SEJARAH PANJANG MAKTAB NANGQ 1857 Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri (Bagian II)
Dokumen poto Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri di Saudi Arabia ๐ธ๐ฆ tahun 1927 M usia 73 Tahun dalam kondisi yang sudah menyusut sakit
Dokumen Poto Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Alkadri bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri usia 53 Tahun, tahun 1907 M di Pontianak
PANGERAN BENDAHARA SYARIF JA'FAR BIN SULTAN HAMID I ALKADRI Ke Tika masih berusia 25 tahun Tahun 1879 M di Pontianak
Ketua Maktab NanGq 1857 Dewan Pimpinan Pusat Priode Ke I
Generasi Pertama Maktab NanGq 1857 - 1912 M
MAKTAB NANGQ 1857
Dewan Pimpinan Pusat Pontianak Jalan Seliung Kalimantan Barat Indonesia ๐ฎ๐ฉ
Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Syarif Ja''far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
Deklarasi Maktab NanGq 1857
Selasa 17 Januari 2023 M / 24 Jumadil Ahir 1445 H Oleh Keturunan Sayid Husein Bin Ahmad Alkadri jamalullail Di Kalimantan Barat dan Serentak di Seluruh DPW Provinsi di Indonesia ๐ฎ๐ฉ
SAYYID MUHAMMAD JAMALULLAIL
(Generasi Ke 23) bin Hasan Mu'alim 694 H - 1273 M sd 868 H - 1447 M merupakan awal dari tercetusnya Maktab ini di mana tahun 724 H - 1303 M dalam dokumen Tua MAKTAB NANGQ 1857
Sayid Muhammad Jamalullail bin Hasan Mu'alim telah meneruskan tulisan leluhur sebelumnya yaitu Sayid Muhammad Shohibul Mirbhat.RA 538 H - 1117 M sd 556 H sd 1135 M
Sayid Muhammad Jamalullail merupakan penerus dari Munsib Sayid Muhammad Shohibul Mirbhat bin Sayid Ali Kholigosam
Ditangan beliau merupakan Munsib yang sempurna dalam mendata Keluarga Ahlulbait Rasulullah Saw hingga Sayyid Muhammad Jamalullail yang secara khusus mendata jalur Jamalullail hingga pecahan di bawahnya Alkadri
Sehingga di temukan manuskrip kuno yang tidak pernah di bukukan terbuat dari batang kayu Kurma yang telah di tumbuk halus kemudian sebagai bahan dasar perekat beliau mengunakan buah kurma dan gandum yang telah di haluskan, kemudian batang kurma yang sudah halus kemudian di campur dengan tepung gandum dan buah kurma yang telah di buat seperti tepung kemudian di aduk menjadi satu kemudian di hampar setipis - tipisnya sehingga membentuk potongan Qirtas dengan ukuran lebar satu kilan ukuran jari Sayid Muhammad Jamalullail dan panjang 5 kilan ukuran jari Sayyid Muhammad Jamalullail
Kemudian Qirtas tersebut beliau keringkan sekering - keringnya sehingga bisa di tulis hanya saja Qirtas tersebut tidak bisa di lipat hanya bisa di gulung karena agak kaku
Didalam Qirtas inilah beliau menulis kembaran - lembaran Silsilah Nasab Keturunan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam hingga sampai anak cucu Beliau sampai kepada Nabi Adam Alaihi Salam wa Siti Jawa berdasarkan Manuskrip yang telah beliau temukan sebelumnya untuk membuktikan kebenaran Manuskrip tersebut beliau mewasilah dan membacakan Alfatihah agar Leluhur yang tercatat di dalam manuskrip bisa hadir secara Sir Ghaib dan berdialog dengan beliau
Nama - nama yang tidak bisa hadir kemudian beliau beri tanda silang atau tanda merah di mana tinta - tinta tersebut beliau pesan dari saudagar - saudagar India yang datang di Negeri Aridha Yaman saat itu
Sehingga di dalam catatan Beliau Leluhur yang belum bisa hadir di beri tinta merah dan jika leluhur tersebut sudah hadir dan membenarkannya jalur Nasabnya maka tinta merah tersebut beliau timpa dengan tinta hitam serta menulis hari dan tanggal hadirnya leluhur tersebut
Demikian yang di lakukan Sayid Muhammad Jamalullail dan di lanjutkan generasi Asyayid Husein Alkadrie Jamalullail bin Ahmad bin Husein bin Muhammad Alkadri Jamalullail 1126 H - 1706 M sd 1190 H - 1769 M
Kemudian di tangan Sayid Husein Alkadrie Jamalullail bin Ahmad beliau meneruskan pendataan pertama kali di mulai pada tahun 1143 H - 1723 M sd 1190 H - 1769 M.hingga Wafat beliau sehingga catatan tersebut tidak terputus generasinya hingga sekarang 1446 H - 2025 M di tangan keturunan Sayid Husein Alkadrie Jamalullail yaitu Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail dan di teruskan keturunan Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail
Dari catatan turun temurun tersebut terdapat tulisan tangan Sayid Muhammad Jamalullail bin Hasan Mu'alim bernama
NAQOBATUL ASYAYID NASABATUL GHOIBUL QUBRO AHLULBAIT RASULULLAH SHALULLUHU ALAIHI WASALLAM
Dalam Bahasa Arab Ariadha Yaman
ูุง ุงููุจุท ุงููุดุจุทู ุงูุบูุจ ุงููุจุฑ
Yang dapat di artikan ""Sebuah Maqam Pencatatan Tertinggi Nasab secara "Nyata berbentuk Tulisan yang menjadi sumber utama berdasarkan Khobar atau berita dari yang Ghaib ""Hadirnya Leluhur yang memerintahkan untuk mencatat dirinya sendiri termasuk keturunan di atasnya dan anak cucu - cicitnya hingga Generasi hidup di jamanya maupun saat ini atas petunjuk Allah dan Rasulnya secara Keseluruhan termasuk letak dan tempat Maqam atau Kuburan mereka serta Kronologis Sejarah Manaqib kehidupan Leluhur tersebut hingga dari anak cucu - cicit yang hidup sekarang sampai kepada Nabi Adam Alaihi Salam dan istrinya Siti Hawa Radhiallahu Anha, sehingga kepalidanya mencapai 99 % sedangkan yang 1 % nya adalah Haq Allah Subhanahu Wa Ta'ala demikian penjelasan makna Dari NANGQ dari leluhur - leluhur yang hadir ''Kemudian Menjadi MAKTAB NANGQ 1857" sebagai bentuk dari Singkatannya
Saat ini MAKTAB NANGQ 1857 Dewan Pimpinan Pusat Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri sudah di Kepengurusan generasi ke VI 2015 M hingga sekarang 2025 dan masih berlanjut
Adapun Generasi - generasi Maktab NanGq 1857 Dewan Pimpinan Pusat sebagai berikut :
1. Generasi I 1857 M - 1912 M di Pimpin Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja''far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri, merupakan pengerak pertama Maktab NanGq 1857 hingga mampu menembus tanah Saudi Arabia termasuk menangani wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke atau dari Kepulauan Aceh hingga Papua yang dahulu masih di kenal sebagai Negara Kerajaan, bahkan istilah Indonesia juga belum di kenal, karena masih dalam bentuk Kerajaan dan Kesultanan yang hampir semuanya berada dalam kekuasaan Hindia Belanda
Nederland indie, yang terdiri dari Kepulauan Sumatra, Java, Sumatra, Borneo, Sulawesi, Keputusan Riau, Papua termasuk Malaysia dan Brunai yang di kenal sebagai Negara - Negara Serumpun Melayu (Malaya) yang berada di gugusan Selat Malaka.
