PANGLIMA LAKSAMANA LEAXSA III SYARIF ABU BAKAR.. MAKTAB NANGQ 1857 PANGERAN BENDAHARA TUA SYARIF JA'FAR BIN SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI KESULTANAN KADRIAH PONTANAK. KANTOR PUSAT JALAN SELIUNG



Panglima Laksamana III  Leaxsa Negara Tujuh Syarif Subandi  bin Hamdani bin Muhammad Sya'iman Alkadri Anjungan Perikanan  Mempawah Kalimantan Barat 

PANGLIMA LAKSAMANA LEAXSA TIGA SYARIF ABU BAKAR BIN ABDULAH ALKADRI  Temenggung Banten Ayahnya   Wafat di Banten Makam : Pemakaman Kampung Cianjuk Pandaigelang Banten Sekarang Provinsi Banten

Lahir : Banten  19 Rajab  1205 H -  1784 M dan 
Wafat : Martapura,  3 Rabiul Awwal.1276  H -  1855.M
Dalam Usia :  71 tahun
Maqam : Martapura 

Istri :  Sri Songkoro binti Raden Budiarningrat Azhomatkhon  Al-Bantani  makam :  Martapura 

Baik jalur ibunya maupun jalur istrinya merupakan keturunan dari keturunan Kesultanan Hasanuddin Banten  yang banyak melahirkan keluarga Alkadri dari bersama keluarga Banten sehingga jika di gabung menjadi  ""Albanti Alkadrii" maka Keturunan Panglima Laksamana Tiga Leaxsa Syarif Abu Bakar bin Abdullah Alkadri banyak yang  menyerupai  perawakan Melayu Jawa (MELWA) 

Panglima Laksamana III Leaxsa Tujuh Syarif Satibi bin Hamdani bin Muhammad Sya'iman  Alkadri Perikanan Anjungan Mempawah Kalimantan Barat 

Dalam babat Tanah Banten  dan tradisi setiap ada pernikahan  bangsawan berdarah biru (istilah pembesar dan Ahlulbait tanah Jawa saat itu)  dari kedua mempelai yang berasal dari Bangsawan berdarah biru  baik dari pihak laki - laki dan pihak perempuan  dari Keluarga Besar Panglima Kesultanan Pontianak maupun dari Keluarga Banten dari keturunan keluarga besar Banten  ""Dua darah biru di pertemukan dan keduanya dari Keturunan Ahlulbait Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dari jalur yang sama yaitu Sayidina Husein Wa Fatimah Az-Zahra Binti Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam 

Maka acara pernikahan di laksanakan tujuh hari tujuh malam dengan mengundang kedua belah pihak Kerajaan, pembesar Istanah dan Rakyat Kerajaan, hal ini sudah menjadi suatu tradisi adat dari dua belah pihak Kesultanan yang sudah mentradisi sejak Kerajaan terbentuk, dengan menampilkan dagelan Kerajaan dari pihak Kerajaan yang menyelenggarakan ritual pernikahan tersebut 

Ritual pernikahan di Kesultanan hampir di setiap Kesultanan / Kerajaan umunya jika menyelenggarakan pernikahan para Kerabat yang berhubungan dengan Istanah umunya memang sering mengadakan acara syukuran tersebut hingga tujuh hari itu di anggap paling tercepat biasanya jika Raja atau Sultan yang menyelenggarakan pernikahan justru hingga 40 hari 40 malam dengan tahapan sebagai berikut :

1. Tahapan Persiapan umumnya satu Minggu sebelum acara sudah mendekorasi tempat acara resepsi akan tetapi ini tidak masuk dalam hitungan yang 40 hari tersebut, sebab hanya merupakan tahapan persiapan bahkan bisa lebih jika para Raja / Sultan yang akan menikah

2.  Tahapan Pembersihan calon penganti dalam istilah adat di sebut  "Bertangas" agar ketika bersanding tubuh tetap segar dan wangi ini biasanya di lakukan satu Minggu berturut - turut terkadang sambil di urut - urut oleh Dayang Istanah

