MUHAMMAD SYAFARUDDIN NAJAMUDIN. MAKTAB NANGQ 1857 PANGERAN BENDAHARA TUA SYARIF JAFAR BIN SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI KESULTANAN KADRIAH PONTIANAK. KANTOR PUSAT PONTIANAK JALAN SELIUNG
MANAQIB
PANGERAN HADIKARYA WIJAYAKESUMA
SYARIF MUHAMMAD SYAFARUDDIN
NAJAMUDIN BIN SULTAN SYARIF
ABDURRAHMAN ALKADRI
DAN KETURUNANYA
Pangeran Hadikarya Wijaya Kusuma VII Syarif Norliansyah Bin Abdul Muin Alkadri
Pangeran Hadikarya Wijaya Kusuma Negara Tujuh Syarif Jazuli Rahman bin Shadri Alkadri.
Kantor Jalan Klayen A Kelurahan Klayen Kecamatan Klayen Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan
Syarifah Wulan Maulidah binti Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Negara VII Syarif Jazuli Rahman Alkadri Keturunan dari Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Syafruddin Najamuddin bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Klaten A Kota Banjarmasin Kalsel Indonesia 🇮🇩
Syarif Fadillah bin Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Negara VII Syarif Jazuli Rahman Alkadri keturunan dari Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Syafruddin Najamuddin bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Adik Kandung Syarifah Wulan Maulidah Alkadri
Syarif Maulana Abdillah bin Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Negara VII Syarif Jazuli Rahman Alkadri keturunan dari Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Syafruddin Najamuddin bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri adik kandung Syarif Fadillah Alkadri
Syarif Ibrahim Akbar bin Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Negara VII Syarif Jazuli Rahman Alkadri keturunan dari Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Syafruddin Najamuddin bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri adik kandung dari Syarif Maulana Abdillah Alkadri
SHOHIBUL WILAYAH PROVINSI SULAWESI SELATAN
Pangeran Laksamana Hadikarya Wijaya Kusuma Tujuh Purnawirawan Komisaris Polisi KOMPOL Drs. Syarif Ahmad Alkadri., S.Sos., SH., MH.,
PANGERAN LAKSAMANA HADIKARYA WIJAYAKESUMA VIII SAYID UMAR ALKADRI BIN PANGERAN LAKSAMANA HADIKARYA WIJAYAKESUMA VII KOMPOL
Drs. SAYID AHMAD ALKADRI. S. Sos. SH. MH
Pewaris Ketua Maktab NanGq 1857 Provinsi Sulawesi Selatan
Keluarga Besar Kompol Drs. Sayid Ahmad Alkadri. S. Sos. SH. MH di Provinsi Sulawesi Selatan
KETURUNAN PANGERAN HADIKARYA WIJAYAKUSUMA SYARIF MUHAMMAD SYAFARUDDIN NAJAMUDIN BIN SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRI
Banyak juga tersebar di Sulawesi Selatan, Sehingga terdapat sebuah Jalan yang di beri nama sejak tahun 1970 M dengan Jalan Alkadri sebab di jalur jalan tersebut selain terdapat banyak makam - makam tua bermarga Alkadri juga terdapat Keluarga Alkadri hingga saat ini
SHOHIBUL WILAYAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Pangeran Laksamana Hadikarya Wijayakesuma Negara VII Kompol Syarif Abd Basith Alkadri. S. Sos., MM., Waka Polres Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur
Selain keturunan Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Safaruddin Najamuddin bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie juga terdapat keturunan Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, keturunan Pangeran Cakra Syarif Ali bin Sultan Syarif Usman Alkadri, Keturunan Pangeran Bendahara Syarif Ja''far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri dan Keturunan Alkadri lainya (Sejarah Manaqib Tersendiri)
Di antaranya adalah salah satu Keturunan dari Syarif Muhammad Ali ang terkenal dengan Pangeran Makasar Syarif Ali bin Muhammad Syafaruddin Najamudin Alkadri untuk Distrik Pulau Sulawesi bersama Anak Pangeran Jaya Syarif Abdullah dan anak dari Pangeran Cakra Syarif Ali bin Sultan Syarif Usman Alkadri, Setelah Pangeran Cakra Syarif Ali bin Sultan Syarif Usman Alkadri di pindahkan ke Distrik Johor Malaysia, maka sebagai gantinya adalah Syarif Alwi bin Pangeran Cakra Syarif Ali bin Sultan Syarif Usman yang usianya masih sangatida 17 tahun
Kemudian di bagi tiga wilayah di antaranya adalah :
37. Pangeran Makasar Syarif Ali in Muhammad Syafaruddin Najamudin Alkadri di Distrik Sulawesi Selatan
2. 38. Pangeran Ahmadi bin Ali Makasar bin bin Muhammad Syafaruddin Najamudin Alkadri di tugaskan di Distrik Mudatenggsrs Timur NTT
3. 38. Pangeran Alwi Bin Ali bin Sultan Syarif Usman di tugaskan di Distrik Sulawesi Barat sedangkan
4. Pangeran Syarif Muhammad bin Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri di tugaskan di Distrik Sulawesi Tengah
Akan tetapi mereka saling berkonsultasi dengan menentukan tempat pertemuan di Kota Tua Makasar
Almarhum Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Bendahara Tujuh Syarif Muhammad Arsyad Alkadri, Mantan Ketua Maktab NanGq 1857 Provinsi Kalimantan Tengah
Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Bendahara Tujuh Syarif Pirdaus Alkadri bersama YGM Sultan Syarif Melvin Alkadri, SH.
