SULTAN SYARIF USMAN ALKADRI. MAKTAB NANGQ 1857 PUSAT PONTIANAK JALAN SELIUNG



       SULTAN SYARIF USMAN ALKADRI 
    BIN SULTAN  SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRI SULTAN KE III 1819 M -  1855 M
         MENJABAT SELAMA 36 TAHUN

Di Keluarkan dari Dokumen Asli Maktab NanGq 1857 Dewan Pimpinan Pusat Untuk Menjawab Kekeliruan Pelukis Belanda Bahwa Leluhur Kita Sangat Tampan Dan Berwibawa.  Dokumentasi Tahun 1822 M -  1243 H.  Ketika berusia 45 Tahun Atas Ijin Leluhur Sultan Syarif Usman Alkadri Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Pontianak, Jumat 9 Mei 2025 M / 11 Julqaidah 1446 H.. Pukul : 16 : 25 WIB

Sultan Syarif Usman Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri lebih cenderung mengambil Postur wajah ibunya Maharatu Suri Mahkota Agung Ratu Kesumasari Binti Raden Pangeran Temenggung Wijoyo ningrat Cucu Sultan Hamengkubuwono I Sujono Bin Sunan Amangkurat dari  Istri Sunan Mas Ayu Tejawati

SULTAN SYARIF USMAN ALKADRI BIN SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRI
Lahir :  Pontianak 11 Julhizah  1198 H - 1777 M 
Wafat : Pontianak,14 April 1860 M - 1281 H
Dalam Usia :  83  Tahun

SULTAN PONTIANAK KE III  (1819 M - 1855 M) 
Menjabat Sebagai Sultan Selama :  36 Tahun

Ayah Kandung : SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN  BIN ASYAYYID SYARIF HUSEIN ALKADRI
Ibu Kandung :  MAHARATU SURI MAHKOTA AGUNG RATU KESUMARI 
Binti Raden Pangeran Temenggung Wijoyo ningrat Bin Sultan Hamengkubuwono I (Sujono) Bin Sunan Amangkurat IV dari  istri Sunan bernama  Tejawati

Istri Yang Di Sepuhkan : Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahara Binti Thaha bin Abdullah bin Psnglima Laksamana I Syarif Abu Bakar bin Husein Alkadri Mufthi Mempawah

Jumlah istri : ada 6 Permaisuri

Jumlah Anak Kandung : 24 Anak Kandung 

Sultan Syarif Melvin Alkadri. SH. Keturunan Sultan  Syarif Usmam Alkadri dari Jalur Sultan Syarif Muhammad Alkadri Yang mewarisi Tradisi Adat yang wajib menjadi Sultan - Sultan secara turun -  temurun yang Wajib di pertahankan dalam kondisi apapun berdasarkan tradisi adat dan hukum Syari'at Islam

Dan Keturunan Pangeran Bendahara Tua Syarif Jafar Alkadri Jalur Sultan Syarif Usman Alkadri pemegang amanah turun temurun Maktab NanGq 1857  yang wajib mewarisi Tradisi Adat secara turun temurun Silsilah Nasab Keluarga Besar Alkadri  seluruh Dunia

Sultan Syarif Usman Alkadri jika  dilihat dari  daftar Manuskrip - manuskrip lain termasuk anak yang ke 8 dari 101 anak, akan  dan termasuk Istri ke 2 Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Urutan tersebut hanya sebagai memposisikan agar Bisa di Calonkan sebagai Sultan

Akan tetapi jika di urut dari segi Perkawinan Sultan Syarif Abdurrahman Ratu Sepuh Kesumasari termasuk istri yang ke 9  dan masuk urutan anak yang ke 37 makanya usianya dengan Sultan Syarif Kasim Alkadri selisih 27 Tahun

Sultan Syarif Kasim Alkadri lahir Tahun 1750 M -  1171 H sedangkan Sultan Syarif Usman Alkadri Lahir pada tahun 1777 M  - 1198 H atau setelah Sultan Syarif Kasim bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri berumur 27 tahun baru Sultan Syarif Usman Alkadri bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Lahir

Lukisan Poto peninggalan Mosium Kerajaan  Belanda  Seni Kaligrafi Muka Sultan Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri  di berikan kepada Thomas Stamford Raffles  VOC Batavia Jakarta tahun 1825 M

Ketika Thomas ingin bertemu Sultan Syarif Usman Alkadrie agar langsung  bisa mengenal wajah Sultan Syarif Usman Alkadri Melalui lukisan  tersebut, hanya saja Poto ini  terlalu kurus raut wajah yang sebenarnya wajah Sultan Syarif Usman lebih berisi dan pakaian yang di gunakan dalam dokumen Manuskrip yang asli beliau hampir tidak pernah memakai jubah hanya memakai gamis biasa umunya

Justru sebaliknya Sultan Syarif Usman Alkadri sering memakai pakaian baju kokoh jika tidak memakai pakaian Kesultanan atau memakai pakaian adat Melayu biasa 

Maka kedua sisi dari Manuskrip yang resmi terjadi kekeliruan

Sebab Sultan Syarif Usman Alkadri memiliki postur tubuh yang tinggi besar jadi bertolak belakang dengan  aslinya

Poto tersebut lebih mirip dengan pakaian  Kejawaan  seperti yang di pakai para wali di pulau Jawa coba bandingkan dengan Poto ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie di bawah ini 

Akan tetapi di lihat dari lukisan tersebut justru lebih mirip dengan Poto Sultan Syarif Yusuf Alkadri yang memang dalam ke seharianya lebih banyak memakai Jubah dan keris di Selip karena beliau adalah seorang Ulama dan Penda'wah dan sangat berbeda dengan Sultan Syarif Usman Alkadri yang ke seharianya berada di Kerajaan dan hampir setiap hari memakai pakaian Kerajaan

Lagi pula lukisan tersebut usianya terlalu tua berkisar umur 85 sd 90  tahun jadi tidak sesuai dengan umur Sultan Syarif Usman Alkadri jika lukisan tersebut di buat tahun 1825 M dengan alasan untuk mengenal wajah Sultan Syarif Usman sedangkan pada tahun 1825 M Sultan Syarif Usman Alkadri baru berumur  48 tahun sehingga tidak sesuai dengan raut wajah lukisan yang sudah berusia 85  sd  90 tahun 

Sekalipun ada kemiripanya yang justru lebih mendekati wajah Sultan Syarif Yusuf  Alkadri, sebab antara Sulta Syarif Usman dengan Sultan Syarif Yusuf Alkadri wajahnya hampir mirip.  Sehingga lukisan Belanda tersebut terkesan melecehkan Sultan Syarif Usman Alkadri karena tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya

Hanya saja Sultan Syarif Usman Alkadri Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri hampir tidak pernah memakai pakaian Berjubah di kepala dan memakai pakaian seperti umumnya Ulama Jawa, sekalipun ibundanya berasal dari Jawa Tengah Kedaton Yogyakarta

Keseharian beliau jika tidak memakai pakaian Kesultanan beliau hanya memakai baju kurung biasa atau Celana panjangnya sebatas lututnya atau pakaian adat

Berbeda jauh dengan cucunya Sultan Syarif Yusuf bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri yang ke seharianya sering memakai pakaian jubah dan Sal Jubah.di i Kepala , selain itu Sultan Syarif Yusuf sering ke tanah Arab tepatnya Saudi Arabia 🇸🇦 yang  hampir tidak pernah di lakukan Sultan Syarif Usman Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Sebab Sultan Syarif Yusuf Alkadri lebih senang berdawah, Imam  Sholat, Khotib dan bertausiah

Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie postur tubuh besar tinggi dan wajah yang tidak terlalu tua juga lebih banyak mengambil Postur wajah ibunya Nyai Tua Utien Candramidie / Utien Cabanat dehingga ada kemiripan dengan Ras Dayak senab ibunda Nyai Tua adalah anak dari Raja Sengkauk etnis Dayak Dadanisng setelah masuk Islam bergelar Sultan Muhammad Yunus Penembakan Mempawah Sebukit Ramah bernama Putri Intan Sari atau Putri Cermin II yang di nikahi oleh Sultan Matan Sultan Muhammad Jainuddin Matan

Anak tertuanya Putri Kesumba Menikah dengan Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah, Karena Raja Sengkauk / Sultan Muhammad Yunus tidak memiliki anak laki-laki ahirnya di ambil dari Suami cucu Perempuan Tertuanya yaitu Putri Kesumba binti Sultan Muhammad Jainuddin Matan, maka fi Nobatksnlsh Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah sebagai Raja Mempawsh mengantikan Raja Sengkauk / Sultan Muhammad Yunus di Sebukit Rama

Setelah Gusti Jamiril menjadi Sultan, Kerajaan di Pindah di Galah Herang hingga sekarang 

Bandingkan Poto di atas dari keturunan wajahnya berusia sekitar 90 tahun, pertanyaan adakah Poto Sultan Syarif Usman Alkadri, jawabanya pasti ada sebab

Poto sudah muncul di abad 10 M atau tahun 1000 M

Hanya saja belum mendapat ijin dari leluhur Sultan Syarif Usman Alkadri sendiri

Poto atau kamerah pertama kali muncul pada awal abad 10 M atau tahun 1000 M di temukan oleh Al - Haitami ilmuan Arab, Kata Al - Jaitan identik dengan Arab Mesir kuno yang mengunakan dengan cara atau sistem "" Kamera Obsura" dengan sistem pembakaran yang memancarkan cahaya kilat yang berbentuk hitam putih tanpa warna

Kemudian selanjutnya di sempurnakan oleh  Josefh  Nicechore  Mipche pada tahun 1825 M  dengan mengambil cahaya Bitumen  of judes

Akan tetapi jauh sebelum tahun tersebut pada abad 7 M atau 700 M orang Cina telah mengunakan kamera dengan cahaya pembakaran yang meledak kemudian menimbulkan cahaya dia adalah Jhong Sungkhan merupakan dataran Tibet, sehingga Klaim kamera di temukan ilmuwan Barat pada tahun 1826 M  Barat Joseph Nichoara  Mipche adalah bohong

Poto yang di Klaim sebagai Sultan Syarif Usman Alkadrii. Poto ini lebih mendekati atau hampir mirip dengan Sultan Syarif Yusuf Alkadri

        SULTAN SYARIF YUSUF ALKADRI 
   BIN SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI
        SULTAN KE V  (1872 M - 1898 M) 

Di Keluarkan dari Dokumen Asli Maktab NanGq 1857 hari ini : Jum'at  9 Mei 2025 M / 11 Kulqaidah 1446 H Pukul : 10 : 01 WIB Pontianak Jalan Seliung 

Tujuan agar tidak ada lagi Spekulasi tentang SULTAN SYARIF YUSUF BIN SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI dan SULTAN SYARIF USMAN BIN SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRI
Dokumen terakhir ketika Sultan Syarif Yusuf Alkadri bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri ketika berumur 48 Tahun dan Dokumen Terakhir  Sultan Syarif Usman Alkadri bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ketika berumur 45 Tahun 

     SULTAN SYARIF YUSUF BIN SULTAN
              SYARIF HAMID I ALKADRI

Hasil Perbaikan Dokumentasi Sultan Syarif Yusuf Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Sultan Pontianak Ke V 

Keris yang di Pakai merupakan Keris Duplikat, bukan keris Asli sebab keris Asli hanya boleh di pakai ketika Sa'ad berperang, sedangkan untuk berda"wah dan berepergian cukup memakai keris Duplikat untuk menjaga incaran orang - orang yang berambisi untuk mengambil ya, sebab siapa saja yang memakai keris asli saat itu mereka memiliki hak untuk menjadi Sultan

Sehingga Sultan Syarif Yusuf Alkadri hanya memakai keris Duplikat saja

Keris asli di pakai hanya boleh di kenakankan ketika memakai pakaian Resmi Kerajaan untuk pertemuan pem edar Istanah atau memutuskan sidang xi Istanah termasuk di gunakan  ke tika dalam ke adaan gsnting

Keris asli isast ini sudah tidak ada lagi karena fi ambil Jepang ketika mena gkap Dultan Syarif Muhammad bin Sultan Systif Yusuf Aljadri pada tahun 1942 M - 194r M belisu wafat dan keris di sita Jepang, sekalipun sad ini keris tersebut ada hanyalah Keris Duplikat yang di buat oleh Sultan Syarif Hamid II bin Sultan Syarif Muhammad Alkadri pada tahun 1946 M. Dengan pengrajin pantan di Kerajaan Matan Ketapang secara turun temurun

Keterangan Sejarah / Manaqib Sultan Syarif Yusuf Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri tersendiri

Maka Dokumen yang biasa beredar di Grouf yang bertuliskan Sultan Syarif Usman Alkadri lebih sedikit mirip dengan wajah Sultan Syarif Yusuf Alkadri Bin Sulan Syarif Hamid I Alkadri hanya wajahnya terlalu tuan di atas  90 tahun dan pipinya lebih kecil

    SULTAN SYARIF YUSUF ALKADRI BIN             SULTAN SYARIF  HAMID I ALKADRI
          SULTAN KE V 1872 M - 1898 M
         MENJABAT SELAMA 26 TAHUN

Keris Asli berkepala Burung Garuda yang bermakota di Pakai  Sultan Syarif Yusuf bin Sultan Syarif Hamid I Alksdri. saat memakai pakaian Resmi Kesultanan

Sayangnya poto ini Pernah di Klaim Sebagai Sultan Sanggau sehingga pada Tahun 1984 Poto ini di turunkan dari  Istanah  atas perintah Sultan Syarif Hamid II Alkadri. karena tidak ingin menimbulkan Gaduh. Maka perbaikan akan di ambil dari Dokumen yang berjubsh. hanya saja bagian muka poto ini sudah mulai mengembang sehinga sedikit berbeda dengan Raut wajahnya poto di atas yang masih sempurna karena terlalu lama di panjang di dinding  sehingga berpengaruh dengan suhu lembab yang terjadi setiap hari dan juga pengaruh dari  kaca , dokumen poto in di ambil pada Tahun 1872 M  - 1393 H, Saat Pelantikan / Penobatan sebagai Sultan Pontianak Ke V . Pada  saat berumur 22 Tahun, malah lebih muda dari wajah yang di atas karena  poto terakhir beliau ketika berusia 48 Tahun yang fi temukan dengan memakai Jubah dan keris Kepala garuda yang polos. 