Makam Panglima Laksamana Leaxsa Tiga Syarif Abu Bakar bin Abdullah Alkadri Jamalullail Temenggung Banten

Haji Syarif Muhammad Said Alkadri salah satu keturunan Pangeran Cakra Syarif Shaleh bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie ketika berjiarah di makam Panglima Laksamana Leaxsa Tiga Syarif Abu Bakar bin Abdullah Alkadrii Banten, Kaos Kuning

Ketika makam ini belum ada pendopo yang  yang menutup makam ini setiap burung yang lewat di atas makam, maka burung tersebut akan terjatuh 

Hal ini juga di sampaikan oleh Husein bin Smait Surabaya,  pada saat itu tidak ada yang berani menutupi  di atas makam dengan kubah, sehingga atas perintah beliau sendiri melalui mimpi' barulah penduduk membuatkan kubah atas makam tersebut, setelah di tutup dengan kubah barulah tidak ada bangkai burung di makam Panglima Laksamana Leaxsa III Syarif Abu Bakar Alkadri tersebut

Anak - anak Panglima Laksamana Leaxsa Tiga Syarif Abu Bakar bin Abdullah Alkadri Banten., 

Gelar : LEAXSA adalah pemberian dari Keluarga Besar Kesultanan Banten, perpaduan antara bahasa Jawa dan Bahasa Banten  seperti Raden Temenggung Adijaya  Leaxsa  Sungkowo Ningrat  dan lain - lainya  di antara anak - anak tersebut adalah :

37.763.1.  Panglima Laksamana III Leaxsa Empat Syarif Muhammad Sya'iman bin Abu Bakar Alkadri  Laksamana Leaxsa Tiga di antara keturunan ini adalah :

43.763.1. Panglima Laksamana.III  Leaxsa Tujuh Syarif Satibi bin Hamdani Alkadri Perikanan Anjungan Kabupaten Mempawah (Pemekaran dari Kabupaten Pontianak) Kalimantan Barat, dari jalur ibu juga merupakan keturunan dari Banten 

43.763.2. Panglima Laksamana III Leaxsa Negara Tujuh Syarif Sunandi bin Hamdani Alkadri adik kandung  Syarif Satibi Alkadri Perikanan Anjungan Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat 


MAKTAB NANGQ 1857 Dewan Pimpinan Pusat Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Syarif Ja''far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Pontianak Jalan Seliung 

Buka Puasa bersama Keturunan Panglima Laksamana Leaxsa III  Syarif Abu Bakar Alkadri Bin  Abdullah Alkadri di Perikanan Anjungan 9 Romadhan 1446 H / 9 Maret 2025 M

37.763.2. Panglima Laksamana III Leaxsa Empat Syarif Abdillah Makam Jerenjang bin Abu Bakar  Panglima Laksamana Leaxsa III salah satu keturunan beliau adalah :

39.1. Syarifah Siti Aminah binti Abu Bakar Panglima Laksamana IV bin Abdillah bin Abu Bakar Laksamana Leaxsa III., Istri dari Pangeran Bendahara Syarif Usman bin Thoha Kholil Alkadri Keturunan dari Pangeran Bendahara Syarif Ja''far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri kedua makam puncak Gunung Peniraman cicit - cicit beliau dari Jalur Syarifah Siti Aminah Alkadri jalur perempuan adalah :

45.763.1.  Pangeran Bendahara Tua Tujuh Syarif Syariful Nurghllah bin Arif Candra Alkadri  jika jalur perempuan 

45.763.2. Ratu Alif Syarifah Nurul Syariatul Rahmah bin Arif Candra Alkadri  jika jalur perempuan 

45.763. 3. Pangeran. Bendahara Tua Negeri Tujuh Syarif Abdullah bin Arif Candra Alkadri  jika jalur Perempuan 

Pangeran Bendahara  Tujuh Syarif Syariful Nurghllah  Antibar Mempawah bin Arif Candra Alkadri dan Syarifah Nurul Syariatul Rahmah binti Arif Candra Alkadri cicit jalur perempuan Syarifah Siti Aminah binti Abu Bakar Laksamana IV makam Jerenjang bin Abdillah Laksamana Leaxsa Empat bin Abu Bakar Laksamana Leaxsa Tiga 

