OPU DAENG MANAMBON. MAKTAB NANGQ 1857 PANGERAN BENDAHARA TUA SYARIF JA'FAR BIN SULTAN SYARIF HAMID I KESULTANAN KADRIAH PONTANAK. KANTOR PUSAT JALAN SELIUNG
OPU DAENG MANAMBON SAYYID SYECH ABU BAKAR ADENI QAULAN JAZIRAH
Istri : Putri Kesumba Binti Sultan Muhammad Zainuddin Matan
Anak - anak Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
1. Putri Utin Chandramidi Syecah Utin Chandramidi Adeni Qaulan Jazirah Binti Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah menikah dengan Syarif Abdurrahman Alkadrie Sultan Pontianak Pertama
2. Gusti Jamiril Sayid Syech Djamiril Adeni Qaulan Jazirah bin Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah Penembahan Adi Jaya Kesuma Raja Mempawah Ke II
3. Utin Darmani Syecah Darmani Adeni Qaulan Jazirah menikah dengan Ratu Bugis Kerajaan Landak di Ngabang
binti Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
4. Sayid Syech Syarif Muhammad Gusti Djamadin Adeni Qaulan Jazirah (Gusti Djamadin) menikah dengan Putri Kerajaan Sambas dengan gelar Pangeran Cakra Sambas
5. Utin Candra Sari Syecah Utin Candra Sari Adeni Qaulan Jazirah dengan gelar Ratu Simpang menikah dengan Raja Simpang Empat Ketapang
6. Gusti Jaladri Syarif Ali Sayid Syech Haji Gusti Ali Jaladri Adeni Qaulan Jazirah Gelar Pangeran Mangku di Sompak sebelum Pahuman Sengah Temila sekarang
7. Ratu Surya Kesuma Syecah Kesuma Adeni Qaulan Jazirah
8. Gusti Jelma Syarif Alwi Sayid Syech Jelma Alwi Adeni Qaulan Jazirah Gusti Panglima
9. Gusti Setia Syarif Ahmad Adeni Qaulan Jazirah Pangeran Jaya Putra Simpang Empat (Simpang Ampar)
10. Utin Tawang menikah dengan Pangeran Buana Ghafur Albarakat sepupu sekali Sultan Brunai Albarakat (kemudian oleh keluarga Kesultanan Mempawah memangilnya dengan gelar "Gusti Ghafur
Rasa kecewa yang mendalam kepada Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang menyerang Kerajaan nya hingga 8 bulan lamanya, di tambah anaknya naik Tahta Kerajaan Mempawah Syarif Kasim dan cucunya Syarif Husein, (22 tahun dan 12 tahun atau selama 34 tahun) sehingga ke empat anak Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah yang telah di beri nama ayahnya sejak Lahir Yaitu :
1. Syarif Ahmad Adeni Qaulan Jazirah merubah namanya menjadi Gusti Setia
2. Sysrif Syech Alwi Adeni Qaulan Jazirah merubah namanya menjadi Gusti Jelma
3. Syarif Syech Ali Adeni Qaulan Jazirah Syech Hani merubah namanya menjadi Gusti Jaladri
4. Syarif Syech Muhammad Adeni Qaulan Jazirah merubah namanya menjadi Gusti Jamadin
merubah namanya kembali dengan memakai nama Gusti dan menghilangkan gelar Syarif dan marganya Adeni Qaulan Jazirah, akan tetapi sejarah mereka tetap di ketahui sekalipun di usahakan di sembunyikan, sebab nama wajib di gunakan adalah nama pemberian dari orang tua kandung sendiri dan bukan nama yang di ubah sendiri
Semua Keturunan ini sudah terkonfirmasi dengan sempurna di Maktab NanGq 1857 Dewan Pimpinan Pusat Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Syarif Ja''far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Kesultanan Kadriah Pontianak Jalan Seliung. Hasil dari tulisan tangan orang yang di Muliakan saat itu hingga di hari ini As-Sayyid Husen Alkadri Mufthi Mempawah Tuan Besar Mempawah
Berdasarkan data dari Pangeran Gusti Hamdan Adeni Qaulan Jazirah 1984 M dan dan Manuskrip peninggalan Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah Raja Mempawah yang di serahkan kepada Sayid Husen Alkadri terkahir 1760 M - 1181 H
Makam Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah di Sebukit Rama Kelurahan Pasir Putih Mempawah
Kerajaan Mempawah merupakan Kerajaan Islam yang berlokasi di Kabupaten Mempawah (Hasil dari Pemekaran Kabupaten Pontianak) Provinsi Kalimantan Barat (Boeneo Barat)
Menurut Manuskrip tertua Kerajaan Mempawah berasal dari Kerajaan Suku Dayak yang didirikan di Bahana
Kerajaan Suku Dayak Pertama di pimpin oleh Pati Gumantar Sadaniang pengaruh Jawa Majapahit
Pemerintahan Suku Dayak yang berdiri pada tahun 1350 M yang di pengaruhi agama Hindu dari Majapahit karena pada tahun tersebut Wilayah Nusantara di kuasai oleh Majapahit di bawah Pimpinan Panglima Pai Gaja Mada
Patih Gumantar adalah Suku Dayak yang memiliki kepercayaan agama Hindu Pengaruh dari Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Hindu Sambas yang pertama
Raja Patih Gumantar pernah mengungandang Pati Gajah Mada ke Mempawah
Datangnya Pati Gajah Mada pernah memberi hadiah sebuah keris susuhan sebagai bukti bahwa Pati Gajah Mada menghadiri undangan tersebut sebagai bentuk dan hajat Pati Gajah Mada untuk menyatukan Wilayah Nusantara dari Sabang sampai Maoeke termasuklah Negara Malaysia, Brunai dan Singgapura merupakan wilayah Nusantara Majapahit
Pertama kali berdirinya Kerajaan Mempawah Pusat Kerajaannya di Sadaniang Mempawah bagian Hulu, sedangkan pusat Pemerintahannya terletak di Pegunungan Sadaniang Mempawah bagian Hulu
Karena mengalami perkembangan yang pesat menyebabkan Kerajaan Biaju ingin menaklukkan Kerajaan Mempawah di Sadaniang
Ambisi Kerajaan Biaju maka terjadilah perang yang menyebabkan Raja Patih Gumantar terbunuh 1395 M
Untuk selanjutnya Kerajaan Sadaniang di pimpin anak Patih Gumantar bernama Nyabaking / Nek Nyabang
NYABAKING / Nek Nyabang adalah anak kedua dari Pati Gumantar, sedangkan anak pertama bernama Dara Irang / Dara Itam dan Nek Janang
Di masa Pemerintahan Nyabaking / Nek Nyabang Kerajaan Mempawah Ahirnya runtuh di kuasai Prabu Hayam Wuruk Kerajaan Majapahit anak dari Prabu Wijaya I Cakra Dara hampir 162 tahun lamanya
Sidiniang sendiri berasal dari bahasa Dayak Sidi ,""Hiji" artinya "satu", Niang yang bearti ""Eyang" Gunung Sidiniang bearti ""Satu Eyang""
Yang merupakan perpaduan antara Pati Gumantar dengan anaknya Nek Nyabang/ Nyabaking antara Etnis Jawa Majapahit dengan Etnis Dayak Borneo Barat (Kalimantan Barat) yang beragama Hindu Pengaruh dari Kerajaan Majapahit
Kemudian pada tahun 1610 M, Kerajaan Mempawah di Sadaniang di hidupkan kembali oleh keturunan Patih Gumantar, kemudian bernama Penembahan Kudung
Dengan Gelar : Penembahan yang tak berpusat
Raja Kudung memindahkan Kerajaan Mempawah dari Sadaniang ke PEKANA yang di kenal sebagai (Sebukit Rama Kelurahan Pasir Putih Mempawah sekarang)
Setelah Raja Kudung Meninggal pada tahun 1680 M
Maka Tahta Kerajaan di Pegang Senggauk, Setelah Raja Sengksuk memeluk agama Islam Kerajaanya di ubah menjadi Penembahan Mempawah sesuai tradisi Islam, kemudian Raja Senggauk bergelar ""Penembahan Muhammad Yunus Mempawah,
Kemudian Raja Senggauk kawin dengan Putri Cermin dari Indragiri Sumatra
Dari perkawinannya memiliki anak bernama Ratu Mas Indrawati dengan gelar ""Ratu Penembahan Putri Cermin Mempawah"
Ketika terjadi perselisihan antara Raja Kahar dengan Abang kandungnya Raja Rozal dari Indra giri Sumatra, Raja Kahar memutuskan untuk Hijrah ke Mempawah dengan rombonganya padukan tanah Melayu dengan membawah putrinya bernama Putri Cermin berlayar dengan perahu perang atau layar penjajab,
Kemudian mereka tiba di Penembahan Sengkauk, dan di sambut dengan baik di Penembahan Sengkauk, Raja Sengksuk kemudian memutuskan untuk meminang Putri Cermin anak Raja Kahar
Penembahan Mempawah yang terletak di aliran Sungai Mempawah di Sebukit Rama
Kata Mempawah pada saat itu berasal dari kata Mempelam dan Paoh yaitu Pohon - pohon yang hidup di pinggiran aliran Sungai mulai dari Kuala hingga masuk di aliran Sungai Sebukit Rama sehingga di singkat menjadi ""MEMPAWAH* hingga saat sekarang
Ratu Mas Indrawati kemudian di nikahi oleh Sultan Muhammad Zainuddin Sultan Matan kemudian Putri Indrawati dari Suku Dayak beragama Hindu kemudian memeluk agama Islam
Nyai Tua / Utin Cabanat yang nama aslinya adalah Utien Chandramidi adalah salah satu anak Sultan Muhammad Jainuddin Matan dari Istri Putri Indrawati suku Dayak asli Pekana yang beragama Hindu kemudian menjadi Mu'alaf setelah di nikahi Sultan Matan dari Ketapang, adalah Istri Pertama Sayid Husein Alkadri yang di Nikahi di Matan saat menjadi Mufthi Kesultanan Matan 1725 M
Karena tidak memiliki anak laki - laki Ahirnya Kerajaan Penembahan Senggauk di serahkan kepada Suami Cucunya yaitu :
OPU DAENG MANAMBON SAYYID SYECH ABU BAKAR ADENI QAULAN JAZIRAH pada tahun 1720 M - 1141 H - 1765 M - 1186 H, Menjabat Selama 45 tahun
Dengan Gelar : Pangeran Mas Seri Negara Kerajaan Mempawah
Raja Islam Pertama : PENEMBAHAN KERAJAAN MEMPAWAH OPU DAENG MANAMBON
Istanah Amantubilah Penembahan Kerajaan Opu Daeng Manambon
Manuskrip Silsilah Opu Daeng Tandre Borang Daeng Rilaka Dilaga Ulu Sulawesi Selatan
Manuskrip ini pada tahun 1729 M - 979 H
Pernah di serahkan kepada Sayyid Husein dalam bentuk Salinan yang tidak di rubah sedikitpun
Di kirim bersama surat permintaan Pou Daeng Manambon Untuk menelusuri jalur Silsilah Nasab ayah beliau Opu Daeng Tandre Borang Daeng Rilaka Dilaga Sayyid Syech Ahmad Adeni Qaulan Jazirah
Yang beliau anggap bermasalah karena karena beliau yakin jalur di atasnya tersambung langsung kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam
Dengan Marga Aladeni Qaulan Jazirah sebuah kampung atau Desa Aden yang terdapat di Negeri Yaman
Tidak seperti ke empat saudara kandungnya yang lain yang tidak mengutamakan Nasab, maka ke empat saudaranya boleh di katakan tidak pernah heran atau perduli dengan Nasab Keluarga
Sehingga banyak para peneliti sejarah hanya sebatas main kira - kira atau berprasangka bahwa Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah Raja Mempawah adalah keturunan dari dari Datuk Batara Guru yang beragama Hindu
Menurut Pangeran Hamdan Sejarah leluhur beliau banyak yang di selewengkan sehingga menjadi tiga versi di antara sekian versi yang kami terima merupakan versi terakhir yang tidak ada beredar di dunia maya, diantara Ketiga Versi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Versi Pertama yang menghubungkan bahwa Opu Daeng Tandre Borang Daeng Rilaka Dilaga adalah keturunan dari Datu Luwu I Batara Guru