Dari seluruh Sultan Pontianak yang hanya memakai kumis, Jengot dan Cambamg di Pipi hanya Sultan Syarif Yuduf Bin Sultan Systif Hamid I Alkadri, sedangkan Sultan yang lainya lebih mencukur semuanya termasuk kumis

Maka Dokumen Sultan Sysrif Usman Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri tidak pernah di temukan memiliki Janggot, Cambamg msupun Kumis. Satu - satunya Keturunan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang memelihara Kumis, Janggot dan Cambang hanyalah Dultan Susrif Yusuf Alkadri, hal ini belisu lakukan karena sering brrda'wah di luar Pontianak hingga fi luar Negeri termasuk Negara Saudi Arabia 🇸🇦  yang saat itu jika ada orang luar ke Negaranya apalagi seorang Raja / Sultan yang memiliki Jenggot, kumis dan Cambang mereka anggap sebagai saudara dekat karena mematuhi hukum Sunah di dalam Islam, sebab itulah Sultan Syarif Yusuf Alkadri lebih senang memelihara Kumis, Jenggot dan Cambang serta berjubah  sekipun hanya tipis

Pangeran Bendahara Syarif Jafsr Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri ketika berusia 25 Tahun . Tahun 1879 M -  1300 H

Pangeran Bendahara Tua Syarif Jafar Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri ketika akad Nikah Tahun 1907 M di Usia  53 Tahun merupakan adik Kandung Ke 3 Sultan Syarif Yusuf Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri dari ibu Kandung yang sama Maharatu Suri Mahkota Agung Sysrifah Fatimah Binti Sultan Syarif Kasim Alkadri dari Ibu Inche Minah Ratu Minah

Sultan Syarif Yusuf Alkadri Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri mengambil wajah kakeknya Sultan Syarif Usman Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Sedangkan Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri lebih cenderung mengambil Wajah Ibunya  Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Fatimah Binti Sultan Syarif Kasim Alkadri sehingga Postur Tubuh dan wajahnya lebih mirip  dengan Sultan Syarif Kasim Alkadri sedangkan Ayahnya Sultan Hamid I Alkadri Bin Sultan Syarif Usman Alkadri lebih mengambil wajah kombinasi antara wajah ayahnya Sultan Syarif Usman dan Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahara Binti Thaha bin Abdullah Alkadri 

Sehingga anak - anak Sultan Syarif Yusuf Alkadri lebih Gagah dan tampan seperti Sultan Syarif Muhammad Bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri demikian juga Sultan Syarif Hamid II Bin Sultan Syarif Muhammad  Alkadri yang juga mengambil bagian dari Ibunya Maharatu Suri Mahkota Agung Sharifah Syecah Jamilah Bin Syech Mahmud Syarwani Almaky Adaghistani Although Sayadjely Alhasani

    SULTAN SYARIF KASIM  ALKADRI BIN SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRI
         SULTAN KE II (1808 M - 1819 M) 
         MENJABAT SELAMA  11 TAHUN

Postur Tubuh Sultan Syarif Kasim Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri lebih banyak mengambil postur Tubuh dari Ibunya Putri Mempawah Utin Candramidi Binti Opu Daeng Manambon Sayid Syed  Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah atau lebih mirip dengan Postur Opu Daeng Manambon Sayid Syed Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah Tinggi besar dan .wajah sedikit lebar dari Sultan Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Ini bearti gen ibu lebih mendominasi, maka Pangeran Bendaharawan Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri juga mengambil Postur dari jalur ibunya yaitu Maharatu Suri Mahkota Agung Sharifah  Fatimah Binti Sultan Syarif Kasim Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

    SULTAN SYARIF MUHAMMAD ALKADRI

SULTAN SYARIF  HAMID ALKADRI SULTAN KE IV (1855 M  -  1872 M ) MENJABAT SELAMA 17 TAHUN

Sultan Hamid I Bin Sultan Sysrif Usman Alkadri, Dokumen Poto belum mendapat ijin untuk di keluarkan dari Dokumen Induk Maktab NanGq 1857 Pusat. Wajahnya lebih mirip dengan  Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang berparas Wajah agak sedikit Bulat, sehingga banyak yang mengatakan sebagai Sultan Syarif Abdurrahman Bin Asysayid Husein Alkadri Mufthi Mempawah dan ada juga sebagai Sultan Syarif  Hamid I Bin Sultan Syarif Usman Alkadri, dan ada juga yang mengatakan Sultan Syarif Muhammad Bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri karena wajahnya mirip dengan Poto Sultan Syarif Muhammad Alkadri , sehingga sedikit membingumgkan semua perkiraan, sebab dalam Dokumen Maktab NanGq 2857 telah tersusun dengan rapi nama dan poto masing-masing serta cici - cirinya

Sebab Sultan  Syarif Hamid I Alkadri sesuai dokumen Pangeran Bendahara Tua Syarif Jafar bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri tentang ayahnya sendiri dan urutan Sultan - Sultan Pontianak dari Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sampai ke Sultan Syarif Muhammad Alkadri, sebab memiliki wajah yang hampir sama sehingga membingungkan

Baik dari Jalur Ayah maupun dari Jalur Ibu sama - sama satu Ayah dan Satu. Ibu

Jalur Ayah adalah :

Sultan Syarif Hamid I Alkadri Bin Sultan Syarif Usman Bin Sultan Syarif Abdurrahman Bin Asysayid Husein Mufthi Mempawah dari istri Nyai Tua Utien Candramidi / Nyai Cabanat

Jalur Ibu  adalah :
Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahara Binti Thaha Bin Abdullah Bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Bin Asysayid Husein Allksdri Mufthi Mempawah dari Ibu Nyai Tua Utin Crinci Srikandi adik Kandung Nyai Tua

Sedangkan Postur wajah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar kedua wajah sama-sama Bulat, sehingga dari Jalur ayah maupun Jalur Ibu sama sehingga Sultan Syarif Hamid I Alkadr murni dan hampir sama percis dengan wajah Satunya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri maupun Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri hanya saja belum di perbaiki sebagai mana Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan Sultan Syarif Usman Alkadri

  SULTAN SYARIF MUHAMMAD ALKADRI        BIN SULTAN SYARIF YUSUF  ALKADRI
         SULTAN KE V (1898 M - 1944 M) 
         MENJABAT SELAMA 46 TAHUN

Sultan Systif Muhammad Alksdri Bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri bersama Bapak mertuanya Sayid Syech Mahmud Syarwani Almaky Adaghistani Although Sayadjely Alhasani, Dokumen ini lebih mirip dengan Sultan Systif Muhammad Bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri. Karena memang poto Sultan Systif Muhammad Bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri
Keris Asli berkepala Burung Garuda yang memakai Mahkota di saat memakai pakaian Resmi Kesultanan oleh Sultan Syarif Muhammad Bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri 

Kemudian juga bisa di bandingkan dengan di bawah ini

Dan juga bandingkan dengan di bawah ini

Dan juga Dokumen di bawah ini :

Sehingga jika di katakan ini sebagai Dokumen Sultan Sysirf Muhammad bin Sultan Sysrif Yudif Alkadri bearti Sultan Syarif Muhammad bin Sultan Sysrif Yusuf Alkadri ada 2 wajah yaitu seperti di bawah ini wajahnya sedikit berbeda karena agak bulat raut wajahnya :

Dalam beberapa dokumen di Klaim sebagai Sultan Syarif Muhammad bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri, karena memang beliau adalah benar Sultan Syarif. Muhammad Alkadri

Ini sama dengan dokumen di bawah ini Yaitu :

Sultan Syarif Muhammad bin Sultan Systif Yusuf Alkadri, jika di Jom baik wajah dan pakainya sama maupun wajahnya sama bulat

Bandingkan juga dokumen di bawah ini :

Artinya Sultan Syarif Muhammad Bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri ada 2 Dokumen  wajahnya yang berbeda dengan 1 wajah yang sedikit memanjang  Bulat Telur dan 2 wajah yang Bulat  dengan usia / umur yang bersamaan / sama 

Akan tetapi hingga saat ini Maktab NanGq 1857 belum menampilkan wajah asli Sultan Syarif Hamid I Alkadri hal ini di sebabkan belum mendapat ijin dari leluhur Sultan Syarif Hamid I Alkadri sendiri, karena apabila belum mendapat ijin Resikonya bisa kena DAN hukum Gaib dari leluhur yang bersangkutan, sehingga yang di tampilkan hanya yang sudah mendapat ijin atau leluhur tersebut yang meminta di tampilkan, maka barulah di tampilkan, hanya saja Maktab NanGq 1857 bisa memberikan ciri-ciri wajah Sultan Syarif Hamid I Alkadri mirif dengan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri karena dokumen Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri beliau sendiri yang minta tampilkan wajah asli beliau sebagaimana dii bawah ini :

Bandingkan  juga dengan dokumen di bawah ini :

SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRI
     BIN SAYID SYARIF HUSEIN ALKADRI
     PENDIRI KESULTANAN PONTIANAK
          SULTAN KE I 1775 M - 1808 M
        MENJABAT SELAMA 33 TAHUN

Istanah Kesultanan Kadriah dan Masjid Jami Kesultanan Kadriah di bangun pada tahun 1771 M, kemudian beliau berlayar  dan Berdagang serta berberang melawan beberapa Kerajaan dan sekaligus meminta dukungan dari beberapa Kesultanan Sahabat sehingga dengan dukungan 7 Kerajaan / Kesultanan 5  Juli 1775 M Sultan Riau Raja Haji Fisabilillah anak dari Opu Daeng Celak Sayid Syech Ahmad Adeni Qaulan Jazirah menobatkan beliau sebagai Pendiri dan Sultan Pertama Kadriah Pontianak dengan Gelar : Duli Yang Mulia Mahkota Agung Sultan Syarif Abdurrahman bin Sayid Syarif Husein Alkadri. sebagai Ratu yang di Sepuhkan Ratu Utin Candramidi binti Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah, Upu Daeng Manambon merupakan adik kandung dari Opu Daeng Celak. Akan tetapi baru 3 bulan menjadi Ratu Sepuh Utin Candramidi memutuskan untuk pulang ke Mempawah dan meminta agar gelar Ratu Sepuhnya di Cabut dan di gantikan sebagai Ratu Sepuh Ratu Kesumasari binti Raden Temenggung Wijoyoningrat cucu dari Sultan Hamengkubuwono I. Maka Ratu Kesumasari yang saat itu masih tinggal bersama dengan kakeknya di Yogyakarta kemudian di Jemput untuk pindah ke Istana Kadriah Kesultanan Pontianak yang saat itu Ratu Utin Candramidi sudah menjadi Ratu Sepuh Mempawah / Ratu Mempawah karena lebih betah menetap di Mempawah dengan adik - adiknya dan anak-anaknya sebab anak-anaknya tidak mau tinggal di Istana Kadriah Pontianak, Maka di Nobatkanlah Ratu Kesumasari sebagai Maharatu Suri Mahkota Agung Ratu Kesumasari binti Raden Pangeran Temenggung Wijoyoningrat bin Sultan Hamengkubuwono I Sujono bin Sunan Amangkurat IV dari istri Putri Ayu Nyimas Tejawati yang di lakukan langsung oleh Putri Mempawsh Utin Candramidi sebab saat itu tanggal 11 Juli 1775 M Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sudah berlayar menuju Belanda Denhaq, setelah pulang dari Belanda baru di Nobatkan ulang oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Akan tetapi di anggap saja Dokumen tersebut sebagai Sultan Syarif Muhammad bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri saat  postur tubuhnya masih kurus dan saat tubuhnya sudah berisi (gemuk) sehingga mempengaruhi wajahnya dari sedikit memanjang menjadi sedikit bulat dan nama di atas yang tertulis sebagai Sultan Syarif Hamid I Alkadri bin Sultan Syarif Usman Alkadri hanya sebagai ilustrasi dari wajah Sultan Syarif Hamid I bin Sultan Syarif Usman Alkadri

Maka berbeda dengan Sultan Syarif Yusuf bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri karena belisu memelihara jengot, Cambang dan kumis selain itu beliau juga hanya sedikit sekali memiliki dokumen berupa poto

Yang banyak memiliki Dokumen berupa poto adalah Sultan Syarif Muhammad Alkadri bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri dan Sultan Syarif Hamid II Alkadri bin Sultan Syarif Muhammad Alkadri dan Sultan - Sultan sekarang ini termasuklah Sultan Syarif Melvin Alkadri bin Sultan Syarif Abu Bakar Alkadri, Sedangkan dari Sultan Syarif Yusuf bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri hingga Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri bin Sayid Syarif Husein Alkadri Dokumen berupa poto sangat langkah di temukan walaupun  ada tidak lebih dari 1 atau 2 itupun sangat sulit di temukan
Akan tetapi Maktab NanGq 1857 Pusat tetap memiliki Dokumen Berupa Poto Sultan Syarif Hamid I bin Sultan Syarif Usman Alkadri yang belum di ijinkan leluhur untuk di masukan di Blog Maktab, sehingga belum bisa di tampilkan yang jelas wajahnya sangat mirip dengan Dokumen yang tertulis sebagai Sultan Syarif Hamid I Alkadri bin Sultan Syarif  Usman Alkadri

Tapi yang jelas Sultan Syarif Muhammad bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri dokumen yang bertebaran dan sama dengan dikenal yang di bawa ini

Penelitian tersebut perlu di lakukan agar tidak salah dalam menentukan Dokumen yang sesungguhnya sehingga sekarang masih di abaikan

Sekalipun beliau anak kandung Sultan Syarif Yusuf  Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri akan tetapi wajah memiliki kemiripan dengan Sultan Syarif Usman Bin Sultan Syarif Abdurahman Alkadri di banding dengan Ayahnya sendiri. 

Sebab baik dari Jalur ayah maupun dari Jalur Ibu keduanya merupakan keturunan dari Sultan Syarif Usman Alkadri sehingga gennya lebih cenderung ke buyutnya Sultan Syarif Usman Bin Sultan Syarif Abdurrahman  Alkadri dan kemiripan dengan ayahnya Sultan Syarif Yusuf Bin Sultan Hamid I Alkadri hanya mencapai 35  Persen saja dan 65 Persen mendekati wajah buyutnya Sultan Syarif Usman Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri 

sebab

Jalur laki-laki adalah :

Sultan Syarif Muhammad Alkadri Bin Sultan Syarif Yusuf Bin Sultan  Hamid I Bin Sultan Syarif Usman Alkadri sedangkan 

Jalur Ibu adalah : Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahara Binti Pangeran Jaya Syarif Abdullah Bin Sultan Syarif Usman Alkadri

Sehingga wajar jika hampir mirip dengan Sultan Syarif Usman Alkadri sebab baik dari jalur ayah dan ibu sama - sama keturunan Sultan Syarif Usman Alkadri Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Maharatu  Suri Mahkota Agung Syecah Jamilah Binti Syech Mahmud Syarwani Almaky Adaghistani  Althougts Sayadjely Alhasani. Istri Sultan Syarif Muhammad Alkadri

  SULTAN SYARIF HAMID II ALKADRI BIN   SULTAN SYARIF MUHAMMAD ALKADRI
     SULTAN KE VII (1945 M - 1987 M) 
      MENJABAT SELAMA 42 TAHUN

Wajah lebih mengambil Ayahnya Sultan Syarif Muhammad Alkadri, Sultan Syarif Yusuf Alkadri dan Sultan Syarif Usman Alkadri. Matanya lebih tajam mengambil mata ibunya dan postur tubuh juga mengambil postur tubuh ibunya yang besar dan tinggi

Silakan Baca (( Kehidupan Rasulullah Di Alam Nyata Harus Sesuai Dengan Alam Ghaib Dan Keturunanya)) tentang Genetik Ahlulbait Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, agar lebih bisa di mengerti tentang Genetik

    SULTAN SYARIF ABU BAKAR ALKADRI
        BIN PANGERAN PERDANA SYARIF 
                    MAHMUD ALKADRI
          SULTAN KE VIII (2004 M - 2017 M) 
            MENJABAT SELAMA 13 TAHUN