45.763.4. Pangeran Bendahara Tua Negara  Tujuh Syarif Muhammad Nizal bin Syarif Rabiansyah Alkadri jika jalur perempuan 

45.763.5. Ratu Alif Syarifah Ceria Muhara ih bin Syarif Rabiansyah Alkadri jika jalur perempuan 

45.763.6. Ratu Alif Syarifah Wulandari Putri binti Syarif Rabiansyah Alkadri jika jalur perempuan 

45.7. Ratu Alif Syarifah Putri Syufihilah binti Syarif Jamhari Alkadri jika di ambil jalur Perempuan 

39.2. Panglima Adat Mangku Merah Syarif Herlangga (Dstu Herlang) Sungai List Darit Hulu adik kandung Syarifah Siti Aminah makam Puncak gunung Peniraman bin Abu Bakar Laksamana IV bin Abdillah Laksamana III Leaxsa Empat bin Abu Bakar Laksamana Leaxsa III , makamnya terletak di Sungai Kelik Darit Ulu, karena beliau tinggal di lingkungan Dayak bersama istrinya mualaf ketika Wafat 1939 M -  1360 H, dan tinggal di lingkungan Dayak Primitif dan Kristen Ahirnya di kubur secara adat Dayak dan Kristen karena tidak ada yang tau cara Islam sementara pemukiman Islam Darit di tempuh dengan berjalan kaki hingga dua hari baru tembus di pasar Darit, sehingga terpaksa di kubur dengan cara mereka 

Panglima Laksamana III Leaxsa Negara Tujuh Syarif Subandi bin Hamdani Alkadri.adik kandung  Panglima Laksamana III Leaxsa Tujuh Syarif Satibi Alkadri Perikanan Anjungan Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat 

Hingga saat ini berita tersebut menjadi buah bibir keturunan tersebut sebab anehnya makam tersebut sangat bersih dan sering menimbulkan bsuh yang sangat harum pada hal sekitarnya semak belukar dan hutan, keturunan  ini hampir 75 % saat ini muslim sedangkan sisanya menganut agama Kepercayaan dan Kristen

Ini adalah satu satunya Ahlulbait Muslim yang di kubur secara non Muslim karena beliau termasuk orang yang taat beribadah sehingga masih mewariskan keturunan muslim 75 % walaupun berada di lingkungan Primitif dan Kristen saat itu 

Wan Riansyah salah satu keturunan Panglima Adat Mangku Merah Syarif Herlangga bin Abdillah bin Abu Bakar Alkadri  Laksamana Leaxsa III keturunan ini yang masih menetap di darit

Panglima  Laksamana Leaxsa III Syarif Abu Bakar bin Abdullah Alkadri adalah Panglima yang di tugaskan untuk membantuk Distrik Perdagangan Banjarmasin dalam hal Pengamanan Wilayah Perdagangn Kalimantan Selatan, untuk pengaman tersebut beliau di bantu beberapa keluarga Alkadri lainya dari Keturunan Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Safaruddin Najamuddin Alkadri yang menetap di Banjarmasin seperti :

1. Pangeran Hadikarya Syarif Ghasim Alkadri  yang di kirim ke Nusa Tenggara Timur

2. Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Muhammad Ali / Syarif Ali Alkadri di kirim ke Makasar

3. Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Abdullah untuk wilayah Kalimantan Selatan 

Dan beberapa Panglime dan Pangeran lainya memiliki tugas yang sama hanya di bagi beberapa wilayah, sebab hal tersebut membuat keturunan ini banyak yang menurunkan keturunan di wilayah Distrik tempat mereka di tugaskan

Sedangkan  Panglima  Banten Syarif Abdullah bertiga mengamankan di Wilayah Banten termasuk Jawa Barat