KETUA MAKTAB NANGQ 1857
PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Kantor Jalan Samarinda Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur
Dato Syarif Muhammad Alkadri
KETUA MAKTAB NANGQ 1857
PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
36.1068.67.22. PANGERAN HADIWIJAYA WIJAYAKUSUMA SYARIF MUHAMMAD SYAFARUDDIN NAJAMUDIN BIN SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRI
Lahir : Piedi Aceh 27 Rabiul Awwal 1216 H - 1795 M
Wafat : Piedi Aceh 9 Muharam 1300 H - 1876 M
Dalam Usia : 81 tahun
Ayah Kandung : Sultan Syarif Abdurrahman bin Sayyid Husein Alkadrie
Ibu kandung : Nyai Inche Putri Citra Mutiah Piedi Aceh binti Tengku Mustofa istri ke 22 Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Istri :
1. Tengku Cut Aisyah binti Tengku Abdul Majid Piedi Aceh. Makam Piedi Aceh
2. Inche Fatimah binti Arsyad Al-Banjari Martapura, Makam Bati - bati Martapura
Anak - anak kandung Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Safaruddin Najamuddin bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
37.1. Syarif Abdullah bin Muhammad Syafaruddin Najamudin Alkadri Banjarmasin
37.2. Syarif Zein bin Muhammad Syafaruddin Najamudin Alkadri Banjarmasin
37.3. Syarif Ghosim bin Muhammad Syafaruddin Najamudin Alkadri Musa Tenggara Timur NTT
37.4. Syarif Husein bin Muhammad Syafaruddin Najamudin Alkadri Banjarmasin
37.5. Syarif Muhammad Ali/ Syarif Ali bin Muhammad Syafaruddin Najamudin Alkadri Banjarmasin
37.6.sd 37. 12 keturunan belum terkonfirmasi
Ketika berusia 18 tahun 1813 M - 1234 H Menikah dengan Tengku Cut Aisyah binti Tengku Abdul Majid Piide Aceh
Pada tahun 1788 M beliau di panggil ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie untuk membantu Distrik ""Perdagangan Wilayah Borneo Tengah, Selatan dan Timur" beliau datang ke Ke Istanah Kadriah Pontianak yang saat sudah memiliki Empat orang anak, maka dua anak yang masih terlalu kecil dibawah bersama istrinya sedangkan kedua anak tinggal bersama kakeknya Tengku Abdul Majid di Piedi Aceh
Ketua Maktab NanGq 1857 Dewan Pimpinan Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan., Shohibul Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan sedang Bersilaturahmi di Istanah Kadriah Pontianak bersama Pangeran Negara Said Hamid Syarwani Almaky Adagistani Alghoust Asyadjely Alhasani dan Pangeran Hamdan Juru Kunci Istanah Kadriah Pontianak
Dari Aceh Pangeran Najamuddin berangkat ke Pulau Jawa terlebih dahulu setelah tiba di Pelabuhan Batavia Tanjung Priok baru berlayar menuju Pontianak mengikuti Kapal Dagang dari Kesultanan Kadriah Pontianak membawa barang dagangan ke Pontianak, hampir satu Minggu berlayar karena melewati Tanjung Pinang, Natuna, Serasan, baru tiba di Pontianak rombongan keluarga langsung menuju Istanah Kadriah Pontianak
Istanah Kadriah Kesultanan Pontianak Peletakan Batu Pertama Rabu 14 Rajab 1192 H - 1771 M dengan Tembakan meriam Pertama
Setelah mendapat Nasehat, petunjuk dan arahan dari ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie yang saat itu dalam kondisi sakit - sakitan karena paktor kelelahan dan paktor Usia
Maka sekitar bulan Juni 1788 M Pangeran Najamuddin pamit dengan ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie berlayar ke Banjarmasin setelah satu bulan berada di Istanah Kadriah Pontianak menuju Banjarmasin dengan perahu Layar dagang, Rombongan berangkat sebanyak 17 kapal Perahu layar yang di lengkapi pasukan perang, Awal Agustus 1788 M , setelah tibah lebih dari satu Minggu kapal pertama berlabuh di Kalimantan Tengah berlabuh di Pelabuhan Rakyat Kota Waringin Barat selama dua hari, dua kapal langsung berlabuh menurunkan dan membawa barang Dagangan
Kondisi Pelabuhan Kota Waringin Barat Sekarang (2025 M - 1446 H) menjadi Pelabuhan Panglima Utar Kumai
Kapal - kapal perahu layar tersebut menurunkan barang dagangan yang di pesan masyarakat Borneo Tengah untuk di pasarkan kembali terutama barang - barang Kuhsus yang langkah di Borneo Tengah