Pada tahun 1818 M Kesultanan Kadriah Pontianak di Pimpin Sultan Syarif Kasim Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Jamalullail sebagai Sultan ke II merupakan Peta pertama di buat oleh Nederland indie Pemerintah Hindia Belanda yang menguasai Kerajaan di seluruh Kepulauan Malaka yang saat itu lebih terkenal dengan sebutan Benua Melayu (Malaya) sedangkan Indonesia saat itu baru di kenal dengan Wilayah Nusantara yang di ambil dari Kekuasaan Kerajaan Majapahit di tangan Panglima Pati Gajah Mada
Pada tahun 1840 M Indonesia merupakan Negara Kerajaan yang merupakan basis dalam Kekuasaan Belanda
Kesultanan Kadriah Pontianak di Pimpin Sultan Syarif Usman Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jamalullail 1819 M ,- 1855 M, setelah wafatnya Sultan Syarif Kasim Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jamalullail 25 Pebruari 1819 M - 1240 H
Peta ke Tiga merupakan masih dalam Kesultanan Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jamalullail Sultan Ke III Kesultanan Kadriah Pontianak yang merupakan buatan Nederland indie Hindia Belanda pada tahun 1842 M dalam tentang waktu hanya dua tahun 1840 M - 1842 M
Dimana tahun 1840 M sebagai Pencatat Nasab Keluarga Besar Kesultanan Kadriah Pontianak di perintahkan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jamalullail kepada anaknya Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jamalullail 1780 M - 1840 M, dari istri Sultan yang bernama Ratu Anom Ratu Mulia binti Abdullah Tatang (mualaf dari Etnis Daya Majang Pegunungan Sambe) merupakan anak kedua Ratu Anom Ratu Mulia, setelah Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jamalullail wafat 19 Mei 1840 M kemudian di ambil alih oleh Sultan Syarif Usman Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jamalullail 19 Mei 1840 M - selanjutnya di serahkan kepada Anaknya Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail setelah di nobatkan sebagai Sultan Kadriah Pontianak yang ke IV 12 April 1855 M - 1276 H
Dimana saat itu Belanda sudah Berkuasa di Pontianak sejak Jaman Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jamalullail setelah Nederland indie Hindia Belanda berhasil membujuk Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jamalullail yang sebelumnya dalam catatan sejarah hampir Tujuh Kali terjadi penolakan yang Ahirnya kedatangan yang ke Delapan Kali Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jamalullail penanda tangani perjanjian pertama 5 Juli 1779 M - 1199 H
Salah satu isi perjanjian akan menikahkan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jamalullail untuk memenuhi nazdarnya dengan anak Residen Jendral Lia Van Dherthen Wierjawie yang berkedudukan di Denhag Belanda dan akan memberikan hadiah - hadiah termasuk kaca pecah seribu berukuran besar dua buah dan kaca berukuran kecil dua buah serta meja makan dan kursi Kerajaan serta pakaian mahkota dari kerajaan Belanda yang semua setelah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jamalullail berangkat dengan saran Sultan Riau, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jamalullail berangkat pada tanggal 11 Juli 1779 M - 1199 H, semua janji tersebut di tunaikan oleh ayahnya Lia Van Dherthen Wierjawie sehingga antara Kesultanan Kadriah Pontianak dan Kerajaan Belanda terikat tali Persaudaraan melalui Pernikahan, bahkan Belanda Ratu Belanda juga memberikan dua Kapal Perang untuk Keperluan perlayaran Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jamalullail 1779 M - 1199 H
Peta keempat selanjutnya di terbitkan Nederland indie, Hindia Belanda pada tahun 1855 di mana pada tahun tersebut merupakan peralihan kekuasaan Kesultanan Kadriah Pontianak Sultan Syarif Usman Alkadrie Jamalullail Kepada anaknya Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail 12 April 1855 M - 1276 H, Tidak menunggu wafatnya Sultan Syarif Usman Alkadrie Jamalullail hal itu untuk memperlancar alih kekuasaan tampuk Kesultanan Kadriah Pontianak di karenakan masih terjadinya kisruh dengan Pangeran Perdana Muda Syarif Abu Bakar Bin Sultan Syarif Kasim Alkadrie Jamalullail
Peta Kelima merupakan peta Tahun 1870 M - 1291 M merupakan peta buatan Nederland indie Hindia Belanda tahun 1870 M, di mana tahun ini Kesultanan Kadriah Pontianak masih di jabat Sultan Syarif Hamid I Bin Sultan Syarif Usman Alkadrie Jamalullail tetapi sudah di penghujung kekuasaan di mana tahun 1870 M Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail sudah mulai sakit - sakitan
Dimana kekuasaan Hindia Belanda Australia merupakan bagian Wilayah yang juga dalam kekuasaan Hindia Belanda 1870 M
Ini menunjukkan kekuasaan Hindia Belanda sebagian Benua Melayu Australia merupakan bagian dari penguasaan Hindia Belanda
Dalam Ilustrasinya Kerajaan Tanah Jawa, Pulau Borneo, Pulau Sumatra, Pulau Sulawesi, Pulau Papuaaduk dalam wilayah Nederland indie Hindia Belanda
Kerajaan dan Kesultanan yang mampu bertahan hampir 100 % bekerja sama dengan Belanda baik dalam bentuk perdagangan maupun dalam bentuk meliter sebagai buktinyata yang tidak bisa di pungkiri adanya pelabuhan BATAVIA Jakarta yang merupakan pusat utama Nederland indie, Hindia Belanda dan bahkan Hindia Belanda justru pertama kali masuk di pulau Jawa dan itu tidak bisa di pungkiri bahwa pulau Jaw a merupakan basis utama Nederland indie, Hindia Belanda baru kemudian mereka menyebar ke pulau - pulau lainya
Di tahun ini 1870 M - 1291 H, Maktab NanGq 1857 telah exsis berkiprah di pimpin oleh Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri, hingga beliau mampu merangkum semua data hingga di luar Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Pulau Jawa secara keseluruhan yang terdiri dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Sumatera hingga Aceh, Kepulauan Riau termasuk Natuna dan Pulau - pulau Sekitarnya, Sulawesi yang terdiri dari Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Timur, NTB, NTT hingga Papua Nugini dan hampir 1 tahun berada di Loksomawe Papua
Di luar wilayah Nusantara di antaranya Australia, Malaysia Timur dan Barat serta hampir 6 bulan berada di Trenganu Malaysia, Brunaidarussalam, Thailand, Miyanmar, Singapura, di Thailand beliau hampir 3 bulan di Patani karena di sana banyak jalur Sayidina Hasan Al - Fatani
Hingga berakhir di Al - Quds Mekah Arab Saudi, sehingga Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail mengabaikan dirinya sendiri baru ketika berusia di atas 40 tahun lebih menikah dengan Syecah Fatimah binti Mahmud Syarwani Almaky Adagistani Alghoust Asyadjely Alhasani kemudian memperoleh 8 anak kandung
Satu Menetap di Kesultanan Kadriah Pontianak Syarifah Aisyah atau Ratu Alid.binti Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Alkadri sattu lagi di angkat Daeng Meteng kemudian beliau di beri Nama Sunudi yaitu Pangeran Bendahara Syarif Abu Bakar'bin Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Alkadri , satu lagi menetap di Sungai smbawzng kemudian hijrah ke Ogol Anjungan yaitu Pangeran Bendahara Syarif Usman bin pangeran Bendahara Syarif Ja'far Alkadri sedangkan ke empat anak yang lain tiga perempuan dan satu lali - laki di lahirkan di Al - Quds Arab Saudi, karena lebih betah dan ingin dekat dengan orang tua kandungnya Ahirnya Syecah Fatimah binti Mahmud Syarwani Almaky Adagistani Alghoust Asyadjely Alhasani memutuskan untuk pulang kembali ke Kesultanan Kadriah Pontianak dan wafat di Pontianak kemudian di makamkan di Gang Melliau Jalan Tanjungpura Pontianak berdekatan dengan Maqam ayahnya dan ibunya Syech Mahmud Syarwani Almaky Adagistani Alghoust Asyadjely Alhasani