Yang di bantu beberapa Tumenggung dari anak  dan cucu beliau sendiri, tujuan utama tidak lain adalah untuk menyatukan Keluarga  menjalin silaturahmi dan saling mengenal satu sama lainya sehingga ikatan keluarga Alkadri semakin kokoh melalui Distrik - distrik dan menjadikan bisnis Istanah Kadriah Pontianak agar bisa berkembang dengan pesat, merupakan harapan dari Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie sebagai generasi perintis Bisnis Perdagangan tersebut

Panglima Laksamana III Leaxsa Negara VIII Syarif  Muhammad Kholid Abdullah Melancar  Anjungan  bin Subandi Alkadri Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat 

Semua harapan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie tersebut dapat beliau wujudkan hingga ke generasi cucunya saja, tetapi setelah beliau wafat pada tahun 1808 M, maka secara perlahan bisnis Istanah Kadriah Pontianak secara perlahan mengalami kemerosotan karena sudah tidak ada lagi yang memiliki kemapuan seperti Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie 

Ini menunjukan semua anak  dan cucu Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie terpaku kepada Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, sehingga tidak satupun anak - anak maupun cucunya yang mampu meneruskan

 ""CARA KERJA SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRI"" 

Termasuk kedua anaknya Sultan Syarif Kasim Alkadrie dan Sultan Syarif Usman Alkadrii mereka hanya sekedar mampu meneruskan Kesultanan Kadriah 

Ini menunjukan tidak satupun anak - anak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie yang memiliki tingkat ke uletan dan kecerdasan seperti  Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie 

Panglima Laksamana III Leaxsa VIII Syarif Muhammad  Aulia Khadapi bin Subandi Alkadri Anjungan Perikanan Mempawah Kalimantan Barat 

Karena rata. - rata mereka tidak mampu meneruskan perjuangan ayahnya justru sebaliknya banyak harta berharga terutama peninggalan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie di jaman Sultan Syarif Usman Alkadrie di perebutkan anak - anaknya sehingga kekayaan Istanah mengalami kemerosotan yang sangat drastis 

Ahirnya Distrik - distrik yang  sudah terbentuk terpaksa di bubarkan dan di tinggalkan, bagi yang ingin bertahan mereka terpaksa mengunakan modal sendiri dan bagi yang tidak mau meneruskan terpaksa membuat usaha sendiri sesuai kemampuan masing - masing 

Hal ini terjadi karena para Sultan yang berkuasa tidak mau lagi berusaha seperti ayahnya yang di anggap sebagian anak bersipat memaksakan diri

Syarifah  Salsa Zahra Auliya binti Panglima Laksamana III Leaxsa Negara Tujuh Syarif Subandi Alkadri Perikanan Anjungan Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat Indonesia 

Hal tersebut tentu punya alasan tersendiri sebab Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie memiliki banyak istri  dan anak - anak yang menjadi tanggung jawabnya, sebab itu untuk menjamin ekonomi keluarga Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie memiliki banyak usaha terutama usaha perdagangan yang merupakan salah satu usaha yang bisa berkembang dengan pesat saat itu

Mengingat merupakan salah satu usaha yang sangat mudah bagi Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie sehingga beliau memiliki banyak  Distrik - distrik yang dapat menyalurkan penjualan barang dagangan tersebut 

Sebab itu Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie lebih banyak berada di luar Istanah Kadriah Pontianak di banding di dalam Istanahnya sendiri sehingga beliau mendapat gelar sebagai Pangeran Mas Surya Alam dari Sultan Sa'ad Tanji Tahmidillah II / Sultan  Nata Alam Sultan Banjar 1761 M - 1801 M

Sedangkan dari Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah beliau mendapat gelar sebagai Pangeran Cakra Buana Syarif Abdurrahman Alkadrie merupakan gelar yang sangat cocok bagi penjelajah Samudera Pasai hingga Samudra Atlantik berdasarkan jejak Pelayaran yang beliau lakukan menembus Laut Cina Selatan hingga Samudra Atlantik dan Samudera Fasifik ketika berlayar ke Belanda, Cina hingga India jejak tersebut tidak satupun dari anak hingga Keturunan beliau saat ini tidak satupun yang mampu mengarungi kehidupan di Samudra dan Benua demikian juga dengan adiknya Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri yang selalu menemani beliau setiap saat sehingga keduanya mendapat julukan dari Sultan Riau Sultan Fisabilillah bin Sultan Riau Muda II Opu Daeng Celak Sayid Syech Ahmad Adeni Qaulan Jazirah dengan gelar Harimau Samudra dan Macan Samudra yang kemudian di jadikan sebagai dua harimau yang mengapit Lambang Kesultanan Kadriah Pontianak saat itu hingga sekarang 2025 M - 1446 H

