PANGLIMA MANGKU SYARIF ABDULLAH., MAKTAB NANGQ 1857 PANGERAN BENDAHARA TUA SYARIF JA'FAR BIN SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI KESULTANAN KADRIAH PONTIANAK, KANTOR PUSAT JALAN SELIUNG
PANGLIMA TERBANG MANGKU MERAH
SYARIF ABDULLAH BIN SULTAN SYARIF
ABDURRAHMAN ALKADRI DARIT
Panglima Terbang Mangku Merah Tujuh Syarif Iskandar Jalan Raya Sungai Duri bin Ali Al Alkadri Sengkubang bin Ibrahim (Gandu) bin Lebai Hasan bin Wan Said (Wan Daeng Tondreng dari gelar istri) bin Ahmad bin Panglima Terbang Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Jabatan :
Istri Panglima Terbang Mangku Merah VII Syarif Iskandar Alkadri
Anak Kandung :
Syarifah Sintia Isnanda Alkadri
Panglima Terbang Mangku Merah VIII
Syarif Candra Maulana Bin Syarif Iskandar
Alkadri Sungai Duri Bengkayang
Pewaris Ketua Sekjen Maktab NanGq 1857 Pusat
Syarif Noviandika Fahraja Alkadri
REGISTRASI : 36. 763. 64. 20
PANGLIMA MANGKU SYARIF ABDULLAH BIN SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRI
Terkenal sebagai :
PANGLIMA TERBANG MANGKU MERAH SYARIF ABDULLAH BIN SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRI
Lahir : Sambe 27 Rajab 1183 H - 1762 M
Wafat : Darit 3 Julhizah 1262 H - 1841 M
Makam : Pemakaman Tua Darit Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak (Pemekaran dari Kabupaten Pontianak)
Ayah Kandung : Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Pintu Gerbang Selamat Datang Kabupaten Bengkayang di Sungai Duri Kecamatan Sungai Raya Kelurahan Sungai Duri
Ibu Kandung : Nyai Parabu Khodijah Binti Husein Jamalullail (Istri Husein Jamalullail adalah Ratnah setelah masuk Islam menjadi Inche Ratnah Etnis Daya Majang Sambe
Istri :
1. Istri Pertama : Inche Utin Kamilah binti Ranca Gandung bin Syarif Ali (Gusti Jaladri Pangeran Mangku Sompak sebelum Pahuman (Sayid Syech Ali Jaladri Adeni Qaulan Jazirah) bin Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Anak :
37.1. Syarif Ahmad bin Abdullah Alkadri Panglima Terbang Mangku Merah
Karena istri pertama ini jika hamil sering ke guguran hingga tiga kali maka Panglima Terbang Mangku Merah Syarif Abdullah Alkadri memutuskan untuk menikah lagi dan melarang istri pertamanya untuk melahirkan kembali sehingga anaknya tunggal Syarif Ahmad Alkadri saja
2. Istri Kedua : Utin Fatimah binti Gusti Muhammad, Gusti Muhammad adalah anak dari Raja Ngabang, Raja Polang Paling ke VIII Delapan cicit dari Raja Abdul Kahar yang memerintah dari tahun 1830 M - 1875 M
Akan tetapi istri yang kedua juga tidak melahirkan anak sehingga dari Kedua istri Panglima Terbang Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie hanya memiliki seorang anak saja
Yaitu : Panglima Mangku II Syarif Ahmad bin Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Panglima Terbang Mangku Merah Wiranegara Tujuh Syarif Mulyadi Alkadri MA Jalan Pramuka Sungai Rengas Pontianak bin Syani bin Muhammad bin Wan Tambi (Daeng Bosang di ambil dari gelar istri, Andi Bosang adalah salah satu cucu Raja dari Gowa Sulawesi) bin Wan Said (Wan Daeng Tondreng di ambil dari gelar istri) bin Syarif Ahmad bin Panglima Terbang Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Panglima Terbang Mangku Merah
Wiranegara VIII Syarif Muhammad Edo
Saputra Bin Syarif Mulyadi Alkadri. MS
Pewaris Sekretaris Sekjend Perlindungan Konsumen Maktab NanGq 1857 Pusat
Keturunan Panglima Mangku Merah Syarif Abdullah Alkadri banyak terdapat di.Natu Layang , Perkampungan Arab, Beting, Tanjung Raya I dan II dekat dengan Istanah Kadriah Pontianak, Sungai Rengas Kakap, Karangan, Menjalin, Ngabang, Sengkubang, Sungai Duri, Kapuas Hulu dan di luar Boeneo Barat
Sejak usia 17 tahun Panglima Mangku Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Masjid Al - Ikhlas Darit Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak tidak jauh dari Masjid in terdapat Makam Tua Muslim, Di lokasi makam tersebut terdapat Makam Panglima Terbang Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie di batu nisan tinggal tersisa ukiran Bulan bintang saja juga terdapat makam istri Inche Utin Kamilah.Ranca Gandung bin Syarif Ali Jalidri Gusti Jaldri Adeni Qaulan Jazirah bin Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