Maka ini di bantah Pangeran Hamdan / sebagaimana juga pernah di bantah Opu Daeng Manambon
Beliau mengatakan yang benar adalah Opu Daeng La Maddusilat Sayyid Syech Muhammad Adeni Qaulan Jazirah menikah dengan anak Datu Luwu I Batara Guru yang bernama Putri We Tenrilrleang binti Datu Luwu I Batara Guru artinya dari Jalur Perempuan iya, itu benar tetapi jalur perempuan terputus
Tangga naik dan turun menuju Makam Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah di Sebukit Rama Pasir Kelurahan Pasir Putih Mempawah
2. Versi Kedua Yang mengatakan bahwa La Maddusilat Sayyid Syech Muhammad Adeni Qaulan Jazirah adalah anak dari Putra Pajung ke 24 atau ke 26 Luwu, We Tenrilrleang dengan suami pertamanya La Mallarangeng Datu Lomppule yang melahirkan tiga anak laki-laki yaitu :
1. We Panggareng
2. Yenrissesu dan
3. La Maddusilat dan memiliki istri bernama Iseno Tenribali Datu Citra Putri Dstu Soppeng ke 23
Pada posisi Versi yang kedua ini justru We Tenrilrleang binti Datu Luwu I Batara Guru sebagai Ibu kandung dari La Maddusilat
Menurut Upu Daeng Manambon merupakan tindakan pelecehan dan Penghinaan terhadap Silsilah Nasab Keluarga demikian juga yang di sampai oleh cicitnya generasi saat ini Pangeran Hamdan
Di mana satu perempuan selain berperan sebagai istri dia juga berperan sebagai Ibu kandung, menurut Pangeran Hamdan Versi Pertama berperan sebagai istri dan Versi Kedua berperan sebagai Ibu kandung jelas merupakan tindakan pelecehan
3. Versi Ketiga menjadi Rahasia Keluarga secara turun temurun
Yang menjelaskan berdasarkan Manuskrip yang terpotong jalur atas sehingga menimbulkan perdebatan yang hingga saat ini baik Versi Pertama maupun Versi Kedua di tolak oleh seluruh Keturunan Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah terutama yang ada di pulau Borneo Barat (Kalimantan Barat)
Sulitnya di terima kedua Versi tersebut karena jalur perempuan saling bertentangan satu sama lainnya
Versi Ketiga inilah yang di terima setelah di lakukan penelusuran yang seksama atas batuan Sayyid Husein Alkadri
Atas permintaan Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Karena sebelum melakukan penelusuran Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah menjelaskan kepada Sayyid Husein Alkadri sebagai berikut :
1. Menurut Manuskrip yang sudah terpotong leluhur beliau (Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah) berasal dari Kapung Aden di Negeri Yaman, apa ada kampung Aden dan marga Aden / Al - Adeni di Yaman termasuk Qaulan Jazirah
Jawaban Sayid Husein Alkadri dari Matan 1729 M - 1150 H Melalui Surat : Kampung Aden ada di Yaman dan Marga Aladeni ada di Kampung Aden
Sedangkan Qaulan Jazirah memang tidak ada di Negeri Yaman
Insyaallah akan di telusuri tentang Qaulan Jazirah
2. Apa benar ada dua orang dari Kampung Aden di Yaman yang Hijrah dari Yaman ke Thailand yang bernama Sayid Syech Abdul Wahid Aladeni Qaulan Jazirah dengan Adiknya bernama Sayid Syech Ali Almurthado Aldeni Qaulan Jazirah
Jawaban Sayid Husein Alkadri benar ada mereka Hijrah dari Kampung Aden ke Thailand, tetapi saat itu mereka tidak memakai Qaulan Jazirah, mungkin ketikah mereka berangkat dari Aden Yaman ke Thailand mereka menyematkan diri Orang dari Jazirah Arab Qaulan Arah Hijrah ke Negeri Thailand
Opu Daeng Manambon menjawab Iya
Boleh Saya minta Reverse sebab - hijrahnya mereka sehingga berani menyamar sebagai orang Bugis Luwu dan di mana mereka belajar bahasa Bugis Luwu hingga Paseh
Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah berkata usahakan secepatnya agar anak yang lahir ini bisa memakai gelar tersebut ucap Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Sayid Husein hanya menjawab Insyaallah
Jawaban Sayid Husen Alkadri, Iya akan di cari Reversenya
Sayyid Syech Abdul Wahid Aladeni Qaulan Jazirah dan Sayyid Syech Ali Almurthado Aldeni Qaulan Jazirah adalah saudara kandung yang hijrah dari Yaman atas permintaan gurunya Sayid Syech Hanbal al-Maliki Mekah ketika datang rombongan jama ah dari Trengganu yang di antaranya adalah jamaah haji dari Ulu Sulawesi Selatan yang menetap di Trengganu meminta agar mengirim utusan untuk berda'wah di Ulu Sulawesi Selatan dan menjelaskan bahwa bangsa Bugis selain menganut agama nenek monyang juga beragama Hindu Pengaruh dari agama Kerajaan Majapahit
Atas saran tersebut beliau pada saat itu memiliki dua orang Murid yang berasal dari Negeri Yaman tepatnya Kampung Aden
Setelah Sayid Syech Abdul Wahid dan Sayyid Syech Ali Almurthado Aldeni Qaulan Jazirah menyelesaikan pelajarannya beliau langsung mendapat tugas untuk berda'wah di Ulu Sulawesi Selatan, maka pada tahun 1412 M - 833 H beliau berangkat dari Aden Yaman Menuju Mekah dengan mengikuti Kapal Layar Pelayaran Jamaah Haji yang akan pulang ke Sulawesi
Akan tetapi beliau tidak langsung ke Ulu Sulawesi Selatan melainkan turun di Thailand menemuii Ulama Fatani yang terkenal Saat itu Syech Muhammad Nurdin Al - Fatani yang sudah lama menetap, atas saran Syech Muhammad Nurdin Alfatani agar keduanya berangkat menuju ke Trengganu di sana ada Suku Bugis Ulu Sulawesi Selatan yang sudah memeluk agama Islam dan menetap di Trenggonu agar keduanya terlebih dahulu belajar Bahasa Bugis dan nantinya menyamar sebagai OPU
Saat itu gelar Opu belum ada yang ada hanya gelar Dstu seperti Datu Luwu I Batara Guru yang menganut agama Hindu
Hampir dua tahun mereka berdua memahami dan belajar bahasa Bugis Ulu Sulawesi Selatan barulah benar - benar Pasih baru kemudian berangkat ke Ulu Sulawesi Selatan dengan di antar Saudagar Bugis dari Trengganu Andi Soppeng Karaeng yang menyamar sebagai nelayan
Setelah menetap di Ulu Sulawesi Selatan beliau mengaku sebagai mu alaf Bugis untuk menarik suku - suku Bugis lain untuk memahami ajaran Islam
Dengan Bahasa Bugis yang Fasih sehingga orang - orang Bugis mengira beliau adalah orang Bugis yang pulang dari Perantauan
Makam Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah Raja Mempawah Penembahan Kerajaan Mempawah Kelurahan Pasir Putih Mempawah
Sehingga membuat dengan Masyarakat setempat
Setelah merasa aman, tenang dan tidak bermasalah, maka adiknya Sayyid Syech Ali Almurthado Aldeni Qaulan Jazirah memutuskan untuk Hijrah ke Pulau Jawa membantu perjuangan Umat Islam di Madura
Dengan demikian hanya Sayid Syech Abdul Wahid yang menetap di Ulu Sulawesi dengan memakai gelar Saudagar kaya dengan Gelar ""OPU DAENG SOOPENG"" kemudian beliau menikah dengan gadis Bugis bernama ""We TENDRI KARAENG" anak dari Datuk Luwu Batara Tungke 22
Dari hasil pernikahanya beliau memiliki tiga orang anak di antaranya adalah :
1. OPU DAENG BORANG SAYYID SYECH ALWI ADENI QAULAN JAZIRAH bin Opu Daeng Soppeng
2. Dayang We Kelering binti Opu Daeng Soppeng dan
3. Dayang We Tendrileng binti Opu Daeng Soppeng
Kedua anak perempuan tersebut beliau kirim ke Fatani Untuk di nikahkan dengan Sayid - Sayid yang ada di Patani Thailand agar nasabnya tetap tersambung sebab tidak satupun yang mengetahui rahasia beliau selain Sayid Syech Muhammad Nurdin Alfatani, Saudagar Bugis Andi Soppeng yang di ijinkan mengunakan nama tersebut dan Penguasa Trengganu Malaysia yang mengarahkan agar belajar bahasa Bugis 1415 M - 836 H
Sementara OPU DAENG BORANG SAYYID SYECH ALWI ADENI QAULAN JAZIRAH menikah dengan We Leleang binti Datuk Luwu II dari hasil pernikahan memperoleh dua anak yaitu :
1. Dayang Komalasari yang menikah dengan Wan Hamid Jamalullail I Penembahan Kerajaan Segeram dan
2. Opu Daeng La Tandre Malaranggeng atau Dato Lampule Sayid Syech Ali Adeni Qaulan Jazirah beliau memiliki istri bernama La Rumpangge binti Datuk Luwu 23 Batara Sungke III
Dari hasil pernikahannya mendapatkan tiga orang anak laki-laki yaitu :
1. Opu Daeng We Panggareng Syarifah Rahmah Adeni Qaulan Jazirah
2. Opu Daeng Tenrisesu Sayyid Syech Misbahum Adeni Qaulan Jazirah dan
3. Opu Daeng La Maddusilat Sayid Syech Muhammad Adeni Qaulan Jazirah
Opu Daeng La Maddusilat memiliki dua orang istri yaitu :
1. Putri We Tenrilrleang binti Datu Luwu I Batara Guru
2. Iseno Tenribali binti Putri Citra Dewi Datuk Soppeng ke 23
Demikian penjelasan dari Opu Daeng Manambon sehingga Versi Nomor satu dan dua menjadi benar' dan tidak tumpang tindih
Sebab itu Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah tidak mau memakai buku Karangan Raja Ali Haji keponakannya dari anak Opu Daeng Celak ., Tufal Al - Nafis karena menurut Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah terdapat susunan yang terbalik atau keliru sehingga tidak bisa di jadikan pedoman seutuhnya harus melalui penelitian ulang, demikian penjelasan Pangeran Hamdan mengupas Sejarah leluhur berdasar hasil penelitian Ulang Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah yang di bantu Sayyid Husein Alkadri
Untuk selanjutnya Pangeran Hamdan juga menjelaskan berdasarkan Manuskrip jalur atas yang terpotong
Dari hasil penjelasan Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Bahwa Gelar OPU merupakan gelar Kuhsus Kebangsawanan baik sebagai Raja atau Pembesar Istanah yang berasal dari Keturunan ""OPU DAENG SOOPENG SAYYID SYECH ABDUL WAHID ADENI QAULAN JAZIRAH, artinya Gelar OPU adalah gelar Kuhsus Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam yang ang di pakai untuk Ahlulbait yang menikah dengan Etnis Bugis yang ada di Ulu Sulawesi Selatan dan sekitarnya, hal ini dapat di telusuri
Sebab sebelumnya hanya mengunakan Gelar DATUK BATARA GURU atau Datuk saja jika dari Rakyat Biasa kemudian bergeser menjadi OPU karena banyaknya keluarga Ahlulbait Kuhsus Marga Aladeni Qaulan Jazirah yang menikah anak perempuan Datuk - Datuk Batara guru, Sehingga menurut Sayyid Husein Alkadri setiap Marga Bugis yang memakai gelar OPU di awal ya dapat di pastikan mereka berasal dari jalur yang sama sebagai keturunan dari