Peta Keenam tahun 1893 M - 1314 H, juga merupakan petan buatan Nederland indie Hindia Belanda pada tahun 1893 M di mana jaman ini Kesultanan Kadriah Pontianak di pimpin Sultan Syarif Yusuf Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail Sultan yang Ke V 1872 M - 1898 M merupakan Abang kandung terua Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri dari ibu yang sama yaitu Ratu Suri Mahkota Agung Syarifah Fatimah Binti Sultan Syarif Kasim bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jamalullail Sultan yang Ke II
Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail di masa Pemerintahan Sultan Syarif Yusuf Alkadri selain sebagai Ketua Maktab NanGq 1857 beliau juga aktif di Kesultanan Kadriah Pontianak sebagai Bendahara Kesultanan Kadriah Pontianak hingga sebagai Bendahara Sultan Syarif Muhammad I Sultan Syarif Yusuf Alkadri Jamalullail, bahkan Sultan Syarif Yusuf Alkadri banyak menugaskan adiknya untuk berda'wah hingga keluar Negeri dan ini di gunakan Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail untuk mendata Keluarga Besar Alkadrie, hal itu di sengaja Sultan Syarif Yusuf Alkadri Jamalullail agar Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Alkadri sekaligus mendata dan merangkul Keluarga Besar Alkadrie yang masih tersembunyi maupun yang tidak tersembunyi tetapi sudah di kenal sebagai bagian Keluarga Besar Alkadrie Jamalullail Kesultanan Kadriah Pontianak
Peta Ketujuh 1905 M di kenal sebagai Peta Indocina yang di maksud peta Indonesia yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan peta ini juga di buat Nederland indie Hindia Belanda
Peta 1905 M saat itu Kesultanan Kadriah Pontianak di pimpin oleh Sultan Syarif Muhammad Bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri Jamalullail 1898 M - 1944 M
Artinya pada tahun 1905 M dua tahun setelah 1907 M
Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail menikah dengan Syecah Fatimah Binti Syech Mahmud Syarwani Almaky Adagistani Alghoust Asyadjely Alhasani
Pangeran Bendahara I Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail
Ketua Maktab NanGq 1857 Pusat Generasi Ke I (1857 M - 1912 M) Selama 55 tahun, Makam Alquds Arab Saudi
Setelah menikah Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail tetap pokus mengurus Maktab NanGq 1857 walaupun beliau juga merangkap sebagai Bendahara Kesultanan Kadriah Pontianak untuk membantu keponakanya Sultan Syarif Muhammad bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri.yang pada Ahirnya dengan perjanjian yang di tanda tangani Sultan Syarif Muhammad Alkadri dengan Belanda di tahun 1912 M membuat Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri jengkel dengan kebijakan Residen Belanda tersebut di mana pihak Kesultanan hanya mendapatkan 20 % Pajak pendapat Kesultanan Kadriah Pontianak yang berujung terjadinya penahan setoran pajak kepada pihak Residen Rembang VOC Belanda Pontianak, awal dari kisruh tersebut Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri dan istrinya terpaksa meninggal Pontianak dan Hijrah ke Arab Saudi
Syecah Fathimah Binti Mahmud Syarwani Almaky Adagistani Alghoust Asyadjely Alhasani istri Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail yang juga ikut Hijrah Ke Mekah, akan tetapi kembali lagi ke Pontianak setelah memiliki anak 4 di Mekah sehingga anaknya menjadi 8 orang, Maqam di Gang Melliau Jalan Tanjungpura Kota Pontianak (Sekarang)
di perkirakan saat menikah umur Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail berusia sekitar 53 tahun atau setengah abad (1854 M - 1907 M)
Keturunan Pangeran Bendahara Syarif Ja''far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Generasi ke Tujuh
Sementara istrinya bau berusia sekitar 20 tahun (1887 M - 1907 M), karena Syekah Fatimah Binti Mahmud Syarwani termasuk wanita yang subur sehingga dapat melahirkan hingga Delapan anak kandung
Walaupun perjalanan hidup keduanya harus terpisah dengan anak kandungnya yang berempat orang karena harus Hijrah ke Mekah pada tahun 1912 M karena tekanan dari Residen Rembang VOC yang berada di Pontianak lantaran karena urusan Pajak untuk pihak Belanda sengaja di tahan Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail
Akibat dari menikah dalam kondisi yang sudah berumur Ahirnya beliau mendapatkan tambahan gelar "TUA" menjadi Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail
Dari tahun 1905 M - 1912 M, Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail benar - benar atau bersungguh - sungguh mendata Keluar Besar Alkadri
Sampai akhirnya pada tanggal 16 Desember 1912 M beliau memutuskan untuk Hijrah di tanah Arab Yaitu Arab Saudi
Kemudian beliau menitipkan anak - anaknya kepada :
1. Syarif Abu Bakar Alkadri Bin Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail kepada Daeng Meteng dan beliau di beri pangilan dalam istilah Bugis dengan gelar Sunudi kemudian di bawah dan di didik pada Pendidikan SR Sekolah Rakyat buatan Belanda serta mendapat binaan ilmu agama Islam dari Daeng Meteng
2. Syarif Usman bin Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail beliau titip dengan Pangeran Hasan Bin Sultan Syarif Muhammad Alkadri demikian juga
3. Syarifah Munawarah binti Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail
Sementara Syarif Usman Bin Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail pindah kepada Pangeran Ali Bin Sultan Syarif Muhammad Alkadri Jamalullail yang saat itu berdiam di Parit Nenas / Sungai Nenas Siantan
Setelah dewasa Syarifah Munawaroh menikah dengan Muhammad Jamalullail dan di bawah pindah ke Singapura sedangkan Syarif Usman Bin Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Alkadri menikah dengan Janda 2 kali di Sungai Ambawang yaitu Nyai Darmani Binti Raden Sirajudin kemudian memutuskan pindah ke Ogol Anjungan, sedangkan
4. Syarifah Aisyah Binti Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail (Ratu Alid) tinggal dengan neneknya Syecah Saedah Binti Alkhotib istri dari Syech Mahmud Syarwani Almaky Adagistani Alghoust Asyadjely Alhasani hingga dewasa kemudian menikah dengan Almutahar selanjutnya mereka tetap tinggal di Kampung Arab, kemudian setelah suaminya Almutahar meninggal, menikah lagi dengan keluarga Alkadri sehingga seluruh anak dari Ratu Alid Aisyah memiliki dua marga Almutahar dan Alkadri
Sedangkan ke empat anak yang lainya di lahirkan di Arab Saudi Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri wafat pada tahun 1939 M di Arab Saudi dan di Makamkan di Pemakaman Alquds Arab Saudi dalam usia 85 tahu, dengan meninggalkan 2 orang istri dan 10 anak kandung, 2 anak kandung dari ibu bernama Syecah Aminah binti Nawawi Tanara Al-Bantani dari anak perempuan Syech Nawawi Tanara Al-Bantani Yang di lahirkan di Mekah
MAKTAB NANGQ 1857 sebelum Hijrah di Mekah 16 Desember 1912 M sudah di serahkan kepada Pangeran Bendahara Syarif Usman Bin Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Alkadri Jamalullail anak ke tiga beliau
Pangeran Bendahara II Syarif Usman Bin Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail Pengurus Maktab NanGq 1857 Generasi.Ke II (1912 M .- 1940 M) Selama 28 tahun Istri Pertama Nyai Darmani Binti Raden Sirajudin Makam keduanya di Ogol Anjungan
Pangeran Bendahara Syarif Usman Alkadrie Jamalullail ketiga tinggal di Ogol Anjungan masuk di dalam hanya merupakan jalan setapak yang berpindah - pindah hal itu bertujuan untuk menghindarkan diri dari Residen Belanda sehingga beliau hanya banyak tinggal di rumah dan berkebun sementara untuk menjual hasil kebun dan belanja sehari hari istrinya Darmani Binti Raden Sirajudin lah yang berbelanja