sangat menyenangi ilmu - ilmu olah kanuragan termasuk ilmu telepati yang berhubungan dengan tenaga dalam dan mahkluk - mahkluk ghaib
Hal ini salah satu penyebabnya beliau lakukan karena banyaknya kuburan Pantak di kampung mereka Darit, Kuburan Pantak tersebut tidak boleh di ganggu sebab sangat berbahaya bisa menyebabkan kematian
Panglima Terbang Mangku Merah Negara Tujuh Syarif Razikin Jalan Raya Sungai Duri bin Ali Alkadrii Sengkubang bin Ibrahim (Gandu) bin Wan Hasan Lebai Hasan bin Said (Wan Daeng Tondreng gelar dari istri) bin Syarif Ahmad bin Panglima Terbang Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Panglima Terbang Mangku Merah Negara
VIII Syarif Dendra Filano Bin
Syarif Rajikin Alkadri
Dari rasa penasaran tersebut membuat Panglima Mangku Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie ada ke inginan untuk menyelidiki secara diam - diam setiap ada kematian dari etnis Dayak, Sehingga jika ada kematian selalu hadir bukan bertujuan untuk bela sungkawa melainkan hanya untuk menyelidiki saja, sehingga setiap ada kematian dari etnis Dayak ini selalu hadir dan ingin tahu bagaimana cara ritual yang mereka lakukan, dari hasil pengamatan yang beliau lakukan sehingga dapat di ketahui tentang kebaikan dan keburukan dari ritual mereka terhadap mayit beberapa poin sebagai berikut :
1. Adanya pemasangan Pantek atau Pemantik yang suatu saat bisa meluncur jika seseorang melewati kuburan tersebut, sebagai peluncurannya di gunakan media gaib (hantu Dayak) maka setiap selesai acara penguburan mereka melakukan jongan Untuk memanggil Leluhur mereka untuk menjaga kuburan tersebut yang mereka sebut dengan Pantak yang di kenal sebagai (Hantu Pantak) biasanya jongan di lakukan selama tiga hari berturut - turut sampai Pemantek tersebut berpungsi, jika Pemantek gaib tersebut tidak bisa berpungsi atau belum berpungsi, maka mereka melakukan alternatif kedua yaitu :
2. Dengan memasang Ranjau Pemantek di Enan penjuru Kuburan yang di timbun di dedaunan atau di timbun di dalam tanah, Pemantek tersebut terbuat dari busur bulu yang di rendam dengan Racun Kalajengking jdi pasang berjarak 1 Meter keliling kuburan tersebut, agar ketika keluarga mereka mendatangi kuburan tidak terinjak Pemantek maka mereka mendatangi kuburan berjarak dua Meter sesuai dengan Tradisi sudah di beri tau, sebab biasanya suku Dayak asli yang beragama Animesme (Agama Kepercayaan kepada leluhur mereka penguburan seperti itu yang mereka lakukan), karena biasanya kuburan mereka apa saja yang di pakai di masukan di dalam kuburan seperti perhiasan, Mandau, tombak, pedang dan pakaian mereka, agar tidak di bongkar cara melakukan pengamanan kuburan mereka lakukan, maka kuburan tersebut di buat Angker, sebat jika busur Pemantek yang gaib atau yang asli mengenai seseorang langsung bisa meninggal di tempat karena busur panah beracun, sedangkan Pemantek gaib jika dalam tiga hari tidak di obati yang memasang panak mereka akan sakit merayu - rayu hingga menuju kematian
Panglima Mangku Negeri Tujuh Syarif Muhammad Taufik bin Ali bin Ibrahim (Gandu) bin Lebai Hasan bin Ahmad bin Panglima Merah Mangku Terbang Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Deiringan masuknya Belanda dan Portugis di Pulau Kalimantan, mereka banyak memeluk agama Katolik dan Kristen sehingga tradisi berbahaya tersebut mulai mereka tinggalkan hanya Penduduk yang masih sangat Primitif pedalaman saja yang masih mengunakan Pantak tersebut apalagi etnis Dayak juga sudah banyak beragama Islam, maka mereka sudah banyak meninggalkan ritual tersebut., hanya saja ritual adat gaibnya tetap mereka lakukan terutama yang beragama Katolik dan Kristen
Sedangkan Etnis Dayak yang beragama Islam membuang semua ritual tersebut tetapi tradisi adat tetap mereka pakai hanya dalam pertemuan adat tertentu saja