Lambang Logo Kesultanan Kadriah Pontianak memiliki dua makna di Jamanya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie akan tetapi makna tersebut di rubah kemudian di jaman Sultan Syarif Usman Alkdri hingga sekarang, dengan bertanya makna tersebut maka dengan sendirinya telah menghilangkan makna perjuangan keduanya baik Sulta Syarif Abdurrahman Alkadrie dan Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri dua bersaudara yang berjuang hingga terbentuknya Kesultanan Kadriah Pontianak 

Di mana dengan perubahan tersebut di pengaruhi oleh Pemerintah Hindia Belanda VOC di Batavia 

Sehingga sedikit demi sedikit Kesultanan Kadriah Pontianak mengalami masa - masa emasnya sekalipun banyak pembangunan tetapi pembangunan tersebut tidak di rasakan oleh penduduk asli melainkan lebih banyak di nikmati oleh Bangsa - bangsa Belanda dan Rakyat Negeri  kemudian di sebut sebagai  Rakyat Jelata oleh pihak Belanda kemudian tersebar di berbagai Daerah di Kalimantan Barat suatu Kasta yang di anggap rendah oleh Belanda tujuan utamanya agar paham pecah belah sedikit demi sedikit bisa masuk yang menimbulkan perpecahan dan jurang pemisah sehingga muncul juga istilah Juragan Kaya semua berasal dari ungkapan pihak - pihak Belanda, kemudian juga muncul Blog Cina Kaya dan Naga Merah, semua kata - kata tersebut yang sebelumnya tidak ada tetapi semenjak Belanda ada muncul istilah tersebut yang mereka ambil dari bahasa Melayu sendiri, di antara pemberontakan atau Demontrasi Lotepa yang menguasai pertambangan emas di wilayah Mandor dan bagian hulu, karena tidak membawa ke untungan bagi pihak Belanda karena tidak ada pajak yang masuk Ahirnya Belanda menghasut penduduk asli sehingga mengerakan Padukan Mango merah, Kerajaan Mempawah dan Kerajaan Ngabang , akan tetapi dari peristiwa tersebut Kesultanan Pontianak lah yang di manfaatkan dan di masukan sebagai wilayah Kesultanan Kadriah Pontianak karena Sultan Syarif Usman Alkadri manut saja dengan Keputusan pihak Belanda sehingga Istanah Kadriah Pontianak hanya mendapat 35 % dari pajak, akan tetapi Sultan Syarif Usman Alkadri mengambil sisi baiknya saja, dengan wilayah yang luas maka sekalipun pajak kecil tetapi menjadi besar karena jangkauan wilayah yang sangat luas, artinya manutnya Sultan Syarif Usman Alkadrie ada suatu hal yang sangat menguntungkan wilayah menjadi luas dan pajak semakin bertambah, sebab itu membuat Kerajaan yang ikut membantu mengusir Lotepa menjadi kecewa dengan pihak Residen Rembang VOC Batavia di Pontianak 

Panglima Laksamana  III Leaxsa Lapan  Syarif Muhammad Yasfi  Febduansyah bin Satibi bin Hamdani Alkadri Perikanan Anjungan Mempawah Kalimantan Barat 

Terutama Kerajaan Mempawah yang sebelumnya sudah di Kuasai Kesultanan Kadriah Pontianak selama 24 tahun dari Penembahan Syarif Kasim Mempawah 1787 M - 1808 M kemudian di lanjutkan oleh anak Syarif Kasim Alkadrie yaitu Penembahan Syarif Husein Mempawah 1808 M -  1820 M, atas restu ibunya Ratu Mempawah Utin Chandramidi Binti Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah karena menganggap keponakanya dari anak Gusti Jamiril Sayid Syech Jamiril Adeni Qaulan Jazirah 12 tahun belum cukup umur, 