OPU DAENG SOOPENG SAYYID SYECH ABDUL WAHID ADENI QAULAN JAZIRAH
demikian yang di sampaikan Pangeran Hamdan kepada Pangeran Bendahara Syarif Ibrahim bin Ahmad Alkadri Pada tahun 2010 M yang silam, ketika mendaftarkan Nasab Keturunan Beliau
Berikut Gelar pangilan yang berasal dari Keturunan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam yang di kenal saat ini :
1. OPU gelar Kuhsus Untu para bangsawan dan Raja dari etnis Bugis Ulu Sulawesi Selatan dan sekitarnya dari Keturunan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dari OPU DAENG SOOPENG SAYYID SYECH ABDUL WAHID ADENI QAULAN JAZIRAH hingga menurun kepada semua keturunannya
2. ANDI gelar Kuhsus Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam untuk Bugis Makasar yang berasal Marga ASYATIRI
3. PUANG Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dari Bugis Sumatra dari berbagai Marga
3. WAN gelar Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dari rumpun Melayu seperti Malaysia, Indonesia untuk wilayah yang banyak suku Melayu
4. INCHE gelar Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam untuk Negara Brunai Darussalam dan sekitarnya
5. SAYYID / SYARIF/ SHARIF merupakan panggilan Khusus untuk seluruh Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam
Demikian gelar panggilan untuk Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam saat itu dan berlanjut hingga sekarang
STAM BOM Silsilah Opu Daeng Li Tandre Borang Daeng Rilaka Dilaga buatan Belanda, yang membenarkan Versi Kedua., STAM BOM Silsilah ini di tolak Pangeran Hamdan karena bertentangan dengan Versi Pertama dan Versih Ketiga, sehingga tidak bisa di jadikan rujukan sebab sudah di sempurnakan oleh Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah dengan Bantuan Sayid Husein Alkadri 1729 M - 1150 H
Silsilah ini merupakan Silsilah baru yang di buat pada tahun 1943 M, selain bertentangan dengan Versi Pertama dan ketiga Silsilah ini juga ada unsur Pelecehan yang secara tegas di tolak Pangeran Hamdan karena sebelumnya sudah di sempurnakan oleh leluhur beliau sendiri yaitu Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah dengan bantuan Sayid Husen Alkadri pada tahun 1729 M - 1150 H, sehingga Manuskrip baru tidak bisa di jadikan dasar rujukan, apalagi Buatan Belanda yang ada unsur De Vide Ad Ampera ((Memecah Belah keturunan Opu Daeng La Tandre Borang Daeng Rilaka Dilaga Sayid Syech Ahmad Adeni Qaulan Jazirah
Dari hasil Pernikahannya dengan We Tenrilrleang binti Datuk Luwu I Batara Guru
La Maddusilat Sayyid Syech Muhammad Adeni Qaulan Jazirah memiliki anak - anak sebagai berikut :
1. Opu Daeng La Tandre Borang Daeng Rilaka Dilaga Araja yang bearti ""Tak Terkalahkan dan tidak bisa di tandingi" Sayyid Syech Ahmad Adeni Qaulan Jazirah
2. Opu Daeng La Pattau Sayid Syech Abdullah Aden Qaulan Jazirah kemudian di angkat jadi Raja (Pajung) Kerajaan Luwu Ulu Sulawesi Selatan dengan gelar Sultan Abdullah mengantikan posisi ayahnya
Dari istri yang bernama Iseno Tenribali Datu Putri binti Datuk Luwu Batara Guru La SOOPENG 23, Opu Daeng La Maddusilat memiliki hanya satu orang anak yaitu :
3. Opu Daeng Biasa Bimbi Sayyid Syech Habibie Adeni Qaulan Jazirah di angkat Kompeni Belanda dengan gelar Mayor di Batavia (1603 M - 1024 H)
Makam Raja Ulu Sulawesi Selatan Opu Daeng La Maddusilat Sayyid Syech Muhammad Adeni Qaulan Jazirah
La Maddusilat adalah Raja Ulu Sulawesi Selatan adalah putra dari Opu Daeng La Tandre Malaranggeng atau Datok Lamppule Sayyid Syech Ali Adeni Qaulan Jazirah yang beristrikan La Lumpange binti Datuk Luwu Batara Guru Sangke III juga di kenal sebagai We Tenri Lelang, Ayah Raja La Maddusilat Yaitu Opu Daeng La Tandre Malaranggeng di angkat Raja Tanete XII
Berdasarkan Manuskrip yang di tulis Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah . Lokasi makam di Jalan Pangkajene saat ini
Komplek Pemakaman ini adalah merupakan Kompleks pemakaman Keluarga Raj Ulu Sulawesi Selatan selai makam Opu Daeng La Maddusilat juga terdapat makam ayahnya Opu Daeng La We Maralanggeng Datuk Lampule Sayid Syech Ali Adeni Qaulan Jazirah di lokasi makam tersebut terdapat 7 buah makam di dalam pagar dan terdapat lebih dari 7 buah makam tua di luar Pagar, akan tetapi banyak yang tidak mengetahui nama - nama makam tersebut walaupun di tulis dengan kaligrafi arab yang sangat indah tetapi tidak tercantum nama - nama pemilik makam tersebut
Sehingga banyak makam yang tidak memiliki nama
Seperti Makam Raja La Maddusilat makamnya di apit dua makam sehingga berada di posisi tengah - tengah
Ini menunjukan Ayahnya Opu Daeng La We Maralanggeng Datuk Lampule Sayid Syech Ali Adeni Qaulan Jazirah adalah seorang muslim
Maka mustahil melahirkan Raja La Maddusilat Sayyid Syech Muhammad Adeni Qaulan Jazirah sebagai orang pertama yang masuk Islam yang berasal dari agama Hindu
Kalau istrinya ya memang beragama Hindu yang masuk Islam ketika akan menikah, bahkan kedua istrinya beragama Hindu yang masuk Islam
Makam adalah saksi bisu yang tidak bisa berbicara tetapi mereka bisa hadir kepada siapa saja untuk menguak jati dirinya
Untuk membuktikan kebenaran makan tersebut Pangeran Hamdan pada tahun 1970 M - 1391 H
Untuk membuktikan manuskrip yang di buat Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah Raja Mempawah yang di bantu Sayid Husein Alkadri
Berkunjung ke Makam Raja La Maddusilat dan memang benar terdapat beberapa makam yang tidak di ketahui namanya yang bertulis kaligrafi Arab yang sangat indah
Ini menunjukan bukti Raja Ulu Sulawesi Selatan bukan seorang Mu'alaf melainkan sejak lahir sudah beragama Islam
(Ada kuat dugaan sejarah tersebut Hadil Rekayasa Kompeni. Belanda bersama orang - orang yang berkepentingan dengan pihak Belanda untuk membelokan Sejarah Leluhur Raja La Maddusilat Adan seluruh anak cicitnya) Sebagaimana Manuskrip buatan Belanda tahun 1943 M STAM BOM Silsilah Opu Daeng La Tandre Borang Daeng Rilaka Dilaga
Hal ini dapat di buktikan pihak Belanda berusaha membujuk anak - anak La Maddusilat untuk menjadi Paduka. Mereka karena di anggap memiliki pisik yang tangguh dan Ahirnya Belanda di Batavia berhasil membujuk Opu Daeng Bimbi Biasa Sayid Syech Habibie Adeni Qaulan Jazirah di angkat Kompeni Belanda dengan Pangkat Mayor Batavia Jakarta suatu pangkat yang sangat Tinggi untuk kalangan Penduduk Pribumi saat itu, sebab pihak Belanda pada Dasarnya sangat tahu dengan anak - anak Raja La Maddusilat yang sebenarnya 1600 M 1603 M
Komplek Pemakaman Raja Opu Daeng La Maddusilat termasuk ayahnya
Karena Merasa jenuh berada di Makasar Ulu Sulawesi Selatan, maka Opu Daeng La Tandre Borang Daeng Rilaka Dilaga memutuskan untuk berlayar dengan mengajak ke Lima anak ya yang sudah tumbuh dewasa' untuk mencari tempat tinggal yang baru sebagai tujuan utama mereka
Dengan membawa seorang Nahkoda Perahu layar yang sangat handal yaitu :
Nahkoda Alang Karaeng Abdul Fatah, Untuk mendapatkan pengalaman berlayar setiap daerah yang mereka singgahi selalu mengaku Mu'alaf bahkan ketika bertemu Ulama besar mereka juga tidak segan - segan bersyahadat seolah - olah bukan beragama Islam, cara ini di lakukan untuk mengetahui atau melihat kemampuan para Ulama yang mereka jumpai ""Selalu bersyahadat, hal ini menurut Leluhur mereka yaitu : Syech Abdul Wahid Aden Qaulan Jazirah ""Opu Daeng Soppeng"" bertujuan untuk memperbaharui ke Islaman setiap saat, biarlah di nilai seseorang sebagai Mu'alaf karena dalam garisnya seorang Mu'alaf akan lebih Mulya karena ketika bersyahadat ibarat bayi yang baru lahir
Sholat pada intinya adalah untuk memperbaharui ke Islaman kita di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala
Apa lagi ketika berlayar melalui Samudra yang terombang Ambi g di atas perahu, ketika jasad tidak mampu untuk menyempurnakan gerak karena kuatnya gelombang laut sehingga harus duduk, maka kata Leluhur beliau Sayid Syech Abdul Wahid Aden Qaulan Jazirah maka ketika sudah berada di darat carilah seorang guru atau ulama dan perbahsruilsh Syahadat agar leluhur kita Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam tidak kecewa dan senang dengan tindakan tersebut, sebab itu tidak jarang OPU - OPU jika ketemu ulama atau Ustadz mereka Selalu memperbaharui Syahadatnya agar sang ulama, Tuan guru mau mensyahadstkan mereka terkadang harus berbohong dengan menyatakan belum beragama Islam pada hal OPU - OPU tersebut adalah ahli ibadah
Sebab Makna dari OPU itu sendiri adalah sesuatu yang baru terbentuk
Maka biarlah mereka di anggap sebagai orang yang baru bersyahadat di depan orang banyak jika itu bisa membuat orang lain senang dan kita dapat terus memperbaharui ke Islaman kita
Ajaran inilah yang membuat di manapun OPU - OPU ini berpijak mendapat tempat di hati masyarakat karena kerendahan hati dan akhlak mereka yang mulia sehingga posisi mereka selalu mendapat tempat yang tinggi baik di hadapan masyarakat maupun para Raja-raja sehingga merekapun berpeluang untuk menjadi Pangeran dan Raja di langit yang mereka junjung di bumi yang mereka injak
Terdapat dua makam muslim yang tidak bernama
Pada tahun 1710 M - 1131 H, Sultan Muhammad Zainuddin mengirim surat yang di titip pada pasukanya untuk meminta batuan karena perang saudara sehingga harus mengungsi dalam tawanan perang di masjid Agung yang berada di kandang kerbau (sekarang Suka Bangun) Pelabuhan Samudra Ketapang bersama istri anak keluarga dan pasukanya