Kemudian hasil bumi dari Boeneo Tengah yang langkah di Borneo Barat di bawa ke Pontianak sehingga stok - stok barang tersebut tetap ada, karena luas Wilayah Borneo Tengah sehingga d perlukan Distribusi dan Distributor pembantu dari Borneo Selatan yaitu Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Safaruddin Najamuddin Alkadri yang di tempatkan di Distrik Borneo Selatan tetapi juga ikut membantu wilayah Borneo Tengah Selatan dan Timur
Sebab itulah ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie meminta agar menangani ke tiga Distrik tersebut untuk membantu saudara - saudara kandungnya dari ibundah yang lain sekaligus untuk menyatukan antar saudara dan saling bekerjasama dalam kegiatan apapun sehingga sekalipun jarak mereka berjauhan dengan cara demikian Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie dapat menyatukan anak - anaknya, yang juga merupakan salah satu tujuan utama agar satu sama lain saling mengenal bahwa mereka adalah saudara kandung sebapak sekalipun berlainan ibu kandungnya
Sedangkan 15 kapal setelah berlabuh dua hari langsung menuju Banjarmasin Kalimantan Selatan (Borneo Selatan) menuju Pelabuhan Banjarmasin dari Banjarmasin kapal perahu layar selama lebih kuran 4 hari baru tiba di Pelabuhan Rakyat Banjarmasin
Kondisi Pelabuhan Rakyat Banjarmasin saat ini menjadi Pelabuhan Kelas II untuk arus penumpang dan barang
Pelabuhan Rakyat pada tahun 1788 M merupakan pusat pelabuhan yang paling padat dari pada pelabuhan lainya karena berada di di wilayah dalam Kota Banjarmasin yang arus lalu lintasnya 99 % mengunakan aliran sungai, laut, Laut lepas hingga samudra (tidak seperti sekarang ada jalur laut, darat dan udara) sehingga alur sungai Banjarmasin menjadi transformasi utama bahkan hampir seluruh wilayah Pulau Borneo termasuk pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi dan pulau - pulau lainya
Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Enam Syarif Shadri Alkadri Batu Licin Borneo Selatan
Setelah tiba di Banjarmasin Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Safaruddin Najamuddin bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie langsung menuju Martapura menemui Sultan Sa'ad Tanji Tahmidillah untuk menyampaikan Dalam ayahnya sekaligus meminta ijin untuk menangani Distrik Wilayah Perdagangan Borne Selatan, ayah Ratu Syahranum juga menerima salam dan menyampaikan Salam juga kepada Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie agar ketika pulang lagi ke Pontianak di sampaikan kepada Padukan kepada Nahkoda kapal agar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie datang ke Martapura untuk membawa pengasuh Pangeran Kacihl yang mulai tumbuh dewasa akan tetapi dalam ke adaan lumpuh sehingga harus di papa, sementara ibunya Ratu Syahranum juga dalam kondisi sakit - sakitan sehingga tidak bisa merawat anaknya Pangeran Kacihl Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri
Maka dengan bersegera Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Najamuddin mohon pamit kemudian menemuii Nahkoda kapal agar Tujuh buah kapal layar yang membongkar barang Dagangan segera berangkat kembali setelah mengisi barang dagangan untuk di bawah ke Pontianak sedangkan 8 kapal melanjutkan pelayaranya ke Borneo Timur dan Sulawesi
Setelah 7 buah kapal membongkar barang dagangan dari Pontianak dan mengisi lagi dengan barang dagangan dari Banjarmasin, Tujuh buah kapal layar berangkat kembali ke Pontianak sekaligus membawa barang Dagangan untuk di bawa ke Pontianak dan menyampaikan pesan dari Sultanu Sa'ad Tanji Tahmidillah agar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie segera datang membawa Dayang atau Keluarga yang mau merawat Pangeran Kacihl Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang kondisinya sangat memprihatinkan
Sementara Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Safaruddin Najamuddin bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie tetap berada di Martapura untuk melaksanakan tugas ayahnya sebagai Distrik Perdagangan Wilayah Boeneo Selatan
