka pada tahun 1748 M beliau memutuskan untuk mengundurkan diri dan kembali lagi ke SULU Brunaidarussalam 1748 M
Kemudian menjadi Mufthi kembali di Kesultanan SULU Brunaidarussalam untuk mendampingi Sultanah Bolkiah 17 yang masih baru berusia Baligh, karena untuk memenuhi janjinya untuk mendampingi anak Sultanal Bolkiah 16 yang saat itu baru menginjak usia 12 setelah beliau menjabat sebagai Sultan di Maroko
Logo Kerajaan Maroko di Afrika, Al-Mamlakah Al-Magribiyah ""Kerajaan Islam Barat"
Pada awalnya Kerajaan Maroko didirikan oleh Bani Umayyah pada abad ke 8 M dalam bentuk ""Kholifah Bani Umayyah"" yang mengunakan Bahasa Resmi ""Bahasa Arab Abasiyah merupakan peranakan dari Bahasa Arab Quraisy""
Sedangkan penduduk asli Maroko adalah ""Suku Berber"" yang sudah menganut agama Islam pada awal Islam masuk Maroko di awal abad 7 M atau seratus tahun sebelumnya dari para Sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam
Akan tetapi dalam kesehariannya Suku Berber tetap mempertahankan Adat dan Tradisi Hukum mereka
Akan tetapi mereka taat juga dengan aturan Kholifah Bani Umayyah dengan membayar pajak kepada pihak Kholifah Bani Umayyah
Bangunan Peninggalan Kerajaan Maroko dan kini tetap menjadi Pusat Kerajaan Maroko Istanah Al - Mamlakah Al-Magribiyah di bangun pada tahun 800 M - 221 H saat ini sudah berusia 1225 tahun pada tahun 2024 M - 1446 H
Kerajaan Islam kedua setelah Cordoba Spanyol yang sudah hancur dan tinggal cerita, Kerajaan Maroko Al - Mamlakah Al-Magribiyah masih bertahan hingga sekarang 2025 M - 1446 H
Kerajaan Maroko 100 % beragama Islam yang berdiri dari suku asli Berber dan Arab pendatang dari "Bani Umayyah campuran Bani Abbasiyah karena keduanya merupakan satu rumpun kemudian memisahkan diri karena perebutan kekuasaan
Kerajaan Maroko merupakan bagian dsri pinggiran Pantai Samudra Atlantik, Sepang Pantai tersebut juga terdapat Spanyol (awal dari Peradaban Islam yang pernah membangun Kerajaan Islam Kordoba) dan Prancis
Di Almagribi memang saat itu abad 8 M 10 M merupakan Basis dari keturunan Sayidina Hasan dan sangat sedikit Keturunan Sayidina Husen
Di antaranya seperti :
1. Sayid Syech Musa Almagribi Alhasani
2. Sayid Syech Abu Hasan Asyadjely Alhasani
3. Sayid Syech Ahmad Alkhotib Alhasani
Marga ini memang sangat banyak di Maroko terutama di Al- Magribi
Salah satu penyebab pulangnya Sultanul Haqun Jalallluddin Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad 1744 M adalah dalam rangka untuk melepas tanggungjawabnya sebagai Sultan Maroko, maka setelah 4 tahun menjabat beliau kembali lagi ke SULU Brunaidarussalam untuk meneruskan jabatanya sebagai Mufthi di Kedutaan Sulu
Jika melihat Historis Sejarah beliau, lebih mengutamakan tanggungjawabnya sehingga yang lebih di utamakan adalah sebagai Mufthi Penasehat di Kesultanan Sulu Brunaidarussalam sehingga seharusnya menjabat di Kesultanan Maroko juga beliau tinggalkan demi amanah dan janji untuk membimbing anak Sultanah Bolkiah 16
Karena menurut beliau kedudukan sebagai Mufthi Penasehat lebih Mulia karena dapat memberikan nasehat, pemikiran demi kemajuan dan kemaslahatan di Kesultanan / Kerajaan