Dalam bermunajah meminta petunjuk Ahirnya beliau menulis surat agar di bawah salah satu pasukanya untuk meminta bantuan kepada Opu Daeng La Tandre Borang Daeng Rilaka Dilaga Sayid Syech Ahmad Adeni Qaulan Jazirah bersama kelima anaknya yang telah menguasai beberapa Kerajaan kecil seperti Johor, Selat Malaka, Kedah, Riau, Kamboja, Madagaskar.dan beberapa daerah pesisir pantai lainy
Surat tersebut tersampaikan di Ulu Sulawesi Selatan Makasar, kemudian rombongan berangkat dengan Pasukan Merah yang mereka miliki
Rombongan OPU kemudian terkenal sebagai
"'OPU LIMA BERSAUDARA PANJI MERAH""
Artinya jika mereka sudah bergerak semua akan di libas jika tidak mau menyerah atau mengalah
ang
Sebab karena banyak membunuh pasukan musuh yang terkadang sama akidahnya Islam
Sesuai tuntunan Leluhurnya Sayid Syech Abdul Wahid Aden Qaulan Jazirah orang pertama yang memakai gelar OPU dengan nama "OPU DAENG SOPPENG" agar selalu memperbaiki ke Islamanya dengan bersyahadat di depan ulama atau Tuanku Guru yang di temui membuat OPU LIMA BERSAUDARA dengan orang tuanya menjadikan mereka tidak terkalahkan di Medan perang dan Selalu menguasai' keadaan
Kemudian mereka dengan Pasukan Merahnya menemui Sultan Muhammad Zainuddin di Pengungsian
Setelah bermusyawarah maka di ambilah keputusan untuk menyerang, sebab kemungkinan solusi damai justru akan membuat Tahta Sultan Muhammad Zainuddin tidak akan di kembalikan atas saran Opu Daeng Perani Sayid Syech Ahmad Adeni Qaulan Jazirah
Agar Sultan Muhammad Zainuddin dan keluarganya aman Opu Lima bersaudara membawa Sultan ke Negeri Bakar menemui Saudaranya di Banjar Boeneo Selatan
Akan tetapi Sultan Muhammad Zainuddin memutuskan kembali untuk pulang ke Matan untuk ikut berperang bersama Opu Lima Bersaudara bersama Pasukan Merahnya dengan di pimpin Opu Daeng Perani Sayid Syech Ahmad Adeni Qaulan Jazirah
Setelah tiba di Matan Sultan Muhammad Zainuddin memutuskan untuk membuat rumah tinggal sementara untuk menyusun kekuatan merebut kembali Kesultananya bersama Opu Lima Bersaudara dan memutuskan untuk menikahkan anaknya Putri Kesumba
Setelah berembuk kelima bersaudara di putuskanlah Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah untuk menikahi Putri Kesumba
Genap hampir dua tahun di Matan dan setelah pernikahan anaknya Sultan Muhammad Zainuddin meminta agar Kelima Opu Bersaudara agar merebut kembali Kesultananya di tangan Pangeran Agung
Dengan amanah tersebut Opu Lima Bersaudara dengan Pasukan Merahnya berlayar menuju ke Sungai Pawan untuk merebut kembali Kesultanan Muhammad Zainuddin yang telah di rampas Pangeran Agung yang telah di rubahnya menjadi Penembahan Agung
Ketika tiba di Bandara Pelabuhan Kerajaan Matan bersama Padukan Merahnya Upu Daeng Perani Sayid Syech Ahmad Adeni Qaulan Jazirah naik di daratan mereka di hadang Panglima Penembahan Agung dengan Pasukanya
Daeng Matakoh pimpinan Panglima sekaligus menantu Penembahan Agung , meminta agar Opu Lima Bersaudara dengan Pasukan Merahnya agar segera pergi dari Penembahan Agung
Salah satu pendamping Daeng Matakoh yaitu Haji Hafas memberi nasehat dan saran kepada Daeng Matakoh
Agar sesama bangsa Bugis yang setidaknya masih ada pertalian darah, sebaiknya berdamai saja
Sebab Sultan yang Syah adalah Sultan Muhammad Zainuddin agar tahta tersebut di kembalikan kepadanya
Sebab Penembahan Agung juga masih saudara Sultan Muhammad Zainuddin
Maka dari Hadil rembuk musyawarah yang di lakukan Haji Hafas tanpa perlawanan Daeng Matakoh memutuskan agar Penembahan Agung mengembalikan Kesultanan kepada pemilik aslinya Sultan Muhammad Zainuddin
Kemudian adiknya Penembahan Agung di tangkap dan di penjarakan serta di Asingkan dengan di jaga Pasukan Sultan Muhammad Zainuddin agar tidak bisa berhubungan dengan siapapun juga
Setelah hampir dua tahun menetap tahun 1715 M Opu Lima Bersauda termasuk Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah meminta ijin untuk berlayar ke Johor untuk membantu Sultan Sulaiman Johor agar membebaskan Kesultanan Johor yang sudah di kuasai Raja Kecik dari Siak
Kemudian Opu Lima Bersaudara dengan Pasukan Merahnya berlayar menuju dari Matan menuju Kerajaan Johor Malaysia
Untuk membantu Sultan Sulaiman
Sebelum berangkat Ke Johor Opu Daeng Manambon di panggil oleh Raja Senggauk Penembahan Mempawah Sultan Muhammad Yunus, sebab dari Pernikahan anak Raja Senggauk Putri Indrawati Putri Cermin Senggauk dengan Sultan Muhammad Zainuddin Matan beliau memiliki cucu Perempuan bernama Putri Kesumba yang di nikahi Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Ternyata Raja Senggauk memintanya untuk mengantikan dirinya sebagai Raja Mempawah
Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah menyanggupi permintaan tersebut
Akan tetapi meminta waktu karena sudah terikat janji dengan Sultan Sulaiman Johor untuk merebut kembali tahtanya yang di rebut Raja Kecik dari Siak danberjani setelah pulang langsung membawa istri dari Matan menuju ke Penembahan Kerajaan Mempawah
Ahir November 1720 M - 1141 H meninggalkan Matan menuju Johor Malaysia, setelah menempuh pelayaran berhari - hari mereka tiba di Johor dan langsung melakukan penyerangan Ahirnya Raja Kecik siang berhasil di kalahkan kemudian Kesultanan Johor Malaysia di serahkan kembali kepada Sultan Sulaiman
Atas keberhasilan tersebut maka untuk mengungkapkan rasa terimah kasihnya, maka Sultan Sulaiman mengangkat Opu Daeng Merewah Sayid Syech Muhammad Adeni Qaulan Jazirah sebagai ""Yam Tua Muda untuk daerah Riau dan Lingga""
Makam Opu Daeng Merewah Yam Tua Muda I Raja Riau Lingga. Pangeran Kelana Jaya Putra Yang Di Pertuan Muda Riau I 1721 M - 1728 M
Opu Daeng Perani Sayid Syech Ahmad Adeni Qaulan Jazirah di nikahikan dengan adiknya Tengkuh Tengah Putri Raras Santi
Opu Daeng Celak di nikahkan dengan adik bungsunya Tengku Mundik Fatimah
Sementara OPU Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah dan adiknya Opu Daeng Kemasi Sayid Syech Ali Adeni Qaulan Jazirah memutuskan untuk pulang ke Boeneo Barat
Pada saat melintasi laut Sambas adiknya Opu Daeng Kemasi Sayid Syech Ali Adeni Qaulan Jazirah memutuskan untuk menetap di Sambas kemudian beliau menikah dengan Raden Tengah Syecah Aisyah Albarakat adik Kandung Sultan Akammaddiin I dan kemudian di nobatkan sebagai Pangeran Mangku Bumi Kesultanan Sambas
Sementara OPU Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah pulang ke Matan lalu beliau Pamit kepada Sultan Muhammad Zainuddin untuk Hijrah ke Mempawah untuk memenuhi janjinya karena Penembahan Sengkauk Sultan Muhammad Nurdin berjanji akan menobatkannya sebagai Penembahan Kerajaan Mempawah
Setelah Pamit kepada Sultan Muhammad Zainuddin Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah bersama Istri dan keluarga berlayar menujuh Mempawah tepatnya ke Pekana (Sekarang Sebukit Rama)
Istanah Penembahan Kerajaan Sengkauk di Pekana (Sebukit Rama) berciri khas rumah seperti rumah Adat Dayak warisan Pati Gumantar Raja Pertama yang berdarah campuran Dayak Majapahit beragama Hindu Rumah peninggalan sekarang sudah tidak ada lagi, karena sudah di Pindahkan sebagai Duplikat Rumah Adat Melayu Mempawah, kemudian Rumah adat Melayu pada tahun 2017 M di bangun Ulang sehingga jejak Istanah Duplikat ini sudah musnah
Pada tahun 1722 M - 1143 M Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah di nobatkan sebagai Raja Mempawah dengan Gelar Pangeran Mas Surya Negara. Penembahan Kerajaan Mempawah sedangkan istrinya bergelar Ratu Agung Senuhun gelar tersebut di beri oleh Sultan Muhammad Zainuddin Matan
Dua tahun setelah Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah meninggalkan Matan dan menjadi Raja Penembahan Kerajaan Mempawah
Sayyid Husein Alkadri tiba di Matan dan di nobatkan sebagai Mufthi Penasehat Kesultanan Matan 1724 M - 1145 H oleh Sultan Muhammad Zainuddin kemudian Sayid Husein Alkadri di nikahkan dengan adik kandung ketiga Putri Kesumbi istri dari Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Yaitu Utin Cendramidi yang kemudian di kenal sebagai Utin Cabanat setelah Sayid Husein Alkadri menikah lagi dengan Utin Crinci Srikandi maka Utin Chandramidi/ Utin Cabanat Lalu di panggil menjadi Nyai Tua
Pada tahun 1729 M - 1150 H, Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah menulis surat yang di kirim kepada pasukanya untuk membujuk Sayid Husein Alkadri agar pindah ke Kerajaan Mempawah Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah agar menjadi Mufthi Mempawah (Penasehat) di dalam surat tersebut juga terdapat permintaan Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah untuk meluruskan Nasab keluarga yang di pandang janggal di serta beberapa lampiran Nasab salinan yang sudah terpenggal
Kemudian Sayid Husen Alkadri mengirim kan balasan, untuk pindah insyaallah akan di penuhi tetapi tidak sekarang, sedangkan untuk nasab Karena di dalam surat tersebut Pou Daeng Manambon jiga menulis nama lain yaitu
Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Maka Sayid Husein Berjanji untuk menelusuri Kebenaran Manuskrip yan terpotong tersebut
Selain itu utusan juga meminta jawaban sekarang, maka Sayid Husein Alkadrie meminta utusan padukan untuk tidur di kediamannya satu hari untuk bermunajah dan memanggil leluhur Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Insyaallah atas ijin Allah Subhanahu Wa Ta'ala besok pagi sekitar jam 9.00 waktu Matan akan mendapatkan jawaban
Padukan utusan dari Opu Daeng Manambon menunggu hingga esok harinya
Keesokan harinya sekitar jam 9.00 Waktu Matan Pasukan sudah berada di Pendopo Mufthi Matan kemudian Sayid Husein Alkadri memberikan surat yang di masukan di dalam bulu yang sudah di lapisi kain songket berwarna ke emasan
Bawalah surat ini di dalamnya sudah ada jawaban kata Sayid Husen Alkadri
Tangga 333 Menuju Makam Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah Raja Mempawah di Sebukit Rama Kelurahan Pasir Putih Mempawah
