MANAQIB PANGERAN JAYA SYARIF ABDULLAH. MAKTAB NANGQ 1857 PUSAT KESULTANAN PONTIANAK. PONTIANAK JALAN SELIUNG
MANAQIB
PANGERAN JAYA SYARIF ABDULLAH
Bin Sultan Syarif Usman Alkadri
Syarif Muhammad bin Hasan bin Ahmad Shodiq bin Hasan bin Muhammad bin Panglima Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadri Depok Jawa Barat salah satu Keturunan Panglima Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrii, Pendiri dan Pengasuh Majelis Mauludin Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam Depok Provinsi Jawa Barat
Anak-anak Beliau adalah :
1. Syarif Husein Bin Muhammad Alkadri
Depok
2. Syarifah Sakinah Binti Muhammad
Alkadri Depok
3. Syarifah Ratu Balqis Binti Muhammad
Alkadri Depok
Saudara Kandung Syarif Muhammad Alkadri Depok Jawa Barat Indonesia 🇮🇩 :
1. Syarif Idrus Bin Hasan Alkadri
2. Syarifah Ni'mah Binti Hasan Alkadri
3. Syarif Umar Bin Hasan Alkadri
4. Syarifah Zakiah Binti Hasan Alkadri
Syarif Husein Bin Muhammad Alkadri Depok Jabar Indonesia 🇮🇩 Anak Pertama Syarif Muhammad Alkadri Depok
Pintu Gerbang Selamat Datang Di Kota Depok Provinsi Jawa Barat - Indonesia
Merupakan pintu Gerbang Pembatas antara Provinsi DKI Jakarta dan juga terdapat pintu gerbang yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur, Selain itu juga ada Pintu gerbang antar Kabupaten / Kota baik yang terdapat Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Timur, Provinsi DKI Jakarta maupun Provinsi Jawa Tengah sehingga terdapat Ratusan Pintu Gerbang Pembatas antara Kabupaten / Kota di setiap Provinsi apalagi jika Kabupaten / Kota berbatasan lebih dari Dua batas Kabupaten / Kota maka dengan sendirinya pintu Gerbang Perbatasan akan Lebih banyak apalagi Wilayah Provinsi Jawa Barat terdapat 27 Kabupaten kota dengan sendirinyanya akan terdapat 54 Pintu gerbang pembatas jika hanya berbatasan dengan Kabupaten / Kota ini sudah pasti normalnya dan jika lebih berbatasan dengan kabupaten / Kota maka dengan sendirinya pintu Gerbang Pembatas bisa mencapai Ratusan pintu Gerbang Pembatas belum lagi pintu gerbang pembatas antar Kecamatan di setiap Kecamatan dapat di pastikan lebih dari empat pintu gerbang pembatas Kecamatan dan di tambal lagi pintu gerbang batas Desa/ Kelurahan sehingga Setiap Provinsi bisa mencapai lebih dari 1.000 Gerbang Pembatas yang bertuliskan Selamat Datang dan Selamat Jalan, luar biasa Indonesia Negara yang Kaya dengan Pintu gerbang ""Selamat' Datang" dan "Selamat Jalan"
Registrasi : 791.36.4.1840
PANGERAN JAYA SYARIF ABDULLAH BIN SULTAN SYARIF USMAN ALKADRI
Lahir : Pontianak 17 Mei 1798 M dan
Wafat : Depok Jawa Barat, 27 Juli 1887 M
Dalam Usia : 89 tahun
Makam : Pemakaman Sawangan Tua / Lama Jalan Raya Pengasinan Depok
Pemakaman Sawangan Tua / Lama merupakan salah satu Lokasi Pemakaman tertua Depok sejak Jaman Belanda Batavia bahkan sebelum Belanda Pemakaman ini sudah ada saat ini lokasi makam tersebut sangat padat, sementara makam Syarif Abdullah Alkadri hanya tersisa Ukiran Bulan bintang yang sudah samar ketika di Jiarahi Pangeran Bendahara VI Syarif Ibrahim bin Ahmad Alkadri pada bulan Juni 1965 M - 1386 H ketika mengadakan pertemuan Nasional Kejaksaan Negeri pusat, maka di sela - sela waktu kosong beliau menyempatkan diri berjiarah ke Makam tersebut
Ayah Kandung : Sultan Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Ibu Kandung : Ratu Muda Nyai Culan binti Opu Daeng Andi Monopoli bin.Opu Daeng Setia Gusti Setia Syarif Ahmad Adeni Qaulan Jazirah Pangeran Jaya Simpang Empat Ketapang