Sehingga saat ini hanya bisa di temukan Pantak - Pantak yang sudah ratusan tahun dan Pemantek buatan tidak berpungsi lagi demikian juga Pemantek media gaibnya juga hampir tidak berpungsi karena ritualnya tidak di kerjakan lagi
Akan tetapi jika lewat masih bisa demam atau sakit ringan yang bisa di obati
Dari hasil penyelidikan Panglima Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, bahwa kuburan Dayak sebenarnya sama saja dengan kuburan lain pada umumnya hanya di buat Angker oleh suku - suku adat mereka agar kuburan tersebut tidak di bongkar atau di ganggu untuk mengambil barang - barang yang ada di dalam kuburan
Dengan banyaknya mereka beragama sehingga ritual tersebut mereka tinggalkan dan tidak lagi membawa barang - barang tersebut melainkan di simpan di rumah sebagai kenangan peninggalan atau di bagikan dengan keluarga dan sanak saudara mereka atau tetangga mereka, karena tradisi tersebut mereka meniru dari cara agama Islam jika ada kematian dari orang - orang Islam mereka juga hadir dan mengamati sehingga cara tersebut mereka tiru, bagi umat Islam saat itu di sebut Sedekah agar pahala yang meninggal terus mengalir, maka mereka juga ikut pemahaman tersebut sekalipun mereka beragama kristen atau katolik
Sehingga menjadi tradisi baru dari Suku - suku Dayak
Panglima Terbang Mangku Merah Enam Syarif Ali bin Ibrahim (Gandu) Alkadri Sengkubang bin Lebai Hasan Bin Ahmad bin Panglima Terbang Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Makam Sengkubang
Melihat ke adaan tersebut Ahirnya Panglima Mangku Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie belajar mendalami Ilmu Tasawuf untuk tarekat untuk mencapai hakekat dan ma'rifat tasawuf tersebut yang beliau pahami adalah Tarekat Kadriah karangan Tiga bersaudara yaitu ""Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Pangeran Tuan Bujang Syarif Alwi dan Panglima Laksamana I Abu Bakar Alkadri yang bisa lebih cepat Hadil ya dari pada tarekat - tarekat lainya, sebab jarak generasi hanya beliau ayah dan datonya Sayid Husein Alkadrie yang di anggap memiliki banyak Karomah yang bersipat nyata bukan karomah tipuan muslihat berupa pandangan mata yang tidak berwujud
Sehingga dalam waktu yang singkat Panglima Mangku Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie memiliki kelebihan yang sangat luar biasa, hanya dengan bermodalkan Syahadat, Sholawat dan ayat - ayat terpendek beliau mampu membuat sesuatu meluncur seperti Busur panah dengan cahaya yang terang di malam hari mirip bintang Komed atau batu meteor yang meluncur di angkasa
Sehingga di jadikan beliau sebagai mainan yang sering di lakukan di malam hari, suatu ketika seseorang datang kerumah beliau meminta bantuan karena sering di sakiti, Panglima Mangku Syarif Abdullah Alkadrie bertanya sebab - sebabnya, setelah di jelaskan maka mereka meminta agar mengembalikan penyakit yang di kirim setelah merenung agak lama untuk memberikan jawaban Ahirnya beliau mendapat cara mungkin ilmu yang sering di gunakan untuk mainan ini bisa di gunakan untuk mengembalikan kiriman seseorang
Syarifah Aminah Batu Layang binti Wan .Said Alkadri (Tulong) Kampung Arab Pontianak, Keturunan Panglima Terbang Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Ibundah Panglima Laksamana Wierelses Tujuh Syarif Abdullah Alkadri Pasuruan Bangil Jawa Timur
Ahirnya beliau menyetujui dan mencoba membuat caranya dengan memasukan senjata tajam seperti pisau lipat, Silet dan jarum yang di bungkus dengan kain putih kemudian di luncurkan dengan bantuan media tersebut, dan ternyata berhasil maka sejak saat itu terkenal dengan nama Tujuh, kemudian berkembang menjadi santet dan sihir, sehingga ilmu putih tersebut menjadi ilmu hitam karena di gunakan untuk menyakiti seseorang
Mendengar kejadian demikian maka banyaklah orang - orang yang merasakan dirinya di sakiti seseorang mulai belajar ilmu ini selain tujuan untuk bermain - main saling mengetes ke ilmuan ada juga di gunakan untuk sarana pengobatan sehingga ilmu ini bisa di gunakan untuk kebaikan dan keburukan