Setelah surat tersebut di baca Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah hanya ada dua poin yang di jelaskan Sayid Husein Alkadri yaitu :
,1. Insyaallah apabila urusan sebagai Mufthi sudah selesai dan hanya yang ringan, Segeram akan berangkat ke Kerajaan Mempawah
2. Apa yang tertulis dengan nama Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah itu adalah Shohe, hanya saja gelar Qaulan Jazirah akan di periksa lebih lanjut maksudnya
Setelah membaca surat tersebut Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah langsung sujud Syukur bahwa apa yang di sangkakan selama ini sudah terjawab dengan sempurna
Makam Opu Daeng Manambon Ibnu Tandre Borong Daeng Rilaka Lahir 1695 M - 1106 H dan Wafat 26 Safar 1174 H - 1763 M dalam Usia 68 tahun, Dari 10 anak yang beliau miliki ada 4 anak yang bergelar Syarif, akan tetapi setelah sepeninggalan Opu Daeng Manambon ketika Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie menyerang Kerajaan Mempawah yang berlangsung 8 bulan menyebabkan terjadi pergantian kepemimpinan dari Gusti Jamiril ke tangan Sultan Syarif Kasim Alkadri merasa kecewa ke empat anak yang bergelar Syarif kemudian merubah kembali menjadi Gusti tetapi dari Manuskrip di ketahui empat orang anak yang merubah Jati dirinya sehingga dalam Dokumen tua maktab NanGq 1857 tertulis Syarif Gusti atau Gusti Syarif
Pada tahun 1739 M.Opu Daeng Manambon mengirim kembali surat yang kedua kalinya karena hampir 10 tahun telah berlalu dari surat yang pertama, surat yang kedua di kirim dengan iringan ,17 Padukan, rupanya Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah sudah mengetahui jika di kirim lagi surat, maka Sayid Husein Alkadrie akan langsung pamit kepada Sultan Muhammad Zainuddin Matan dengan alasan untuk memenuhi janjinya, sebab itu Opu Daeng Manambon menyiapkan pasukan untuk pelayaran keluarga Sayid Husein Alkadrie menuju Mempawah
Setelah genap 15 tahun sebagai Mufthi Matan 1724 M - 1739 M, maka Sayid Husein Alkadri mengundurkan diri sebagai Mufthi Matan sekaligus berpamitan karena Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah sudah ketiga kalinya meminta untuk menjadi Mufthi Mempawah
Tepat hari Isnin tanggal 24 Rajab 1160 H - 1739 M Sayid Husein Alkadrie bersama rombongan keluarga berangkat meninggalkan Kesulitan Matan melalui perjalanan lau dengan perahu layar, hampir tiga hari maka pada hari Rabu 26 Rajab 1160 H - 1739 M, rombongan tiba di Kuala Mempawah dan mereka di sambut oleh Rakyat Mempawah kemudian langsung ke Galah Herang, untuk kemudian rombongan menemui Penembahan Kerajaan Mempawah Opu Daeng Manambon, setelah selesai beramah tamah dan silaturahmi Sayid Husein kembali lagi ke Galah Herang kemudian membangun pemukiman baru di tepi Sungai Mempawah (Sekarang menjadi areal Pemakaman Sayid Husein Alkadrie)
Sayid Husein bin Ahmad Alkadri, Mufthi Pertama Kerajaan Penembahan Mempawah 1739 M - 1769 M, menjabat sebagai Mufthi Selama 30 tahun
Selama berada di Mempawah Sayid Husein Alkadri banyak membentuk Majelis Pengajian, Memberi pelajaran Ilmu Fiqih, Tasawuf dengan sistem Tarekat Qadriah, serta memutuskan dan penasehat Kerajaan dan Rakyat, termasuk membentuk Seni Muslim Sholawat gambus dan Rebana
Sementara OPU Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah jsebagai seorang Raja pokus mengurus pemerintahahn dengan meminta Nasehat dan pendapat dari Mufthi di hari - hari kosong Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah sangat senang dengan sabung ayam, hanya untuk kesenangan tampakan kemudian di bagikan kepada rakyat yang mau mengambilnya taruhan uang, ayam yang terluka langsung di sembelih agar halal untuk di makan
Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah melarang menyanung ayam sampai mati, maka ketika ayam ada yang terluka baik tubuh atau sayapnya langsung di sembelih dan di berikan kepada Penonton atau rakyatnya, karena ayam - ayamnya terlatih sehingga jarang terluka
Salah satu anak Sayid Husen Alkadri Syarif Abu Bakar Alkadri sering menonton dan memperhatikan gerakan cakar ayam tersebut sehingga di latihnya secara diam - diam sehingga menghasilkan gerak jurusan sebuah silat yang ternyata latihan yang tersembunyi sering di lihat Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah dan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Sehingga Opu daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah mengajarkan mereka latihan silat, memanah, silat dengan pedang, tongkat dan termasuk dengan berkuda, serta di dalam air sehingga kedua anak Sayid Husen Alkadri ini menjadi terlatih dalam olah Kanu ragan
Suatu ketika Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah memberikan hadiah yang terbuat dari karet di lapisi tembaga mirip cakar kemudian di jadikan kepada Syarif Abu Bakar Alkadri kemudian beliau memberi Gelar Panglima Wakar (Panglima Cakar Harimau atau Harimau Wakar yang bisa memanjat di pohon)
Sedangkan Syarif Abdurrahman Alkadrie dengan gelar Pangeran Cakra Buana
Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah berpesan suatu saat ilmu itu akan bermanfaat untuk perjalanan hidup keduanya
Pada tahun 1743 M - 1164 H Sultan Muhammad Zainuddin Matan Wafat, Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah dan Sayid Husein Alkadrie di hari ketiga ya tiba di Matan untuk melayat sekaligus menyaksikan Penobatan Pangeran Amangkurat anak kedua Sultan Muhammad Zainuddin atau adik dari Putri Kesumba dan Kakak dari Putri Cabanat Utin Chandramidi yang di kenal sebagai Nyai Tua
Setelah penobatan Istri Sultan Muhammad Zainuddin Matan yaitu Putri Indrawati binti Raja Sengkauk bersama Opu daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah dan Sayyid Husein Alkadrie kembali ke Mempawah sementara Putri Indrawati Putri Mas Indrawati pergi Pinang Sekayu untuk mengambil warisan ayahnya Raja Sengkauk Sultan Muhammad Suhudin
Ratu Indrawati menyampaikan bahwa beliau akan mengambil barang warisan ayahnya Raja Sengksuk berupa
1. Gamelan Pusaka senenan
2. Keris Naga Geni hadiah dari Pati Gajah Mada
3. Meriam dari Majapahit hadia dari Prabu Hayam Wuruk dari Majapahit
4. Sepasang Pusaka Pagaruyung warisan dari Putri Cermin
Semua barang tersebut di serahkan Pangeran Adipati di Pinang Sekayu setelah menerima semua Putri Indrawati pulang kesebukit Rama untuk bertemu anaknya Putri Kesumba istri Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah untuk beberapa waktu sebelum pulang ke Matan sebagai Ratu Sepuh mendampingi anaknya Pangeran Amangkurat yang mengatakan ayahnya Sultan Muhammad Zainuddin Matan
Sultan Syarif Abdurrahman bin Sayyid Husein Alkadrie Pendiri dan Sultan Pertama Kesultanan Kadriah Pontianak. Rasa kecewa terhadap Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie yang menyerang Kerajaanya selama 8 bulan yang menyebabkan keluarganya mengungsi dan anaknya Sultan Syarif Kasim Alkadrie menjadi Raja Penembahan Mempawah., membuat empat orang anak Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah merubah kembali nama lahirnya yang di beri ayahnya Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah di antaranya anak tersebut adalah :
1. Syarif Ahmad bin OPU Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah Pangeran Jaya Simpang Empat menjadi : Gusti Setia Pangeran Jaya Simpang
2. Syarif Alwi bin Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah menjadi : Panglima Gusti Jelma
3. Syarif Ali Jaladri bin Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah Pangeran Mangku Sompak menjadi : Gusti Jaladri
4. Syarif Ahmad bin Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah Pangeran Jaya Putra Simpang menjadi : Gusti Setia
Pada tahun 1748 M - 1169 H, Opu daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah Raja Mempawah dan Sayyid Husein Alkadrie sepakat untuk menjodohkan anaknya Putri Mempawah Utin Chandramidi dengan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Atas perjodohan tersebut Putri Utin Chandramidi menerima dengan meminta Mahar sebagai Mas Kawin Tujuh Peti Emas,
Mendengar pernyataan tersebut seketika Syarif Abdurrahman Alkadri agak tersinggung sehingga tanpa sadar (Refleks) berkata ""Seandainya Ana (Saya) berhasil mengabulkan permintaan tersebut maka akan ""Bernadjar " memiliki 101 anak dan jika istri - istri ana (Saya,Ulun) tidak mampu melahirkan anak tersebut ana (Saya, Ulun) tidak akan berhenti menikah"' mendengar ucapan tersebut waja Utin Chandramidi memerah dan memandang ayahnya. Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah bermaksud untuk membelahnya atau membatalkanya
Tetapi justru Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah berkata ""Amiin" tanda setuju, sehingga merasa kecewa dengan ucapan ayahnya Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah., tiba - tiba Utin Chandramidi berkata., Seandainya Syarif Abdurrahman Alkadrie berhasil memenuhi permintaan tersebut maka ketika saya meninggal saya tidak mengijinkan jasad saya di kubur dengan Syarif Abdurrahman Alkadrie maupun di Kubur berdekatan dengan ayah saya Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah, tetapi makamkanlah saya di samping kiri Sayid Husein Alkadrie sehingga dua Utin Chandramidi maksudnya
1. Nyai Tua / Utin Cabanat yang nama aslinya adalah Utien Chandramidi binti Sultan Muhammad Zainuddin anak ketiga Sultan Matan., istri Sayid Husein Alkadrie atau adik kandung kedua Putri Kesumba binti Sultan Muhammad Zainuddin, istri dari Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah dan
2. Dirinya Putri Mempawah Utin Chandramidi Binti Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Mendengar ucapan tersebut ayahnya Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah juga berkata ""Amiin sambil tersenyum, sehingga membuat Putri Utin Chandramidi tertunduk malu.