Karena anak Sultan Syarif Hamid II Alkadri tidak ingin menetap di Pontianak dan tetap di Belanda dan menyerahkan kepada anak adik kandung Sultan Hamid II Alkadri yaitu Pangeran Perdana Agung Syarif Mahmud Alkadri maka yang tepat di Nobatkan Pangeran Perdana Syarif Abu Bakar Alkadri sebagai Sultan ke VII mengantikan Pamanya Sultan Syarif Hamid II Alkadri melalui hukum tradisi adat dan syariat sudah sesuai dan dasar surat Pengadilan yang terbit pada tahun 1987 dan Tahun 2004 yang menetapkan sebagai Sultan adalah Syarif Abu Bakar Alkadri (secara Adat, hukum Syariat Islam dan Tradisi sudah sesuai dan bersipat paten tidak bisa di ganggu gugat) 

Sultan Syarif Abu Bakar Bin Pangeran Perdana Agung Syarif Mahmud Alkadri brrsama istri Maharatu Suri Mahkota Agung  Utin Laila

    SULTAN SYARIF MELVIN ALKADRI. SH
BIN SULTAN SYARIF ABU BAKAR ALKADRI
     SULTAN KE IX (2017 M - SEKARANG) 
           SUDAH MENJABAT  8 TAHUN
            DAN MASIH BERLANGSUNG

     MAHARATU SURI MAHKOTA AGUNG     
     SYECAH TANAYA AHMAD ALKHALID

Sultan Syarif Melvin Alkadri. SH. secara Postur Tubuh dan wajah 90 Persen Mengambil wajah dan Postur Ayahnya, sedangkan Sipat lebih cenderung mengambil  50 Persen Ibu dan 50 Persen Ayah berdasarkan rekam jejak sejak ayahnya  di Nobatkan sebagai Sultan Ke VIII (2004 M - 2017 M) berdasarkan rekam jejak Sejarah yang di jelaskan Pangeran Bendahara Tua VI Syarif Ibrahim Bin Ahmad Alkadri yang juga pernah mendampingi Beliau dari tahun 1987 M setelah Sultan Syarif Hamid  II Alkadri wafat 31 Maret 1987 M, di Jakarta  di mana ada wasiat Sultan Syarif Hamid  II Alkadri agar mengiring beliau untuk mengantikan dirinya sampai dengan tahun 2004 M dan berlanjut hingga Tahun 2007 M. Dimana pada tahun 1987 M - 2003 M mengalami masa Invennigtum / Vakum karena adanya kisruh dan ambisi dari pihak keluarga yang juga ingin menjadi Sultan Ilegal 

Setelah Tahun 2007 M putus Kontak keduanya tidak pernah bertemu lagi hingga Pangeran Bendahara Tua VI Syarif Ibrahim Bin Ahmad Alkadri Wafat pada tahun 2015 M, 2 tahun kemudian Sultan Syarif Abu Bakar Bin Mahmud Alkadri juga wafat di tahun 2017 M

Di tangan Sultan Syarif Melvin Alkadr. SH memimpin telah banyak perubahan dalam Rehabilitasi Istanah maupun Makam Kesultanan walapun di terpa berbagai Fitnah dan ujian

Dari gerombolan Keluarga sendiri yang berseberangan dengan Sultan, akan tetapi jika dl lihat dari Kacamata dan pengamatan tidak lain semua itu merupakan Sipat iri dan dengki yang berujung fitnah, sehingga jika ada celah fitnah tersebut akan membesar. 

Dari hasil penelitian dan Penelusuran data yang muncul dari Lembaga lain terbukti salah satu gerombolan tersebut terbukti bukan keturunan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri maupun Keturunan Sayid Husein Alkadri Mufthi Mempawah karena anak - anak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri maupun anak-anak Sayid Husein Alkadri Mufthi Mempawah tidak terkonfirmasih secara Fakta  Manuskrip demikian juga secara Gaib ke hadiran leluhur, 

Sehingga Maktab NanGq 1857 Pusat mencoret dengan "" Tinta Merah Terputus / Bukan Sebagai Keturunan Asyayyid  Husein Alkadri Mufthi Mempawah, maka yang menjadi korban adalah Wanita - wanita Alkadri yang menikah dengan keturunan tersebut

Dengan demikian Maktab NanGq 18857 Pusat wajib meneliti Nasab - Nasab Keluarga Alkadri yang memang belum terkonfirmasi atau sudah terkonfirmasi tetapi salah Jalur-jalur nya baik dari pihak ayah dan pihak ibu, agar di kemudian hari  bagi yang sudah sempurna tidak bermasalah lagi

Dan menjaga dari orang-orang yang menyerang keluarga istanah yang mengaku sebagai Alkadri ternyata bukan

    PANGERAN BENDAHARA SRI NEGARA
        SYARIF MUHAMMAD HISYAM FS 
                  ALKADRI  BIN SULTAN 
             SYARIF MELVIN ALKADRI. SH

Karena masih kecil belum bisa di pastikan apakah mengikuti postur tubuh dan waajah ayahnya atau ibunya yang jelas memiliki kombinasi wajah ayah dan ibu, untuk mengetahui dengan pasti setelah Pangeran berumur 15 tahun karena pada umur terbit sudah tampak dengan jelas dan tidak bisa berubah lagi sehingga akan mendominasi wajah ayah atau ibu termasuk postur ayah atau ibu, yang jelas saat ini  baru bisa di terka / di perkirakan akan mengikuti 75 Pesen wajah ayah dan 25 persen ibu secara Gen Tubuh

    PANGERAN RATU ANOM SRI NEGARA
  SYARIF  ABU BAKAR CRISE ALKADRI BIN
     SULTAN SYARIF MELVIN ALKADRI. SH. 

Lebih 75 Persen mengikuti postur wajah datonya / Jidnya Sultan Syarif Abu Bakar  Bin Mahmud Alkadri, untuk memastikannya harus menunggu 15 tahun lagi sebab pada umur 15 tahun postur wajah sudah Vinal dan hanya masa perkembangan tubuh dengan demikian gen Dato / Jid lebih mendominasi di usia ini

Sultan Syarif Melvin Alkadri. SH. Bersama Istri Kedua dan Ketiga Anak Kandungnya 

Istanah Kadriah Kesultanan Pontianak Sayap Kanan, kiri dan teras depan serta teras belakang di bangun oleh Sultan Syarif Usman Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, sementara bagian dapur yang menonjol serta Pagar keliling di bangunan anaknya Sultan Syarif Hamid I Alkadri Bin Sultan Syarif Usman Alkadri dengan Desain menyatu

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri di Bangun Bersamaan dengan Istanah Pontianak tahun 1771 M -  1292 H. Kemudian di sempurnakan Sultan Syarif Usman Bin Dultan Syarif Abdurahman dengan merehabilitasi 4 penjuru Sayap sehingga sempurna hingga saat ini

Salah satu Manuskrip yang di tanda tangani dan Cap Kerajaan dari Sultan Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri untuk di buatt lukisan wajah Sultan Syarif Usman Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, yang sebenarnya adalah Manuskrip Sultan Syarif Kasim Alkadri yang di sandingkan dengan lukisan Sultan Syarif Usman Alkadri, Lukisan tersebut tidak sesuai dengan wajah aslinya yang saat itu tahun 1825 M -  1246  H, saat itu umur Sultan Syarif Usman baru berusia 48 tahun, seda gka  lukisan menampilkan usia antara 85  - 90 tahun ketuaan lukisan tersebut tidak bisa di jadikan dasar sebagai Dokumentasi Sultan Syarif Usman Alkadri dan saat itu beliau juga hampir tidak pernah memakai pakaian berpostur Ulama hanya saat - saat tertentu saja tetapi tidak memakai keris sebagaimana ulama - ulama Jawa sekalipun ibunya keturunan Jawa dari Sultan Hamengkubuwono I

Manuskrip asli peninggalan Sultan Syarif Usman Alkadri bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, manuskrip di atas yang dikirakan manuskrip Sultan Syarif Usman Alkadri sebenarnya Manuskrip Sultan Syarif Kasim Alkadri jadi kedua Manuskrip tersebut sebenarnya tertukar

Alasan sangat mustahil ketika seseorang datang di Kesultanan tidak kenal dengan Sultan yang hampir setiap hari bareda di atas kursi Kesultanan apalagi merupakan Raja yang terkenal di  Kalimantan Barat yang setiap hari melayani tamu Kerajaan dari berbagai daerah termasuk tamu-tamu dari Kerajaan lain, sehingga pernah di komentator oleh Pangeran Bendahara Tua Syarif Jafar Bin Sultan Syarif  Hamid I Alkadri lukisan tersebut nyeleneh

Sebab saat itu Beliau masih hidup dan lebih tau wajah asli kakeknya Sultan Syarif Usman Aljadri hingga wafat tahun 1860 M - 1281 H

Pangeran Bendahara Tua Wiranegara VII Syarif Abdullah bin Usman bin Ahmad Alkadri. Salah satu cicit Pangeran Bendahara Tua Syarif Jafar Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri yang wajahnya hampir sama dengan Sultan Syarif Usman Aljadri Jalan Nurul Hidayah Kelurahan Sungai Raya Dalam Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya Kabar Indonesia 🇮🇩

Bagian Depan Uang Logam di Jaman Sultan Syarif Usman Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri akan tetapi jika di lihat dari angka tahunya tertulis 1791 M berkisar tahun  1212 H, bearti Uang Logam ini di terbitkan di Jaman Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan tetap berlaku di jaman Sultan Syarif Kasim Alkadri hingga ke Sultan Syarif Usman Alkadri


Bagian Belakang Uang Logam yang di terbitkan di Jaman Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri hingga berlaku di jaman Sultan Syarif Kasim. Alkadri hingga Sultan Syarif Usman Alkadri berdasarkan angka tahun yang tertulis di bagian depan

Dilihat dari keterangan ini tertulis Coin Sultan Syarif Usman Alkadri Tahun 1808 M - 1819 M, tetapi jika di lihat dari angka di koin tertulis 1291 H tahun tersebut berttepatan dengan tahun  1870 M, maka yang lebih tepat 1791 M -  1212 H  yang artinya Coin di buat pada Jaman Sultan Syarif Abdurahman Alkadri dan berlaku hingga ke tiga generasi sampai ke jaman Sultan Syarif Usman Alkadri 1808 M _ 1i19 M, maka kalimat tersebut lebih tepat, artinya Coin berlaku sampai pada Jaman Sultan Syarif Usman Alkadri atau Tiga Generasi Kepimpinan yaitu :

1. Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri menerbitkan Coin pada tahun 1791 M - 1212 H dan tetap berlaku pada Jaman 

2. Sultan Syarif Kasim Alkadri 1808 M - 1819 M dan berlaku sampai kepada 

3. Sultan Syarif Usman Alkadri 1i19 M - 1855 M

Sebab pada Tahun 1808 M - 1819 M adalah masa Sultan Syarif Kasim. Alkadri setelah Sultan Syarif Kasim Alkadri wafat pada tanggal  25 Pebruari 1819 M, barulah Sultan Syarif Usman Alkadri menjadi Sultan dari tahun 1819 M - 1855 M

Maka Catatan di atas terjadi kekeliruan sebab 1808 M - 1819 M adalah Masa Sultan Syarif Kasim Alkadri menjadi Sultan, sehingga terjadi kekeliruan tulisan tersebut yang tidak di ketahui  siapa sumber penulisnya

Anan - anak Cucu Sultan Syarif Usman Alkadri merupakan garis Keturunan yang mewarisi Kesultanan Kadriah Pontianan berdasarkan Wasiat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri bin Sayid Syarif Husein Alkadri Mufthi Mempawah melalui jalur dan garis berdasarkan Tradisi Adat Leluhur secara turun temurun dan di sesuaikan dengan kondisi Syariat ajaran  Islam hingga Sa'ad ini 

Tradisi adat yang sudah melekat merupakan sebuah prinsip yang tidak ada toleran yang berlaku secara otomatis kepada Keturunan Sultan Syarif Usman yang sudah menjadi Sultan Pontianak secara turun temurun sehingga aturan tersebut mutlak berlaku dan tidak terabaikan

Dalam pengamatan Maktab NanGq 1857.Pusat semenjak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri menjadi Pendiri dan Sultan Pertama sudah sesuai apa yang di Wasistkan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, sehingga siapapun yang ingin menerobosnya mereka akan berhadapan Kuarga Tujuh, setelah di Jaman Sultan Syarif Muhammad Alkadri menjadi Sultan memjadi Keluarga 9 yang di dalamnya masuklah sesepuh tertua yaitu Ratu Khodijah yang merupakan salah satu anak Sultan Syarif Muhammad Alkadri yang di Sepuhkan di Istanah Kedultanan Pontianak, saat ini sudah wafat

Maka selayak Keluarga 9  yang di Sepuhkan harus di angkat lagi oleh Sultan Ke IX yang pantas di ambil dari Kakak tertua dari Sultan Syarif Melvi  Aljkadri dan menguburkan Keluarga 9 yang lama karena generasinya telah melampaui 3 generasi dengan demikian Keluarga 9 yang baru akan menjadi benteng yang kokoh untuk melindungi Sultan sedangkan Maktab NanGq 1857 sebagai lapis terakhir yang berada di luar Kedultanan yang memiliki benteng yang lebih kuat untuk Melindungi Keluarga 9 dan Sultan yang telah sesuai berdasarkan Tradisi Adat Turun Temurun yang sesuai dengan Syariat Islam

Sebab Pengurus Maktab NanGq 1857 Induknya merupakan Keturunan Sultan Syarif Usman Alkadri dan seluruh Keturunan Asyayyid Syarif Husein Alkadri Mufthi Mempawah yang berpegang Teguh dengan Tradisi Adat  tersebut

Keturunan Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I bin Sultan Syarif Usman Alkadri di Peniti Dalam Segedong Kecamatan Segedong Kabupaten Mempawah Kalbar Indonesia🇮🇩

Ratu Sepuh Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahara binti  Thaha bin Abdullah Temenggung Banten bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar bin Asysayid Syarif Husein Alkadri Mufthi Mempawah di jodohkan langsung  Kakeknya Psnglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri dan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan anaknya Sultan Syarif Usman Alkadri fi usia yang masih kecil di usia Sultan Syarif Usman Alkadri berumur 7 tahun (1784 M) dan Syarifah Thaha  Alkadri berusia 5 (1786 M) tahun dengan di ikat sebuah gelang yang terbuat dari tali hitam yang  untuk mengikat mata intan agar tidak terlepas

Sultan Syarif Usman Alkadri merupakan Sultan yang Ke III yang menjabat sebagai Sultan dari Tahun 1819 M - 1855 M

Sultan Syarif Usman Alkadri menduduki Kursi Kesultanan ketika berusia  42 tahun mengantikan Abang Kantungnya Sultan Syarif Kasim Alkadri  bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dari Ibu Kandung Putri Mempawah Utin Candramidi binti Opu Daeng Manambon Sayid Syekh Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah pada tanggal 25 Pebruari 1819 M -  1241 H

Saat ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri wafat 1808 M -  1229 H tanggal 3 Muharam, Pangeran Ratu Putra Mahkota Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sudah berusia  31 tahun