Suatu saat Raja Polang Paling ke VIII Ngabang cicit dari Raja Kahar Muzakir di sakiti oleh seseorang beliau meminta bantuan ke Panglima Mangku Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, setelah Raja Nanang menceritakan yang terjadi pada dirinya, maka setelah membantu kesembuhan Raja 1830 M - 1875 M, dengan mengunakan media mangku merah yang berisikan darah dan ternyata Raja sembuh, maka sejak saat itu beliau di panggil oleh Raja Polang Paling ke VIII dengan panggilan ""Panglima Terbang Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Kemudian Raja mengangkat beliau sebagai ""Tabib Istanah di zKetajaan Ngabang" Panglima Mangku Syarif Abdullah Alkadri bersedia tetapi dengan catatan tetap berada di Darit jika di perlukan gunakan saja ilmu terbang ini sebagai media komunikasi sebagai pemberi tahu agar beliau bisa hadir di Ngabang maka Raja menyetujui syarat tersebut, maka Panglima Mangku Syarif Abdullah Alkadri mengajarkan Raja Ngabang ilmu tersebut sehingga Raja Ngabang menjadi mahir mengunakanya
Sejak nama beliau terkenal sebagai Panglima Terbang Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, banyak dari kalangan Etnis Dayak belajar ilmu tersebut terutama para pemuka adat, sehingga dengan keberhasilan tersebut ilmu tersebut di jadikan ""Mangku Merah Terbang" yang di tambah tradisi adat daya dengan "Ilmu Siul Mereke yang di kenal sebagai Triu, yang artinya jika Triu sudah berbunyi bearti Mangku Merah akan bergerak sehingga pada tahun 1840 M di bentuklah Pasukan merah pertama dan Ilmu ini digunakan pertama kali pada saat melawan pemberontak Lo Tepak Cina di Mandor dengan nama ""Demontrasi Cina Pertama"" pada tahun 1855 M untuk mengusir etnis Cina Lo Tepak dari Mandor, Salah Tiga, Kayu Tanam, Sebadu, Senakin Toho, Darit, Anjungan, Karangan, Pahuman, Darit, Goa Boma, Bengkayang sehingga rumah - rumah panjang milik cina di kuasai orang Dayak dan Melayu yang kemudian di kenal sebagai "MELDA" Perang Melayu Dayak melawan Cina kemudian di kenal dengan ""Demontrasi Cina Pertama 1855 M) di mana saat itu Kesultanan Kadriah Pontianak Sultan Syarif Usman Alkadri tidak ikut campur atas peristiwa tersebut
Dengan tidak ikut campurnya Sultan Syarif Usman Alkadrie, maka wilayah tersebut di serahkan oleh Belanda sebagai wilayah kekuasaan Kesultanan Kadriah Pontianak hingga sampai batas simpang Darit yang menjadi batas Kerajaan Ngabang dengan Kesultanan Pontianak, kemudian tindakan tersebut juga di setujui pemuka adat Dayak karena walaupun Kesultanan Kadriah Pontianak tidak ikut andil tetapi Keturunan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie telah berperan penting mewariskan ""Mangko merah Terbang" kepada pemuka adat Dayat yang kemudian di kenal sebagai""MANGKU MERAH"
Makam Syarifah Aminah binti Wan Said Alkadri (Wan Tulong)
Lahir : Cemaga Nstuna, 4 Desember 1943 M dan
Wafat : Batu Layang, Kamis 25 Juli 2024 M
Makam : Batu Layang Komplek Pemakaman Kesultanan Kadriah Pontianak
Ketika terjadi serangan di wilayah Darit, Karangan, Pahuman, Senakin, Sebadu, Mandor, Salah Tiga, Kayu Tanam, Pa Bulu, Anjungan, Sagatani, Gua Boma, Gua Boma, Bengkayang pertama kalinya ""MANGKU MERAH " di gerakan pemuka dan suku adat Dayak tidak ingin melibatkan Panglima Mangku Terbang Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie karena di anggap Sesepuh dan Mahaguru mereka sehingga tidak boleh mengikuti pertemuan tersebut mengingat pihak Belanda juga tidak melibatkan Kesultanan Kadriah Pontianak 1845 M - 1855 M, cukup mereka saja Pasukan Merah dengan Mangku Merahnya dan Pasukan Kerajaan Ngabang di bantu juga dari Kerajaan Mempawah, Sehingga Kesultanan Kadriah Pontianak bersipat Netral
Setelah berhasil memukul mundur orang - orang Cina dan menewaskan Loteva maka pihak Kerajaan Mempawah meminta agar Pajak tidak di pungut di Kerajaannya Nol Persen maka Kerajaan Ngabang juga menuntut hal yang sama, maka tuntutan tersebut di kabulkan akan tetapi wilayah yang di kuasai lebih luas dari Kerajaan Mempawah dan Ngabang di masukan sebagai Wilayah Kesultanan Kadriah Pontianak dengan perjanjian Kesultanan Kadriah Pontianak hanya menerima 35 % dari pendapatan pajak, pihak Kesultanan Kadriah Pontianak menyetujui sehingga Wilayah Kesultanan Kadriah Pontianak hingga sampai ke Bengkayang, Gua Boma, Sagatani yang berbatasan dengan Singkawang membuat murka Kerajaan Mempawah