1. Syarifah Wulan Mauladia binti Jazuli Rahman bin Shadri Alkadri
2. Syarif Fadilah bin Jazuli Rahman bin Shadri Alkadri
3. Syarif Maulana Abdillah bin Jazuli Rahman bin Shadri Alkadri
Bersama ibu kandungnya Klaten A Kota Banjarmasin
Setelah 7 buah Kapal perahu layar tiba di Pontianak Nahkoda lalu menyampaikan pesan Sultan Sa'ad Tanjih Tahmidillah agar segera membawa Dayang atau keluarga untuk merawat Pangeran Kacihl Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie karena ibundah Ratu Syahranum dalam kondisi sakit sehingga tidak bisa merawat anaknya Pangeran Kacihl Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Sementara Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Syafruddin Najamuddin Alkadri tetap melanjutkan tugasnya sebagai Ketua Distrik Pedagangan tiga Wilayah Kalimantan selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, kemudian beliau membentuk Devisi - Devisi untuk masing - masing Wilayah yang di tugaskan kepada :
1. Devisi Kalimantan selatan beliau tunjuk Pangeran Hadikusuma Syarif Alwi bin Abdurrahman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri
2. Devisi Kalimantan Tengah Pangeran Cakra Syarif Ahmad bin Hasan bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri
3. Devisi Kalimantan Timur Pangeran Syarif Zein bin Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Syafruddin Najamuddin Alkadri, di tempat di wilayah Kutai Kartanegara karena saat itu merupakan jalur yang sangat padat keluar masuknya barang Dagangan
1. Syarifah Nazifah binti Norliansyah Alkadri
2. Muhammad Dawilah bin Norliansyah Alkadri
3. Syarif Muhammad bin Norliansyah Alkadri Handil Babirik Banjar
Sehingga dengan membentuk Devisi - devisi tugas beliau menjadi lebih ringan sekaligus sebagai mendidik anak dan saudaranya untuk belajar bertanggungjawab dan menambah pengalaman untuk menjadi pedagan yang ulung
Dengan tugas yang sudah di bagikan tersebut sesuai amanah ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri agar merangkul dan melibatkan saudara maupun anak beliau sendiri sehingga beliau bisa pokus untuk ber'dswsh sambil berdagang, Batang dagangan yang belisu jual adalah hasil pesanan dari tanah Arab baik jenis pakaian, permata dan barang - barang dagangan lainya termasuk minyak wangi, air zam - zam selsi itu Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Syafruddin Najamuddin Alkadri juga seorang yang ahli dalam ilmu Tasawuf dan Tarekat di jamamanya, sehingga belisu memiliki banyak murid di Kalimantan selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur
Keahlian tersebut sudah di peroleh sejak tinggal di Pide Aceh karena beliau di lahirkan di Pide Aceh dengan ketekunan belajar ilmu Al-Hikmah berupa ilmu tenaga dalam kemudian di pasukan dengan ilmu Hakekat untuk mencapai kesempurnaan dalam bertarekst
Syarif Muhammad Mahali bin Muhammad Ali Alkadri keturunan dari Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Syafruddin Najamuddin bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri., Jalan Keramat No 034., RT. 06 Lok Buntar Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar Kalsel Indonesia 🇮🇩
Titik koordinat :
Ketika warga Pide membangun Masjid Al- Ihklas beliau mampu mengangkatnya dengan mengumandangkan Tarekat Alkadri fi pasukan dengan ke ilmuan tenaga dalam warisan dari Tiga bersaudara yaitu :
1. Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri bin Sayid Husein pengarang bagian Tarekanya
2. Tuan Bujang Syarif Alwi Alkadri bagian Zikirnys dan
3. Panglima Laksamana I Syarif Abu bakar bin Sayid Husein Alkadri bagian Sholawat nya
Syarifah Nor Aulitussyarifah binti Muhammad Mahali Alkadri keturunan dari Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Syafruddin Najamuddin bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri
Dengan ketiga gabungan tersebut Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri kemudian menamakannya sebagai "" Tarekat Alkadri"" Saat ini sudah di wariskan Pengurus Maktab NanGq 1857 Pusat """ isi Kitab "" TAREKAT ALKADRI "" Sudah di wariskan kepada keturunannya di Banjarmasin untuk di Pelajari agar mampu mengikuti jejak leluhurnya Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Syafruddin Najamuddin bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri
Syarifah Nor Hayatunnisyah binti Muhammad Mahali adik Kandung Nor Aulitussyarifah Alkadri
Sehingga Kubah Masjid Al - Ihklas Pide Aceh berputar sendiri kemudian tersangka sambil memutar dan terletak dengan sendirinya di tepat kaki Kubah yang sudah di persiapkan oleh tukangny, kejadian tersebut sempat membuat gempar penduduk Pide, ketika Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad
Syarif Muhammad Salim Zaidan bin Muhammad Mahali Alkadri adik kandung Syarifah Nor Hayatunnisyah Alkadri hu
Syafruddin Najamuddin bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri di temui seorang ulama Aceh ingin mengetahui amalan apa yang belisu gunakan untuk mengangkat Kubah tersebut, ternyata Ulama tersebut tidak bertemu sebab Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Mohammad Syafruddin Najamuddin bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sudah berlayar menuju Pontianak untuk menjalankan tugas ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri untuk menangani Distrik Perdagangan Tiga Wilayah karena di anggap mampu oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri
2. Pangeran Hadikarya Wijaya Kusuma Syarif Iman bin Bakri Alkadri kiri
3. Syarifah Fatimah binti Bakri Alkadri
4. Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Tarmiji bin Bakri Alkadri kanan
Sebab itulah beliau meminta anaknya Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Syafruddin Najamuddin Alkadri untuk mengurus Distrik Tiga Wilayah tersebut
Pangeran Laksamana Hadikarya Wijaya Kusuma Tujuh Komisaris Polisi KOMPOL Drs. Sayid Ahmad Alkadri., S.Sos., SH.,MH
Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Enam Syarif Shadri Alkadri Batu Licin Borneo Selatan
Menara Padang Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan
Masjid Bersejarah Sultan Suriansyah Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan
Masjid Raya Sabilal Muhtadin Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan
Pulau Kembang Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan
Siring Kota Banjarmasin Pasar Apung Provinsi Kalimantan Selatan
Jepang Menguasai Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan dari tahun 1941 - 1944 M
Lautan darah di aliran Sungai Banjarmasin di kenal dengan ""SUNGAI PEMBUNUHAN" Peristiwa Sungai Pembunuhan Berdarah 1944 M oleh Serdadu Jepang di Banjarmasin
Peristiwa "BANJARMASIN LAUTAN API" Pengusiran paksa kependudukan Jepang setelah Peristiwa Sungai Pembunuhan ""Pasukan Dayak dan Melayu Banjar" mengusir' paksa Jepang atas peristiwa ""Sungai Pembunuhan" 1944 M Pembalasan atas Kekejaman Jepang
Pintu Gerbang Selamat Datang Di Kota Makasar Provinsi Sulawesi Selatan
Masjid Agung Kota Makasar Provinsi Sulawesi Selatan
Masjid Agung 99 Kuba Kota Makasar Provinsi Sulawesi Selatan
Romusa Kerja Paksa Kependudukan Jepang di Makasar tahun 1941 M - 1944 M
Perang Makasar melawan kependudukan Jepang 1941 M - 1944 M
Dari Sejarah di atas sangat jelas sekali Ekonomi Kesultanan Kadriah Pontianak di Topang dengan Distrik - Distrik Perdagangan yang ada hampir semua wilayah di Nusantara termasuk Luar Negeri., ini seharusnya menjadi renungan semua ""Keturunan Sayid Husein Alkadrie jika bersatu untuk membentuk Distrik Perdagangan Distribusi dan Distributor kepada Konsumen dapat meningkat Ekonomi Keluarga Besar Alkadri di awal dari Modal kecil - kecilan dengan tingkat kejujuran 💯 % dapat di pastikan Ekonomi Keluarga Alkadri akan membaik dengan kerja yang ulet dan tingkat kesabaran yang tangguh juga tentunya
Seting Louyat dan Hak Cipta ada Pada :
MAKTAB NANGQ 1857
Di Lindungi Undang-Undang
Selasa 29 Januari 2025 M /
29 Rajab 1446 H
16 : 04 WIB