Dementsra kakaknya Sultan Syarif Kasim  in Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri saat itu sudah berusia 58 tahun dan menjabat sebagai Raja Mempawah dengan gelar Penembahan Syarif Kasim Mempawah. 1786 M - 1808 M sudah menjabst selama 22 Tahun mengantikan Gusti Djamiril yang mengungsi di Sadaniang karena kalah perang selama 8  Bulan dengan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ayahnya Sultan Syarif Kasim Alkadri,  setelah ayahnya wafat Sultan Syarif Kasim. Alkadri menobatkan dirinya sebagai Sultan Pontianak dengan alasan bahwa di dalam. Surat Wasiat Syarat Untuk menjadi Sultan harus berusia 40 tahan atau jika jika belum umur 40 telah memili anak minimal 7 orang untuk memenuhi kelurga Besar 7

Karena Pangeran Ratu Mshkota belum memenuhi kedua Syarat tersebut maka Sultan Syarif Kasim Alkadri menjadi Sultan Ke II dan menyerahkan Penembahan Mempawah kepada Gusti Djamiril dan Sultan Syarif Kasim menjadi Sultan Pontianak ke II dari tahun 1808 M - 1819 M setelah belisu wafat sesuai wasiat ayahnya maka Pangeran Ratu Mahkota Syarif Uan Aljadri di Nobatkan sebagai Sultan Ke III setelah melakukan Acara Pemaqaman abangnya Sultan Syarif Kasim Alkadri 25 Pebruari 1819 M -  1240 H

Sultan Syarif Usman Alkadri bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri resmi menjadi Sultan Ke III Pontianak Istanah Ksdriah

Keturunan Sultan Syarif Usman Alkadri dari cucu belisu Pangeran Bendahara Tus Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I bin Sultan Syarif Usman Alkadri dan Keturunan Syarif Herlangga bin Panglima Laksamana Lraxsa III Syarif Abu Bakar Alkadri Jalan Internasional Pontianak Kucing Desa Mandor Kecamatan Mandor Kabupaten Landak Kalbar Indonesia 🇮🇩

Untuk menghindari perebutan Tatha agar Wasiat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dapat di laksanakan maka di dalam surat wasiat ayahnya Sultan Syarif Kasim menuliskan wasiat tambahan yang di tanda tangani serta Cap Kerajaan bahwa setelah dirinya tiada yang berhak menjadi Sultan adalah Pangeran Ratu Mahkota Syarif Usman Alkadri

Surat tersebut di berikan Sultan Syarif Kasim Alkadri kepada Pangeran Ratu Mahkota  agar di simpan yang suatu saat jika di perlukan ditst tersebut dapat di keluarkan,  sehingga di dalam surat wasiat tersebut menjadi 2 wasiat

Yaitu Wasiat  :
1. Sultan Syarif Abdurahman bin Husein Alkadri Mugthi Mempawah dan
2. Sultan Syarif Kasim bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri bahwa setelah dirinya tiada yang berhak adalah :
3. Pangeran Rstu Mahkota Agung Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Sebab pada saat Sultan Syarif Kasim Aljadri mengangangkat  dirinya sendiri sebagai Sultan Ke II Istanah Ksdriah Pontianak, tidak satupun yang setujuu para sesepuh Istanah bahkan Sultan Syarif Kasim juga tidak mendapat dukungan penuh dari Residen Rembang Batavia

Sehingga dengan dasar surat wasiat tersebut kalangan sesepuh yang mengerti hukum wasiat dapat menyetujui sedangkan  yang tidak memahami berusaha tidak mau tahu

Ahirnya Dulyan Syarif Kasim Alkadri meminta bagi sesepuh yang tidak setuju dengan dirinya menjadi Sultan agar segera meninggalkan Istanah

Pada dasarnya tujuan Sultan Syarif Kasim bin Sultan Dysrif Abdurrahman Alkadri adalah sangat MULIA

Sebab belisu hendak mengembalikan Penembahan Kerajaan Mempawah yang di pimpinya agar di serahkan kembali kepada Lamanya Gusti Djamiril agar kedua Kesultanan yang berseteru bisa kembali Harmonis

Maka dengan mengangkat dirinya sebagai Sultan Pontianak dirinya tetap menjadi Sultan dan di dalam isi Surat Wasiat yang di tulis ayahnya pada saat itu Pangeran Rstu Mahkota Systif Usman Aljadri juga tidak memenuhi Syarat dari Wasiat tetsebut karena di dalam wasiat tersebut mengsyaratkan 2 Poin yang belum bisa di penuhi Pangeran Ratu Mahkota Syarif Usman Alkadri

Sedangkan dirinya Justru memenuhi kedua Syarat tetsebut maka beliaulah yang berhak untuk mengantikan  ayahnya tanpa perlu meminta  persetujuan atau tidak di setujui sebab Syarat tersebut terpenuhi

Artinya Surat Wasiat yang di tulis ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri memberi celah Sultan Syarif Kasim untuk menjabat sebagai Sultan Pontianak ke II  berdasarkan Surat Wasiat tersebut

Adapun Surat Wasiat yang di tambahkan Sultan Systif Kasim Alkadri bermaksud, jika dirinya sudah tiada maka yang berhak menjadi Sultan adalah adiknya Pangeran Ratu Mahkota Syarif  Usman Alkadri

Sehingga jika terjadi perseteruan dengan anaknya Pangeran Perdana Muda Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Kasim Alkadri Surat Wasiat tetsebut dapat di tunjukan kepada Pangeran Perdana Muda Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Kasim Alkadri yang juga berambisi untuk mengantikan Ayahnya

Sehingga hak Pangeran Perdana Muda Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Kasim Alkadri gugur dengan Surat Wasiat tersebut

Dan benar dana ketika Penobatan  Pangeran Ratu Mahkota Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri terjadi perseteruan pada tanggal 25 Pebruari 1819  M, untuk menghindari perseteruan tersebut melebar Pangeran Ratu Mahkota Syarif Usman Alkadri bin Sultan Syarif  Abdurrahman Alkadri terpaksa menunjukan Durst Wasiat tetsebut yang di kelilingi Sesepuh dan Pasukan Istanah untuk mencegah amukan Pangeran Perdana Muda Syarif Abu Bakar Bin Sultan Syarif Kasim Alkadri karena merasa a dirinyalah yang berhak mengantikan ayahnya

Dengan melihat Surat Wasiat tersebut Pangeran Perdana Muda Syarif Abu Bakar Alkadri bin Sultan Syarif Kasim Alkadri menjadi lesu kemudian meninggalkan Ruangan Penobatan sebab pada saat itu masih dalam kondisi berkabung wafatnya ayahnya Sultan Syarif Kasim bin Sultan Syarif Abdurahman Alkadri

Keluarga Besar Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Hamid I bin Sultan Syarif Usman Alkadri. Syarif Fahror Roji Aljadri bersama saudara kandungnya anak dan istrinya di Kota Martapura Kabupaten Banjar Kalsel Indonesia 🇮🇩

Ketika Penobatan Sultan Syarif Usman Alkadri bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri telah berusia  42 tahun dan sudah memenuhi Syarat dar segi umur bahkan sudah lewat 2 tahun dari persyaratan berdasarkan Wasiat minimal berumur 40 tahun dan jumlah anak belisu juga sudah memenuhi Syarat karena sudah memiliki anak lebih dari 7 orang sehingga baik Secara Wasiat adat dan Tradisi serta hukum Wasiat telah masuk dalam Syariat Islam sehingga haknya penuh untuk menjadi Sultan sekalipun banyak Saudara - saudara Sultan Syarif Usman Alkadri yang lebih Tua darinya yang juga berhak secara waris menjadi Sultan

Dengan Hak Waris tresebut sehingga hak - hak yang lain menjadi gugur dengan sendirinya

Terpilihnya Sultan Syarif Usman  Alkadri Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Sebagai Sultan ke II

Karena saat itu Pangeran Perdana Agung Syarif Kasim bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri karena saat itu  Sysrif Kasim sudah menjabat sebagai Raja Penembabam Kadim Mempawsh, sehingga tidak mungkin menjabat di 2 Kesultanan atas dasar tersebut Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri menulis Surat Wasiat dengan Persyaratan dan Pertimbangan yang matang mewasiatkan anaknya Pangeran Ratu Mahkota Syarif Usman Alkadri untuk mengantikan dirinya

Akan tetapi di luar dugaan setelah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Wafat 1808 M, justru Penembahan Systif Kasim Mempawah berpikiran lain

Bisu justru menegembalikan Penbahan Mempawah kamanya Gusti Jamiril Sayid Syech Djamiril Adeni Qaulan Jazirah untuk berkuasa lagi di Mempawsh dan mengahiri perseteruan yang terjadi

Sehingga Tahta Kerajaan Mempawah bisa kembali di kuasai keturunan aslinya yaitu Keturunan Opu Daeng Manbon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah sehingga keharmonisa Keluarga terjalin kembali

Agar dirinya tetap menjadi Sultan di Pontianak maka Sultan Syarif Kasim Alkadri meneliti Celah Surat Wasiat tersebut yang memang belisu sendiri yang memegangnya, sehingga beliau tanpa persetujuan siapan dapat menjadi Sultan dengan Wasiat tersebut

Artinya ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri membuat Surat wasiat tersebut memberi celah agar anak tertuanya Sultan Syarif Kasim Aljadri bisa menjabat sebagai Sultan ketika dirinya tiada dan untuk seterusnya tetap Sultan Syarif Usman Alkadri yang menjadi Sultan selanjutnya

Sehingga Wasiat tersebut tetap mengikat Sultan Syarif Usman Alkadri jika sudah cukup Syarat dialah yang berhakk menjadi Sultan

Jadi Suktan Syarif Kasim. Alkadri tidak bisa di anggap sebagai perebut Kursi Kesultanan sebagaimana pemikiran.- pemikiran  orang yang tidak mengerti dari mana Wasiat tersebut

Sebab kenyataanya Sultan Syarif Kasim Alkadri juga menambahkan Surat Wasiat tersebut agar adiknya yang menjadi Sultan setelah beliau Wafat

Sultan Syarif Melvin Alkadri. SH keturunan Sultan Syarif Usman Alkadri Jalur Sultan Syarif Muhammad Alkadri dan Anak Cucu Keturunan Sultan Syarif Usman Alkadri Jalur Pangeran Bendahara Tua Syarif Jafar bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri dari Jalan Kerajaan Tawau Saba Negara Malasiya 🇲🇾 ketika berada di Istana Kadriah Kesultanan Pontianak 

3 Tahun sebelum wafatnya Sultan Syarif Kasim. Alkadri belisu juga menjodohkan anaknya Syarifah Fatimah binti Sultan Syarif Kasim Alkadri dengan anak Pangeran Ratu Mahkota dengan Pangeran Rstu Mahkota Systif Abdul Hamiid bin Pangeran Ratu Mas Mahkota Systif Usman Alkadri. Karena Sultan Systif Kasim Alkadri tau setelah dirinya tiada Pangeran Ratu Mahkota Syarif Usman Alkadri pasti menjadi Sultan Pontianak Ke III yang akan mengantiksn dirinya dan juga mengetahui pastilah anaknya Pangeran Ratu Mahkota Systif Abdul Hamid Alkadri akan meneruskan ke Sultananan yang kemudian terkenal sebagai Sultan Hamid I Alkadri

Gelar Sultan Anom Hamid I Alkadri diberikan setelah Pangeran Ratu Mahkota Systif Abdul Hamid bin Sultan Systif Ydusf Alkadri menjabst sebagai Sultan Ke VII pada tahun 1945 M detelsh peristiwa Jepang, karena keduanya memiliki nama yang sama sehingga di tambah dengan I dan II untuk membedakan bahwa  ada 2 Sultan Pontianak yang namanya sama yaitu Dultan Hamid I Alkadri yang menjabst pada tahun 1855 M sd 1872 M dan Sultan Hamid II Alkadri yang menjabst pada tahun 1945 M - 19i7 M,. Dimana Sultan Hamid II Aljadri memiliki Buyut juga bernama yang sama yaitu Sultan Hamid I Alkadri, pada saat Perjodohan tersebut keduanya masih  kecil

Akan tetapi setelah Sultan Systif Kasim Alkadri wafat dan Sultan Syarif Usman Alkadri menjadi  Sultan yang kedua belisu tetap melaksanakan wasiat perjodohan tersebut yang merupakan pernikahan sekufu sama-sama Amak saudara kandung dari lain ibu yaitu Sultan Sustif Kadim bin Dultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan ibunya Ratu Mempawsh Putri Utin Candramidi binti Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah dengan putrinya bernama Ratu Anom Syarifah Fatimah binti Sultan Syarif Kasim. Alkadri dari istrinya Ratu Sepuh Inche Minah dengan Pangeran Ratu Mahkota Syarif Abdul Hamid (Sultan Hamid I) Alkadri bin Sultan Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan ibunya Ratu Sepuh Maharatu Suri Mahkota Agung Ratu Kesumasari binti Raden Pangeran Temenggung Wijoyo ningrat bin Sultan Hamengkubuwono I (Sujono) bin Sunan Amangkurat IV dari istri ke 7 Sunan yang bernama Raden Mas Ayu Tejawati

Alasan mengapa Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri membuat Surat wasiat agar Pangeran Ratu Mahkota Syarif Usman Alkadri bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri mengantikan dirinya sebagai Sultan Pontianak ke II sast itu hal ini di sebabkan adalah ,  :

1. Pangeran Perdana Agung Syarif Kasim bin Sultan Systif Abdurrahman Alkadri sebagai anak tertua dari pihak laki-laki karena sudah menjabat sebagai Raja Penembabam Mempawsh dengan gelar Penembahan Syarif Kasim Mempawah yang menjabat pada tahun 1786  M SD 1808 M menjabat selama 22 tahun dan sudah berpengalaman sebagai Raja sebab itu belisu membuat Surat Wasiat untuk

2. Membuat Surat Wasiat agar anaknya Pangeran Rstu Mshkota Sustif Usman Alkadri, akan mengantikan dirinya sebagai Sultan ke II Pontianak dengan Syarat jika sudah berumur 40 tahun dan memiliki minimal 7 orang Anak dan di antara amak tersebut minimal harus ada 1 orang anak laki-laki yang di tuakan sebagai ganti waris Sultan Selanjutnya

E. Di tunjuknya Pangeran Ratu Mahkota Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sebagai Penghargaan yang setingg - tingginya karena merupakan keturunan dari istrinya Ratu Sepuh Maharatu Suri Mahkota Agung Ratu Kedumasari binti Raden Pangeran Temenggung Wijoyo ningrat bin Sultan Hamengkubuwono I (Sujono) bin Sunan Amangkurat IV sebagai Penghargaan kakeknya Rstu Kedumasari dari Kesultanan Yogyakarta

4. Karena gelar yang melekat kepada istrinya sebagai Ratu Sepuh maharatu Suri Mahkota Agung Rstu Kedumasari seharusnya fi berikan kepada Rstu Utin Candramifi binti Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah fi tolak oleh Rstu Utin Candramidi dengan alasan tidak bisa mendampnhi Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri di Istanah Ksdriah Kesultanan Pontianak, agar ketika dirinya wafat tidak perlu jsu untuk di bawah ke Mempawsh karena sudah bernajsr agsr dirinya di makamkan dengan makam Asysyid Systif Husein Alkadri di galah Herang Mempawsh dan Cukuplah dirinya bergelar sebagai Rstu Mempawah, sehingga Rstu Mempawah Utin Candramidi binti Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah menetap di Istanah Mempawah membesarkan ke 7 anak-anak di Istanah Amantubilah Mempawsh, maka