Sementara Kerajaan Ngabang tidak mempermasalahkan hal tersebut demi menjaga hubungan baik dengan orang yang mereka Sepuhkan Panglima Mangku Syarif Abdullah Alkadrie yang di anggap sebagai Tabib, Penasehat, sekaligus guru yang di tuakan oleh Raja Ngabang yang telah berjasa membuat diri beliau tidak bisa di tembus oleh ilmu + ilmu sanget karena belajar kepada Panglima Mangku Syarif Abdullah Alkadri yang merupakan adik kandung Sultan Syarif Usman Alkadrie dari ibu yang berbeda
Sehingga Wilayah Kesultanan Kadriah Pontianak menjadi Kesultanan yang terbesar dan terluas di Kalimantan Barat saat itu, artinya dengan tidak ikut andillnya Kesultanan Kadriah Pontianak membuat orang - orang cina dari Naga Merah, Naga Emas dan orang - orang Lotepa dan Cina biasa yang tidak mengetahui apa - apa semuanya mengungsi di Pontianak dalam lindungan Kesultanan Kadriah Pontianak dan pihak Belanda juga tidak menyerang penduduk yang mengungsi di Pontianak selain itu mereka juga mengungsi di Singkawang dan mendapat Perlindungan dari Kesultanan Sambas dengan catatan tidak membuat onar di kedua Kesultanan tersebut, Sehingga mereka tertumpuk atau terbanyak di Pontianak dan Singkawang, Sementara etnis Cina Sungai Duri di larang oleh Sultan Sambas ikut - ikutan membantu Lotepa jika mereka masih ingin tinggal di Wilayah Kesultanan Sambas maka Sungai Duri aman dari Serangan Mangku Merah, Kerajaan Mempawah dan Kerajaan Ngabang saat itu
Peristiwa Lotepa merupakan sejarah kelam etnis Cina yang ada di Kalimantan Barat jika mereka tidak mendapat perlindungan dari Kesultanan Kadriah Pontianak dan Kesultanan Sambas kemungkinan besar mereka tidak ada lagi di Kalimantan Barat karena tidak ada tempat lagi untuk berlindung sebagai tempat tinggal, sejarah kelam tersebut hingga saat ini membuat etnis Cina tidak berani membuat ulah di Kalimantan Barat.
Pada tahun 1937 M di Segedong Etnis Cina juga sempat membuat ulah kembali tetapi mereka di bantai hanya empat orang menewaskan lebih dari 300 orang etnis Cina karena berbuat semena - mena di Segedong mereka adalah Pangeran Bendahara IV Syarif Usman Alkadrie dengan Anaknya Pangeran Bendahara V Syarif Ahmad Alkadri (Terkenal dengan Ahmad Kampak) dan dua orang muridnya Abdullah Pedang dan Ci Pate nama Ci Pateh di abadikan dengan nama Nusapati (Sekarang Desa Nusapati Kecamatan Sungai Pinyuh makam Ci Pate juga di Nusapati), sementara makam Abdullah pedang berada lokasi gunung Penyiraman di mana lokasinya terdapat pohon durian, akan tetapi dalam peristiwa tersebut Pangeran Bendahara V Syarif Ahmad Alkadri terpukul oleh Kampak di batang hidungnya oleh orang cina sekalipun tidak terluka tetapi menyisakan luka dalam sehingga menjadi sengong dan harus di sumbat dengan Kapas jika akan mengajar mengaji
Makam Wan Syarif Ahmad Alkadri (Tatong) bin Wan Said Alkadri (Tukang) bin Syarif Ismail Alkadri (Wan Meng Katok) bin Syarif Ahmad bin Panglima Terbang Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Makam : Pemakaman Wan Keme' Tanjung Raya II Pontianak
Pada tahun yang sama yaitu 1845 - 1855 M juga terjadi di wilayah Pasir Putih yang wilayah tersebut Sengkubang., menurut etnis Cina Ho'lo Sengkubang mengandung arti susun Bangkai / atau Bangkai yang di susun sampai membeku seperti es ini di lakukan oleh Syarif Abu Bakar bin Muhammad bin Sultan Syarif Kasim bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie atau keturunan Sultan Syarif Kasim Alkadrie yang tinggal di Sengkubang sehingga Syarif Abu Bakar bin Muhammad bin Sultan Syarif Kasim Alkadrie terkenal sebagai Panglima Berdarah Dingin Sudun Bangkai Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Kasim Alkadrie, karena beliau setelah membunuh mayat - mayat etnis Cina tersebut kemudian di susun meninggi sehingga di sebut sudun bangkai sampai menyisahkan kerang tulang belulang baru di pendam sejak saat itu beliau menjadi orang yang di takuti dan di segani di Sengkubang, makam beliau juga terdapat di Sengkubang sebagai sesepuh Sengkubang saat itu