Sementara Pasukan mereka berjuang melawan Lotepa dan bersama  Kerajaan Ngabang justru yang mendapat perluasan wilayah yang di kuasai di berikan kepada Kesultanan Kadriah Pontianak (1850 M - 1855 M) saat itu 

Sebab begitu Selesai perang Lotepa terjadi Kerajaan Mempawah dan Kerajaan Ngabang meminta agar Kerajaanya di bebaskan dari Pungutan Pajak hingga nol %, atas permintaan tersebut pihak Belanda menyetujui karena wilayah yang di kuasai lebih luas dari dua Kerajaan tersebut, sehingga Wilayah yang di kuasai di berikan kepada Kesultanan Kadriah Pontianak dengan memberikan hak pajak kepada Kesultanan Kadriah Pontianak sebesar 35 % dan itu di setujui oleh Sultan Syarif Usman Alkadrii, maka dua Kerajaan tidak dapat berbuat apa - apa atas tindakan Belanda tersebut, akan tetapi Kerajaan Ngabang pada intinya tidak berkeberatan, wilayah tersebut masuk dalam wilayah Kesultanan Kadriah Pontianak 

Syarifah Nadya  Adinda binti Satibi bin Hamdani Alkadri Perikanan Anjungan Mempawah Kalimantan Barat 

Panglima Laksamana III Leaxsa Syarif Abu Bakar Alkadri dalam melaksanakan tugas pengamanan selain bekerja sama dengan pihak Kesultanan juga bekerja sama dengan pihak Belanda, sebab barang - barang dagang yang komoditas seperti lada, Cengkeh, palah justru peminatnya lebih banyak pihak Belanda yang membelinya dari pada pedagang pribumi walaupun pihak Belanda membelinya sedikit lebih murah tetapi mereka membeli dalam jumlah partai yang sangat besar hingga ribuan ton, yang dapat menghasilkan ke untungan yang lebih besar bagi pihak Kedutaan Kadriah Pontianak 

Sebab rempah - rempah tersebut langsung di bawah ke negeri Belanda untuk di di olah, sebab itu saat pembongkaran di Pelabuhan Rakyat Banjarmasin memerlukan pengawasan yang ketat dari pihak Panglima Laksamana Leaxsa III Syarif Abu Bakar bin Abdullah Alkadri Temenggung Banten , sebab pihak Belanda sering melakukan kecurangan jika tidak di awasi oleh kedua pasukan yaitu Padukan Pelabuhan Banjar dan Pontianak untuk mengawasi bongkar muat barang - barang di pelabuhan Rakyat Banjarmasin saat itu 1850 M - 1855 M

Pada saat itu yang Berkuasa adalah cucu Sultan Sa'ad Tanji Tahmidillah II / Sultan D Nata Alam 1761 M - 1801 M

Sedangkan cucu beliau yang menjadi Sultan saat itu adalah Sultan Adam Alwatsiq Billah  1825 M - 1857 M anak dari Sultan  Sulaiman Almutamidullah 1801 M - 1825 M

Maka dengan bekerja sama dengan padukan Pelabuhan Sultan Adam Alwatsiq Billah Bongkar muat di Pelabuhan Rakyat Banjarmasin menjadi aman, sebab kerja sama tersebut sudah terjalin dari kakek Beliau Sulta Sa'ad Tanji Tahmidillah II/  Sultan Nata Alam 1761 M - 1801 M dengan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie sekaligus menantu beliau anak Sultan yang bernama Ratu Syahranum Ratu Banjar 


Panglima Laksamana III Leaxsa Lapan Syarif  Muhammad Rayhan  Albuhori bin Satibi bin Hamdani Alkadri Perikanan Anjungan Mempawah Kalimantan Barat 

Keluarga besar Panglima Laksamana Leaxsa VII Syarif Satibi bin Handan Alkadri keturunan dari Panglima Laksamana Leaxsa III Syarif Abu Bakar bin Abdullah Panglima Banten bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri., Perikanan Kecamatan Anjungan Kabupaten Mempawah Kalbar Indonesia 🇮🇩