5. Sultan Systif Abdurrahman Alkadri menetapkan Istri ke 9 Ratu Kedumasari sebagai Istri Kedua Beliau dengan urutan tersebut seluruh para Istri yang tinggal di Istanah menyetujuinya sekalipun ada anak- anak mereka yang sebenarnya lebih berhak, akan tetapi dengan Surat Wasiat tersebut hak anak yang lain memjadi gugur dengan Surat Wasiat tersebut, sehingga wajar antara Dultan Systif Kasim Aljadri bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan adik kandungnya Sultan Syarif Usman Aljadri yerpsu umur hingga 37 tahun

Artinya setelah Sultan Syarif Kadim Alkadri berumur 37 tshun Sultan Syarif Usman Alkafri baru lahir

Akan tetapi dalam catatan Sejarah tidak satupun yang pernah mempersalahkan naiknya Sultan Systif Usman Sebagai Sultan Pontianak ke III dari  seluruh saudara kandungnya Sa'ad itu

Justru yang mempermasalshkanya adalah Pangeran Perdana Muda Sysrif Abu Bakar bin Sultan Syarif Kasim Alkadri yang berambisi untuk mengantiksn Ayahnya Sultan Syarif Kadim Alkadri karena secara hukum dirinyalah yang lebih berhak, akan tetapi hukum tersebut di batalkan dengan terbitnya Surat Wasiat dari Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri kakeknya sendiri dan di perkuat dengan tambahan dari ayahnya sendiri Sultan Syarif Kasim bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan stempel Kesultanan sehingga gugurlah hak Pangeran Perdama Muda Syarif Abu Bakar Alkadri dan kisruh ini berlanjut hingga jaman Sultan Syarif Hamid I Alkadri ketika di Nobatkan ayahnya Sultan Syarif Usman Alkadri, agar ketika dirinya sudah tiada anaknya Sultan Systif Hamid I Alkadri sudah menjadi Sultan Ke IV Istanah Kadriah Kesultanan Pontianak dalam hal ini dokemen sejarah ini hanya satu- satu terdapat di Maktab NanGq  1857 Pusat peninggalan sejarah yang di tulis oleh Sultan Syarif Hamid I Alkadri yang di serahkan kepada anaknya Pangeran Bendahara Systif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri saat itu ( Sultan Syarif Hamid I Alkadri menjabat sebagai Sultan ke IV 1855 M -  1872 M) 

Syarif Abdullah Ghoniyun bin Afandi Keturunan Sultan Syarif Usman Alkadri dari Jalur Pangeran Junjung Putih / Pangeran Cakra Buana Syarif Abu Bakar Alkadri Bin Sultan Syarif Usman Alkadri. Bersama Keluarga Laskar dan Panglima Singgapati Syarif Hasan Bin Umar Alkadri Panglima Kesultanan Kadriah Pontianak makam di Sumenep Jawa Timur Indonesia🇮🇩 . Saat berada di Garut di lokasi Makam Mba Imam Psngkiroman Syarif Abdullah bin Alwi bin Pangeran Cakra Buana Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Usman Alkadri merupakan anak dari istri ke 5 Sultan Syarif Usman Alkadri yang bernama Ratu Seberang Nyai Culan merupakan cicit Opu Daeng Manambon Jalur Syarif  Muhammad  (Gusti Djamadin bin Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah, Syarif Muhammad Gusti Jamadin di nobatkan Sultan Sambas ke IV sebagai Pangeran Cakra karena menikahi salah satu putri ke 5 Sultan Sambas makam keduanya di Lokasi pemakaman Sultan - Sultan Sambas, pernikahan tersebut di lakukan Sultan Syarif Usman Alkadri untuk memperdalam hubungan kekeluargaan dengan Kerajaan Mempawah dan Kersjasn Sambas yang sempat Retak di jaman ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, sehingga tetap Harmonis sebagai Buah perjuangan Sultan Syarif Kasim Alkadri Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang mengembalikan Marwah ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang sempat retak karena berperang 8 bulan mengambil alih Kerajaan Mempawah, dengan kedua Kerajaan tersebut (Banyak orang yang mengaku ahli Sejarah menghujat Sultan Syarif Kasim Bin Sultan Syarif  Abdurrahman Alkadri. Sebenarnya mereka bukan ahli Sejarah melainkan ahli Provokator  kenyataannya hingga sekarang semua keturunan Sultan Syarif  Abdurrahman Alkadri akur - akur saja, yang perlu di waspadai keturunan yang suka memecah belah maka wajib di telusuri satu - demi satu Nasabnya  karena sudah ada yang terkuak justru para provokator tersebut bukan sebagai keturunan Sultan Systif Abdurrahman Alkadri maupun sebagai Keturunan Sayid Husein Alkadri Mugthi Mempawah

Pada saat Penobatan Sultan Syarif Usman Alkadri belisu juga mendapat dukungan dari Residen Rembang Belanda VOC fi Batavia

Setelah Sultan Syarif Usman Alkadri Tesmi menjadi Sultan ke III beliau sudah di sodorkan perjanjian oleh Pangeran Perdana Muda Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Kasim Alkadri

Adapun isi Tuntutan Pamgeran  Perdana Muda Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Kasim Alkadri adalah sebagai berikut :

1. Memberikan  Penghasilan Pajak 40 Golden  setiap bulan kepada Pangeran Perdana Muda Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Kasim Alkadri

2. Memberikan tunjangan  kepada 3 adik perempuan beliau masing-masing sebesar :1. Ratu Anom Syarifah Fatimah binti Sultan Syarif Kasim Alkadri dsri ibu Ratu Anom sebesar 15 Golden setiap bulan
2. Ratu Sepuh Syarifah Zahara binti Sultan Syarif Kasim Alkadri dari Ibu  Ratu Suri  sebesar 20 Golden setiap bulan
3. Rstu Bungsu Syarifah Maimunah binti Sultan Syarif Kasim Alkadri sebesar 15 persen 
4. Tunjangan harus diberikan setiap awal bulan  berdasarkan pendapatan Pajak bulan sebelumnya ,  Selain itu Pamgeran Perdana Muda Syarif Abu Bakar Alkadri setiap ahir bulan di depan meminta Tesiden Rembang Batavia di Jakarta  yang di tugaskan di Pontianak membayar vie 25 Golden dari Penghasilan pajak di bayar di muka, permintaan tersebut di setujui oleh Sultan Syarif Usman Alkadri

Kemudian acara Belasungkawa Sultan Syarif Kasim Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri di lanjutkan hingga 100 sesuai Tradisi adat Kesultanan Kadriah Pontianak saat itu

Sehingga Proses Penobatan yang seharusnya di laksanakan pada tanggal 25 Pebruari 1819 M di undur menjadi tanggal 28 Pebrusri 1819 M, Karana pada tanggal 25 Pebrusri 1819 M, Pangeran  Perdana Muda Syarif Abu Bakar Alkadri keluar dari acara Penobatan dan meminta penundaan untuk mengajukan Tuntutan tersebut selain itu juga merupakan hari bergabung wafatnya ayahnya Sultan Syarif Kasim bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang harus di hormati dan di junjung tingi pihak keluarga (sekalipun dalam dokumen- dokumen Sejarah) tidak ada di jelaskan adanya pengunduran tersebut

Ini brarti Sultan Syarif Usman Alkadri harus keluar 90 Golden setiap bulan, akan tetapi di danggupu Sultan Syarif Usman Alkadri kemudian tuntutan tersebut di kirim kepada pihak Belanda

Pihak Belanda menyetujui dengan mengambil dari potongan 30  persen dari pajak Kesultanan dan pihak Tesiden Belanda akan memberikan Tunjangan khusus untuk Sultan Syarif Usman Alkadri sebesar 42 Golden sebagai tambahan dari yang 30 % tersebut

Tuntutan tersebut menurut Pangeran Perdana Muda merupakan Kondensasi dari pihak Kedultana terhadap dirinya sebagai anak tertua Sultan Syarif Kasim Alkadri yang menganggap dirinya di singkirkan dari keluarga Istanah

Dalam keadaan pajak 30 Persen kemudian terpotong lagi 90 Golden sehingga Kesultanan mengalami krisis ekonomi kuhdusnya di Istanah

Maka ketika pihak Belanda menawarkan Kera sama Pembangunan Kapuas seberang agar di jadikan Pasar Rakyat untuk menambah pe jadikan Pajak Sultan Syarif Usman Alkadri mengambil kesempatan tersebut, termasuk pembangunan ruas jalan hingga menuju Kakap untuk angkutan komoditi ikan dan keluar masuknya Kapal  dagang  elanda yang berada di Muara Kakap dan Sekitarnya kemudian belisu menunjuk salah satu anaknya  Pamgeran Adjaya Sebaga Pungawa Kakap untuk pengamana Distrik tersebut 

Hasil Distrik yang di dapat dari luar daerah ini tidak di informasikan kepada pihak Belanda agar Distrik tidak di bilang alih dan dana yang tersimpan dalam bentuk Baitul Mal sebagai dana Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Seluruh dana - dana Distrik tersebut di siasati sebagai hasil dari Infaq Jum"at maupun Infaq harian sehingga di rahasiakan sedangkan yang di umumkan adalah dana kas murni 

Dana inilah yang kemudian di manfaatkan oleh Sultan Syarif Usman Alkadri untuk merehabilitas Masdjid dan memperluas teras - teras serta penambahan Dapur Istanah yang di lakukan pihak sesepuh Kedultan san Sultan tanpa harus di ketahui dan di rahasiakan

Sehingga pada saat Pembangunan pihak Belanda sedikit heran dan sempat bertanya- tanya ternyata dengan dana pajak yang tidak sampai laba bersihnya 3p Persen Kesultanan mampu memperluas bangunan Istanah dan Masjid Istanah

Dengan siasat tersebut Sultan Syarif Usman Alkadri dapat membangun Pontianak dalam waktu yang singkat mampu menulap Pontianak menjadi Kota Kesultanan di tambah dengan bantuan - bantuan Penduduk Cina kaya dan Naga Merah Taupekong Tanjungpura ((sebelum peristiwa meletusnya Pemberontakan Lotepa tahun 1855 M - 1856 M,  Distrik Mandor Mentrado)).Pontianak dengan bekerja sama dengan pihak Naga Merah dan Cina Kaya atas Perlindungan Sultan Syarif Usman Alkadri telah berhasil memajukan Pontianak memjadi sebuah Kota Kesultanan yang pesat, bahkan muara pelabuhan (sekarang Dwikora) menjadi alur perdangan yang pesat serta sebagai penghubung Dagang dengan Raja dan Kesultanan yang ada di Kalimantan Barat, sebab pada saat Sultan Syair Usman Aljadri menjadi Sultan ke III beliau tidak pernah melakukan ekspansi Perang terhadap Kerajaan  yang pernah di serang ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Melihat perkembangan yang pesat tersebut melalui utusan  Thomas Stamfork Rafleas menemui Sultan Syarif Usman Alkadri atas Perintah Resi dan Rembang Batavia pada tahun 1825 M ( dalam dokumen tidak ada keterangan bahwa Thomas Stamfork Rafleas meminta lukisan Sultan Syarif Usman Alkadri) mak di sinilah di curigai lukisan tersebut merupakan hasil rekayasa)  

Setelah bertemuan  dengan Sultan Syarif Usman Alkadri terbentuklah sebuah perjanjian dengan Pihak Belanda. 

Sultan Syarif Usman Alkadri menyadari bahwa "" Menyadari Kemampuan militer yang di milikinya,  hampir tidak berdaya dan tidak mungkin menghadapi Militer Belanda  dengan persenjataan yang relatif lengkap walaupun belisu mendapat dukungan penuh  dari sesepuh Kesultanan dan Rakyat 

Sultan melihat ke adaan dan kondisi saat itu sehingga tidak ada jalan lain kecuali sementara mengikuti  keinginan pemerintah kolonial Belanda  dengan meneruskan kontrak perjanjian pendahunya dengan menandatangani kontrak perjanjian yang merugikan. Pihak Kesultanan maka telah di lakukan kontrak perjanjian tahun 1819 M,  1822 M, 1823 M di mana isi perjanjian tersebut merugikan pihak Kesultanan Pontianak :

Keturunan Sultan Syarif Usman Alkadri jalur Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadri yaitu Syarif Muhammad Alkadri Depok berada di Kediaman Syarif Abdullah Ghoniyun Alkadri keturunan dari Pangeran Cakra Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Usman Alkadri di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut Jabar Indonesia 🇮🇩

Ada yang mengatakan Sultan Syarif Usman Alkadri sangat berbeda dengan abangnya Sultan Syarif Lazim. Alkadri dan ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, beliau tidak deverdik keduanya

Sultan Syarif Usman Alkadri termasuk Sultan yang banyak berkomromi dalam mengambil keputusan suara- suara para Sesepuh dan penasehat Istanah sangat belisu dengarkan dalam mengambil tindakan dan keputusan sehingga di anggap sebagian Sejarah mengatakan Sultan Syarif Usman Alkadri termasuk Sultan yang sangat lemah dalam memimpin dan termasuk typical Sultan yang menyenangi ke indahan 

Terbukti sekalipun dalam kepemimpinan yang di anggap lemah tetapi belisu mampu mengambil terobosan - terobosan dalam  merehabilitasi kembali Idtansh dan Masjid Kedultanan walaupun dalam tekanan pajak yang sangat rentan sehingga jika di hitung bersih setelah adanya potongan 90 Golden untuk Pangeran Perdanauda dan saudaranya sehingga bisa di bilang pendapatan pajak per bulan hanya di bawah 30 Persen belisu justru Mpu merehabilitas Bangunan Istanad dan Masjid Istanah

Selain itu juga untuk mempercepat Perkembangan Pontianak menjadi Kota Kesultanan belisu bekerja sama dengan Kongsi - Kongsi dagang Cina dan Naga Merah Tsupekong Tanjungpura dan Siantan yang saat itu sangat berpengaruh dan merupakan Kongsi dagang Cina terkaya termasuk Lotepa pemilik perusahaan tambang emas terbesar sast itu yang bekerja sama langsung dengan Tiongkok 🇨🇳

Dengan warisan bentukan distrik- distrik perdagangan yang tersebar di seluruh Nusantara peninggalan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri di mana hasil pendapatan untuk mengelabui Tesiden Rembang Belanda di Batavia dana tersebut di jadikan Kas Baitul Mal yang di kelolah Kesultanan agar terlepas dari pungutan Pajak Belanda, Dana inilah yang di kelolah untuk membangun termaduk infrastruktur Kota Kedultanan

Akibatnya  Residen Rembandg Belanda mengirim  Thomas Stamfork Rafleas pada tahun 1825 M ke Kesultanan Pontianak untuk membuat  perjajian dan Kontrak baru dalam Sistem Perpajakan dengan Residen Rembang VOC  Batavia di Jakarta

Adapun Kontrak sebelum nya yang terjadi pada tanggal 17 Juli 1821 M sudah merugikan pihak Kesultanan di mana isi Kontrak tersebut. Dimana Kontrak tersebut Residen Rembang VOC Batavia di Jakarta mengirim  Ferdinan The Marcos yang isinya kontrak tersebut adalah sebagai berikut :