Kesultanan SULU II pada pada tahun 1457 M - 878 H sd 1578 M - 999 H memerintah selama 121 Tahun wafat dalam usia 139 tahun, pada saat menjabat usia baru menginjak 17 dan baru menikah berapa bulan dengan Putri Rendang Kecapi Sahara binti Sayid Abu Bakar Jamalullail yang bergelar Paduka Mahasari Maulana Sharif Ul - Hasim I Pendiri Kesultanan Sulu dan Sultan Pertama Sulu, Kesultanannya tidak berlanjut karena tidak memiliki anak laki-laki Ahirnya di tunjuk menantunya yang juga seorang Ulama Muda Kelahiran Johor yang bermarga Al-Barakat,
Seorang Ulama Muda penjelajah kelahiran Johor yang tidak di ketahui nama aslinya hanya bergelar :
Paduka Mahasari Maulana II Sharif Ul - Hasim II Kesultanan Sulu II, merupakan Kesultanan yang kedua terluas setelah Kesulitan Brunaidarussalam pada tahun tersebut
Pendiri Kesultanan Sulu yang pertama kalinya di kenal sebagai ""Kesultanan Sulu Darul Islam"" yang didirikan pertama kali pada tanggal 24 Jumadil Awwal ,808 H / 17 November 1405 M oleh Sayyid Abu Bakar Jamalullail yang datang dari Ariadha Hadramaut Yaman Selatan kemudian beliau menikah dengan Dayang Paramasuli anak Raja yaitu Pangeran Sumatra / Pangeran Samudra, Kemudian Sayid Abu bakar Jamalullail setelah menjadi Sultan bergelar "" Paduka Mahasari Maulana Alsultanul Asharif Ul - Hasim I (Sultan Pertama yang menjabat dari tahun 1405 M - 1457 M menjabat selama 52 tahun, setelah beliau wafat di gantikan oleh menantunya Ulama Muda dari Johor yang bermarga Al-Barakat masih keturunan dari Pendiri Kesultanan Brunai dengan Gelar "Paduka Mahasari Maulana Al-Barakat II Alsultanul Asharif Ul - Hasim II yang untuk selanjutnya keturunan ini melanjutkan Kesulitanan Sulu silih berganti dengan marga Al - Khotib dari Maroko dan Al - Barakat
Karena saling keterikatan di Nasab dan Silsilah sebagai Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam
Manuskrip Poto Peninggalan Kesultanan Sulu di Brunai Sayid Abu Bakar Jamalullail Paduka Mahasari Maulana Alsultanul Asharif Ul - Hasim I menjabat dari 1405 M - 1457 M selama 52, karena tidak memiliki anak laki-laki maka sebelum Wafat agar tidak terjadi perebutan Tahta beliau menunjuk menantunya sebagai Sultan Ke II dengan gelar Paduka Mahasari Maulana Alsultanul Asharif Ul - Hasim II Kesultanan Sulu
Sayyid Abu Bakar Jamalullail adalah marga Jamalullail yang pertama kali masuk benua Asia yang menjadi Sultan pada abad 14 M atau 1405 M - 826 H, beliau merupakan generasi ke 27 dari Rasulullah Shalallahu Alaihi beliau memiliki Saudara Kandung yang bernama Ahmad, Sayyid Ahmad menurunkan generasi ke 30 yang juga bernama Ahmad atau cicit Beliau yang di Kenal sebagai WAN Abdul Kahar Jamalullail Segeram yang kemudian memiliki anak bernama Wan Hamid Jamalullail I Penembahan Kerajaan Segeram Bungguran Barat Natuna sebagai generasi Jamalullail ke Dua yang masuk di Asia tepatnya di selat Karimata atau Pulau Malaya / Malaka atau semenanjung Melayu di Asia
Sayid Abu Bakar Jamalullail hanya memiliki tiga orang putri dan tidak memiliki keturunan anak laki-laki, sehingga posisi Kesultanan penganti Beliau adalah menantu dari Putri tertua beliau yang di anggap cocok dan amanah dalam meneruskan Kesultanan Sulu yang beliau dirikan
Asyultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib
Karena keberaniannya dalam menyampaikan da"wah dengan Haq dan Benar serta ahli Syufisme dalam ilmu Tasawuf dan Tarekat Qadriah serta kejujurannya sebagai Mufthi Kesultanan Sulu serta di percaya juga untuk menjadi Sultan Penganti ketika anaknya belum cukup umur