Syarif Ilyas Alkadri salah satu keturunan dari Panglima Susun Bangkai Berdarah Dingin Syarif Abu Bakar bin Muhammad bin Sultan Syarif Kasim bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Anjungan Melancar Galang
Panglima Syarif Abu Bakar bin Muhammad bin Sultan Syarif Kasim bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie beliau awalnya merupakan seorang ulama dan sesepuh agama Islam yang sangat di segani karena memiliki sikap yang tegas keturunan Panglima Syarif Abu Bakar bin Muhammad bin Sultan Syarif Kasim banyak yang menikah dengan keturunan Panglima Mangku Syarif Abdullah Alkadri sehingga kedua keluarga ini banyak terdapat di Sengkubang
Salah satunya adalah Panglima Tombak Putih Syarifah Salbiah binti Ahmad bin Panglima Terbang Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri makam Ogol Anjungan dekat dengan makam Pangeran Bendahara II Syarif Usman bin Pangeran Bendahara I Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
Menikah dengan Syarif Kasim Ibnu bin Hasan bin Panglima Berdarah Dingin Syarif Abu bakar bin Muhammad bin Sultan Syarif Kasim Alkadri makam Syarif Kasim Ibnu terdapat di Pemakaman Tua Muslim di Karangan Kecamatan Mempawah Hulu
Dengan pernikahan tersebut sehingga terjalin hubungan kekerabatan dan kekeluargaan yang sangat erat hingga sekarang
Panglima Terbang Mangku Merah Negara Tujuh Syarif Rajikin Ali Alkadri
Dengan terkenalnya ilmu yang di miliki Panglima Terbang Mangku Merah Satu Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri maka rumah beliau di Darit hampir setiap hari di kunjungi para orang - orang yang ingin belajar dengan beliau dari berbagai etnis
Termasuk juga dari Ketapang Matan, Ketapang Kayong, Ketapang Sukadana, Ketapang Simpang, yang setelah mereka berhasil mempelajarinya maka sebagai media yang di gunakan adalah bentuk layang - layang yang bisa meluncur di malam hari sehingga di jadikan bahan mainan, siapa yang terjatuh lebih dahulu mereka harus membayar , sehingga lebih sering di kenal sebagai tujuh dan akan terjatuh jika terlihat mata maka sebutlah tujuh dengan cara menunjukkan jari ke cahaya tersebut maka dengan sendirinya akan terjatuh, jangan membaca ayat - ayat pendek seperti Al - ihklas, Al - Falaq atau Al - Anas, sebab salah satu darat untuk menerbangkanefia tersebut adalah dengan membaca ayat - ayat tersebut, maka dengan membaca ayat-ayat tersebut justru semakin laju untuk menghantam sasaran, sebab media tersebut hanya akan terjatuh jika di tunjuk dan fi sebut Tujuh karena itu satu - satunya cara untuk menjatuhkan sebab sebagai pemutus benang layang ghaib dari media tersebut,
Sementara murid - murid yang berasal dari Segedong yang berhasil mempelajarinya mengunakan bahan utama sebagai media adalah Racun, sehingga wilayah Segedong sangat terkenal dengan Racun terbangnya, cara memutuskan juga sama dengan menunjuk pantat gelas agar media gaib tersebut menjadi luntur / terputus dehingga Racun ghaib yang dudah masuk di dalam gelas menjadi air biasa, akan tetapi banyak justru orang yang tidak memahami dan takut lalu tidak mau meminumnya air karena takut, sehingga racun tujuh yetsebut mengenai sasaran, maka bagi yang mengetahui sebenarnya cukup menunjuk air tersebut dan mengetuk pantst gelasnya maka racun ghaib tersebut akan musnah artinya ilmu - ilmu tersebut memiliki kelemahan tersendiri
Dengan banyaknya murid -murid yang menyalahgunakan ilmu tersebut sehingga terkenal sebagai ilmu hitam yangdii debut bermacam - macam sebutan seperti Tujuh, Santet, Tebing, Racun terbang,
Akhirnya di sebut Ilmu Hitam sedangkan media - media untuk menerbangkannya adalah syst - ayat pendek yang terdapat di dalam Alquran