1. Mengijinkan  Pihak Belanda membangun Penjara sepanjang Sungai Jawe (Wirjawie)  kemudian di beri nama Jalan Penjara sekarang sudah di ubah dengan Jalan Merdeka

2. Mengininkan Pembangunan zhereja Santa Klous juga Jalur Jalan Penjara simpang Jalan KH. Ahmad Dahlan sekarang di bangun Rumah Sakit Kristen Sungai Jawir

3. Menetapkan Hukum Kolonial Belanda Pidana dan Pedagang (sebagaimana yang berlaku sekarang) menjadi Hukum Resmi Kedultanan dan Menghapus  Hukum Syari'at Islam yang di tetapkan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

4. Membangun Kantor Pengadilan, Kejaksaan, dan Peradilan, (setelah Indonesia Merdeka) Kantor terbit di gunakan untuk Kantor Pengadilan, Kejaksaan, dan Peradilan Provinsi Kalimantan Barat

5. Mengangkat Jaksa Pertama yaitu Tuanku Jaksa Syarif Ali Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, dsri istri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang bernama Nyai Mangni (pengangkatan di lskutan tahun 1823 M setelah 2 tahun dari Perjanjian tersebut), adik Kandung Sultan Systif Usman Aljadri dari ibu yang berbeda yang mendapat persetujuan Sultan Syarif Usman Alkadri

6. Pelabuhan Induk (sekarang Dwikora) hanya untuk Sandar kapal / Perahu Layar Residen Rembang Belanda sepanjang Nipah Kuning hingga Pelabuhan Rakyat Sungai Jawir dengan batas Sungai Rengas (Sekarang Desa Sungai Rengas Kecamatan Kakap) Sungai Jawi sedangkan untuk Pelabuhan Rakyat di tempatkan di Pelabuhan Shenghi Tanjungpura agar tidak menganggu aktivitas Belanda

7. Segala bentuk. Pajak pihak Kedultanan hanya mendapatkan 40 Persen dan sisanya 60 Persen harus di setor Ke Tesiden Rembang Batavia VOC di Jakarta

Dengan Perjanjian ke tiga ini  Kekuasaan Sultan Syarif Usman Alkadri semakin Sempit  dan terisolasi di Pontianak

Keturunan Sultan Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Jalur Pangeran Bendahara Tua Syarif Jafar bin Sultan Syarif Hamid I bin Sultan Syarif Usman Alkadri Jalan Nurul Huda Adi Sucipto Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya Kalbar Indonesia 🇮🇩

Perjannian Kontrak yang ke 3 ini dari segi Pajak Rediden Rembang di Batavia masih mem erikan hasil Pajak 40 Persen akan tetapi dari segi wilayah di Isolasi sehingga pergerakan Sultan Syarif Usman Alkadri akses Ke pelabuhan Induk menjadi terisolasi

Ahirnya belisu memindahkan Armada Perang dan Perdagangan di Pelabuhan Shenghi dan membuka akses Pelabuhan baru di aliran Sungai Istanah dan Depan Masjid Jami Kesultanan Kadriah Pontianak hingga memanjang sampai aliran Sungai Kapuas di Desa Kapur

Dengan pinndahnya armada Dagang dan Armada Kapal Perahu Layar justru menguntungkan pihak Kedultana sebab  bongkar muat barang tidak dapat di awasi dengan Ketat oleh Tesiden Pelabuhan Induk (Dwikora) bahkan untuk menhindsr dari Cukai pihak Belanda untuk Kapal Dangan di letakan di aliran Sungai Kapuas di Desa Kapur sehingga terisolasi dari pengawasan Residen Belanda sedangkan Pelabuhan di Istanah di manfaatkan sebagai Sungai penyeberangan menuju Pelabuhan Shenghi Tanjungpura

Pada perjanjian yang ketiga ini secara Pengawasan lebih aman sehingga di gunakan Sultan sebaik-baiknya untuk meningkatkan hasil pendapan Kesultanan dan membuka lebar akses Perdagangan menuju arah perhuluan dengan bekerja sama dengan para Sultan dan Raja-raja Sambas,empawah, Ngabang, Sanggau, Sekadau, Sintang dan Kapuas Hulu

Sebab Pelabuhan Shengsi menjadi pusat berlabuhnya kapal - Kapal di berbagai Kerajaan dan Kesultanan yang penghafilan pajak masuk di kas Istanah

Sehingga dari tahun 1823 M - 1825 M Sultan Syarif Usman Alkadri Merehabilitas Bangunan Idtanah dan Masjid secara besar-besaran

Dengan menambah sayap kanan dan kiri Istanah, membangun Sekadar teras Istanah keliling dan membangun selasar teras Masjid Istanah Keliling dengan membongkar sebagian atap agar bisa menyatu dengan bangunan lama, kemudian membangun tangga di samping selasar sebelah kiri depan teras tangga untuk lantai 2 sehingga Istanah menjadi luas

Selain itu juga Sultan Syarif Usman Alkadri merahab pintu Gerbang agar kelihatan lebih indah sekaligus membangun tempat berteduh dan istirahat para Pasukan Istanah yang berjaga dengan silih berganti 

Pada saat itu bnyak para Saudagar yang juga hadir untuk menagih hutang - hutang Saudara Sultan Syarif  Usman Alkadri yang mengatas namakan ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri semasa ayahnya masih hidup

Karena mengatas namakan ayahnya maka para Saudagar menagih hutang-hutang tetsebut kepada Sultan Syarif Usman Alkadri

Para Saudagar yang datang membawa bukti tanda terima di mana terdapat bukti tanda tangan anak-anak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang juga terdapat sebagai penanggung jawab ayahnya

Pada saat Sultan Syarif Kasim Alkadri menjadi Sultan beliau tidak mau membayar hutang-hutang tetsebut dengan alasan merupakan hutang pribadi dan bukan Kesultanan sehingga beliau tidak mau membayarnya  karena bukan tanggungjawab Kesultanan sehingga banyak yang kecewa, sebab jika masih keras kepala Sultan Syarif Kasim Alkadri tidak segan - segan untuk menangkap Saudagar tersebut dengan alasan fitnah dan Pelecahan kepada pihak Istanah termasuk pemerasan kepada pihak Kesultanan, ketegasan tersebut membuat para Saudagar ketakutan dan tidak mau lagi bekerja dengan pihak Kesultanan

Maka berbeda dengan Sultan Syarif Usman Alkadri, Beliau memanggil saudaranya agar berterus terang dan meminta bukti hutang piutang tersebut dan secara bersama untuk mem uktikan kebenaran bukti hutang piutang tetsebut

Sehingga dengan demikian akan menjadi jelas apakah hutang Pribadi atau Hutang Kesultanan yang di pinjam melalui anak - anaknya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Atas dasar tersebut terbukti hutang-hutang tersebut merupakan hutang Pribadi yang memang mengatas namakan Pamor ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri agar para Saudagar mau memberikan pinjaman tersebut

Setelah jelas permasalahannya agar tidak menimbulkan fitnah kepada ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang terkenal sebagai saudagar terkaya di  Bumi Kalimantan Barat saat itu (Boerneo Barat) 

Maka untuk mengatasi hutang-hutang tersebut terpaksa Sultan Syarif Usman Alkadri menjual aset Istanah untuk melunaskan hutang-hutang Saudara kandungnya dari lain ibu tersebut

Keturunan Sultan Syarif Usman Alkadri Jalur Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I bin Sultan Syarif Usman Alkadri berada di Istana Kadriah Pontianak Kelurahan Bugis Kecamatan Pontianak Timur Kota Pontianak Kalbar Indonesia 🇮🇩

Maka Sultan Syarif Usman Alkadri terpaksa menjual aset yang berharap peninggalan ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri di antara menjual 

1. Menjual 2 buah kacah pecah Seribu yang berukuran kecil sedangkan 2 buah ukuran besar tidak di jua merupakan hadiah dari Belanda Residen Wirjawie bapak mertua Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dari anaknya yang bernama Ratu Van Derdhen bin ti Wirjawie sedangkan 2 buah ukuran besar tidak di jual karena  bukan hadiah melainkan di belia ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

2. Menjual Meja makan dan Kursi Kerajaan hadiah dari Belanda dan mengantinya dari meja makan dan Kursi Kerajaan dari Kayu Jati  pemberian hadiah kakeknya Raden Pangeran Temenggung Wijoyo ningrat yang di Pesan di Jepara melalui keluarga ibunya di Istanah Kraton Yogyakarta dan 

3. Menjual beberapa perhiasan yang penting yang bernilai tinggi peninggalan ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Dengan menjual sebagian aset tersebut hutang dapat di lunaskan akan tetapi Sultan Dyarif Usman Aljadri mendapat masalah baru karena saudara kandung yang lain protes dan menuntuk hak yang sama agar mendapatkan bagian dari penjualan tersebut

Sehingga terpaksa Sultan Syarif Usman Alkadri agar tidak ribut karena harta warisan terpaksa menjual kembali barang - barang berharga dan mengantinya dengan barang Duvlikst yang murah akan tetapi berbentuk sama

Sehingga harta Istanah menurun drastis, dengan adanya peristiwa tersebut ahirnya banyak yang mengaku sebagai anak cicit Sultan Syarif Abdurahman Alkadri untuk mengatasi masalah tersebut Sultan Syarif Usman memanggil saudara kandung nya dari lain ibu Pangeran Bendahara Ahmad bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang saat itu di percaya memegang dan mendata anak cucu Habib Husein Alkadri untuk di ketahui apakah mereka benar sebagai anak atau cucu dari Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan dari istri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang mana, tujuanya agar tidak salah dalam memberikan tuntutan hak waris sast itu

Setelah melakukan pemeriksaan dokumen Nadab Maka Pangeran Bendahara Ahmad Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri langsung menyerahkan dokumen tersebut agar di Simpan Sultan Syarif Usman Alkadri untuk sementara melakukan pemeriksaan

Saat itu anak tertuanya Pangeran Ratu  Mahkota Syarif Abdul Hamid Aljadri (Sultan Hamid I Aljadri sudah berusia 23 tahun di minta ayahnya untuk membantu mempelajari Nadab - Nadab tetsebut dan mendatanya satu - persatu secara rahasia anak - anak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri maupun cucu Sultan Syarif Abdurahman Alkadri jika ayahnya sudah wafat dapat di wariskan / wakilkan anak tertuanya agar bisa merata ((2 Dokumen tersebut  setelah Sultan Hamid I Alkadri menjadi Sultan kemudian di serahkan kepada anaknya Pangeran Bendahara Syarif Ja'far  bin Sultan Syarif Hamid Alkadri sebagai Dokumen Maktab NanGq 1857)) 

Kemudian Sultan Systif Usman Alkadri hanya meminta kiriman 25 Persen dari Distrik- distrik Perdagangan sedangkan sisanya supaya di putar kembali  agar tidak di kirim semuanya sedangkan saudara, pinasn dan cucu yang bekerja di masing-masing Distrik di Seluruh Indonesia untuk menahan diri terlebih dahulu, agar kisruh tidak semakin merusak hubungan perdagangan yang bersipat di Rahasiakan

Setelah metada cukup Sultan Syarif Usman meminta agar semuanya berkumpul di Istanah

Setelah Sholat Jumat  bulan  September  1823 M -  1244 H. Sultan Syarif Usman Alkadri meminta anak ya tampil di depan dan memanggil satu persatu keluarga yang berhak lengkap dengan bin yahya tanpa memberi tau cara tetsebut

Pada saat di panggil satu femo. Satu barulah dapat di ketahui ternyata di antaranya ada masyakat biasa yang mengaku tidak fi panggil sehingga mereka di tangkap dan di penjarakan oleh Pangeran Ratu Mahkota Syarif Abdullah Hamid  bin Sultan Syarif Usman Alkadri

Sejak peristiwa tersebut Kedultanan kembali aman dari kisruh harta wsrisan sebab dengan cara tersebut tidak ada lagi yang bera I mengaku sebagai Anak cucu Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Keturunan Sultan Syarif Usman Alkadri dari jalur Pangeran Cakra Buana Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Usman Alkadri di Kelurahan Sukadami Kecamatan Cikarang Selatan Kabupaten Bekasi Jabar Indonesia 🇮🇩

Nsru saja sebulan kisruh Waris di  selesaikan Sultan Syarif Usman Alkadri kini belisu  harus menghadapi kenyataan baru tepat pada tanggal 14 Oktober 1823 M 

Van The Marcos Residen Rembang Belanda VOC Batavia Jakarta menugaskan untuk membuat Perjanjian baru dengan Sultan Syarif Usman Alkadri di mana isi perjanjian tersebut yang isinya adalah sebagai berikut :

1. Pihak Kesultanan tidak lagi memiliki kekuasaan yang penuh melainkan di bagi Dua dengan pihak Belanda  yang berada di Batavia

2. Sultan tidak lagi mendapat sepatu 50 sd 40 Persen senagsimana ketentuan sebelumnya melainkan hanya menerima 42 .000 Golden pertahun tahun. Ketentuan ini juga tidak merupakan kerugian besar pihak Kedultanan akan tetapi merupakan penghinaan kepada pihak Kesultanan Pontianak baik secara Material maupun secara kehormatan dan Marwah Kedultanan Pontianak serta merupakan penghancuran Martabat Kedultanan (Dignitif)  yang berdaulat dan mendapat dukungan penuh dari Rakyat

Walaupun Kontrak perjanjian Di setujui oleh Sultan 

Maka  Sultan merancang Strategi Baru di mana Sultan mengumpulkan para pengusaha kongsi dagang cina untuk sepakat mengurangi biaya setor pajak kepada pihak Belanda dengan sistim perdagangan Gelap yaitu dengan me gurangi pasukan di perdagangan dan dengan melakukan perdagangan  tertutup

Sementara dana yang masuk di larikan ke Baitul mal dan di kirim ke distrik - didyri di luar Kalbar seperti Kalsel, Kalteng, Pulau Jawa, Pulau Sumatra, Sulawesi. NTT, NTB , Kepulauan Riau dan Bangka Belitung sehingga aktivitas Di Kesultanan Kadriah di di buat lumpuh

Sehingga alasan untuk memungut pajak tidak bisa di lakukan pihak Belanda

Di mana saat Itu setelah peristiwa Pembagian hak Waris Harta Idtanah menurun drastis di biarkan Sultan Syarif Usman Alkadri seperti kosong dengan kondisi tersebut

Pajak yang mengalir ke pihak VOC Belanda di Batavia menurun drastis, ti faksn ini sengaja di lakukan oleh Sultan Systif Usman Alkadri

Sehingga atas kejadian tersebut pada tahun 1825 M pihak Belanda VOC Batavia Jakarta mengirim lagi utusan yang bernama  Thomas  Stamfork Rafleash untuk membuat perjanjian Kontrak yang baru

Adapun isi perjanjian baru tersebut adalah sebagai berikut :

1. Pihak  Kesultanan menerima pajak penghasilan 30  Persen sedangkan 70 Persen wajib di syror Ke Batavia

2. Pembentukan Petugas Pajak dari pihak Belanda yang kemudian di sebut Residen Rentenir Belanda di Pontianak

3. Pajak - pajak yang sudah di terima Kesultanan  Kedultaman wajib di setor secara langsung ke Residen Rentenir Pajak sebesar 70 Petsen