Ahirnya beliau mendapat tiga gelar yaitu :
""Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alsultanul Aulia Jalaluddin Haqun Alkhotib""
Gelar tersebut di beri oleh tiga Kesultanan saat itu :
1. Kesultanan Maroko Al - Mamlakah Al-Magribiyah ""Sultanul Aulia Waliyul Haqun""
2. Kesultanan Brunaidarussalam Darussalam ""Sultanul Aulia Waliyul Haq""
3. Kesultanan Sulu Brunai "Sultanul Aulia Waliyul Ahad"
Sehingga di satukan menjadi ""Alsultanul Aulia Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib"" Jalaluddin Alkhotib
Dengan gelar yang berbeda - beda tetapi bermakna sama
Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib memiliki lima orang anak dari istri Putri Fatimah anak dari Kesultanan Brunai di antara salah satunya adalah :
Syech Muhammad Alkhotib yang menyebarkan agama Islam hingga ke Negeri seberang Pulau Kalimantan Barat (Borneo Barat) yaitu di Sambas
Syech Muhammad Alkhotib merupakan keturunan langsung dari Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib yang menetap di Sulu sebagai Sultan dan Mufthi dalam waktu yang bersamaan 1837 M sd 1844 M
Dari Syech Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad salah satu keturunan melahirkan Ulama besar di Sambas, Beliau adalah Syech Ahmad Khotib Sambasi, yang menjadi Ulama dan Imam Masjid di Makah Almukaramah serta menjadi Imam serta mengajar di Masjid Makah Almukaramah
Merupakan keturunan terbesar di Sambas dan Singkawang Beliau dari Jalur Saudara kandung adik dari Syech Ahmad Khotib Sambasi
Sementara anak beliau yang bernama Pangeran Putra Syech Ahmad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib menyebabkan agama Islam di Sulu dan di lanjutkan ke Malaysia bagian Sabah
Akan tetapi untuk selanjutnya Syech Ahmad Alkhotib menyusul abangnya Syech Muhammad Alkhotib di Sambas karena lebih merasa nyaman ketika berada di Sambas dan beliau juga sebagai Ulama di Sambas
Kemudian menetap di Ulu ""SEKURA" Distrik Sambas Borneo Barat, dalam Manuskrip Maktab NanGq 1857, Makam beliau di Pemakaman Raja - raja di Keraton Sambas lapis kedua dari makam Opu Daeng Kemasi dan istrinya Raden Tengah Aisyah Albarakat anak dari Sultan Sambas, Sultan Akamuddin I Sambas
Sedangkan Syech Ali bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib tetap menetap di Sulu dan menyebarkan agama Islam di Sulu, akan tetapi beliau kelahiran Sambas
Sebab ketika ayahnya Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib bersama istrinya berkunjung di Sambas dalam kondisi hamil besar sehingga melahirkan di Sambas,
Maka Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun pulang terlebih dahulu ke Sulu setelah 4 Bulan dari kelahiran anaknya barulah istrinya dan anak bayinya Syech Ali di bawa kembali di Kesultanan Sulu,
Hingga dewasa Syech Ali tetap menetap di Sulu menebarkan Da'wah Islam dan menjadi Ulama di Sulu
Salah satu peninggalan
ISTANAH KESULTANAN SULU
di Brunaidarussalam yang berbatasan langsung dengan Sabah Malaysia
Istanah ini awalnya di bangun pada tahun 1405 M - 826 H oleh Sultan Pertama Sayid Abu Bakar Jamalullail yang bergelar ""Paduka Mahasari Maulana Alsultanul Asharif Ul - Hashim I Pendiri dan Sultan Pertama Sulu
Akan tetapi berikutnya di sempurnakan oleh Sultan - Sultan berikutnya