Anak - anak Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie, Ibundah Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri adalah : Ratu Muda Nyai Culan
Istri Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri adalah : Amutha binti Mambat Keturunan asli dari India makam samping beliau di Depok dari hasil pernikahan tersebut memperoleh anak - anak :
38.1. Syarif Muhammad bin Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadri, ibundah Amutha binti Mambat
38.2. Syarif Rejab bin Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie ibundah Amutha binti Mambat
38.3. Syarif Umar bin Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie ibundah Amutha binti Mambat
38.4. Syarif Usman bin Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie ibundah Amutha binti Mambat
38.5. Syarif Ali bin Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie ibundah Amutha binti Mambat
38.6. Syarif Hasan bin Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie ibundah Amutha binti Mambat
38.7. Syarifah Zahara binti Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie, di nikahkan dengan Sultan Syarif Yusuf Alkadri merupakan istri pertama yang bergelar Maharatu Suri Mahkota Agung ibundah Amutha binti Mambat
38.8. Syarif Muhammad Kanah bin Abdullah Pangeran Jaya bin Sultan Syarif Usman Alkadri Makam Lombok
Salah satu keturunan Syarif Muhammad Kanah Alkadri Lombok adalah :
Syarif Ahmad Almaduddin bin Syarif Muhammad Kanah Alkadri
Syarif Muhammad Sholihin bin Ahmad Almaduddin Alkadri Lampung Tengah
Syarif Junaidi bin Muhammad Sholihin Alkadri Lampung
Syarif Dafa Ramadhan bin Junaedi Alkadri bersama ayahnya Syarif Junaedi Alkadri beserta istri dan anaknya di Sudirejo di Kota Lampung Provinsi Lampung
Makam Syarif Muhammad Ali Sulaiman Alkadri bin Muhammad Kanah di Desa Sakti Buana Kecamatan Seputik Banyak Lampung Tengah Provinsi Lampung Koordinat : -4. 829887, 105.520678
Makam Syarifah Nurhidayah binti Muhammad Sholihin bin Ahmad Almaduddin bin Muhammad Kanah Alkadri di Lampung Tengah
38.9. Keturunan yang belum terkonfirmasi dalam rahasia Maktab NanGq 1857
Majelis Maulidin Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam binaan Syarif Muhammad Alkadri Depok Provinsi Jawa
Barat
PANGERAN JAYA SYARIF ABDULLAH BIN SULTAN SYARIF USMAN ALKADRI
Adalah salah satu anak Sultan Syarif Usman Alkadri yang yang masa hidupnya tinggal di Keraton Kadriah Pontianak, beliau merupakan anak yang taat beribadah dan memiliki pendirian yang teguh dari pada saudara - saudara kandung yang lainya
Sebab itu beliau gemar belajar mengaji dan latihan memanah di pelataran Masjid Jami Kesultanan Kadriah Pontianak setelah menjelang pagi hari sebagai aktifitas rutin yang Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie yang beliau lakukan, setelah selesai Sholat Subuh beliau teruskan dengan membaca Al Qur'an Nul Karim hingga hapalan beberapa surat panjang, selain rajin belajar memanah Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie juga rajin belajar pencak silat dengan tangan kosong hingga mengunakan keris dan tombak, sehingga sangat mahir menggunakan senjata
Syarif Muhammad Shodiq bin Hasan bin Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie
Sebagai anak Sultan waktu - waktunya banyak di habiskan di Masjid Jami Kesultanan Kadriah Pontianak hal ini beliau lakukan karena saat itu banyak kegiatan di Masjid terutama setelah ba'da Isa biasa Pengurus Masjid mengadakan Majelis Ta'lim Ba'da Isa Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadrie sering meminta waktu untuk mengisinya dengan alasan untuk melatih diri ketika berhadapan dengan orang ramai di sebuah Majelis tidak lagi gerogi, canggung dan sebagainya