Kemudian Sayid Husein Alkadrie hanya tersenyum sambil berkata meminta waktu selama tiga bulan untuk memenuhi ""Mahar Mas Kawin tersebut""
Setelah tiga bulan Sayid Husein Alkadri menyampaikan bahwa antaran tujuh Petih Emas sudah di siapkan, Utin Chandramidi hanya tertunduk tanpa memberikan sekata apapun hanya tinggal menurut apa yang di sampaikan ayahnya Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah, kemudian pesta secara islami di lakukan besar - besaran
Setelah selesai acara pesta Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah banyak menyendiri dan sering beratapa di bawah bukit ramah
Beliau setiap menjelang setelah Sholat Isa langsung bertapa di bawa kaki gunung di Sebukit Ramah duduk di atas batu mulai dari tahun 1750 M - hingga Wafatnya 1763 M atau selama 13 tahun di lakukan apabila setelah selesai Sholat Isa beliau langsung menuju ke bawa bukit dan duduk hingga semalam suntuk di atas batu yang sudah di buatkan atap pendopo (sekarang pendopo tersebut sudah tidak ada) hingga bekas tapak kakinya membuat batu tersebut menjadi cekung (saat ini bekas tapak kaki tersebut sering berisi air dan di ambil penjiarah untuk mengambil berkah katanya, sedangkan bekas pohon kayu yang sering di tambat ayam juga sudah terkikis sehingga menyisakan Tunggul yang sedikit sehingga harus di pagsri agar tidak di bil pejiarah katanya untuk mengambil berkah)
Tepat Sehin Pagi ba'da Sholat Subuh 26 Safar 1174 H - 1763 M, Opu daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah berpulang Kerahmatullah dalam Usia 68 tahun
Untuk Selanjutnya di gantikan anaknya Gusti Jamiril Sayid Syech Jamiril Adeni Qaulan Jazirah, kemudian Istanah Penembahan di pindahkan di Kampung Pedalaman Galah Herang Kelurahan Pedalaman Kecamatan Mempawah Timur berjarak 500 M dari Rumah Sayid Husein Alkadrie, maksud tujuan utama Sa'ad itu agar dekat dengan kediaman Mufthi Mempawah Sayid Husein Alkadri karena saat itu Gusti Jamiril Sayid Syech Jamiril Adeni Qaulan Jazirah di angkat sebagai anak sekaligus dalam asuhan Sayid Husein Alkadrie, karena merasa nyaman Istanah Penembahan Kerajaan Mempawah beliau pindahkan dan Sebukit di jadikan Area Pemakaman Keluarga
Akan tetapi kenyataan keluarga yang berdiam di Istanah ketika meninggal malah meminta untuk di makamkan di samping Istanah Amantubilah sehingga di samping Istanah Amantubilah terdapat makam keluarga dan sebelah pinggiran Sungai Mempawah di Bangun Masjid Istanah
Sehingga di Lokasi Sebukit Rama hanya terdapat beberapa makam saja di antaranya adalah :
1. Makam Pati Gumantar
2. Makam Panglima Hitam
3. Makam Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
4. Makam Putri pendatang dari Majapahit
5. Makam cicit Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah Putri Lina
6. Makam Pangeran Cakra cicit Opu daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
7. Bagian bawah dengan Sungai Pemandian Makam para dayang - dayang dan keluarga para dayang - dayang termasuk Pegawai dan padukan Istanah terdapat 9 makam
8. Makam Pangeran Gentar Alam dan
9. Makam Panglima Paku Bumi
10. Makam Syech Muhammad Sholeh di samping makam Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Makam Syekh Muhammad Sholeh Bin Syech Abdurrahman Ashomsd di samping makam Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Makam Putri Keturunan dari Majapahit yang sudah memeluk Islam 1765 M - 1186 H
Komplek Pemakaman Pati Gumantar dan Panglima Hitam sebelah kanan dari Makam Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Makam Pati Gumantar Sebelah kiri batu nisan berukuran agak kecil sedangkan Panglima Hitam Batu nisanya agak besar,
Banyak yang meragukan bahwa Pati Gumantar beragama Islam atau Mu'alaf sehingga bertolak belakang dengan sejarahnya bahwa Pati Gumantar beragama Hindu, sehingga menurut sebagian ahli Sejarah tentang agama Psti Gumantar. seharusnya beragama Islam karena tidak sesuai dengan Batu Nisanya sebab biasanya agama Hindu harus di bakar bukan di kebumikan
Sedangkan Panglima Hitam adalah Panglima Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah merupakan salah satu cicit beliau sendiri maka mustahil makam Panglima Hitam harus di makamkan dekat makam Pati Gumantar, akan tetapi menurut Pangeran Hamdan Pati Gumantar sebelum meninggal beliau masuk Islam menjadi Mu'alaf di Islam oleh salah satu Ulama tertua dari Patani bernama Syech Abdurrahman Fatani dari Thailand, kemudian beliau terbunuh saat berperang melawan Kerajaan Biaju dan terbunuh dalam peperangan tersebut 1395 M kemudian di makamkan di Sebukit Rama, hanya saja para penulis Sejarah tidak peka dengan makam Pati Gumantar (asal tulis tanpa mencari sumber yang Shohe benar hanya mendengar katanya tanpa memeriksa dulu dan berpikir serta melihat terlebih dahulu makamnya sedangkan agama Hindu. Umumnya jasad di kremasi di bakar) bahkan dari dulu mungkin sejak wafatnya para penjiarah tetap membacakan Yasin doa dan sedekah Alfatihah di kedua makam tersebut sehingga sejarah yang di tulis bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya ucap Pangeran Hamdan
Sebab itulah Pangeran Hamdan tidak percaya jika leluhurnya Raja Ulu Sulawesi Selatan La Maddusilat seorang Bugis yang beragama Hindu sebagai keturunan dari Batara Guru, sebab semua makam di Kompleks pemakaman Raja La Maddusilat banya yang tidak memiliki nama, bahkan di mata sendiri terbukti batu nisan Pst Gumantar seorang Muslim sebab jika dia Hindu pasti tidak memiliki makam karena harus di bakar dan abunya di masukan di dalam guci kemudian di semayan, sehingga sejarah tentang leluhur beliau banyak yang di anggap Fiktif atau di selewengkan dari data yang Shohe
Artinya Raja Sengkauk bukan mualaf melainkan lahir dalam ke adaan muslim yang bergelar Sultan Muhammad Suhudin kemudian menikah dengan Putri Cermin dari Sumatra sedangkan Putri Cermin adalah seorang wanita Muslim
Lokasi makam Pangeran Gentar Alam dan Panglima Paku Bumi, menurut Pangeran Hamdan keduanya adalah cucu Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah bukan pendatang dari Siak, makam di pinggiran aliran Sungai Sebukit Rama
Di perkirakan Makam Petta Janggo merupakan Panglima Laksamana I Kerajaan La Maddusilat
Di lihat dari ukiran makam tersebut lebih tua dari Makam Raja Opu Daeng La Maddusilat yang sangat sederhana sehingga lebih istimewa dengan makam - makam Raja La Maddusilat, sedangkan umunya makam para Raja Muslimin lebih istimewa dari makam lainya
Ini menunjukan bukti bahwa Makam adalah Bukti yang nyata yang tidak bisa di bohongi bahwa sebenarnya makam - makam tersebut sebenarnya adalah makam - makam leluhur Raja Ulu Sulawesi Selatan La Maddusilat Sayid Syech Muhammad Adeni Qaulan Jazirah, sebab makam - makam tersebut terukir sangat Indah dari Kaligrafi Arab Yamani atau Kaligrafi Khot Yamani yang berada pada tahun 1415 M - 836 H di tulis oleh tangan - tangan terampil yang tidak mungkin di tulis oleh seorang Mu'alaf
Setelah Pangeran Hamdan pulang dari Jiarahnya
Beliau menyocokan dengan Manuskrip leluhur Opu Daeng Manambon dan apa yang di saksikan benar dan sangat sesuai, inilah yang membuat keyakinan beliau ternyata banyak terjadi Rekayasa Sejarah seolah- lehurnya Raja La Maddusilat seorang Mu'alaf adalah suatu kekeliruan
Makam Dua Kepiting Sayyid Hasim dan Sayyid Ibrahim dua Panglima Kerajaan Penembahan Mempawah Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Pada tahun 1984 M - 1405 H. Pangeran Hamdan menemui salah satu Lembaga Maktab untuk mendapatkan pengakuan akan tetapi lembaga tersebut memberikan jawaban tanpa melakukan penelitian bahwa Opu Daeng Manambon adalah asli Bugis
Pada tahun 2010 M - 1431 H Pangeran Hamdan Adeni Qaulan Jazirah menemui lagi Maktab yang sama untuk di teliti tentang Opu Daeng Manambon tetapi Maktab tersebut mengatakan bahwa Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah adalah Bugis asli sesuai yang beredar di dunia Maya, mendengar ucapan tersebut Pangeran Hamdan hanya tersenyum lalu mengatakan Maktab Google
Merasa kurang puas dan tidak ada titik terangnya Ahirnya Pangeran Hamdan Adeni Qaulan Jazirah menemui Keponakanya Pangeran Bendahara Syarif Ibrahim bin Ahmad Alkadri Pengurus Ketua Maktab NanGq 1857 Dewan Pimpinan Pusat Jalan Tanjungpura samping Masjid Baiturrahman Pontianak Kantor Maktab saat itu, sebab istri Pangeran Bendahara Syarif Ibrahim Alkadri adalah salah satu dari keponakan Pangeran Hamdan Adeni Qaulan Jazirah
Pangeran Bendahara Syarif Ibrahim bin Ahmad Alkadri Ketua Maktab NanGq 1857 Dewan Pimpinan Pusat Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Syarif Ja''far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri bersama Istrinya Sa'edah binti Muhammad Johan Aldeni Qaulan Jazirah Dokumen Poto tahun 1984 M - 1405 H
Saedah binti Muhammad Johan merupakan keturunana dari Syayid Syekh Sysrif Muhammad Gusti Djamadin bin Opu Daeng Manambon Sayid Syekh Abu Bakar Adeni Qaulan Jajirah
Beliau kemudian menyerahkan data Poto kopian, agar kopian tersebut apa ada isinya yang sesuai dokumen yang beliau miliki sesuai peninggalan Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah yang telah di sempurnakan bersama Sayid Husein Alkadrii (1729 M - 1150 H) apa ada Manuskrip itu di pegang Maktab NanGq 1857 Pusat
Setelah hampir satu hari mencari Manuskrip salinan Sayid Husein Alkadri, Ahirnya Manuskrip tersebut di temukan dalam kondisi yang sudah rusak berat tetapi sama dengan kopian yang di serahkan Pangeran.Hamdan Adeni Qaulan Jazirah, dengan demikian beliau menjadi lega
Anak Cucu dari Keturunan Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah saat Umroh di Mekah tahun 2015 M - 1436 H