Bahkan yang lebih parah justru ada yang bersekutu dengan Jin dan Siluman sehingga menjadikan sebuah kemusrikan dengan media tetsebut mereka menerbangkan bangsa-bangsa Jin, Siluman untuk masuk fi dalam tubuh manusia di kalah seseorang sedang tidur terlelap sehingga sangat mudah masuk di dalam tubuh manusia sehingga bangsa Jin dan Siluman bersarang di tubuh manusia, ketika Jin yang di kirim fi dimasa maka tubuh manusia yang di raduki bangsa Jin atau Siluman tubuh manusia juga akan ikut tersakiti
Ilustrasi media yang di gunakan ilmu Santet di abad Modern semakin jauh dari Aqidah, ayat - ayat Al - Quran di salah gunakan sehingga menimbulkan kebinasaan bagi umat manusia sehingga pelakunya di sebut dukun santet, sebuah Penyelenggaraan Aqidah bagi orang - orang yang telah menyesatkan diri orang lain dengan cara menyakiti mereka
Maka ketika tidur Panglima Terbang Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri mengajarkan jika ingin tidur agar selamat dari Santet Tuju,h, Siluman, Tenung, Guna - guna dengan media apapun termasuk tusuk boneka pemutisnya adalah bacalah Syahadat Tujub Kali, Sholawat Tujuh Kali dan Surat Sl - Fatikha Tujuh kali, Maka jika tujuan seseorang ingin menyakiti, membunuh, meracun maka barang yang di kirim tidak akan bisa berfungsi, dan justru bisa berbalik menyerang diri sendiri atau mengenai orang lain yang mbaca ayat - ayat pendek yang menjadi media peluncuran Santet dan sejenis tersebut
Santet adalah sebuah media yang di lakukan untuk menyakiti seseorang dengan mengunakan media gaib yang sebenarnya sudah terjadi di Jaman Nabi Adam Alsohi Salam., Orang yang pertama mengunakan Media Santet adalah Qobil yang ingin membunuh adik kandungnya Nabi Shits Alaihissalam
ketika mendengar bahwa Malaikat Jibril Alaihissalam mendatangi Nabi Adam Alaihissalam agar memerangi Qobil yang telah menyekutukan Tuhanya dengan membuat patung - patung dan bara api untuk di sembah, mereka telah bersekutu dengan iblis untuk terus menyesatkan keturunan Nabi Adam Alaihissalam., maka Allah Subhanahu wa Ya Ala memerintahkan melalui perantara Malaikat Jibril Alaihissalam agar anaknya Nabi Shits Alaihissalam memerangi dan membunuh Qabil agar kampungnya tidak fi turunkan Akan, sehingga terjadilah persng yang berlangsung selama 100 tahun dan ahirnya Qabil dan seluruh pengikutnya berhasil fi tumpas oleh pasukan Nabi Shirt Alaihissalam
Sekitar tahun 1975 M - 2000 M ilmu sejenis ini sudah di anggap jarang terjadi, tetapi setelah di atas tahun 2000 M hingga sekarang justru ilmu ini semakin menggila bahkan di kota - kota besar seperti Jakarta semakin membabi buta karena banyaknya manusia yang jauh dari Syariat Islam, sehingga ketika dirinya merasakan tersakiti oleh orang lain atau kalah dalam bisnis mereka mulai mengunakan cars - cara yang bertentangan dengan Aqidah Islam
Pada semua ilmu fi hadapan Allah Subhanahu wa Ta Ala adalah baik tergantung manusianya untuk kebaikan atau keburukan
Sehingga ketika sebuah ilmu di gunakan untuk keburukan maka yang tampil adalah Iblis dan Jin serta Siluman yang mempengaruhi jiwa manusia, karena makanan Jin dan Siluman kapir adalah Sukma dan darah segar manusia, sebab bangsa ini ketika masuk mereka akan merusak jaringan darah manusia sehingga manusia akan tersakiti
Maka ketika keluarga Kerajaan Ngabang Landak mendapat kiriman ilmu - ilmu gaib tersebut belisu meminta bantuan Panglima Mangku Syarif Abdullah Alkadri untuk mengobati dan menamgkalnya
Maka Panglima Mangku Syarif Abdullah Alkadri mengajarkan cara -cara untuk memutus pungli Ilmu tersebut
Semenjak Raja mengetahui cara memutuskan pungli ilmu tersebut dalam beberapa Periode Kepemimpinan Kerajaan keluarga Kerajaan terbebas dari Ilmu - ilmu Santet tersebut, karena tujuan utama pelaku adalah untuk menghancurkan Kerajaan
Mangku Merah merupakan alat tradisi Dayak untuk menghubungkan ke pada leluhur mereka untuk mengerakanya, apa bila mamgku ini bergerak dan bisa terbang brarti leluhur mereka mengizinkan untuk mengerakanya
""Pasukan Merah Mereka dan Apabila Mangku Merah ini tidak mau bergerak dan meluncur terbang, berarti belum di inginkan untuk mengerskan Pasukan Merah mereka ""