Selain itu juga beliau rajin belajar Sholawat dan mengikuti Kaidah dan Marawis dengan mengunakan Rabana Kuno yang ukuran sangat besar
Alat - alat Rabana tempo dulu berukuran besar yang umunya di iringi dengan gambus sehingga di namakan "DEBUS" saat ini alat - alat tersebut sudah langkah walaupun masih ada hanya di gunakan di kalangan Istanah dan Kerajaan Islam saja, sementara di Masyarakat umum sering memakai alat - alat Marawis untuk acara Sholawatan
Istilah Rebana lebih di kenal dari dahulu hingga sekarang di banding nama aslinya DAFF yang biasanya di iringi dengan gambus sehingga di sebut DEBUS yang bernada BAS
Kata Rabana sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu ARBAA yang bearti Empat yang mengandung prindif dasar Islam yaitu :
1. Kewajiban kepada Allah berupa ibadah dan amal
2. Kewajiban sesama Masyarakat manusia yang bersipat saling tolong menolong dan toleran
3 Kewajiban kepada Alam sebagai tempat tinggal dan aktivitas hidup dan
4. Kewajiban kepada diri sendiri termasuk menjaga kesehatan, Sandang pangan dan papan
Sehingga Rabana secara khusus menjadi alat musik bercirikhas muslim dengan lantunan Sholawat dan Syair - syair Islam yang bersipat mendidik, membina, membentuk, agar menjadi muslim yang taat beribadah kepada Allah Subhana wa Taala termasuk menjadikan suasana lingkungan penuh kedamaian, ketenangan, ketentraman dan keamanan serta menyejukkan jiwa demikian makna dari Rabana
Syarif Abdul Qadir bin Usman bin Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie
Saudara kandung seibu dan seayah Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie , Ibunda Ratu Muda Nyai Culan binti Opu Daeng Manapoli bin Opu Daeng Setia Gusti Setia Syarif Ahmad Adeni Qaulan Jazirah Pangeran Jaya Simpang Ampat Ketapang adalah :
37.1. Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie, ibundah Ratu Muda Nyai Culan, Makam Depok
37.2. Pangeran Cakra Buana Syarif Abu Bakar (Pangeran Junjung Putih) bin Sultan Syarif Usman Alkadrii, ibundah Ratu Muda Nyai Culan, makam Sumenep
37.3. Ratu Sepuh Syarifah Nurbaiti binti Sultan Syarif Usman Alkadrie, ibundah Ratu Muda Nyai Culan, makam Kampung tengah Parit Bugis Beting
37.4. Ratu Kesuma Syarifah Khodijah Binti Sultan Syarif Usman Alkadrie, ibu dah Ratu Muda Nyai Culan, Makam Kampung Arab
37.5. Pangeran Adijaya Syarif Isa bin Sultan Syarif Usman Alkadrie, ibundah Ratu Muda Nyai Culan, makam Tambelan Kepulauan Riau
37.6 sd 37.24 merupakan saudara kandung seayah yaitu Sultan Syarif Usman Alkadri dengan Ibu dah yang berbeda-beda
Syarif Muhammad bin Hasan bin Muhammad bin Panglima Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie
Dengan banyak mengikuti kegiatan di Masjid Jami' Kesultanan Kadriah Pontianak Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadrie memiliki kelebihan dalam ilmu agama sehingga sering di panggil untuk berda'wah dan menjadi Khotib di sekitar Masjid - masjid yang ada di Pontianak seperti Masjid Tua Almushada Stagen (Sekarang menjadi Kota Baru), Masjid Tua Al-Huda Simpang Empat Kota baru, masjid ini didirikan oleh etnis Cina Mu'alaf supaya membaur dengan orang - orang penduduk asli Pontianak Ahirnya Mereka memilih pindah agama dengan memeluk agama Islam kemudian membangun Masjid dengan mengularkan modal patungan bersama orang orang Cina kaya sehingga mereka membaur dengan penduduk asli Pontianak, di Saigon