Sayangnya Fakta sejarah ingin menghapus Pendiri dan Sultan Sayyid Abu Bakar Jamalullail 1405 M - 1457 M berkuasa selama 52 tahun
Hingga seolah - olah Ulama dari Johor Paduka Mahasari Maulana Alsultanul Asharif Ul - Hashim II berkuasa dari tahun 1405 M sd 1578 M berkuasa selama 153 tahun sedangkan umunya saja tidak sampai 153 tahun
Gara - gara banyak yang ingin menghapus sejarah Keturunan Yaman Ba'alwi akan tetapi mereka gelabakan dengan tahunya dan Manuskrip asli yang di miliki masing - masing Keturunan tersebut, karena tidak mengerti Sejarah yang sebenarnya
Seolah - olah pendirinya Ulama dari Johor
Sedangkan para Sultan - Sultan yang berkuasa dari generasi - ke generasi tidak sedikitpun yang pernah mempersalahkan itu semua sebab semua sudah terdata dengan sempurna
Hanya generasi di atasnya saja yang terpengaruh dengan berbagai isu untuk menghapus sejarah keseluruhan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dari Jalur Ba'alawi tersebut
Sedangkan Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam yang murni tidak pernah sedikitpun memperdebatkan tentang silsilah Nasab karena mereka sangat mengerti Hukum Syariat Islam dan Hukum Isbat Nasab, sehingga siapapun yang mempermasalahkan termasuk dalam golongan ""Kapir Kurafat"" yang wajib di hindarkan sebab semua amal ibadah menjadi sia - sia, hal ini juga terjadi yang menimpa Keturunan Walisongo yang murni justru sangat berbahaya karena jalurnya di pindahkan oleh gerombolan pembongkar makam dengan kedok makam palsu, ini menunjukkan kaum Wahabi telah bercokol di Indonesia mereka dengan sengaja merusak Nasab Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam yang murni
Dalam kurung adalah Inche Muhammad Bari PJ Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat bersama istrinya
Anak - anak Syech Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib di antaranya adalah :
1. Syach Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Alkhotib
2. Syech Ahmad bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Alkhotib
3. Syech Ali bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Alkhotib
1. Sayyid Syech Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Alkhotib
Lahir di : Sambas 3 Syawal 1186 H - 1765 M dan
Wafat di : Sambas 9 Rajab 1341 H - 1830 M
Dalam Usia : 65 tahun
Sayyid Syech Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Alkhotib memiliki tujuh orang anak laki - laki dan dua orang anak perempuan di antaranya adalah :
1. Sayyid Syech Abdul Ghafar bin Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib, salah 1 keturunan ini adalah Syekh Ahmad Alkhotib Sambasi di Mekah
2. Sayyid Syech Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib (keturunan Belum di temukan)
3. Sayyidah Syecah Fatimah binti Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib (Keturunan Belum di temukan)
4. Sayyid Syech Amir bin Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib (Keturunan Belum di temukan)
5. Sayyid Syech Hasan bin Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib (Keturunan Belum di temukan)
6. Sayyid Syech Zaeini bin Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib (Keturunan Belum di temukan)
7. Sayyid Syech Muhammad Nurdin bin Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib (Keturunan Belum ditemukan)
8. Sayyid Syech Ali bin Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib (Keturunan Belu di temukan)