4. Sultan hanya menerima gaji sebesar 42.000 Golden Pertahun sebagai Kondensasi Pajak

Hasil kesepakatan di tanda tangani kedua belah pihak

Sekipun merugikan pihak Kedultanan, tetapi Dultan Systif Usman Alkadri tetap menanda tangani Kontrak tersebut sehingga di lukiskan sebagai Sultan yang tua bangka tidak berguna

Sekalipun memiki tubuh yang kekar karena seluruh kebijakan tersebut tetap di tanda tangani Sultan Syarif Usman Alkadri tanpa melakukan negosiasi atau bantahan

Maka lukisan di bawah ini 

Menurut Psngeran Bendahara Tua Systif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri merupakan lukisan Penghinaan / dan Pelecehan kepada Sultan Sysrif Usman Alkadri fan bukan sebagai lukisan untuk mengenal dirinya

Sebab lukisan baru di temukan di Belanda yang sudah di lampirkan Tulisan Arab idi perjanjian

Maka sangat keliru bagi Keluarga Besar Alkadri jika itu Lukisan Wajah Asli Sultan Syarif Usman Alkadri sebab saat itu perjanjian kontrak tahun 1825 M umur Sultan Syarif Usman Alkadri berusia 48 tahun

Sehingga lukisan tersebut oleh Pangeran Bendahara Tua Systif  Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Aljadri merupakan lukisan pembunuhan Karakter Sultan Syarif Usman Alkadri yang bertubuh kekar tapi lembek dan mudah di atur oleh Residen Rentenir Belanda inilah tujuan dan maksud lukisan tersebut

Hal itu dapat dilihat dari Kontrak- kontrak yang di tanda tangani Sultan Syarif Usman Alkadri

((Menurut Sultan Syarif Hamid I Alkadri bin Sultan Sysrif Usman Alkadri setelah dirinya menjadi Sultan cara itu di lakukan Ayahnya hanya untuk melindungi Istanah dan Rakyatnya dari tekanan Belanda)) 

Karena ayahnya justru lebih cerdas dari Pihak Belanda karena ketika pajak di tekan hingga di bawa 30 Petsen justru belisu memperkuat distrik perdagangan fi Luar Kalimantann Barat (Boerneo Barat) dan hasilnya hanya 25 Petsen di kirim ke Istanah itupun di jadikan dana Kas Baitul Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang tidak tersentuh Pajak, sengaja Sultan Systif Usman Aljadri membiarkan Harta Istana Ludes untuk mencegah pihak - pihak keluarga yang serakah untuk terus me untut hak waris karena beliau metada lelah atas tindakan tersebut, akan tetapi belisu sudah melakukan ti dalam yang adik dan bijak kepada Seluruh saudara- saudara kandungnya sekalipun lain ibu kandung

Penghancuran Harga di Kesultanan menyebabkan timbulknya Pembangkangan di Kalangan Saudagar dan Rakyat Pontianak  serta menimbulkan kebencian Rakya kepada pihak Belanda 

Pembangkangan dan kebencian baik pihak Istanah, Tokoh Masyarakat dan Kongsi - Kongsi Dagang Cina yang menguntungkan pihak Belanda menyebabkan salah satu anak Kandung Sultan Syarif Usman Alkadri yaitu Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadri

Bergerak secara diam - diam bersama Pasukan Istanah yang belisu Rahasiakan di tengah malam membakar 2 Pabrik Getah / Karet yang terbesar di Siantan Hulu dan Siantan Hilir di bakar sehingga ludes di makan api di kala orang tertidur lelap di malam hari

Setelah peristiwa tersebut Pangeran Jaya Syarif Abdullah melarikan diri ke depok menemui keluarga Alkadri di depok, metada tidak aman kemudian melarikan diri ke Indian ikut kapal dagang ke India dan menetap di sana hingga beristri dan memiliki anak baru pulang kembali ke Depok

Salah satu anak Perempuan belisu ini menikah dengan cucunya Sultan Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri bernama Syarifah Zaleha binti Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadri yaitu Sultan Syarif Yusuf Alkadri bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri bin Sultan Syarif Usman Alkadri yang kemudian Sultan Syarif Yusuf Aljadri memiliki salah satu anak bernama Sultan Syarif Muhammad Alkadri

Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadri, salah satu adik kandung Sultan Syarif Hamid I Alkadri yang membakar Gudang Getah Siantan Hulu dan Siantan Hilir, akibat jengkel dengan pihak Belanda yang mempermainkan ayahnya Sultan Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, Makam Jalan Raya Pengasinan Depok Makam Tua / Lama  Sawangan, Ibunya Nyai Culan  merupakan cicit dari Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah dari anak yang bernama Dystif Muhammad Adeni Qaulan Jazirah atau di kenal sebagai Gusti Jamaddin bin Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah nama Gusti Jamaddin adalah nama perubahan karena adanya unsur kecewa kepada Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang menyerang Kerajaan Mempawah selama 8 bulan dan menguasai hingga 33  yaitu Penembabam Systim Kadim Mempawah 1786  M - 1808 M  selama 22 tahun dan di teruskan anak Penbahan Systif Kasim yaitu Penembahan Syarif Husein Mempawah  1808 M -  1819 M selama 11 tahun. Karena saat Ketajaan di serahkan kembali kepada Gusti Djamiril anak Gusti Djamiril masih kecil sehingga oleh kakanya Rstu Mempawah Utin Candramidi binti Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah menunjuk  cucunya Syarif Husein bin Sultan Syarif Kasim Alkadri untuk menjabat lagi hingga anak Gusti Djamiril sudah layak untuk memimpin Kerajaan Mempawah. Perawakan maupun wajah Pamgeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadri lebih mengambil postur ibunya  yaitu  Syarif Muhammad / Gusti Djamaddin Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah

Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah Raja Mempawah Pertama dari Kalangan Ahlulbait Ras Bugis Bone Ulu Sulawesi Selatan sebab Leluhur dari jalur Ibunya berasal dari Raja Luwu Raja Bugis Dato Batara Guru beragama Hindu yang setelah menikahi dengan Leluhur Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah, maka selain mengunakan Nama Ahlulbait mereka juga memakai nama Bugis. Sebab Saat itu Bugis Luwu Bone berbinkan ke Jalur Ibu, maka wajib memakai nama ciri khas Bugis ini juga terdapat di Suku Bugis Palembang yang juga berbinkan ke jalur Ibu, tanpa harus menghilangkan jalur ayah bagi Ahlulbait sebagai penghargaan. Sehingga yang lebih terkenal adalah Marga Bugis yang dari pada marga Ahlulbaitnya

Pada tahun 1853 M Pangeran Perdana Muda Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Kasim Alkadri mengungkit lagi masalah ke inginanya untuk menjadi Sultan untuk mengantikan Sultan Syarif Usman Alkadri sehingga terjadilah lagi kisruh di Kesultanan Pontianak dan menuntut hak waris Kesultanan dalam hal waris harta Sultan Syarif Usman Alkadri mengabulkanya dengan memberikan 42.00p Golden yang di ambil dari dana Baitul Mal yang di pindahkan ke Kas Istanah karena Kas Istanah memang di Simpan fi Baitul Mal, maka kiruh dapat di telah kembali

Pada tahun 1854 Lahirlah anak Psngeran Ratu Mahkota Systif Abdul Hamid yang ke 3 dari istrinya Syarifah Fatimah binti Sultan Dystif Kasim Aljadri yang kemudian di beri gelar Pangeran Bendahara Syarif Jafar Alkadri

Karena kisruh Kesultanan tidak berhenti dan juga dari tekanan pihak Belanda terhadap pajak yang semakin memberatkan sehingga membebani pengusaha - l pengusaha Cina yang saat itu merupakan mayoritas 

Sementara adanya isu pihak Lotela pemilik tambang Emas terbesar di Kalimantan Barat ingin membrontak, maka di Mandor meletuslah Peristiwa Pemberontakan Lotepa dengan Nama Pemberontakan Distrik Mandor Mentrado yang terjadi awal Bulan Maret yang menyesbksn kondisi Sultan Syarif Usman Alkadri Drof Sakit memikirkan ke adaan Kerajaan

Ahirnya tepat tanggal 12 April 1855 M -  1276 H., Sultan Syarif Usman Alkadri bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri mengundurkan diri dan langsung menobatkan anak tertuanya Sultan Syarif Hsmid I Alkadri menjadi Sultan yang Ke IV Istanah Ksdriah Pontianak untuk mela jutkan Kesultanan dan beliau beristirahat dari Jabatan Kedultanan  karena tekanan yang bertubi - tubii sehingga dalam menghadapi Pemberontakan Lotepa di Distrik Mandor  - Mentrado Pasukan yang sudah di kirim Surat Syarif Usman Alkadri di tarik oleh Sultan Syarif Hamid I Alkadri untuk mempertahankan Kota Pontianak agar tidak melebar di Kota Pontianak sebab Kongsi Dagang dan Naga Merah Kota Pontianak tidak ingin terlibat dan ikut campur dengan Lotepa, sehingga Pontianak tidak tersentuh oleh Pasukan dari Hulu dan dari Kerajaan akan tetapi terjadi Penjarahan toko - toko Cina yang di lakukan Penduduk Pontianak sehingga tokoh lebih dari satu bulan tutup

Dengan perlindungan Sultan Syarif Hamid I Alkadri setelah hampir 2 bulan berlalu Pontianak kembali kondisip dan tokoh - tokoh buka kembali dengan penjagaan ketat dari Pasukan Istanah yang di Bantu dengan Pasukan Belanda pengaman hingga batas Sungai Pinyuh kembali Kondisi

Peristiwa Pemberontakan Lotepa atau Peristiwa Pemberontakan Mandor Mentrado secara sepihak telah menguntungkan Kesultanan Kadriah Pontianak. Karena Kongsi - Kongsi Dagang Cina dan Naga Merah Tanjungpura terhadap daerah bekas peninggalan Cina yang ada di Mandor, Mentrado, Semakin, Pahuman, Menjalin, Sgatani Kecamatan 27 Gua Boma, Bengkayang, Darit, Sidas, Karangan atas Saran keluarga Pengusngsi Cina agar Dareah tersebut di serahkan kepada Kesultanan Pontianak, maka atas dasar tersebut Balanda memasukan dalam wilayah Kesultanan Pontianak selain itu ada ke pentingan Pajak yang di harapan Belanda, sebab Kerajaan / Kesultanan yang membantu Peristiwa Lotepa meminta agar Pajak Kerajaan / Kesultanan Nol  Persen / tidak di pungut Pajak yang menurut pihak Belanda saat itu Daerah yang masuk dalam Kesultanan Pontianak lebih luas sehingga pajak dapat di tarik sesuai kesepakatan sebelumnya ketika Sultan Syarif Usman Alkadri menjabat berdasarkan perjanjian baru sebesar 30 Persen saja yang di terima Kesultanan Pontianak, sehingga Sultan Syarif Hamid I Alkadri saat itu hanya bersifat melanjutkan kebijakan ayahnya Sultan Syarif Usman Alkadri

Dari segi ekonomi menguntungkan Kesultanan dan luasnya wilayah menguntungkan Kesultanan Pontianak saat itu

Pada saat Sultan Syarif Abdul  Hamid Alkadri (Hamid I) menjabat sebagai Sultan Hak - hak tuntutan Pangeran Perdana Muda Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Kasim Alkadri di hapus dan di hentikan termasuk istrinya sebagai adik kandung dari Pangeran Perdana Muda Syarif Abu Bakar Alkadri dan mengancam jika keras kepala akan di penjarakan, akibat ancaman tegas tersebut terpaksa Pangeran Perdana Muda Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Zkadim Alkadri tidak berkutik kemudian Meninggalkan Istanah Kadriah Pontianak bersma saudara kandungnya terkecuali Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Fatimah binti Sultan Syarif Kasim Alkadri saja yang tetap bertahan karena Sultan Syarif Hamid I Alkadri adalah suami Beliau yang harus di menfampingi  setiap saat sebagai Permaisuri Istanah

Berikut ini adalah daftar anak-anak Sultan Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang sudah terkontaminasi keturunannya di antaranya adalah :

1. Sultan Syarif Hamid I Alkadri (Nama aslinya Pangeran Ratu Mahkota Syarif Abdul Hamid Alkadri bin Sultan Syarif Usman Alkadri Ibunda Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahara binti Thaha bin Abdullah Temenggung Banten bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar bin Al - Alimu Al-Imam Asyayid Syarif Husein Alkadri Mufthi Mempawah, Syarifah Zahara Alkadri merupakan keponakan sepupu Sultan Syarif Usman Alkadri, sebab Ayah Sultan Syarif Usman Alkadri yaitu Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri nin Sayid Syarif Husein Alkadri adalah abang kandung Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar bin Sayid Syarif Husein Alkadri dari ibu yang berbeda tetapi bersaudara Kandung setelah wafatnya kakanya Nyai tua Utin Candramidi/Utin Cabanat, beliau menikahi adiknya Nyai Tengah Utin Crinci Srikandi keduanya adalah anak Sultan Muhammad Jainuddin Matan dari istri yang berbeda . Jalur Sultan Syarif Hamid I Alkadri yang wajib meneruskan Kesultanan Pontianak hingga saat ini di Jabat oleh Sultan Syarif Melvin Alkadri. SH melalui jalur Sultan Syarif Muhammad Alkadri bin Sultan Syarif Yusuf bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri. Demikian juga yang menjadi ahli waris Silsilah Nadab Keluarga Besar Alkadri juga melalui jalur Sultan Syarif Hamid I Alkadri yang memegang Lembaga Maktab NanGq 1857 secara turun temurun dari Jalur Pangeran Bendahara Tua VI Syarif Ibrahim bin Ahmad  merupakan keturunan dari Pangeran Bendahara Tua Syarif Jafar bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri, juga secara turun - temurun dan. Masih banyak lagi keturunan Sultan Syarif Hamid I Alkadri lainya baik yang bergelar Panglima, Pangeran, Ratu  dan yang lainya yang banyak berdoa. Isilih di Pontianak Kalbar termasuk luar Kalbar bahkan yang berdomisilih di luar Negeri termasuk Saudi Arabia 🇸🇦

2. Syarif Muhammad Alkadri bin Sultan Syarif Usman Alkadri anak yang ke 17 dari istri Ke 6 Sultan bernama Nyai Muria Ratu Bungsu, salah satu keturunan ini adalah  Syarif Hasan Ali Palu, Syarif Hamid Alkadri  Syarif Abdurrahman Alkadri Pengawal Sultan,  orang tua beliau bernama Syarif Ali bin Ahmad bin Said bin Muhammad bin Sultan Syarif Usman Alkadri

3. Pangeran Jaya Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadri  anak yang ke 15 dari istri ke 5  Nyaii Culan merupakan keturunan dari Opu Daeng Manambon Sayid Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah dari anaknya Syarif Muhammad Gusti Djamaddin, salah satu keturunan beliau adalah Syarif Muhammad Alkadri Depok, Syarif Fakir Muhammad Alkadri Sultara 