mereka juga membangun Masjid yang di berinama Alkarim rata - rata Masjid tersebut di bangun sekitar tahun 1825 M, dari tahun 1825 M hingga sekarang 2025 M Masjid - Masjid tersebut sudah lebih dari 9 kali di rehab total kecuali satu Masjid yang terletak di kota baru simpang empat lampu merah dekat kantor Pos Masjid ini masih dalam bentuk aslinya terbuat dari Kayu Ulin (berlian) sehingga memiliki kesan sejarah masa lalu, sekalipun sudah belasan kali rehab, hanya Menganti kayu - kayu Ulin (Belian) yang kropos dan di ganti dengan kayu Ulin (Belian) kembali sehingga kesan asli dan sejarahnya tetap ada sebagaimana Madjid Jami Kesultanan Kadriah Pontianak masih dalam bentuk aslinya sekalipun sudah berkali - kali di rehab tetap mengutamakan kayu Belian sebagai gantinya
Syarif Muhammad Alkadri Depok Keturunan Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadri bersama Ratu Sepuh Prabu Khodijah binti Sultan Syarif Muhammad Alkadri
Pada tahun 1821 M - 1242 H, Masjid Agung Jami Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie kedatangan tamu dari India bernama Syech Hamdan Alhinduan dari Chandighar India dalam rangka Syafari Romadhsn saat itu Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie baru berusia 23 tahun
Hampir tiga bulan bersafari Da'wah di Kalimantan Barat (Borneo) selain itu Syech Hamdan juga silaturahmi ke Istanah Kadriah Pontianak, tertarik dengan Da'wah Syech Hamdan yang di ikuti Panglima Jaya Syarif Abdullah Alkadri selama hampir tiga bulan beliau minta ijin kepada Ayahnya Sultan Syarif Usman Alkadri untuk berangkat ke India di Chandighar, Sultan Syarif Usman Alkadri mengijinkan karena bertujuan menimba ilmu maka pada bulan awal Muharam 1242 H - 1821 M, Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie ikut Rombongan Syech Hamdan Alhinduan ke India
Hampir 2 tahun di India dan Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri ahirnya bisa belajar bahasa India bagian Chandighar yang logat bahasanya lebih halus dari bahasa India Tamil, kemudian Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri di nikahkan dengan keponakan adik perempuannya Amutha binti Mambat Alhinduan dari pernikan tersebut memperoleh anak sebanyak 12 orang
Dari 12 orang tersebut 6 orang anak di lahirkan di India sedangkan 6 orang anak berikutnya di lahirkan di Indonesia
Pada tahun 1831 M beliau kembali lagi ke Indonesia setelah hampir 10 tahun tinggal di Chandighar India dan membawa 5 orang anaknya sedangkan Syarif Ali tetap tinggal di Chandighar India
Di Pontianak beliau kemudian tinggal bersama ibundah perempuannya Ratu Muda Nyai Culan di samping Istanah Kadriah Rumah tinggal kuhsus istri - istri Sultan dari Jaman Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Sekarang 2025 M, rumah peninggalan tersebut di diami Syarifah Ruqayah cucu dari Sultan Syarif Muhammad Alkadri
Di rumah ini kemudian Pangeran Jaya melahirkan 6 orang anak dari istri yang sama yaitu Amutha binti Mambat Alhinduan salah satunya adalah :
Syarifah Zahara binti Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri kemudian di nikahkan dengan anak abangnya Sultan Syarif Yusuf bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
Sultan Hamid I bin Sultan Syarif Usman Alkadri ibundahnya adalah :
Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Fatimah binti Sultan Syarif Kasim Alkadri
Sedangkan Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadri ibundahnya adalah :