9. Sayyidah Syecah Saedah binti Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib, Syecah Saedah binti Abdullah Alkhotib merupakan istri dari Sayyid Syech Mahmud Syarwani Almaky Adagistani Alghoust Asyadjely Alhasani Mufthi Kesultanan Pontianak dari jaman Sultan Syarif Yusuf bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri sampai kepada anaknya Sultan Syarif Muhammad bin Sultan Syarif Yusuf bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
Yang di nikahi di Kesultanan Sambas karena keluarga dari keturunan Alkhotib di Sambas banyak yang menikah dengan keturunan Sultan Sambas saat itu sehingga saling terikat satu sama lainya
Anak tertua Sayyid Syech Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Alkhotib adalah Sayyid Syech Abdul Ghafar Alkhotib salah satu anak Sayyid Abdul Ghafar bin Abdullah adalah Sayyid Syech Ahmad Alkhotib yang terkenal dengan panggilan
""Syech Ahmad Khotib Sambasi'' bin Abdul Ghafar bin Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Alkhotib Sulu - Maroko
Lahir di : Kampung Dagang Sambas, 27 Shafar 1224 H - 1803 M dan
Wafat di : Mekah, 29 Juli 1875 M
Dalam Usia : 72 tahun
Syech Ahmad Khotib Sambasi memiliki tiga orang istri di antaranya adalah :
1. Anak dari Pamanya sendiri atau sepupunya sendiri yaitu anak dari Sayyid Syech Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Alkhotib
2. Istri kedua merupakan anak dari Sultan Akammaddin II Albarakat atau Sultan ke Empat Sambas
3. Istri yang ketiga di nikahi di Mekah dan memiliki dua orang anak laki-laki yaitu Alwi dan Ali Khotib
Dengan demikian hubungan Kekeluargaan dengan Sultan Sambas terjalin erat melalui pernikahan
Guru - guru Syech Ahmad Alkhotib Sambasi di antaranya adalah :
1. Imam Masjid Jami Kesultanan Sambas Tuan Guru Haji Nuruddin Mudthofah
2. Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari, asal Martapura yang menetap di Mekah
3. Syech Daud bin Abdullah Alfatani yang dari Fatani Thailand Selatan yang menetap di Mekah
4. Syech Abdussomad Alpalembangi Alkhotib asal Palembang Sumatera Selatan yang menetap di Mekah
5. Syech Abdul Hafiz Al - Azmi Mekah
6. Syech Ahmad Marzuki Mekah dan
7. Syech Syamsuddin beliau Mursyid Tarekat Qadriah yang menetap Jabal Qubaisy Mekah
Murid - murid beliau yang terkenal adalah :
1. Syech Nawawi Tanara Al-Bantani Banten juga menetap dan wafat di Mekah, salah satu anak beliau dari istri yang di nikahi di Mekah Syecah Aminah menikah dengan Pangeran Bendahara Syarif Ja''far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri sebagai istri keduanya dan memiliki dua orang anak laki-laki yaitu Syarif Thohir Alkadri dan Syarif Thoha Alkadri keduanya menetap di Alquds Arab Saudi
2. Syech Muhammad Kholil Bangkalan Madura
3. Syech Abdul Karim Tanara Al-Bantani Banten dan
4. Syech Tholha Cirebon
Istanah Kesultanan Sambas
ISTANAH ALWATZIKOEHBILLAH
Merupakan Istanah Pusat Pemerintahan Kesultanan Sambas yang terletak di Desa Dalam Kaum Kecamatan Sambas Kabupaten Sambas
Istanah ini di bangun pada masa Sultan Syarif Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin Albarakat (1931 M - 1943 M) Sultan Sambas yang ke 15 XV
Kemudian Istanah ini di beri nama :
ISTANAH ALWATZIKOEHBILLAH KESULTANAN SAMBAS sejaman dengan Sultan Syarif Muhammad Alkadri Pontianak satu tahun sebelum peristiwa Mandor Berdarah 28 Juni 1944 M