1. Gamis Putih bintik Hitam : Jamilah binti binti Badiut bin Isa bin Musa bin Lebai bin Lebai Musa bin Ahmad (Opu Daeng Keraka ""Pangeran Gentar Alam" bin Pangeran Surya Alam ""Surya" bin Syarif Muhammad Gusti Jamadin Pangeran Cakra Sambas bin Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
2. Gamis Putih Polos : Saedah binti Muhamad Johan bin Musa bin Lebai bin Lebai Musa bin Ahmad (Opu Daeng Keraka ""Pangeran Gentar Alam" bin Pangeran Surya Alam""Surya" bin Syarif Muhammad Gusti Jamadin Pangeran Cakra Sambas bin Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Lebai Musa bin Ahmad (Opu Daeng Kerajaan) memiliki kelebihan yang tubuhnya bisa di tempeli arwah leluhur (bukan orang Kebenaran) sebab di dalam hukum Islam baik yang bersumber dari Nas Al - Qur'an maupun Hadist Shohei Rasulullah SAW) Bangsa Manusia hanya satu jenis berasal dari keturunan Nabi Adam AS dan istrinya Hawa kemudian berkembang hingga sekarang atau sudah lebih dari 12.000 tahun yang lalu, sedangkan manusia yang tidak tampak hanyalah dari arwah leluhur yang sudah meninggal mapun ilmunya, maka meyakini adanya manusia kebenaran yang tidak tampak adalah sebuah hayalan, sebab itu perlunya seseorang belajar tentang ilmu alam gaib agar jangan sampai menyandarkan dirinya sebagai keturunan manusia kebenaran karena itu hanya sebuah hayalan cerita Fiitiv yang tidak ada dalam Syari'at Islam., meyakininya termasuk perbuatan haram karena melanggar Syari'at Islam tentang kehidupan manusia
Sebab di dalam Surat Al - Anas sudah jelas di tegaskan, bahwa bangsa manusia yang hidup di alam nyata adalah manusia dan jika mereka sudah meninggal mereka berada di alam kuburan sebagai rumahnya dan jika arwahnya keluar dari kuburan mereka berada di alam barzah sedangkan alam Barzah menyatu dengan Dunia tempat kita berpiijak
Maka biasanya para leluhur yang sudah meninggal dunia mereka bisa saja hadir kepada salah satu keturunan dengan ilmunya jika mereka berasal dari kalangan Ahlulbait Rasulullah dan jika mereka bukan dari kalangan Ahlulbait Rasulullah maka yang hadir adalah Qorinya
Muhammad Kasim bin Saleh bin Ahmad Katong bin Pangeran Bentar Alam bin Pangeran Surya Alam bin Pangeran Cakra Sambas Sayid Syarif Syarif Muhammad Gusti Djamadin bin Opu Daeng Manambon Sayid Syekh Abu Bakar Adeni Qaulan Jajirah Antibar Mempawah Timur Kalbar salah satu anak kandung beliau adalah
Nursiah binti Muhammad Kasim Adeni Qaulan Jajirah
Lebai dalam literatur Sejarah adalah seorang penghulu nikah dan pemuka agama di Namanya demikian juga dengan ayahnya Lebai Musa beliau juga memiliki kelebihan yang bisa di hadiri oleh arwah para leluhurnya
Karena mereka orang yang jujur apa adanya sehinga di sebut orang yang selalu berbuat benar, bukan manusia Kebenaran dari anggapan orang - orang yang tidak memahami ilmu Agama Islam dengan benar
Karena kejujuran tersebut membuat beliau memiliki banyak Qaromah sehingga mampu menembus alam gaib, alam kehidupan kedua yang terdiri dari berbagai mahkluk gaib dari berbagai jenis mahkluk gaib sebagaimana alam dunia
Sebab itu konteks Al - Qur'an harus di pahami secara utuh
Bahkan para Nabi Allah yang belum wafat saja seperti Nabi Khaidir. AS, Nab Shaleh. AS, Nabi Isa AS tidak pernah di sebut sebagai orang kebenaran, seharusnya para Nabi dan Rasul inilah yang lebih layak di sebut orang kebenaran, tetapi ternyata tidak satupun ayat - ayat Al - Qur'an maupun Hadist shohe menyebut mereka orang kebenaran, melainkan hanya di sebut Orang yang mengajak pada jalan yang benar yaitu Jalan Allah SWT, sehingga makna dari orang kebenaran tidak lain adalah para Nabi dan Rasul itu sendiri
Di ketahui jumlah Nabi dan Rasul yang wajib di ketahui 25 Nabi dan Rasul
Kemudian Para Nabi dan Rasul yang tidak wajib di ketahui ada 313 Nabi dan Rasul sedang Para Nabi dari jaman Nabi Adam. AS sampai kepada Nabi Muhamad SAW ada 24.000 Nabi maka mereka lah yang seharusnya di sebut orang Kebenaran, akan tetapi karena tidak ada dalam dalih Al - Qur'an maupun Hadist Shohe tentang orang kebenaran, maka kalimat tersebut tidak lain hanya merupakan dongeng orang-orang yang tidak mengerti hukum agama Syari'at Islam
Sebab Allah SWT sudah menegaskan di dalam Al - Qur'an semua manusia di muka bumi ini berasal dari Keturunan Nabi Adam. AS dengan istrinya Siti Hawa, termasuk para Nabi dan Rasul meyakini di luar itu adalah merupakan suatu kesehatan yang nyata, sebagaimana ada sebagian peneliti menganggap manusia berasal dari orang hutan kemudian berasimilasi dan ini juga haram di yakini sebagaimana haramnya meyakini adanya manusia betasal dari keturunan orang kebenaran
Yang benar adalah semua manusia berasal dari Nabi Adam. AS dan Siti Hawa termasuk para Nabi dan Rasul yang di utus oleh Allah SWT, maka perlunya belajar Sejarah yang benar agar tidak keliru dalam memahami makna dari "Orang Kebenaran"
Adanya anggapan seperti ini sehingga makam leluhurnya sendiri menjadi di terlantarkan
Sier bin Supri bin Saleh bin Ahmad Katong, ayahnya adik kandung Muhammad Kasim. Adeni Qaulan Jajirah
Manurut Saedah Binti Muhamad Johan Akademi leluhurnya Lebai Musa menikah hingga tua belum memiliki anak Ceritanya ketua berjalan di hutan Banjar bertemu dengan seorang kakek kemudian dari hasil pembicaraan tersebut sang kakek memberi air minum tidak lama istrinya yang juga orang Banjar bernama Syecod hamil dan melahirkan anak yang sudah tumbuh gigi dalam bahasa Melayu di sebut bunting kerbau / hamil kerbau yang kemudian di beri nama Lebai yang mengandung makna lahir sudah bisa berbicara akan tetapi dalam waktu 3 bulan anak ini sudah seperti usia 25 tahun kemudian dia masuk hutan dan setelah 3 tahun baru kembali dari (Padang Hampar Banjar) mirip kota gaib padang 12 ketapang
Keluarga besar Keturunan Supri bin Saleh bin Ahmad Katong bin Pangeran Gentar Alam bin Pangeran Surya Alam bin Dayid Syekh Syarif Muhammad Gusti Djamadin bin Opu Daeng Manambon Sayid Syekh Abu Bakar Adeni Qaulan Jajirah di Sungai Pinyuh
Ketika kembali Lebai langsung di nikahkan dengan Khod yang maksudnya orang kampung berasal dari padang Hampar Banjar baik Lebai maupun Syecod lalu di anggap sebagai "orang kebenaran"
Pada hal hanya karena Lebai Musa minum air lalu istrinya melahirkan anak tidak wajar sehingga di dalam hukum Islam terhukum cerita dusta
Yang benar adalah air tersebut mengandung Karomah suatu kelebihan yang Allah berikan sangat luar biasa sehingga dengan minum air tersebut seseorang bisa hamil dan melahirkan. Kejadian tidak wajar ketidak wajaran dan ke anehan tersebut di sebut Karomah dan bukan lalu di ponis sebagai orang kebenaran yang di dalam hukum Islam termasuk berita Dusta atau berita bohong yang ahirnya di konsumsi oleh anak cucu berkelanjutan
Sebab konsep hukum islam sangat jelas bahwa mahluk gaib terdiri dari :
1. Bangsa Malaikat
2. Bangsa Iblis / Syaiton
3. Bangsa Jin termasuk Qorin yang ada di
tubuh manusia biasa akan tetapi
Ahlulbait tidak memiliki Qorin
4. Bangsa Siluman / Dedemid jugak
termasuk bagian dari Jin
5. Bangsa manusia yang sudah meninggal
terdiri dari Arwah baik dan Arwah Jahat
tergantung amal saat hidup di dunia dari
manusia bisa
6. Bangsa Khodam yang ada pada suatu
benda atau barang
7. Arwah Ahlulbait Para Nabi dan Rasul
termasuk keturunan Rasulullah yang di
sebut ilmunya
Maka di luar konsep Syariat Agama Islam tidak satupun Ayat Al Qur'an maupun Hadits Shohe hingga Hadist lemah bahkan hadist palsu sekalipun menyebut manusia kebenaran, maka berita ini di sebut sebagai cerita dongeng / bohong
Sebab itulah pentingnya belajar ilmu agama dan alam gaib agar kita tidak terjebak dengan sebuah cerita dongeng yang mengarah kepada perbuatan Dosa
Renungkan Hadist di bawah ini :
Apabila meninggal anak Adam, maka yang mereka bawa hanyalah :
1. Amal Jariahnya sendiri
2. Ilmu yang bermanfaat dan
3 Doa anak yang Sholeh
Hr. Riwayat Muslim
Hadist inilah yang menjadi pegangan Umat Islam
Yang menjadi wajib hukumnya di jadikan pedoman
Yaitu Apabila meninggalnya ANAK ADAM
Bukan anak orang kebenaran karena termaduk cerita Dongeng / Fiktif dan keluar dari ajaran Islam meyakini ini termasuk di dosa besar
Lebai Musa makamnya ada di Banjar karena ikut istrinya di Banjar sedangkan Lebai makamnya ada di Lokasi Galah Terang Kompleks Pemakaman Sayid Husein bin Ahmad Alkadri Desa Sejegi Kecamatan Mempawah Timur Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat Indonesia 🇮🇩, semoga kita terhindar dari cerita Fiktif yang bertentangan dengan Aqidah Islam
Berikut ini Nasehat Pangeran Hamdan Adeni kepada keponakannya Saedah binti Muhamad Johan Akademi yang menjadi dokumen tersimpan Maktab NanGq 1857
Tentang memahami makana dari Karomah dan Orang Kebenaran
Karomah adalah suatu kelebihan yang sangat luar biasa di luar dari nalar pikiran dan akal manusia yang Allah berikan kepada seseorang
Akan tetapi kelebihan luar biasa di luar nalar manusia tersebut tidak bisa di sebut bahwa orang tersebut adalah orang kebenaran
Melainkan orang yang berprilaku benar sehingga berhak memperoleh Karomah tetsebut
1.Shahibul Kahfi yang terdapat di dalam Al - qur an di tidurkan oleh Allah selama 300 tahun, ketika terbangun namanya sudah berubah maka seharusnya mereka lebih layak di sebut sebagai orang kebenaran, akan tetapi justru Alquran tidak ada menyatakan mereka sebagai orang kebenaran melainkan hbs Allhah yang benar mendapat perlindungan Allah. Maka badimgkan dengan
2. Lebai Musa berada di hutan hamparan Banjar di beri sir minum lalu melahirkan anak yang sudah tumbuh gigi hanya jamil dalam waktu 3 bulan dan dalam waktu singkat Lebai Dewasa kemudian menghilang 3 tahun, lalu kembali dan ibunya Syrchod kuswtir hilang lagi lslu di nikahkan
Jika benar Syrchod orang kebenaran tentu tidak perlu khawatir karena dia pasti tau bahwa Lebai berada di Kota Hamparan Banjar / Kota gaib ini mengandung maka mana kwatir bearti Syecod adalah manusia biasa bulan orang kebenaran,