Ratu Muda Putri Culan binti Opu Daeng Andi Monopoli bin Gusti Gusti Setia Syarif Ahmad Adeni Qaulan Jazirah Pangeran Simpang Empat Ketapang bin Opu Daeng Manambon Sayyid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah
Syarif Muhammad Alkadri Depok bersama Sultan Syarif Abdurrahman Bakar Alkadri, Abah Sultan Syarif Melvin Alkadri
Pernikahan Pangeran Bendahara Mas Perdana Agung di laksanakan pada tahun 1870 M - 1291 H
Setelah menjadi Sultan dengan gelar :
Dulu Yang Mulia Di Pertuan Agung Sultan Syarif Yusuf bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
Dengan Permaisuri :
Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahara binti Syarif Abdullah Alkadri
Kemudian setelah itu Sultan Syarif Yusuf Alkadri menikah lagi dengan keseluruhan menjadi tujuh orang istri dari berbagai daerah dan etnis istri yang berbeda - beda dan dari tujuh orang istri tersebut ada dua orang dari keluarga sendiri yang bermarga Alkadri termasuklah Syarifah Zahara Alkadrie
Syarif Fakir Muhammad Alkadri., SH bin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadri., Kota Makasar Provinsi Sulawesi Selatan
Ketika terjadi Demontrasi pertama pada tahun 1845 M merupakan Demonstrasi pengusiran etnis Cina di mana pada saat itu penguasa Lotepa bertindak sewenang-wenang - senang kepada penduduk asli wilayah Mandor, Sebadu, Salah Tiga, Kayu Tanam, Anjungan, Senakin, Pahuman, Dari, Karangan, Sagatani, Gua Boma, Toho, hingga Bengkayang maka tercetusnya "Demontrasi Cina Mandor - Mentradro"" merupakan pengusiran etnis Cina besar - besaran saat itu karena telah bertindak sewenang-wenang dan menguasai seluruh tambang Emas yang di kenal sebagai "Distrik Mandor - Mentrado" saat itu Pasukan Mangko Merah dari etnis Dayak, Pasukan Merah dari Kerajaan Mempawah dan Padukan Kerajaan Ngabang bergerak melakukan Pengusiran etnis Cina, Dalam peristiwa tersebut Lotepa yang merupakan aktor utama terbunuh di Mandor, sedangkan etnis Cina di usir, rencananya akan di usir keluar dari Kalimantan Barat
Akan tetapi Kerajaan Sambas dan Kesultanan Kadriah Pontianak tidak setuju dengan Pengungsian tersebut, sehingga mereka di tampung di pengungsian Singkawang dan Pontianak sebagai Basis terakhirnya, peristiwa tersebut berlangsung dari tahun 1845 M - 1855 M yang berlangsung hampir 10 tahun lamanya, sementara Sanggau, Sintang, hingga Kapuas Hulu juga tidak mendukung atas tindakan tersebut karena tidak semua Etnis Cina yang terlibat hanya Distrik Mandor dan Mentradro saja yang membuat ulah dan jangan mengorbankan yang tidak bersalah, atas peristiwa tersebut banyak rumah - rumah Pasar yang di tinggalkan kemudian di ambil alih oleh penduduk asli Kalimantan Barat saat itu di sebut ""Boeneo Barat"'
Syarif Abdul Gafur bin Affandi bin Ahmad bin Abdullah bin Ali bin Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadri Banjarmasin Martapura Provinsi Kalimantan Selatan
Setelah kejadian tersebut ketika Kompeni Belandah menyerahkan semua daerah yang di Serang masuk dalam wilayah Kesultanan Kadriah Pontianak dengan alasan bahwa Sultan siap menerima sebagai daerah ya dengan perjanjian pihak Kesultanan Kadriah Pontianak hanya mendapat penghasilan pajak 35 %
Hal tersebut menimbulkan kemarahan Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri, akibat dari kebijakan tersebut Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri mengajak 27 padukan ayahnya secara sembunyi - sembunyi dan beliau akan merahasiakan semua pasukan tersebut