Di tangan kepengurusan Pangeran Bendahara Syarif Usman bin Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Alkadri hampir tidak ada sama sekali beliau melakukan pendataan
Karena saat di serahkan pada tahun 1912 M usianya juga baru sekitar 5 tahun sehingga dokumen di pegang oleh Pangeran Syarif Ali bin Sultan Syarif Muhammad Alkadri, baru ketika berusia 12 tahun dokumen tersebut di serahkan kepada Pangeran Bendahara Syarif Usman Bin Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Alkadri, sehingga tidak ada tbahan sama sekali melainkan hanya sebatas menyimpan dan mengamankan dokumen Maktab NanGq 1857
Beliau hanya memberi Nama Maktab NanGq 1857 dengan harapan generasi keturunan beliau berikutnya di harapkan memiliki semangat untuk berbuat seperti Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
Pangeran Bendahara Syarif Usman Wafat pada tahun 1940 M - 1362 H, merupakan Generasi Ke II 1912 M - 1941 M selama 28 tahun
Makam Pangeran Bendahara Tua II Syarif Usman Bin Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Bin Sultan Syarif Usman Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri
Kampung Ogol Peladis Desa kepayang Kecamatan Anjungan kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat Indonesia ๐ฎ๐ฉ
Makam Nyai Darmani Binti Raden Sirajuddin berada di bawah kaki Pangeran Bendahara Tua II Syarif Usman Bin Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri satu pendopo dengan suaminya di Kampung Ogol Peladis Desa kepayang Kecamatan Anjungan kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat Indonesia ๐ฎ๐ฉ
Keturunan Pangeran Bendahara Syarif Ja''far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Generasi Ke Enam dan Keturunan Syech Mahmud Syarwani Almaky Adagistani Alghoust Asyadjely Alhasani Generasi Ke Lima
Sebagai ganti beliau adalah Pangeran Bendahara Syarif Thoha Kholil bin Pangeran Bendahara Syarif Usman Alkadrii akan tetapi Pangeran Bendahara Syarif Thoha Kholil Alkadri sudah sakit ,- sakitan sehingga tahun 1941 M - 1363 H beliau wafat sebagai Generasi Ke III selama 1940.M - 1941 M selama 1 tahun
Untuk selanjutnya MAKTAB NANGQ 1857 di urus cucu Pangeran Bendahara Syarif Ahmad (Ahmadi Kampak) Bin Pangeran Bendahara Syarif Usman bin pangeran Bendahara Syarif Thoha Kholil) karena anaknya Pangeran Bendahara Syarif Usman bin Pangeran Bendahara Syarif Thoha Kholil Alkadri telah wafat dua tahun sebelumnya 1939 M - 1360 H dan meninggalkan 4 orang anak dalam usia yang masih mudah
Pangeran Bendahara IV Syarif Usman Bin Pangeran Bendahara Syarif Thoha Kholil Alkadri, Wafat mudah tahun 1939 M - 1360.H, sehingga beliau tidak dapat menjabat sebagai pengurus Ketua Maktab NanGq 1857.Generadi Ke IV
Sehingga langsung di Jabat anaknya Pangeran Bendahara V Syarif Ahmad Alkadri (Ahmad Kampak) menjadi Ketua Maktab NanGq 1857 Generasi Ke IV (1941 M - 1958 M) selama 17 tahun
Sehingga Kepengurusan Maktab NanGq 1857 .melompat / melalui Satu generasi sehingga Pangeran Bendahara Syarif Ahmad (Ahmad Kampak) yang seharusnya sebagai generasi Ke V menjadi Generasi K IV Maktab NanGq 1857 1941 M - 1958 M atau selama 17 tahun
Makam Pangeran Bendahara Tua IV Syarif Usman Bin Pangeran Bendahara Tua III Syarif Thoha Kholil Bin Pangeran Bendahara Tua II Syarif Usman Bin Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
Di samping kirinya adalah Makam istrinya Syarifah Siti Aminah Binti Panglima Leaxsa III Syarif Abu Bakar Alkadri keturunan dari Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Bin Sayid Husein Alkadri Mufthi Mempawah lokasi Jalan Raya Peniraman berada di atas Puncak Bukit Sahabat Empat sekarang di sebut Gunung Peniraman merupakan makam Muslim yang tertinggi pertama di Kalimantan Barat Desa Peniraman Kecamatan Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat Indonesia ๐ฎ๐ฉ yang bermarga Alkadri., dari Empat orang anak beliau masih ada satu orang yang hidup yaitu Syarifah Maidah Alkadri berusia 106 tahun., merupakan saksi kunci yang masih hidup di tahun 2025 M. Ketika makam ayah dan ibunya di Fitnah sebagai makam palsu oleh keluarga Alkadri sendiri yang iri karena ingin menguasai lahan di puncak Gunung Peniraman akan tetapi di bantah dari keluarganya sendiri yang mengetahui makam tersebut, bahwa beliau sangat mengetahui makam tersebut dan mengajak datang kepada salah satu anaknya yang masih hidup Sharifah Maidah Alkadri Binti Pangeran Bendahara IV Syarif Usman Alkadri
Sehingga Syarifah Maidah Alkadri Binti Pangeran Bendahara IV Syarif Usman Alkadri sempat menangis kecewa karena makam ayah dan ibunya di fitnah, maka atas dasar tersebut beliau memerintahkan agar wasiat Pangeran Bendahara Tua VI Syarif Ibrahim Bin Pangeran Bendahara Tua V Syarif Ahmad Bin Pangeran Bendahara Tua IV Syarif Usman Alkadri, agar wasiat terebut segera di pindahkan ke Puncak Gunung Peniraman 16 Rabiul Awwal 1439 H - 2018 M saat ini sudah berlalu selama 7 tshun
Sejak itu Fitnah tersebut langsung meredup
Makam Pangeran Bendahara Tua VI Syarif Ibrahim Bin Pangeran Bendahara Tua V Syarif Ahmad Bin Pangeran Bendahara Tua IV Syarif Usman Alkadri
Berada di samping kedua makam tersebut, sekalipun berada di ketinggian 700 M dari jalan Raya Peniraman hampir setiap minggu ada saja yang berjiarah di ketiga makam ini sehingga kondisinya terawat dengan baik sekalipun harus mengunakan tali Sleng yang sudah di sediahkan oleh Masyarakat Peniraman yang di ikat di pohon - pohon kayu
Ada satu wasiat yang belum dapat di laksanakan yaitu pemindahan makam Istrinya Saedah Binti Muhamad Johan Al - Adeni Qaulan Jazirah keturunan dari Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Sebelum wafat beliau sudah berkali-kali minta di makamkan di samping suaminya di puncak gunung Peniraman
Karena saat wafat anak laki-laki tertua dalam kondisi sakit yang kritis sehingga masyarakat memutuskan untuk di makamkan di Mandor dan akan di pindah setelah anak laki-laki tertua nya sembuh
Dan sampai saat ini sudah hampir 5 tahun pemindahan tersebut belum dapat terlaksana kan karena terbentur dengan kondisi ekonomi saat ini
Saedah Binti Muhammad Johan Al - Adeni Wafat pada 21 Juni 2020 M - 1441 H di Rumah Sakit Sultan Syarif Muhamad Alkadri Jalan Kom Yos Sudarso Sungai Jawi Pontianak
Rencana akan di makamkan di puncak gunung Peniraman sesuai wasiat karena Jenazah terlancur di bawah ke Mandor di rumah anak perempuannya maka agar tidak menyulitkan masyarakat ahirnya di putuskan di makamkan di Mandor rencana setelah 1 tahun baru di pindahkan ke Puncak gunung Peniraman sesuai Wasiat Almarhum, hingga saat ini 2025 M - 1446 H, Wasiat tersebut belum dapat terlaksanakan
Peta tahun 1943 M buatan Jepang untuk persiapan menguasai Indonesia untuk persiapan Perang Dunia Ke II
Pada saat Pangeran Bendahara V Syarif Ahmad Alkadri (Ahmad Kampak) menjadi Ketua Pengurus Maktab NanGq 1857, Meletusnya Peristiwa Mandor Berdarah 28 Juni 1944 M
Yang menelan Korban hingga tembus 50.000 jiwa dari berbagai etnis yang ada di Kalimantan Barat, sehingga dari awal tahun 1942 M sd 1944 M, merupakan jaman mencekam karena sebelumnya telah terjadi peristiwa Tragedi Cap Kapak yang menimbulkan malapetaka dan kecamatan
Sejak menjadi Ketua Pengurus Maktab NanGq 1857 dari tahun 1941.M - 1944 M.kegiatsn di Maktab NanGq 1857. terhenti total
Bahkan seluruh Dokumen pun di simpan di dalam tempayan yang sudah di masukan di dalam bambu dan di tanam di pohon bambu agar dokumen tersebut tidak di musnahkan Jepang jika mengeledah rumah beliau di Kampung Kampak Segedong dalam atau Peniti Dalam