Panglima Laksamana Leaxsa VII Syarif Satibi bin Hamdani Alkadri Sekeluarga keturunan dari Panglima Laksamana Leaxsa III Syarif Abu Bakar bin Abdullah Panglima Banten bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri., Perikanan Kecamatan Anjungan Kabupaten Mempawah Kalbar Indonesia  🇮🇩


Hasil pelurusan dari Leluhur Sayidina Hasan merupakan keturunan Sayidina Husein Ketapang  Yaitu :
Nuraini Bin Sah Yunan Bin  Yunus Bin Pangeran Saunan Bin  Bakri Bin Pangeran Surya 

Demikian kerja sama tersebut berlangsung hingga tiga generasi Kesultanan berlangsung selama  96 Tahun berturut turut dengan rasa aman dan tidak pernah menimbulkan masalah karena saling menguntungkan ke tiga belah pihak, Baik Kesultanan Banjar, Kesultanan Kadriah Pontianak dengan pihak Belanda 

Panglima Laksamana III Least Syarif Abu bakar bin Abdullah Panglima Banten bin Panglima Laksamana I Syarif Abu bakar bin Ali - Imam Al - Alamah Al - Alimuh Mufti Matan wa Mempawah As-sayyid Husein bin Ahmad Alkadri Jamalullail merupakan Panglima Laksamana yang menangani 3 Distrik saat itu yaitu :

1. Distrik Borneo Selatan
2. Distrik Borneo Tengah
3. Distrik Borneo Timur

Akan tetapi beliau di wakili oleh beberapa Panglima Laksamana lagi untuk masing - masing Distrik, sehingga tugas  Panglima Laksamana Leaxsa III Syarif Abu bakar hanya bersifat menerima laporan ke amanah ke tiga Distrik tersebut

1. Distrik Borneo Selatan Kalimantan selatan di Tugaskan kepada  Pangeran Wijaya Kesuma Syarif Alwi bin Abdurrahman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri untuk Wilayah Komandan Selatan Borneo Selatan di saat itu Ketua Distrik Perdagangan di pimpin oleh Pangeran Hadikarya Wilayah Kesuma Syarif Muhammad Syafruddin Najamuddin bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang juga menangani tiga Distrik Perdagangan yaitu Borneo Selatan, Borneo Tengah dan Timur yang ada perwakilanya

Baju merah  Prof. Dr. Syarif Amin Azis Alkadrii Prof. Yek Amin salah satu keturunan Panglima Panglima Laksamana Leaxsa Tiga Syarif Abu Bakar bin Abdullah Alkadri, berada di Istanah Kadriah Pontianak 

2. Borneo Tengah untuk Keamanannya di tugaskan kepada Pangeran Cakra Syarif Ahmad makam belakang Masjid Agung Sampit bin Pangeran Cakra Syarif Hasan bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sedangkan Ketua Distrik Perdaganganya di tugaskan oleh Pangeran Hadikarya Wijayakrama Kesuma Syarif Muhammad Syafsrudfdin Najamuddin Alkadri., Beliau tugaskan kepada sepupunya Panglima  Raden Pangeran Sabamban Syarif Sirajuddinsyah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu bakar Alkadri yang berkantor di Sampit makam beliau juga di Kompleks pemakaman Masjid Agung Sampit, satu-satunya keturunan Panglima Laksamana I Syarif Abu bakar Alkadri yang menyandang Dua gelar Panglima dan Pangeran sebab di saat itu beliau selain sebagai Ketua Distrik Keamanan juga merupakan pakar Hukum pidana dan Perdata Syari'ah yang bertugas di Kerajaan  Kalteng yang terletak di kota Waringin di dirikan oleh Pangeran Adi Pati Antar Kesuma  anak dari Kesultanan Banjar 1673 M - 1696 M yang saat itu di Pimpin generasi ke tiga atau  Raja ke tiga dari Kerajaan Kota Waringin beliau di tarik sebagai Mufti Penasehat Raja ketiga, 