Yang saat itu hubungan kedua Kesultanan ini sangat erat sekali di pimpin Mufthi Kesultanan Pontianak yaitu Syech Mahmud Syarwani Almaky Adagistani Alghoust Asyadjely Alhasani
Syech Amir bersumpah siapa saja yang menikahi anaknya baik Laki - laki atau anak Perempuan yaitu ""Harus Menyematkan nama
""AMIR""
Syech Amir Abdullah atau Syecah Fatimah Amir
Adapun maksud beliau setiap orang di masanya langsung bisa mengetahui bahwa itu adalah keturunan Amir bin Abdullah bin Muhammad bin Sultanul Aulia Jalaluddin Haqun Waliyul Haqun Waliyul Haq Waliyul Ahad Alkhotib
Sehingga banyak keturunan Kesultanan Sambas yang menikah dengan keturunan Syech Amir memakai ""Gelar Amir di awal nama bagi laki-laki ((Amir Ahmad)) dan perempuan di Ahir namanya ((Aminah Amir)) dan atau
Syech Amir Amiruddin Albarakat atau Syech Amir Muhammad Alkhotib dan jika perempuan Syecah Saedah Amir Al-Barakat dan seterusnya
32. ASULTANUL AULIA JALALUDDIN HAQUN WALIYUL HAQUN WALIYUL HAQ WALIYUL AHAD ALKHOTIB adapun Nasab Beliau sebagai berikut :
31. Bin Syech Musa Waliyul Ahad
30. Bin Syech Ibrahim Waliyul Haq
29. Bin Syech Ali Waliyul Haqun
28. Bin Syech Hamid
27. Bin Syech Mahmud
26. Bin Syech Husein
25. Bin Syech Ahmad
24. Bin Syech Husein
23. Bin Syech Muhammad
22. Bin Syech Said
21. Bin Syech Ismail
20. Bin SYE H AHMAD ALKHOTIB
Beliau lah orang yang pertama kali menyematkan dirinya dengan Fam Marga ALKHOTIB , Dalam beberapa riwayat hampir setiap Jum'at belia
Tanda Panah Hijau Bukti bahwa Batu Nisan masih mengunakan Logo / Lambang KESULTANAN SULU
Sedangkan AL - KHOTIB bermakna orang yang naik di atas mimbar menyampaikan Khutba Jum'at sedangkan orang di sebut Khotib, Alkhotib bermakna Jamak yang dapat di terjemahkan orang yang sering menjadi Khotib
Makna lain Alkhotib dapat juga di artikan orang yang sering Mai mimbar menyampaikan da' wah / Ceramah pada acara hari .- hari besar umat Islam termasuk menyampaikan Tausiah pengajian Ba'da Sholat wajib yang lima waktu
Terlepas dari makna - makna tersebut, bahwa Sosok dari Sayyid Ahmad Alkhotib, adalah orang yang kesehariannya tiada waktu selain berda'wah dan waktu beliau hanya di habiskan untuk berda'wah dari mimbar ke mimbar, Lisanya hanya di habiskan untuk berda'wah dari mimbar ke mimbar
19. Bin Sayyid Ali Tunaji
18. Bin Sayid Salim
17. Bin Sayid SALAM
16. Bin Sayid Salim
15. Bin Sayid Sa'dullah
14. Bin Sayid Affandi
13. Bin Sayyid Aliyu
12. Bin Sayid Al-Bakrie
11. Bin Sayid Ismail
10. Bin Muhammad
9. Bin Sayid Ismail
8. Bin Sayid Alqasim Alrassi
7. Bin Sayid Ibrahim Tobathoba
6. Bin Sayid Ismail
5. Bin Sayid
Ibrahim Alfakra
4. Bin Hasan Almutsana
3. Bin Sayidina Hasan
2. Wa Fatimah Az-Zahra.Rha., Fatimah berasal dari Makhroj Fatomah yang bearti Allah Subhanahu Wa Ta'ala ""Telah Melindunginya Dari api Nerakah beserta Keturunannya., Sedangkan Az-Zahra berasal dari Makhro Zhohira yang bearti suci selama hidupnya sehingga tidak pernah datang bulan atau haid., Makah Fatimah Az-Zahra Adalah Wanita Suci yang terbebas dari api neraka beserta seluruh Keturunannya hingga di Ahir jaman, sehingga seluruh keturunannya tidak meninggalkan bekas., artinya sebagaimana diri Fatimah Az-Zahra
1. Binti Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam
0. Alfatihah......
Dalam Tahap Perbaikan Data