Masalah sulit tersebut hingga berlangsung hampir 3 tahun .lamanya, harus bersembunyi ke dalam rindangnya pohon Nipah sehingga tidak ada rasa takut lagi dengan penghuni Sungai (Buaya, tapa, puake dan sejenisnya) sebab jika tertangkap akan menjadi Romusa Pekerjaan Paksa
Setelah terjadinya peristiwa Mandor Berdarah' 28 Juni 1944 M, barulah kondisi mencekam tersebut sirna ketika jepang menjatuhkan Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki 6 sd 9 Agustus 1944 M, maka Kalimantan Barat kembali kondosip.tetspi harus berhadapan dengan mengurus mayat - mayat yang bergelimpangan di jalan - jalan hingga di makam Pemancungan Mandor Berdarah, setelah tugas pendataan selesai Dokumen yang di tanam kemudian di bongkar kembali setelah kondisi benar - aman, maka untuk pertama kalinya Pangeran Bendahara V Syarif Ahmad Alkadri (Ahmad Kampak) menyalin mendata pada dokumen yang telah di keluarkan dari dalam tanah, tidak tanggung - tanggung hasil catatan terdapat sebanyak 333 korban Keluarga Alkadri di Seluruh Kalbar, Pontianak, Kakap, Kubu Raya, Segedong, Mempawah, Sungai Duri, Singkawang, Sambas, Bengkayang, Landak atau Ngabang, Sanggau, Sekadau Sintang, Kapuas Hulu, Ketapang Marga Alkadri merupakan terbesar Ahlulbait Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam yang menjadi korban dari Marga lainya dan etnis yang terbanyak menjadi korban adalah etnis Melayu Karena sasaran utamanya adalah Raja dan Sultan serta para pangeran yang ada di Kalimantan Barat, menyusul etnis Cina di urutan ketiga dan etnis daya pada urutan keempat sebagai korban terbesar Pembunuhan Jepang dan sisanya etnis lainya seperti Batak, Madura, Jawa (sedangkan etnis Bugis, Arab, Banjar, Jawa, Sunda masuk dalam daftar sebagai etnis rumpun Melayu)
Hasil Identifikasi di Lokasi Pemancungan yang kemudian di kenal sebagai Makam 11, masing - masing keluarga Korban melakukan Identifikasi pada tanggal 27 September 1944 M termasuk di tempat - tempat lainya
Karena kondisinya terus - menerus menurun terinfeksi bekas - bekas mayat yang sudah rusak menyebabkan Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Bin Usman Alkadrie jatuh sakit hingga menyebabkan infeksi rongga hidung semakin parah, yang membuat suara lepas, maka untuk berbicara supaya terdengar dengan baik ronggo hidung bagian dalam ketika ingin bicara di sumbat dengan kapas, aktifitas yang di lakukan setelah peristiwa Jepang 1944 M beliau lakukan dengan mengajar mengaji saja di kampung Kampak Segedong yang di rimbanya sendiri, asalnya adalah hutan rimba, kampung tersebut yang suksesnya bisa tembus di di area pemancungan mandor dengan melalui jalan setapak, sampai akhirnya wafat pada. tahun 1958 M dan di makamkan di Parit Bugis Segedong Peniti dalam
Untuk selanjutnya MAKTAB NanGq 1857 di serahkan kepada anak ketiganya dengan menyerahkan Dokumen Maktab NanGq 1857 secara diam - diam
Kepada ketiga anaknya yang lain dengan alasan supaya tidak ada yang iri, hal ini beliau lakukan sesuai wasiat dari ayahnya Pangeran Bendahara IV Syarif Usman Bin Thoha Kholil Alkadri agar setelah dirinya yang menjadi Ketua Pengurus Maktab NanGq 1857 .Pusat, karena saat itu Pangeran Bendahara V Syarif Ibrahim Bin Ahmad sangat berhubungan sangat dekat dengan Sultan Syarif Hamid II Alkadri dan Pangeran Syarif Abu Bakar bin Pangeran Perdana Agung Syarif Mahmud Alkadri, (yang juga menjadi korban Mandor Berdarah) selain itu Pangeran Bendahara Syarif Ibrahim Bin Ahmad Alkadri juga di Nobatkan oleh Sultan Syarif Hamid II Alkadri sebagai Tabib Istanah Kesultanan Kadriah Pontianak dan juru Bahasa untuk Bahasa Mandarin, Arab, Jerman dan Jepang sedangkan untuk Bahasa Inggris dan Belanda Sultan Syarif Hamid II Alkadri sangat faseh dan lancar karena di asuh oleh pengasuh berkebangsaan Inggris Belanda
Sebab itu kemana pun Sultan Syarif Hamid II Alkadri berada beliau selalu mendampingi bukan sebagai Ajudan melainkan untuk juru Bahasa yang di sebutkan di atas, sehingga beliau sangat paham dengan kepribadian Sultan Syarif Hamid II Alkadri sehingga dengan kemampuan bahasa tersebut beliau di tarik untuk bekerja di pengadilan Pontianak saat itu
PANGERAN BENDAHARA VI SYARIF IBRAHIM BIN AHMAD ALKADRI
Keturunan Generasi Ke VI Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
Bersama istrinya Saedah Binti Muhammad Joehan Aladeni Qaulan Jazirah
Ketua Maktab NanGq 1857 . Generasi ke V (1958 M - 2015 M) Dewan Pimpinan Pusat Pontianak
Pangeran Bendahara Syarif Ibrahim bin Ahmad Alkadri Jamalullail adalah Generasi Ke VI (Enam,) Keturunan dari Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail, akan tetapi dalam kepengurusan Maktab NanGq 1857 Dewan Pimpinan Pusat sebagai Generasi Ke V (Lima) karena Kakek / Dato nya Pangeran Bendahara Syarif Usman bin Thoha Kholil Alkadri Jamalullail meninggal di usia yang relatif muda yaitu :
1. Pangeran Bendahara Syarif Usman Bin Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail Wafat pada tahun 1940 M, menjabat sebagai Ketua Maktab NanGq Dewan Pimpinan Pusat selama 28 tahun (1912 M - 1940 M) sedangkan anaknya :
2. Pangeran Bendahara Syarif Thoha Kholil bin Pangeran Bendahara Syarif Usman bin Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Alkadri Jamalullail Wafat pada tahun 1941, hanya menjabat 1 Tahun (1940 M - 1941 M) sebagai Ketua Maktab NanGq 1857 Dewan Pimpinan Pusat, sedangkan anaknya
3. Pangeran Bendahara Syarif Usman bin Pangeran Bendahara Syarif Thoha Kholil Alkadri Jamalullail Wafat pada tahun 1939 M, wafat terlebih dahulu 2 tahun dari ayahnya Sehingga tidak memiliki kesempatan sebagai Ketua Maktab NanGq 1857 Dewan Pimpinan Pusat, sehingga anaknya :
4. Pangeran Bendahara Syarif Ahmad bin Pangeran Bendahara Syarif Usman bin Pangeran Bendahara Syarif Thoha Kholil Alkadri Jamalullail yang langsung menjabat sebagai Ketua Maktab NanGq 1857 Dewan Pimpinan Pusat dari tahun 1941 M - 1958 M mengantikan Kakeknya Pangeran Bendahara Syarif Thoha Kholil bin Usman bin Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail, selama 17 tahun, kemudian di teruskan oleh :
5. Pangeran Bendahara Syarif Ibrahim bin Ahmad bin Usman bin Thoha Kholil Alkadri Jamalullail dari tahun 1958 M - 2015 M, selama 57 tahun, sebelum wafat pada tahun 2015 M, Dokumen Maktab NanGq 1857 telah di serahkan Kepada anaknya Arif Candra pada tahun 1993 M, untuk di Restorasi ulang karena sudah banyak yang rusak, kemudian di teliti di Mesir ketika belajar di Universitas Al - Azhar Mesir, peneliti adalah pembimbing dari Arif Candra yaitu Syech Ibrahim Almagrawi Alhasani (Wafat pada tahun 2.000 M), untuk mengetahui apakah benar Jalur dari Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail merupakan Jalur Nasab dari :
1. Syarif Ibrahim Alkadri ke Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jamalullail merupakan keturunan dari Abdullah bin Ahmad Almuhajir
Jawaban Syech Ibrahim Almagrawi Alhasani (Benar Shohe)
Tetapi sebaliknya : baik Jamalullail maupun Almuhajir tidak perlu di masukan karena :
1. Jamalullail merupakan amalan Leluhur terdahulu sedangkan
2. Almuhajir merupakan perjalanan perpindahan Sayid Ahmad dari Bagdad Ke Yaman dengan beberapa Paseh sehingga di gelar Al - Muhajir orang yang pindah / Hijrah ke satu tempat ke tempat yang lain demi mendapatkan ketenangan dan kedamaian serta melakukan perjalanan Da'wah menebar kebaikan dan benarnya ajaran Islam, maka itu cukup di ketahui saja akan tetapi sebaiknya tidak di cantumkan
2. Sultan Syarif Hamid I bin Sultan Syarif Usman Alkadrie Jamalullail merupakan keturunan dari Abdullah bin Ahmad Almuhajir
Jawaban beliau (Benar Shohe)