Setelah cucunya menjadi Raja yaitu Pangeran Ratu  Imamuddin 1805 M - 1841 M Kerajaannya di pindahkan ke Pangkalan Bun, Panglima Laksamana muda Pangeran Sabamban Syarif Sirajuddinsyah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu bakar Alkadri menjadi Mufti Penasehat Raja pada saat Pangeran Ratu Imamuddin berkuasa, maka beliau oleh Raja selain sebagai Mufti juga sebagai pakar hukum pidana dan Perdata Syari'ah sast itu sekaligus menangani Distrik Perdagangan Wilsyah Borneo Tengah atas Permintaan Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Safaruddin Najamuddin Alkadri saat itu di Kalimantan tengah 1805 M - 1841 M

Istanah Kerajaan Kota Waringin Borneo Tengah didirikan oleh Raja Pertama  Pangeran Adipati Antar Kesuma anak dari Raja Banjar Borneo Selatan Kalimantan selatan

Kemudian Tahun 1805 M Istanah ini di pindahkan oleh cucunya  Pangeran Ratu  Imamuddin ke Pangkalan Bun 




Syarif Muhammad Shaleh bin  Ahmad Muhtadin Alkadri salah satu keturunan Raden Temenggung  Jaya Suryo Senopati Abas Makam Lereng Gunung Salak Jawa Barat  bin Zein bin Panglima Laksamana Leaksa Tiga Syarif Abu Bakar bin Abdullah Alkadri tinggal di Mojokerto Jawa Timur

Raden Syarif Muhammad Sholeh Alkadri merupakan salah satu keturunan dari Raden Temenggung Jaya Suryo Senopati Abas bin Zein bin Panglima Laksamana Leaxsa III.Syarif Abiu  bakar bin Abdullah Alkadri Temenggung Banten 

Sedangkan istrinya adalah Syarifah Fatimah  Keturunan dari Pangeran Mas Mangku Syarif Abdullah Musa bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri.

Makam Raden Temenggung Jaya Suryo Senopati Abas bin Zein bin Panglima Laksamana Leaxsa III di kaki gunung salak Jawa Barat 

Istri Raden Temenggung zJaya Suryo Senopati Abas bin Zein Alkadri bin Panglima Laksamana Leaxsa III Syarif Abu Bakar Alkadri adalah :

Syarifah Fatimah  Keturunan dari Pangeran. Mas Mangku Abu Mausa bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie  dari ibundah Ratu Parabu Khodijah binti Abdullah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri merupakan pangkat cucu Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie yang beliau nikahi dengan memandang dan berpedoman seperti pernikahan Sayidah Fathimah Az-Zahra Binti Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam dengan Sayidina Ali bin Abi Thalib cara pernikahan ""SEKUFU" di kalangan anak cucu dan cicit Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, tradisi tersebut tetap di Junjung Tinggi hingga sekarang 2025 M - 1446 H, makam berdampingan dengan suaminya Raden Temenggung Jaya Suryo Senopati Abas bin Zein Alkadri 

MAKTAB NANGQ 1857
Dewan Pimpinan Pusat Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Syarif Ja''far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Pontianak Jalan Seliung 

Seting Louyat dan Hak Cipta ada Pada :
MAKTAB NANGQ 1857
Di Lindungi Undang-Undang

Sabtu, 1 Pebruari  2025 M 
17 : 49 WIB

Postingan populer dari blog ini

MANAQIB PANGERAN LAKSAMANA TUANKU JAKSA II SYARIF ALI MUHAMMAD ALKADRI. MAKTAB NANGQ 1857 PANGERAN BENDAHARA TUA SYARIF JAFAR BIN SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI KESULTANAN KADRIAH PONTIANAK.., JALAN SELIUNG

BLOG I SAYID HUSEIN DAN KETURUNANYA.. MAKTAB NANGQ 1857 Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Kesultanan Kadriah Pontianak. Kantor Pusat Jalan Seliung 78353

PENGURUS MAKTAB NANGQ 1857 PUSAT - WILAYAH - KAB/KOTA - LUAR NEGERI