Lalu di nikahkan dengan Khiod yang di anggap sebagai orang kebenatan, mska jelas poin pertama yang di tidurkan selama 300 tahun lebih layak di sebut sebagai orang kebenaran ternyata tidak
Ini brarti Shahibul Khahfi di beri Karomah tidur selama 300 tahun baru muncul kembali sedangkan Lebai di beri karomah 3 tahun bsr kembali maka kalimat tersebut tidak layak mereka di sebut sebagai orang kebenaran melainkan mereka mendapatkan Karomah dari Allah karena keduanya merupakan kejadian di luar nalar akal manusia dan justru poin nomor 1 lebih sempurna Karomah karena tertidur 300 tshun
Demikian nasehat Pangeran Hamdan Adeni kepada Saedah binti Muhamad Johan Adeni ketika beliau berkunjung kerumah Syarif Ibrahim pada tahun 1984 M ssst masih tinggal di Kampung Pedalaman Bugis daerah Beting tepatnya di belakang Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri agar tidak terjebak kepada pemahaman yang menyesatkan tentang leluhurnya
Selain itu Pangeran Hamdan Adeni juga tidak ingin akibat pemehaman yang keliru tentang leluhurnya sehingga dirinya juga di anggap sebagai Keturunan Orang Kebenaran yang bertentangan dengan Syariat Agama Islam, sebab belisu tau betul bahwa Muhammad Johan Adeni bin Musa yang bermakna di Sungai Belanga saat itu sering belisu jistahi dan belisu tau betul bahwa Muhamad Johan Adeni adalah saudara sepupnya dari adiknya Raja Gusti Jamiril Raja Mempawah Kedua setelah Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Yaitu Syarif Muhamad Adeni yang kemudian menganti namanya dengan Gusti Jamaddin dan menikah dengan putri Kerajaan Sambas dan Syarif Muhamad Adeni / Gusti Jamaddin di nobatkan Raja Sambas sebagai Pangeran Cakra Sambas
Kemudian salah satu dari keturunan ini ada yang hijrah ke Banjar bersama Rombongan keturunan Panglima laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri
Salah satu keturunan Panglima laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri yaitu Panglima Hitam. paku alam Syarif Ibrahim Alkadri menetap di Kerajaan Sabamban dan menikah dengan anak Raja Sabamban Fatimah binti Ali Al-idrus Sabamban
Sedangkan keturunan dari Syarif Muhamad Adeni / Gusti Jamaddin menetap di Padang Hampar Banjar dan menikah dengan keturuana Salah satu anak Raja Banjar
Dari sinilah orang-orang mengaitkan dirinya dengan keturunan orang kebenaran, yang ahirnya menjadi cerita dongeng turun temurun, kemudian keturunan ini yaitu Lebai bin Lebai Musa kembali lagi ke Pontianak dan wafat di Mempawah, sementara makam cucunya ada di lereng gunung peniraman bernama Amir Bin Musa, bukan anak dari Lebai Musa
Sebab baik Muhamad Johan Adeni, Isa Adeni dan Amir bersaudara kandung ayahnya adalah Musa bin Lebai bin Lebai Musa bin Ahmad (Opu Daeng Keraka bin Pangeran Surya Alam bin Sysrif Muhamad Adeni / Gusti Jamaddin Pangeran Cakra Sambas bin Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Demikian penjelasan yang sangat rinci dari Pangeran Hamdan kepada keponakannya Saedah binti Muhamad Johan Adeni
Makam Daeng Talibe Panglima Perang Kerajaan Opu Daeng Manambon Makam di Bakau Kecil
Merupakan Panglima yang tangguh dalam berjuang membelah Kerajaan Mempawah 1740 M - 1161 H
Merupakan Panglima garda terdepan baik di darat maupun di laut
OPU DAENG MANAMBON SAYYID SYECH ABU BAKAR ADENI QAULAN JAZIRAH
beliau 5 bersaudara Kandung di antaranya adalah :
1. OPU DAENG MEREWAH Sayid Syech Muhammad Adeni Qaulan Jazirah
2. Opu Daeng Celak Sayid Syech Abdullah Aden Qaulan Jazirah
3. Opu Daeng Perani Sayid Syech Ahmad Adeni Qaulan Jazirah
4. Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
5. Opu Daeng Kemasi Sayid Syech Ali Adeni Qaulan Jazirah
Dalam Manuskrip tua ada tambahan AL - FADANI yang maksudnya Leluhur keturunan ini yaitu Sayid Syech Abdul Wahid Aden Qaulan Jazirah pertama kali menginjakan kakinya di Fatani Thailand sehingga di tambah Al- Fadani yang maksudnya adalah Al - Fatani akan tetapi tidak di cantumkan kan karena hanya berupa simbol kedatangan dua bersaudara di negeri Asia
Makam istri Daeng Talibe, Yaitu Daeng Fatimah binti Daeng Karaeng Matoa Bakau Kecil
Hingga saat ini Keturunan Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni QAULAN Jazirah masih menutupi diri, sekalipun sebagian besar mereka sudah mengetahui jati diri mereka, hal ini bertujuan agar tidak terjadinya kisruh sebagaimana yang terjadi pada tahun 1984 yang lalu, ketika mereka meminta bantuan kepada sebuah lembaga Nasab yang terkenal saat itu, dan ternyata lembaga tersebut benar-benar tidak memiliki Dokumen yang lengkap sehingga mereka menyatakan sebagai asli Bugis karena tidak memiliki rujukan dan sandaran
Maka ketika keturunan ini menghadap ke Maktab NanGq 1857
Karena leluhur Alkadri yaitu Asyayid Syarif Husein bin Ahmad Alkadri Jamalullail sudah mengakui keberadaan OPU DAENG MANAMBON SAYID SYECH ABU BAKAR ADENI QAULAN JAZIRAH sebagai Ahlulbait Rasulullah
Maka tidak ada alasan bagi Maktab NanGq 1857 untuk menolak mereka
Sebab data Nasab OPU DAENG MANAMBON SAYID SYECH ABU BAKAR ADENI QAULAN JAZIRAH., sudah terdapat di dalam Dokumen Tua Maktab NanGq 2857 sejak tahun 1727 M - 1729 M sebelum Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri lahir 1730 M - 1151 H
Sehingga dari keturunan ini sudah ada di terbit kan Buku Nasab/Kartu INasab/ Kartu dentitas Pengenalan termasuk Piagam Nasab., dengan demikian keberadaan Marga : ADENI QAULAN JAZIRAH sudah tersingkap sedikit - demi sedikit sebagaimana keberadaan Marga : Syarwani Almaky Adaghistani Alghouts Asyadjely Al-Hasani yang juga bersumber dari Maktab NanGq 1857
Bahkan Marga : Syarwani Almaky Adaghistani Alghouts Asyadjely Al-Hasani sudah menembus Jazirah Arabia
Maka tidak mustahil marga : ADENI QAULAN JAZIRAH akan menyusul di kemudian hari
Sebab marga ini sudah terkenal di Yaman dengan nama ADENI AL - MASHUR yang merupakan pecahan dari Marga Induknya yaitu : Marga ADENI / AL - ADENI
Dr. Mardani Adijaya Kesuma Raja Penembahan Kerajaan Mempawah Ke XIII Sekarang
Gelar : Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim
RAJA - RAJA YANG PERNAH BERKUASA DI MEMPAWAH
A. RAJA SEBELUM ISLAM DAN KEDATANGAN ISLAM
1. PATI GUMANTAR 1350 M - 1395 M, Dengan nama Kerajaan ""Bengkulai Rajang" Etnis Dayak beragama Hindu Sidiniang (Sekarang Sadaniang) berdarah Majapahit (makam di Sebukit Rama sekitar 50 M sebelah kanan dari makam Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah (dari batu Nisanya beliau seorang Muslim Mualaf) jika Hindu tentu tidak memiliki makam karena di bakar abunya di masukan di dalam guci di kramasi dan di semayamkan, karena memiliki batu nisan dua buah di samping makam cicit Opu daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah bearti Pati Gumantar seorang muslim
2. NYABAKING/ NEK NYABANG 1395 M - 1448 M selama 53 tahun (Masa Vakum dari tahun 1448 M - 1610 M)
Vakum selama 162 tahun kemudian runtuh tidak ada penganti dari Etnis Dayak beragama Hindu dari keturunan Pati Gumantar berdarah Majapahit. karena dalam kekuasaan Prabu Hayam Wuruk Kerajaan Majapahit
3. KUDUNG 1610 M - 1680 M Penembahan Kudung di pindahkan Pekana (Sebukit Rama) Etnis Dayak beragama Hindu
4. SENGGAUK 1680 M - 1720 M Penembahan Senggauk, etnis Dayak beragama Hindu, karena Raja Senggauk tidak memiliki anak laki - laki maka di gantikan dari suami cucuk perempuan yaitu OPU DAENG MANAMBON SAYYID SYECH ABU BAKAR ADENI QAULAN JAZIRAH
B. RAJA ISLAM MURNI
1. OPU DAENG MANAMBON SAYYID SYECH ABU BAKAR ADENI QAULAN JAZIRAH, Pangeran Emas Sri Negara Raja Mempawah 1720 M - 1765 M, Menjabat Selama 45 tahun (RAJA Ke I)
2. Gusti Jamiril Penembahan Adiwijaya Kesuma 1765 M - 1787 M, Menjabat Selama 22 tahun (RAJA Ke II)
3. Syarif Kasim Penembahan Kasim Mempawah 1787 M - 1808 M, Menjabat Selama 21 tahun (RAJA PENGANTI)
4. Syarif Husein Penembahan Husein Mempawah 1808 M - 1820 M, Menjabat Selama 12 tahun (RAJA PENGANTI)
5. Gusti Jati Sripaduka Muhammad Zainal Abidin 1820 M - 1831 M, Menjabat Selama 11 tahun (RAJA Ke III)
6. Gusti Amin Penembahan Adinata Krama Umar Kamaruddin 1831 M - 1839 M, Menjabat Selama 8 tahun (RAJA Ke IV)
7. Gusti Mukmin Penembahan Mukmin Nata Jaya Kesuma 1839 M - 1858 M, Menjabat Selama 19 tahun (RAJA Ke V)
8. Gusti Mahmud Penembahan Muda Mahmud Alauddin 1858 M - 1861 M, Menjabat Selama 3 tahun (RAJA Ke VI),
Terjadi perebutan tahta kerajaan dan beliau memilih mengalah
9. Gusti Usman Penembahan Usman 1861 M - 1872 M, Menjabat Selama 11 tahun'
Gusti Usman mengklaim diri berkuasa dari tahun 1858 M - 1872 M, akan tetapi sejarah mengikuti sesuai aturan selama menjabat sebagai Raja (RAJA Ke VII)
10. Gusti Ibrahim Penembahan Muhammad Ibrahim Syafiuddin 1872 M - 1892 M, Menjabat Selama 20 tahun (RAKA Ke VIII)
11. Gusti Intan Ratu Permaisuri 1892 M - 1902 M, Menjabat Selama 10 tahun (RAJA Ke IX)
12. Gusti Muhammad Taufiq Akamuddin Penembahan Akamuddin 1902 M - 1944 M, Menjabat Selama 42 tahun, Korban Pembunuhan Jepang 28 Juni 1944 M (RAJA Ke X)
13. Gusti Mustasn Penembahahan Mempawah 1944 M - 1955 M, Menjabat Selama 11 tahun, Di nobatkan oleh Belanda dari VOC Batavia Jakarta (RAJA Ke XI)
14. Gusti Jamiril Muhammad Ibrahim Penembahan Mempawah 1955 M - 2002 M, Menjabat Selama 47 tahun (RAKA Ke XIII)
15. Gusti Mardan Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim Penembahan Mempawah 2002 M - Sekarang, sudah menjabat 23 tahun pada tahun 2025 M dan sekarang masih berlangsung (RAJA Ke XIII)
MAKTAB NANGQ 1857 Dewan Pimpinan Pusat Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Syarif Ja''far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Pontianak Jalan Seliung
Seting Louyat dan Hak Cipta ada Pada :
MAKTAB NANGQ 1857
Di Lindungi Undang-undang
Pontianak, Senin 27 Januari 2025 M / 27 Rajab 1446 H
05 : 01 WIB