Tetapi sebaiknya : Sultan Syarif Hamid I bin Sultan Syarif Usman Alkadri, Sebab Jamalullail merupakan Marga terdahulu dan merupakan sebuah gelar amalan Leluhur terdahulu, atau cukup yang terbaik cuku Sultan Hamid I bin Sultan Usman Alkadri, karena nama Syarif/Sharif atau Sayid sudah pasti keturunan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, sedangkan nama marga harus di cantumkan, karena secara otomatis orang yang membaca / mendengar marga akan langsung bisa mengetahui asal - usul leluhur marga tersebut, karena merupakan generasi terakhir
3. Sultan Syarif Abdurrahman bin Sayyid Husein Alkadrie Jamalullail, merupakan keturunan dari Abdullah bin Ahmad Almuhajir
Jawaban beliau (Benar Shohe)
Akan tetapi sebaiknya cukup mencantum Sultan Abdurrahman bin Husein Alkadri, karena nama tersebut sudah terkenal di jaziah Arabia (1996 M - 1417 H)
4. Sayid Ahmad bin Husein bin Muhammad Alkadri Jamalullail, merupakan keturunan dari Abdullah bin Ahmad Almuhajir
Jawaban beliau (Benar Shohe)
Tetapi sebaiknya cukup Sayid Ahmad bin Husein bin Muhammad Alkadri
5. Sayid Muhammad Alkadri Jamalullail bin Salim bin Abdullah bin Muhammad Jamalullai, merupakan keturunan dari Abdullah bin Ahmad Almuhajir
Jawaban Beliau (Benar Shohe)
Tetapi cukup :
1. Sayid Muhammad Alkadrii bin Salim bin Abdullah bin Muhammad dan
2. Abdullah bin Ahmad bin Isa
ini lebih Shohe karena memakai nama asli dan lebih afdhol dalam hukum islam
6. Sayid Muhammad Jamalullail bin Hasan Mu'alim bin Muhammad Asadallah bin Hasan Atturabi bin Ali bin Muhammad Fagih Almugadam bin Ali Al - Ba' Alwi
Jawaban beliau (Benar Shohe)
Tetapi sebaiknya cukup
1. Muhammad Shohe, sebab Jamalullail adalah hanya gelar ketaqwaanya
2. Hasan Shohe, sebab Al - Mu'alim adalah hanya gelar ke ilmuanya
3. Muhammad Shohe, sebab Asadallah adalah hanya gelar perjuangannya
4. Ali Shohe
5. Muhammad Shohe, sebab Fagih Mugadam adalah hanya gelar perkampungannya yang banyak sumur - sumur
6. Ali Shohe, sebab Al - Ba'Alwi adalah hanya gelar jalur Sayidina Husen
Kemudian pertanyaan tersebut beliau bolak balik urutan nomor satu bisa di pindah urutan terakhir, di tengah dan seterusnya, demi menguji kemampuan Mahasiswanya untuk lulus di sidang Skripsi pada Universitas Al - Azhar Cairo sehingga memperoleh nilai yang di harapkan oleh beliau 1996 M - 1417 H
Adapun masuk beliau cukup mengunakan nama lahir : sebab tradisi Arab Nama lahir harus sesuai dengan Hadits Shohe sebab ketika pemberian nama biasa di bacakan Do'a Rasul sebagai pengunci nama tersebut agar memperoleh berkah dan Rahmat serta Rezeki yang mengalir, Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi tidak menyang gelar apapun tidak menjadi masalah cukup Muhammad bin Ahmad jika ada marganya tetapi marga tersebut tidak di cantumkan ketika lahir, maka tidak menjadi masalah, tetapi jika ingin mencantumkan, maka cantumkanlah ketika dia lahir maka nama tersebut Shohe dan berkah,
Dengan mencantumkan marga setelah dewasa atau berkeluarga maka harus di bacakan Do'a Rasul ulang agar nama yang lama secara ghoib bisa menyatu dengan marga yang baru di cantumkan
Namun menurut hematnya biarkan saja itu lebih afdhol dan Shohe
Sebab identitas seorang Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bukan terletak di gelar melainkan terletak tersambungnya Nasab secara Shohe menurut hukum Islam dan Figh serta nas Al-Qur'an yang mampu menghadirkan leluhurnya secara ghaib untuk sebuah kepastian yang mutlak ,(tidak bisa di gugat) di luar Hukum tersebut di hukum haram untuk di gunakan
Maka nama pakailah nama asli ketika lahir , sebab penambahan nama setelah lahir atau sudah dewasa di kwstirkan akan menimbulkan fitnah, apa lagi menambah atau merubah nama - nama Leluhur di mana nama tersebut tidak pernah di gunakan di jamanya
Sebagai contoh beliau menjelaskan
Nama Ahmad Al - Muhajir di jamanya bahkan di batu nisanya hanya bergelar Sayid Ahmad Bin Isa
Maka Al - Muhajir bisa menimbulkan fitnah di Ahir jaman sekalipun tambahan tersebut adalah benar, yang tujuan awalnya untuk memperjelas malah justru menimbulkan masalah terutama bagi kaum - kaum yang memang tidak senang dengan Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam yang sudah terjadi dari jaman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam hingga menimpa ke anak cucumnya karena melakukan sebuah tindakan yang keliru
Demikian juga yang terjadi dengan Sayid Abdullah bin Ahmad, jelas - jelas di batu nisan lamanya tertulis Sayyid Abdullah bin Ahmad, kemudian nama tersebut di rubah menjadi Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir
Justru perubahann tersebut sangatlah patal, dengan alasan patah atau sengaja di patahkan, atau memang patah sebab - sebab lain, lalu di sambung dan di beri keterangan di atas sambungan dengan nama Ubaidillah lengkap dengan penjelasannya justru, akan membuat bahan olokan - olokan bagi pembenci - Ahlulbait sepanjang sejarah, Ahirnya tenggelam lah nama asli Sayid Abdulah bin Ahmad
Dalam hukum Islam merubah nama pangilan seseorang setelah meninggal dunia jelas hukumnya haram dan nas Al-Shodiq Qur'an maupun hukum Figh juga di anggap terputus suatu tindakan keliru atau ada unsur kesengajaan Untuk memutuskan jalur Abdulah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin Ja'far Shodiq bin Muhammad bin Ali Jainal Abidin bin Husein wa Fatimah Az-Zahra Binti Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam
Maka Maktab NanGq 1857 tetap mengacu kepada nama aslinya Sayid Abdullah bin Ahmad, agar di terima leluhur dan Nas Al-Qur'an serta Hadist Rasulullah Shalallahu Alaihi
Hal ini harus di ketahui dan di sadari, bahwa Sayid Abdullah bin Ahmad pernah menjabat sebagai Mufthi di jaman kepemimpinan Ubaidillah selama 5 tahun di jamanya
Dengan sendirinya merubah nama Abdullah menjadi Ubaidillah di kwstirkan adalah di sandarkan kepada Raja Ubaidillah sehingga otomatis Nasab dengan sendirinya akan terputus
Maka orang - yang paham sejarah ini jelas jalur tersebut bertentangan dengan Nas Al-Qur'an, Hadits dan pengakuan leluhur menjadi tertolak secara ghaibnya, sebab yang di terima oleh leluhur hanya menambah gelar Sayyid/ Syarif/ Sharif / Wan dan fam Marganya Alkadri dan lain - lain dengan Syarat harus di bacakan Do'a Rasul agar menyatu dengan sempurna
Akibatnya sepanjang sejarah akan menjadi bahan olokan - olokan dan gunjingan
Di dalam Hadits Riwayat Muslim dengan tegas di nyatakan :
Dari Anas bin Malik. Radiallahu Anhu. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam telah bersabda : ""Barang siapa yang menolak Bapaknya dia adalah kapir, dan barang siapa yang mengakui bapaknya orang lain dia adalah kapir. HR. Muslim
Maka jalan satu - satunya agar nasab tidak menjadi Rusak gunakanlah nama aslinya Sayid Abdullah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin Ja'far Shodiq bin Muhammad bin Ali Jainal Abidin bin Husein Wa Fatimah Az-Zahra Binti Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam Alfatihah ini sangat Shohe dan tidak satupun yang bisa meragukannya dan barang siapa yang meragukannya, maka mereka di anggap memutus bapaknya orang lain, maka mereka terhukum sebagai ""Kapir Kurafat""
Lantas adakah sejarahnya Sayid Abdullah bin Ahmad pernah merubah namanya sebagai Ubaidillah (Hamba yang kecil) dalam sejarah yang Shohe justru beliau tidak mau merubah namanya, sebab di jamanya ada Raja Ubaidillah yang berkuasa bersipat sementara dan justru dirinya tidak ingin di hubungan dengan nama Raja Ubaidillah tersebut, di kwstirkan di kemudian hari adanya anggapan bahwa Raja Ubaidillah adalah dirinya Abdulah bin Ahmad, ini bearti dalam fakta sejarah yang Shohe Sayid Abdulah bin Ahmad memang tidak pernah mengunakan nama lain selain nama dirinya sendiri Sayyid Abdullah bin Ahmad...