Maka pada Ahir tahun 1845 atau bulan Desember sekitar jam 00 : 00 Malam mereka .Gudang getah dengan berkeliling setelah api membesar langsung di tinggalkan jauh - jauh sambil memperhatikan api tersebut dari kejauhan sehingga di pagi harinya gudang tersebut ludes di makan api
Syarif Hasan bin Ahmad Shodiq bin Hasan bin Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Dari Hadil penyelidikan pihak Belanda mengancam penduduk sekitar agar mengakuinya jika tidak mereka akan di hukum tembak mendengar berita tersebut Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri menulis Surat kemudian surat - surat tersebut di sebar di malam hari agar tidak di lihat orang
Surat tersebut di tanda tangani beliau sendiri sementara sebelum menyebar anak dan istrinya sudah berlayar menuju Jakarta dengan tujuan Jawa Barat
Sementara Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri setelah menyebar surat tersebut beliau langsung bertolak menuju Jakarta di tengah malam dengan mengunakan Satu buah kapal layar ayahnya Sultan Syarif Usman Alkadri yang di simpan di daerah Kuala Mandor dan berlayar menuju arah murah Kapuas sehingga tidak satupun yang tau
Keesokan harinya setelah surat tersebut di dapat pihak kompeni Belanda Pontianak menjadi gempar dan pihak Belanda langsung menemui surat tersebut dan memberikan surat tersebut kepada Sultan Syarif Usman Alkadri
Sultan Syarif Usman Alkadri kemudian mengumpulkan para pengungsi Peristiwa Lotepa yang kaya - kaya dan juga memanggil Gruop Naga Merah serta Group Kongsi Cina untuk membangun kembali gudang getah yang terbakar
Sementara pihak Belanda bersih keras untuk menangkap Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadrie, sehingga menyebar Poto lukisan Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri
Sementara seluruh Keluarganya sudah berada di Depok, merasa kurang aman Di Depok Ahirnya Pangeran Jaya Syarif Abdullah dan Istrinya memutuskan kembali untuk berlayar ke Chandighar India untuk merendahkan suasana sementara anak - anaknya tinggal dengan saudaranya dari Keluarga dari Keturunan adiknya Pangeran Cakra Buana Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Usman sedangkan yang lainya di titip dengan keluarga dari keturunan Syarif Abdullah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri yang tinggal di daerah Jalan Jego Pandaigelang Banten
Dari sinilah kemudian keluar ini kemudian menetap di daerah Depok
Setelah merasa aman Ahirnya pada tahun 1860 M Pangeran Jaya kemabsli lagi ke Indonesia dengan tujuan Depok karena mendengar ayahnya Sultan Syarif Usman Alkadrii meninggal dunia
Selisu tidak langsung ke Pontianak melainkan langsung ke Depok., setelah merasa aman dan tidak ada lagi kisah tentang beliau kemudian beliau berlayar menuju Pontianak dan turun di Batu Layang untuk menjiarahi makam ayahnya, kemudian setelah malam baru Menuju Istanah
Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri
Untuk menjiarahi makam ayahnya Sultan Syarif Usman Alkadri di Batu Layang dan bertahan di makam hingga menjelang magrib baru kemudian menemui abangnya Sultan Syarif Hamid I bin Sultan Syarif Usman Alkadri yang sudah dilanti 12 April 1855 M atau 5 tahun yang lalu
Dalam pertemuan tersebut tidak satupun kedua Saudara kandung membahas tentang peristiwa pembakaran gudang getah karena peristiwa tersebut sudah terjadi 15 tahun yang lalu, justru Sultan Syarif Hamid I Alkadri meminta agar anaknya Pangeran Perdana Agung Syarif Yusuf Alkadri agar di jodohkan dengan anak perempuanpuan Syarifah Zahara Alkadri, akan tetapi pada tahun 1860 M usia Pangeran Perdana Agung Syarif Yusuf Alkadri baru berusia 10 tahun maka akan di nikahkan ketika usianya 20 tahun dengan demikian Syarifah Zahara Alkadrie usianya sudah mencapai 17 tahun., setelah kata sepakat maka Ba' dah subuh Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri memutuskan untuk berlayar ke Jakarta dengan tujuan Depok di Jalan Raya Pengasinan Depok Jawa Barat