Mangku Merah isinya tidak selalu sama tergantung di gunakan untuk apa, jika untuk berperang maka yang di keluarkan mangko Merah berwarna darah dan di masukan barang dan syarat berwarna merah, artinya Pasukan. Merah di siapkan untuk berperang dan membunuh terhadap oi rang - orang atau segerombolan masyarakat yang akan berbuat gaduh dan kerusakan
Jika mangko Merah yang tidak berwarna darah dan lebih cenderung berwarna ke kuning- kuningan bearti Pasukan Merah di gerakan untuk kedamaian dan menjaga Stabilitas Pulau Kalimantan, artinya mangko Merah bergerak sesuai dengan kebutuhan masyakat Kalimantan termasuk juga untuk mengamankan suatu acara pesta adat perkawinan dan acara - acara tertentu sebuah pertunjukan keramaian termasuk adat naik dango etnis Dayak dalam panen padi dan sejenisnya, jadi mangko Merah banyak pungsinya bagi masyarakat Dayak
Mangku Merah dalam perjalanan Waktu jika mengerjakan pasukanya sudah merupakan "" Panggilan Maut Suku Dayak ""
Maka siapa saja yang melawan akan di libas karena mereka bergerak atas perintah arwah leluhur mereka yang di gabungkan dari berbagai macam ritual adat sehingga ketika sebuah etnis yang ingin merusak atau merebut Pulau Kalimantan mereka akan bergerak serempak untuk melibas perusak - perusak tetsebut
Sebab itu para sesepuh adat Dayak tidak mau smbarangan melibatkan atau mengatakan Mangku Merah karena menurut mereka, mengerskan Mangku Merah brarti ada yang akan terluka, terpenggal, msti, meninggal atau terbunuh karena Mangku Merah sudah menjadi tradisi adat pemersatu Dayak sebagai Panggilan Maut dari etnis Dayak yang tidak bisa terbantahkan
Setiap Provinsi di Kalimantan mereka memiliki pemangku Adat atau sesepuh adat yang di patuhi kemudian para Panglima siap bergerak untuk melaksanakan panggilan Maut tersebut
Apakah Pasukan. Mangku Merah hanya dari etnis Dayak saja, sepanjang catatan sejarah tidak semua Pasukan merah dari etnis Dayak melainkan mereka - mereka sebagai penduduk asli Kalimantan yang peduli tentang ke amanah Pulau Kalimantan dapat bergabung bahkan Pasukan merah dari Kalimantan Yimur menurut catatan dan keterangan dari para Panglima yang ada di Kalimantan barat mereka mayoritas beragama Islam
Ketika terjadi Pergolakan tahun 1997 M salah satu Panglima Dayak semakin adalah Panglima Abdul Azis menurut keterangan pemula adat Dayak dan Sesepuh adat Dayak Semakin Panglima Abdul Azis adalah keluarga Syarif yang sudah membaur dengan etnis Daysk
Saat melakukan ritual Panglima Abdul Aziz membaca Surah Al - Ihklas, Al - Falaq dan Al - Anas baru melakukan Ritual adat Dayak untuk mengerskan Pasukan Maut
"" Pasukan Merah" ini menunjukkan tradisi adat mereka membaur dengan agama - agama yang ada di Pulau Kalimantan termasuk Islam
Demikian juga Ketika Pangeran Emas Nur Alam Syarif Abdurrahman Alkadri hampir 90 % pasukanya berasal dari Etnis Dayak Matan Ketapang, Landak dan Sanggau
Terutama ketika meledakan meriam untuk menentukan pembangunan Istanah Kadriah Kesultanan Pontianak dan Masjid Kesultanan Kadriah Pontianak dan suara meriam dapat mengusir hantu - hantu Kuntilanak yang berkeliling, dengan dentuman tersebut Kuntilanak anak lari dan meninggalkan lokasi tersebut
Bahkan yang ikut pertama kalnya membangun Masjid Kesultanan Kadriah Pontianak dan Istanah Kadriah Kesultanan Pontianak adalah Tujuh orang dari etnis Dayak
Etnis - etnis Dayak tersebut selain padukan juga ada dari kalangan Keluarga dari Istri etnis Dayak yang di nikahi oleh Pangeran Emas Nur Alam Syarif Abdurrahman Alkadri baik sebelum menjadi Sultan maupun setelah menjadi Sultan dari berbagai suku di antaranya Suku Dayak Majang, suku Dayak Manyuke, suku Dayak Klampayan, suku Dayak Kanayatn dan suku Dayak lainya
MAKTAB NANGQ 1857
Dewan Pimpinan Pusat Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Syarif Ja''far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Pontianak Jalan Seliung
Seting Louyat dan Hak Cipta ada Pada :
MAKTAB NANGQ 1857
Rabu 1 Pebruari 2025 M 15 : 43 WIB