Maka sangat berbeda dengan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam karena nama - nama beliau sudah di abadikan di dalam Al-Quran yang memiliki nama yang banyak pemberian langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran dan itu juga keluar dari lisan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam
Sayid Ibrahim Almagrawi juga menjelaskan, jika sudah di ketahui dirinya sebagai seorang Sayid / Syarif / Sharif / Wan dan juga mengetahui Marganya misalnya Jamalullail atau Alkadri dan marga lainya
Pangeran Bendahara Tua II Syarif Usman Bin Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Ketua Maktab NanGq 2858 Generasi Ke II 1912 M sd 2940 M / 1333 H - 1361 H., Berkantor di Ogol Peladis Desa Anjungan setelah di Mekarkan menjadi Desa Kepayang Kecamatan Sungai Pinyuh di mekarkan menjadi Kecamatan Anjungan kabupaten Pontianak di mekarkan menjadi Kabupaten Mempawah Kalbar (Borneo Barat) Indonesia ๐ฎ๐ฉ masuk dalam Wilayah Kesultanan Pontianak saat itu 1778 M
Maka Sejarah hukum syariat Islam Al - Qur'an, Hadist, maupun kehadiran para leluhurnya maka nama Marga yang sudah di ketahui jika melahirkan anak laki-laki maupun perempuan gelar belakang dan depan wajib di gunakan dan seterusnya agar benar - benar Shohe dan di terima leluhur yang sudah meninggal termasuk leluhurnya Rasullullah Shalallahu Alaihi Wassalam
Pangeran Bendahara VI Syarif Ibrahim bin Ahmad Alkadri Ketua Maktab NanGq 1857 Pusat Generasi Ke Enam 1958 M - 2015 M Selama 57 tahun
Dalam hal Silsilah Nasab hukum qiyas, Ittimah para ulama dan ijtihad haram untuk di lakukan sebab Nasab hukumnya Wajib Pasti, dengan memakai hukum Ijtihad, Qiyas, maupun pendapat para ulama maupun Majhab akan membuka peluang menyusupnya Nasab - Nasab dan Silsilah palsu dan ini membuat Rusaknya Silsilah Nasab Keturunan Rasulullah Shalallahu Alaihi baik kebawahnya maupun di atas Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, demikian juga berdasarkan pendapat para ahli ilmuwan, dan bukti artefak lainya karena membuka pendapat persepsi yang berbeda antar ilmuan dalam penelitian, termasuk mengunakan DNA sebab Hologtaf DNA setiap Perkawinan terus terjadi Perubahan dan terus berubah, maka cara yang demikian di larang keras dan pelakunya masuk dan terhukum sebagai ""Kapir Kurafat "" maka sia - sialah amal ibadahnya
Pangeran Bendahara Tua IV Syarif Usman bin Thoha Kholil Alkadri Wafat : 17 Rabiul Awwal 1360 H - 1939 M. Makam Puncak Gunung Peniraman Bukit Sahabat 4 Desa Peniraman Kecamatan Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ
Makam Pangeran Bendahara Tua IV Syarif Usman bin Thoha Kholil Alkadri., Makam Puncak Gunung Peniraman Bukit Sahabat 4 Jalan Raya Peniraman Desa Peniraman Kecamatan Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ
Di Samping Kirinya makam istrinya Syarifah Aminah binti Syarif Abu Bakar Alkadri Wafat 1940 M - 1361 H
Hal ini Didalam Hadis Riwayat Ahmad, Daraqhutni, Imam Turmudzi dan Bukhari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam
Telah Bersabda, Janganlah kalian mencampuri urusan keturunan Ku (Ku Maksud Rasullullah Shalallahu Alaihi Wassalam) karena itu menjadi urusan Ku (Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam) HR.Ahmad dll
Maka orang - orang yang bukan dari Kalangan Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam di larang keras mencampuri urusan Silsilah Nasab Keturunan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam karena sudah dilarang keras dan jika masih memaksakan diri "maka dengan sendirinya mereka masuk dalam golongan,""Kapir Kurafat" maka seluruh amal Ibadahnya menjadi sia - sia belaka
Sebab Dasar inilah Maktab NanGq 1857 Pusat Pontianak Jalan Seliung
Ketika membahas Sejarah Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam
Tidak menghubungkan orang - orang di luar Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam
Sekalipun mereka teman, hidup Sejaman dan bersamaan serta Sejarahnya bersamaan
Tujuannya agar tidak salah persepsi sehingga yang kurang mengerti menganggap mereka adalah bagian Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam
Ketika seseorang salah persepsi maka Maktab akan menerima imbasnya sebagai hukum Syubhat yang berbahaya dan terlarang di dalam hukum Islam
Pangeran Bendahara Tua VI Syarif Ibrahim bin Ahmad Alkadri Jalan Internasional Pontianak Kucing Kecamatan Mador Kabupaten Landak Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ Ketua Maktab NanGq Generasi Ke V Dewan Pimpinan Pusat 1958 M sd 2015 M / 1379 H sd 1436 H terjadi berpindah - pindah hingga Kantor :
1. Kantor Pertama : Belakang Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri saat itu setelah lapang bekas Bulu Tangkis Kampung Beting Kelurahan Dalam Bugis Jalan As Tanjung Raya I Pontianak Timur Kota Pontianak Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ 1958 M sd 1965 M / 1379 H sd 1386 H
2. Kantor Kedua : Jalan Raya Segedong Desa Bugis RT. 03 / RW. 012 Kecamatan Sungai Pinyuh Sekarang Kecamatan Segedong Kabupaten Pontianak / sekarang Kabupaten Mempawah Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ 1965 sd 1968 M / 1386 H - 1389 H
3. Kantor Ketiga : Jalan Tanjung Raya I Istanah Kadrah Kesultanan Pontianak bangunan Belakang Istanah / Sekarang didiami Almarhum Pangeran Istanah Syarif Efendi bin Letnan Pangeran Istanah Syarif Mohammad Yan Alkadri adik Kandung Psngersn Istanah Syarif Thaha bin Usman bin Mahmud Pangeran Perdana Agung bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri., 1968 sd 1971 M / 1389 H - 1392 H
4. Kantor Keempat : Jalan Tanjung Pura Belakang Masjid Tua Masjid Baiturrahman Pontianak Kota Kota Pontianak Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ 1971 M sd 1973 M / 1389 H - 1393 H
5. Kantor Kelima : Jalan Sidas Gg Merak I dekat Masjid Tua Babussalam dekat lokasi makam Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Bin Asyayid Syarif Hussein Alkadri Pontianak Kota Kota Pontianak Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ 1971 M sd 1974 M / 1393 H - 1397 H
6. Kantor Keenam : Jalan Bandara Supadio Pontianak Parit Keramat (Keramat Paha Nisan I) Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Pontianak sekarang Kabupaten Kubur Raya Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ 1974 M sd 1976 M / 1397 H sd 1399 H
7. Kantor Ketujuh : Kembali lagi di Belakang Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri di rumah asal Belang Masjid setelah lapangan Teknis Kampung Beting Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur Kota Pontianak Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ 1976 M sd 1984 M / 1399 H - 1404 H, yang saat itu Sultan Hamid II Alkadri sudah menulis surat yang di tujukan kepada Rstu Perbu Khodijah binti Sultan Syarif Muhamad Aljadri agar segera mencari penganti belisu dsri anak Psngeran Perdana Agung Syarif Mahmud bin Sultan Syarif Muhamad Alkadri, dengan alasan anak laki-laki tidak mau menetap di Pontianak dan tetap tinggal di Belanda
Sejak adanya surat tersebut terjadilah kisruh dengan Pangeran Istanah Syarif Toto bin Thaha Alkadri yang juga berambisi untuk menjadi Sultan hingga 31 Maret 1987 Sultan Syarif Hamid II Alkadri Wafat, sast sakit di Jakarta belisu sering di jengguk Pangeran Bendahara VI Syarif Ibrahim Alkadri karena memang Rstu Perbu Khodijah meminta beliau untuk mendampingi Sultan Syarif Hamid II Alkadri sebab anak dan istrinya sedang berada di Belanda
Kisruh tersebut memuncak setelah Sultan Hamid II Alkadri wafat yang menyebabkan hingga di putuskan Pengadilan Pontianak 1987 M - 1408 H, akibat tersebut Kesultanan Kadriah Pontianak menjadi Vakum dari tahun 1987 M sd 2004 M / 1408 H - 1425 H., dan pada tahun 2004 M pun sempat terjadi Doobel Sultan
Sebelum Sultan Syarif Hamid II Alkadri membuat surat sebenarnya secara lisan sejak tahun 1982 M - beliu sudah mveritsu secara Lisan ber ulang - ulang hingga ahirnya di di ahir 1982 kisruh tersebut mulai memuncak, karena merasa risih Pangeran Bendahara Syarif Ibrahim bin Ahmad Alkadri memutuskan untuk membawa anaknya ke Mandor untuk sementara waktu yang shirnya pada tahun 1984 M setelah Pangeran Istanah Syarif Thaha bin Usman Alkadri Wafat 1984 M, kisruh kepemimpinan memuncak yang sebelumnya berhasi di redah oleh Pangeran Istanah Syarif Thaha bin Usman Alkadri, karena anaknya Pamgeran Istanah Syarif Toto bin Thaha Alkadri menganggap tidak ada lagi penghalang yang untuk merebut Kursi Kesultanan Pontianak saat itu 1984 M - 1405 H tetapi kenyataannya banyak keluarga Istanah yang tidak senang dengan tindakan tersebut kecuali hanya ulang pro mereka