Syarif Husein bin Muhammad bin Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie bin Al - Imam Mufthi Mempawah Asyayid Husein bin Ahmad Alkadri Jamalullail Manado
Pada dasarnya peristiwa Lotepa terjadi beberapa kali yaitu:
1. Peristiwa pertama Lotepa tahun 1845 M - 1855 M jaman Sultan Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie,, peristiwa terbunuhnya Lotepa
2. Peristiwa Lotepa kedua tahun 1865 M jaman Sultan Hamid I bin Sultan Syarif Usman Alkadri tahun 1864 M 1865 M yatitu Perebutan dan mencari peninggalan harta peninggalan lotepa
3. Peristiwa Lotepa ketiga terjadi pada tahun 1939 M di Segedong di mana, yang mengaku sebagai keturunan Lotepa Dengan Motif Balas dendam, sehingga penduduk asli dalam tekanan ekonomi yang luar biasa
4. Peristiwa Lotepa ke Empat tahun 1965 M bersamaan dengan G 30 SPKI di mana orang yang mengaku sebagai keturunan Lotepa mengambil kesempatan tersebut untuk menyerang penduduk asli Mandor Mentrado
Akan tetapi mereka semua berhasil di pukul mundur oleh Pasukan Mangku Merah dari Etnis Dayak, sehingga sejak peristiwa tersebut hingga sekarang orang - orang Cina tidak pernah berbuat ulah kembali kalaupun terjadi hanya bersipat pribadi saja tidak ada pengetahuan masa seperti di bawah tahun 1965 M
Akan tetapi sangat di sayangkan justru muncul etnis yang baru yang sering berbuat ulah di Kalimantan Barat, sehingga Demontrasi terulang kembali
Syarif Muhammad Alkadri Depok kemudian bersama wakil Gubernur DKI Jakarta
Pada tahun 1860 M - 1291 H di Istanah Kadriah Pontianak di lanjutkanlah pernikahan antara Pangeran Perdana Syarif Yusuf bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri dengan Syarifah Zahara binti Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadrie di Istanah Kadriah Pontianak selam 14 hari pesta
Sebagaimana yang di tulis Mufthi Sultan Hamid I Alkadri yaitu Syech Abdurrahman Alkhalid
Tertanggal Isnin 17 Maret 1870 M - 1292 H dalam isi surat tersebut dapat di uraikan dengan sebab berikut ini :
Syarif Muhammad Alkadri Depok salah satu keturunan Panglima Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie bersama laskar Maulidin Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam
Acara Majelis Maulidin Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam Depok Jawa Barat
Dokumen Silsilah Nasab Keturunan Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadri dari 12 anak Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadrie baru terkonfirmasi 5 orang dari Kesultanan Kadriah Pontianak sedangkan di Maktab NanGq 1757 sudah terkonfirmasi 12 anak dari Istri yang sama dan keturunannya sudah di konfirmasi di Maktab NanGq 1857 Pusat sebagai Dokumen Rahasia
Makam Syarif Hassan bin Muhamad bin Abdullah Alkadri Kota Depok Jawa Barat Indonesia 🇮🇩
Titik Koodinat :
Makam Datonya Syarif Fakir Muhammad Alkadri Manado Sulawesi Selatan Indonesia Syarif Ali bin Muhammad bin Abdullah Pangeran jaya bin Sultan Syarif Usman Alkadri
Makam Syarif Husein bin Muhammad bin Abdullah Pangeran Jaya bin Sultan Syarif Usman Alkadrie Makam Depok
MENUJU PETA INDONESIA EMAS
Seting Louyat dan Hak Cipta ada Pada :
MAKTAB NANGQ 1857
Di Lindungi Undang-Undang
Selasa 4 Pebruari 2025 M / 5 Sya'ban 1446 H
11 : 48 WIB