8. Kantor Kelapan : Jalan Raya Sagatani Kecamatan Tujuh Belas Singkawang Singkawang Utara sekarang menjadi Kabupaten Bengkayang Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ 1984 M sd 1994 M / 1405 H sd 1415 H dari tahun 1984 M sd 1994 M beliau bolak - balik dari Singkawang ke Pontianak karena masih aktif di Kejaksaan Negeri Pontianak, sampai ahirnya di pertengahan tahun 1994 M - 1415 H beliau memutuskan kembali untuk menetap di Mandor atas permintaan istrinya untuk berkumpul dengan keluarga istrinya Saedah binti Muhammad Johan Aladeni
9. Kantor Kesembilan : Jalan Raya Internasional Pontianak Kucing Dusun Linsipi Desa Mandor Kecamatan Mandor Kabupaten Landak Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ 1994 M sd 2015 M / 1415 H sd 1436 H., awal tahun 1995 Pangeran Bendahara Tua Syarif Ibrahim Mengurus Ijin Operasional baru agar dapat beraktivitas dengan Normal maka tepatnya 25 Oktober 1995 M / 1416 H terbitlah SK Menteri Kehakiman yang baru untuk ijin Operasional Maktab NanGq 1857, sehingga ijin Operasional Maktab NanGq 2857 telah mengalami perubahan, pada tahun 2015 M - 1436 H Pangeran Bendahara Tua Syarif Ibrahim Wafat bin Ahmad Alkadri wafat, maka sejak saat itu Kepengurusan Maktab NanGq 2857 Dewan Pimpinan Pusat di Ketua serta di urus anaknya hingga sekarang 2025 M - 1446 H
Makam Pangeran Bendahara Tua VI Syarif Ibrahim bin Ahmad bin Usman Alkadri Wafat 9 Julhizah I436 H - 2015 M, Keturunan Psngeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Aljari Ketua Maktab NanGq 2857 Dewan Pimpinan Pusat Generasi Ke V (Lima) Jalan Raya Peniraman Puncak Bukit Shabat IV Desa Peniraman Kecamatan Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ
Yang di perbolehkan hanya memberi ""Keterangan, Catatan, Catatan Kaki di luar tersebut di larang keras untuk di jelaskan
Terkecuali mereka membenarkan sejarahnya seperti Ilmuwan Ibnu Sinah Al - Arabia yang menyanggah dengan tegas haramnya tes DNA dan sejenisnya untuk menentukan keturunan Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam karena sudah ada aturan tersendiri dalam Ilmu Silsilah Nasab Keturunan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam
Demikian penjelasan Syech Ibrahim Almagrawi 1997 M - 1417 H yang lalu
Cucu - Cicit Keturunan Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri bersama Sultan Syarif Melvin Alkadri SH
Syarif Arif Candra Bin Pangeran Bendahara VI Syarif Ibrahim Bin Ahmad Alkadri, Jalan Cendana Istanah Indah Pontianak Barat Kota Pontianak Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ Ketua Maktab NanGq 1857 Dewan Pimpinan Pusat Pontianak Generasi Ke VI 2015 M sd Sekaran 2025 M / 1436 H sd Sekarang 1446 H terjadi 3 kali pindah Kantor :
1. Kantor Pertama : Jalan Internasional Pontianak Kucing Dusun Liansipi RT. 02 / RW 04 No. 39 Desa Mandor Kecamatan Mandor Kabupaten Landak Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ 2015 sd 2018 M / 1436 H sd 1439 H
2. Kantor Kedua : Jalan Cendana Istanah Indah RT. 01 / RW 07 No. B22 Pontianak Barat Kota Pontianak Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ 2028 M sd 2022 M / 1439 H - 1442 H
3. Kantor Ketiga : Jalan Raya Pontianak Seliung RT. 01 / RW 07 No. 04 Seliung Kelurahan Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ 2022 M sd Sekarang 2025 M / 1443 H sd Sekarang 1446 H
Alamat Kantor Dewan Pimpinan Pusat
MAKTAB NANGQ 1857
DEWAN PIMPINAN PUSAT PONTIANAK JALAN SELIUNG
Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Syarif Ja''far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
Pangeran Bendahara Tua VII Syarif Syariful Nurghllah bin Arif Candra Alkadri., LC., SPd. I., MSi cicit dari Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jalan Johansyah Desa Antibar Kecamatan Mempawah Timur Kabupaten Mempawah Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ
DEWAN PIMPINAN PUSAT
DPP KETUA : Syarif Arif Candra Alkadri
DEWAN PERWAKILAN DALAM DAN LUAR NEGERI
DPN KETUA : Syarif Jazuli Rahman Alkadri
DEWAN PIMPINAN WILAYAH PROVINSI : :
1. DPW Provinsi Kalimantan Barat Ketua : Syarif Jamhari Alkadri Ketua Aktif
Rstu Alif Syarifah Nurul Syariatul Rahmah binti. Arif Candra Alkadri., LC., S. Pd.I., MSi cicit dari Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Jalan Raya Pasiran Kelurahan Pasiran Singkawang Timur Kota Singkawang Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ
2. DPW Provinsi Kalimantan Tengah Ketua : Syarif Muhammad Arsyad Alkadri Masa transisi
3. DPW Provinsi Kalimantan Selatan Keua.: Syarif Norliansyah Alkadri Aktif
4. DPW Provinsi Kalimantan Timur Ketua : Syarif Pirdaus Alkadri Aktif
5. DPW Provinsi Sulawesi Utara Syarif Ketua : Fakir Muhammad Alkadri Pasif
Pangeran Bendahara Tua Perbendaharaan Negeri VIII Syarif Abdullah Almugadam Bin Arif Candra Alkadri., LC., S. Pd. I. MSi Jalan Cendana Pontianak Barat Kota Pontianak Kalbar Indonesia ๐ฎ๐ฉ
6. DPW Provinsi Sulawesi Selatan Ketua : Kompol Drs. Syarif Ahmad Alkadri.,SH.MH Dalam Proses
7. DPW Provinsi Nusa Tenggara Barat NTB Katua : Dato Syarif Muhammad Alkadri Pasif
8. DPW Provinsi Nusa Tenggara Timur Ketua : Syarif Heder Alkadri Pasif
9. DPW Provinsi Bali Ketua : Syarif Abdullah Alkadri Dalam Proses
10. DPW Provinsi Jawa Timur Ketua : Syarif Abdullah Alkadri Aktif
Maktab NanGq 1857 DPC Jawa Barat
11. DPW Provinsi Jawa Barat Ketua : Syarif Muhammad Depok Alkadri Aktif
12. DPW Provinsi Jawa Tengah Ketua : Syarif Alfi Alif Alkadri Dalam Proses
13. DPW Provinsi Lampung Ketua Syarif Ramadan Alkadri Pasif
14. DPW Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Ketua : Syarif Hardiansyah Alkadri Pasif
Syarif Muhammad Rizki Ananda Bin Fahroroji Alkadri Komplek Brimob Martapura Banjar Kalsel Indonesia ๐ฎ๐ฉ
15. DPW Provinsi Kepulauan Riau Ketua : Syarif Nong Ali Alkadri Dalam Proses
16. DPW Provinsi Nangro Aceh Darussalam Ketua : Syarif Ali Alkadri Dalam Proses
17. DPW Provinsi Kalimantan Utara Ketua : Syarif Bukhari Alkadri Dalam Proses
18. DPW Provinsi Sumatra Utara Ketua : Syarif Rahmatul Hadi Alkadri Aktif
19. DPW Provinsi Bengkulu Ketua : Drs. Syarif Faturahman Alkadri. SH,.MH Aktif
PERWAKILAN LUAR NEGERI :
1. DPN Negara Malaysia Ketua Perwakilan : Syarif Khairunijam Alkadri Tawau Sabah Pasif
2. DPN Negara Arab Saudi Ketua Perwakilan Sayyid Thohir Alkadri Hejaz Aktif
Syarifah Putri Irafiani Binti Fahroroji Alkadri cicit dari Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Komplek Brimob Martapura Banjar Kalsel Indonesia ๐ฎ๐ฉ
3. DPN Negara Banglades Ketua Perwakilan : Syyed Khaidar Alkadri Aktif
4. DPN Negara Yaman Ketua Perwakilan : Syyed Moehammad Alkadri Ariadha Yaman Aktif
5. DPN Negara Brunaidarussalam Ketua Perwakilan : Said Wan Zaeini Alkadri Aktif
6. DPN Negara Mesir Ketua Perwakilan : Syyed Moehammad Sammani Alqodiri Koa Obour Aktif
Syarif Muhammad Nabil Bin Fahroroji Alkadri cicit Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Komplek Brimob Martapura Banjar Kalsel Indonesia ๐ฎ๐ฉ
Keterangan :
DPW Provinsi / DPN Perwakilan yang di anggap PASIF akan di Gantikan dengan Pengurus Baru tepat Ulang Tahun / MILAD MAKTAB NANGQ 1857 yang Ke 168 tanggal 12 April 2025 M - 1446 H
Bagi yang berminat dapat menghubungi KANTOR SEKJEN MAKTAB NANGQ 1857 DEWAN PIMPINAN PUSAT PONTIANAK JALAN SUNGAI DURI
WA : 0895 3207 06315
Wasiat Sultan Syarif Hamid I Bin Sultan Syarif Usman Alkadri Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Bin Sayid Husein Bin Ahmad Alkadri jamalullail kepada anaknya Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri dan anak cucu - cicit Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri "" PEMEGANG AMANAH""
Biar Pecah di perut dari pada Pecah di Mulud dan jika tidak bisa menyimpan Rahasia maka lebih baik di Bakar
Kami hanya mengijinkan hanya untuk melihat salinannya saja dan bukan aslinya dan itu tidak mengapa di lihat khalayak Ramai, akan tetapi Sebaik - baiknya amanah sampaikan saja seperlunya agar tidak menjadi fitnah,
Bagi yang percaya bearti mereka mendapat Petunjuk dan Hidayah sedangkan bagi yang tidak percaya mereka akan mengabaikannya dan berhati - hati lah kamu dengan orang yang percaya tetapi sebenarnya mereka ragu, sehingga mereka akan berusaha untuk melihat dokumen aslinya, maka itulah orang munafik maka tinggalkanlah mereka, agar kamu (pemegang Amanah) tidak terpedaya oleh mereka
MAKTAB NANGQ 1857 MENUJU INDONESIA EMAS
MAKTAB NANGQ 1857
DEWAN PIMPINAN PUSAT PONTIANAK
Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
Jalan Seliung
Seting Louyat dan Hak Cipta ada Pada :
MAKTAB NANGQ 1857
Di Lindungi Undang-Undang
Minggu 2 Pebruari 2025 M / 3 Sya'ban 1446 H
17 : 24 WIB
BERBUAT DALAM SENYAP
SEMBOYAN MAKTAB NANGQ 1857 MELINTANG PATAH MEMBUJUR LALU