4. Pangeran Cakra Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Usman Alkadri anak yang ke 16 dari istri Nyai Culan adik kandung Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri, salah satu keturunan ini adalah Syarif Abdullah Ghoniyun Alkadri, Garut, Sharifah Seinendan Alkadri Bekasi, Syarifah Ely Aljadri Jakarta, Syarif Andi Hasan Alkadri Jakarta dan yang lainya

5. Syarif Husein bin Sultan Syarif Usman Alkadri ibunda Nyai Daravati istri ke 4 Sultan Syarif Usman Alkadri,  keturunan ini banyak terdapat di Blitar termasuk juga di Nstuna tepatnya di Aie Licen

Anak Sultan Syarif Usman Alkadri baik jalur laki-laki maupun jalur Perempuan secara garis besarnya sudah terkonfirmasi semuanya sehingga tidak terlihat sulit untuk mencari keturunan ini dan terbanyak saat ini berdomisili di Kota Pontianak termasuk juga luar Kota Pontianak dan luar Kalimantan Barat hingga di liusr Negeri

SELAYANG PANDANG SULTAN SYARIF USMAN ALKADRI

Sultan Syarif Usman Alkadri adalah Anak dari Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dari ibunda Maharatu Suri Mahkota Agung Rstu Kesumasari binti Raden Pangeran Temenggung Wijoyoningrat merupakan salah satu anak Sultan Hamengkubuwono I (Sujono) bin Sunan Amangkurat IV dari istri Raden Kanjeng Putri Ayu Tejawati yang di jadikan Dasar sebagai Penghormatan dan Pengharaggan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sehingga anak tertua Rstu Kesumasari untuk memberikan Surat Wasiat sebagai Sultan Pontianak saat itu

Karena kedekatan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan adiknya Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri sehingga salah satu cucunya di jodohkan kepada Sultan Syarif Usman Alkadri yang bernama Syarifah Zahara Binti Thaha Bin Abdullah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri fi nikahi Sultan Syarif Usman Alkadri bin Sultan Syari Abdurrahman Alkadri yang kemudian bergelar Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahara binti Thaha Alkadri

Syarifah Zahara Alkadri dengan Sultan Syarif Usman Alkadri merupakan Cucu Sepuluh Sultan Syarif Usman Alkadri jika di tarik dari Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri artinya Syarif Abu Bakar Alkadri adalah Paman Sultan Syarif Usman Alkadri sedangkan Abdullah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri adalah sepupu  Sultan Syarif Usman Alkadri dan Thaha bin Abdullah Alkadri  adalah keponakan Sultan Syarif Usman Alkadri yang brarti Syarifah Zahara binti Thaha Alkadri adalah cucu Sepupu Sultan Syarif Usman Alkadri yang beliau nikahi

FITNAH YANG MENIMPA
Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri

Fitnah tersebut terus terjadi hingga saat ini yang menyatakan bahwa Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri wafat saat Kecil dengan menunjukan makamnya di Bstulayang

1. Kebodohan Tukang Fitnah makam batu layang baru ada ketika Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri wafat ketika Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri saat wafat bersusia 73 tshun dan bisu membuka membangun Istanah pada tahun 1771 M makam Bstulayang masih dalam kondisi hutan belantara di mana saat membuka hutan usia Sultan Systif Abdurrahman Alkadri berusia  41 Tahun sedangkan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan adiknya hanya selisih umur 7 tahun, lalu fi bilang wafat masih kecil berusia 9 bulan, maka jelas menjadi cerita bohong sebab pada saat udi membukan hutan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sudah berusia 41 tahun dan Batu layang belum menjadi Makam,  

2. Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri menikakan anaknya Sultan Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan cucunya Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri yaitu Syarifah Zahara binti Thaha bin Abdullah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri, jelas ini merupakan penghinaan kepada Sultan Syarif Usman Alkadrii dan Seluruh keturunan Sultan Syarif Usman Alkadri di mana anak - anak cucu - cicit Sultan Syarif Usman Alkadri menjadi waris Sultan- Sultan Pontianak yang jika di urut dari Sultan yang ke IX yaitu sebagai berikut

1. Sulttan Syarif Melvin Alkadri. SH bin Sultan Syarif Abu Bakar Alkadri Sultan Ke IX

2. Sultan Syarif Abu Bakar Bin Pangeran Pedana Agung Sysrif Mahmud Aljadri adik kandung Sultan Syarif Hamid II Alkadri, sebab di angkat menjadi Sultan karena anak Sultan Syarif Hamid II Alkadri tidak mau menjadi Sultan dan tetap ingin tinggal di Belanda. Sultan Ke VIII

3. Sultan Syarif Hamid II bin Sultan Syarif Muhammad Alkdri: Sultan Ke VII, antara Sultan Hamid II dengan Sultan Syarif Muhammad Alkadri ada Sultan Sementara yaitu Sultan Syarif Thaha bin Usman Alkadri menjabst kurang lebih 8 bulan sehingga di sebut Sultan Sehari. Sultan Ke VII

4. Sultan Syarif muhammad Bin Sultan Syarif Yusuf ALKADRI Alkadri Sultan Pontianak ke VI

5. Sultan Syarif Yusuf bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri, Sultan Syarif Yusuf Alkadri menikah dengan Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahra binti Pangeran Jaya  Abdullah bin Sultan Syarif Usman Alkadri, di mana Pangeran Jaya Syarif Abdullah Aljadri juga di bilang wafat Kecil oleh gerombolan tukang Fitnah, sementara dari hasil pernikahan tersebut melahirkan anak salah satunya adalah Sultan Syarif Muhammad Alkadri. Sultan Syarif Yusuf Alkadri Sultan Ke V Pontianak

6. Sultan Syarif Hamid I bin Sultan Syarif Usman Alkadri ibundah Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahara binti Thaha Bin Abdullah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri,  dimana Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri juga di fitnah Dot oleh gerombolan tukang Fitnah, yang ternyata setelah di telusuri nasab - nasab mereka ternyata tidak terkonfirmasi sebagai keturunan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri maupun keturunan Sayid Husein Alkadri Mufthi Mempawah, bahkan ada yang mengaku sebagai keturunan dari Pangeran Kachil Systif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dari Istri Sultan Ratu Syahranum anak Sultan Banjar yang ternyata para pembatsl Nasab Keturunan ini justru mereka bukan dari keluarga Besar Alkadri yang sering menyerang anak cucu keturunan Sultan Syarif Usman Alkadri maupun keturunan dari Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri. Selain itu ada juga yang menyerang anak Cucu keturunan Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri yaitu Pangeran Bendahara Tua Syarif Usman bin Thaha Kholil Alkadri yang makamnya terdapat di Puncak Gunung Peniraman. Sebab terlalu tinggi sehingga anak cucu keturunannya sangat sulit untuk merawat sehingga di rawat masyarakat setempat yang peduli, sayangnya masyarakat yang merawatnya di serang oleh manusia yang tidak bertanggung jawab, kini makam tersebut di rawat bersama-sama dengan masyarakat setempat setelah anak cucunya turun gunung. Sultan Syarif Hamid I Alkadri adalah Sultan Ke IV Pontianak

7. Sultan Syarif Usman Alkadri bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, ibunya adalah Maharatu Suri Mahkota Agung Ratu Kesumasari binti Raden Pangeran Temenggung Wijoyoningrat keturunan dari Sultan Hamengkubuwono I bin Sunan Amangkurat IV dari istri Nyemas Putri Ayu Tejawati, Putri Ayu Tejawati adalah cucu dari Sunan Giri, sementara istri Sultan Syarif Usman Alkadri adalah Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahara binti Thaha bin Abdullah anak dari Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri yang di fitnah Dot dari orang-orang yang mengaku sebagai keturunan Pangeran Kachil (Pangeran Tiga Serangkai) baca sejarah Pangeran Tiga Serangkai siapa sebenarnya Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri) dan gerombolan orang- orang-orang yang mengaku sebagai keturunan Systif Thaha bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang ternyata Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri tidak memiliki anak bernama Thaha  dari 101 anak-anak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang mendekati hanyalah Systif Tcholha Kholil bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ibunda nyai Jaliah asal Madura Sumenep yang di nikahi Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri. Sultan Syarif Usman Alkadri adalah Sultan Ke III Pontianak

8. Sultan Syarif Kasim Alkadri bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri terkenal saat itu sebagai Pemimpin Dua Kerajaan. Yaitu Penembahan Sysrif Kasim Mempawsh Istanah Amantubilah Mempawah 178 M - 180i8 M selama  22 tahun kemudian di lanjutkan anaknya Penembahan Syarif Husein Mempawah 180i M - 1819 M, dan Kesultanan Istanah Kadriah Pontianak 1808 M - 1i19 M selama 11 tahun dan 2 Kerajaan tersebut sehingga Sultan Syarif Kasim bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri terkenal sebagai Pemimpin Dua Kerajaan, Keturunan beliau secara keseluruhan ada 24 anak dengan 6 istri yang juga menjadi sasaran gerombolan di atas sehingga saat ini hanya sedikit yang terkonfirmasi, sedangkan mereka justru terbanyak berdiam di Kompleks Makam Stan hingga di lingkari gari merah oleh lembaga tertentu, akan tetapi sebagian juda sudah terkonfirmasi di Maktab NanGq 1857 dalam hal ini hanya di informasikan seperlunya saja di antaranya adalah : 
1. Pangeran Perdana Agung Sysrif Abu Bakar bin Sultan Syarif Kasim Alkadri seluruh keturunannya sudah terko formasi. 2. Syarif Muhammad Zein Bin Sultan Syarif Kasim Alkadri seluruh keturunannya sudah terkonfirmasi, 
3. Systif Abdurrahman II bin Sultan Syarif Kasim Alkadri sudah terkonfirmasi. 
4. Syarif Muhammad Najib bin Sultan Syarif Kasim Alkadri seluruh keturunannya sudah terkonfirmasi. 
5. Syarif Ahmad bin Sultan Syarif Kasim Alkadri sebagian keturunan ini sudah terkonsentrasi. 
6. Syarif  Muhammad bin Sultan Syarif Kasim Alkadri sebagian keturunannya sudah terkonfirmasi dan masih banyak lagi yang sudah terkonfirmasi, akan tetapi ada sebagian lembaga lai yang mencoret mereka dengan tinta merah karena lembaga tersebut tidak memperoleh jalur leluhur mereka selain itu ada juga salah nisbah sehingga menyebabkan terputus juga jadinya Jalur tersebut karena informasi yang terbatas, akan tetapi di Maktab NanGq jalur tersebut terkonfirmasoh dengan baik. Sultan Syarif Kasim Alkadri adalah Sultan Ke II Pontianak

9. Sultan Syarif Abdurrahman bin Al-Allamah Al- Alimu Al-Imamu Asysyyid Husein Alkadri Mufthi Mempawah wa Matan,. Anak cucu belisu hampir 75 sudah terkonfirmasi dari 101 anak tersebut akan tetapi ada yang di rusak oleh lembaga lain sehingga jalurnya berubah sehingga menjadi terputus. Maka peranan Maktab NanGq 1857 Pusat sangat penting agar jur keturunan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri tidak rusak dan khususnya keturunan Sayid Syarif Husein Alkadri secara umum yang saat ini sudah mencapai 17.000  seluruh Dunia wajib terdaftar dengan sempurna di Maktab NanGq  1857 Dewan Pimpinan Pusat sebab itu prinsip-prinsip yang sudah di tetapkan terus di kembangkan tanpa memandang mereka sebagai apa sebab tujuan utama adalah menyelamatkan mereka Dunia Akhirat sebab Dalam Menisbahkan Silsilah Nasab Peranan leluhur menjadi wajib hukumnya di gunakan agar tidak menjadi beban Pengurus Maktab NanGq 1857 Pusat, Wilayah, Kabupaten/ Kota seluruh Indonesia termasuk Perwakilan Dalam Dan Luar Negeri Maktab NanGq 1857 di mana tantangan ke depan akan lebih berat lagi seiringan bertambahnya Keluarga Ahlulbait yang terdaftar di Maktab NanGq 1857 

Semoga Selayang Pandang ini menjadi Renungan kita semua : 

BERIKUT DAFTAR ORANG YANG SALAH MENISBAHKAN SILSILAH NASABNYA

1. Usman Said (Usman Puting Beliung) Menisbahkan diri Kepada Pangeran Syarif Kacil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan  Istri Sultan  Ratu Syahranum,, ika tidak segera mereka perbaiki maka Nasab terputus 

2. Abdurrahman Sei Purun menisbahkan diri sebagai keturunan Pangeran Kachil Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan istri Ratu Syahranum, jika tidak di perbaiki Nasab terputus

3. Usmulyani menisbahkan diri kepada Thaha bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, Nasab terputus sebab tidak ada nama anak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dari 101 orang bernama Thaha, daftar yang mereka gunakan keliru

4. Husein Kalsel menisbahkan diri kepada Ahmad bin Abdullah Bahasan tetapi memakai marga Alkadri, Nasab terputus

5. Abdullah bin Husein Jakarta menisbahkan diri kepada Ali adiknya Sayid Husein Alkadri, Sayid Husein tidak ada nama saudaranya Ali, Nasab terputus

6. Abdurrahman Kumai menisbahkan diri kepada Ahmad bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, ike 4 anak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri maupun 2 anak Sayid Husein tidak satupun memiliki istri yang bernama Musnah binti Usman Alhabsi, Nadab terputus

7. Husein Penajam menisnahkan diri kepada Abu Bakar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Lombok, anak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri bernama Abu Naksir tidak makamnya di  di Tibet dan ke 5 anak mereka semuanya wafat di Tibet, Salah Nisnah Nadab Terputus

8. Husein Bakambat menisbahkan diri kepada Abu Bakar bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri makam lombok, kasusnya sama dengan nomor 7, Salah Nisbah Nasab terputus, akan tetapi untuk Jalur  keluarga ini ada beberapa orang yang sudah memperbaiki Jalur nasabnya sesuai dokumen Maktab NanGq 1857 dan arahan leluhurnya sendiri, terhadap yang sudah memperbaiki Jalur Nasabnya di nyatakan Shohe sedangkan yang belum dinyatakan terputus oleh leluhurnya sendiri

9. Dari jalur tersebut Jalur nomor 3, jalur nomor 4  dan jalur nomor 5 tidak bisa di Luruskan . Karena bukan Keluarga Alkadri baik sebagai keturunan Sayid Husein Alkadri maupun dari semua anak-anak Sayid Syarif Husein Alkadri Mufthi Mempawah karena tidak terkionfirmasi secara Shohei di Manuskrip maupun secara kehadiran leluhur di nyatakan bukan sebagai Keluarga Besar Alkadri yang terdaftar dalam 17.000 keturunan Sayid Husein Alkadri abad sekarang di seluruh Dunia, terhadap jalur nomor, 3,4 dan 5 di coret dengan tinta merah di buku Induk. Maktab NanGq sedangkan jalur di luar jalur 3,4 dan 5 dapat memperbaiki jalurnya  sesuai yang terdapat dalam dokumen Maktab NanGq 18t7 Dewan Pimpinan Pusat

10. Daftar ini bisa bertambah dan berkurang jika mereka dengan senang hati berniat memperbaiki  Nasab mereka termasuk daftar- daftar yang masuk kemudian dan sebagian mereka yang terdaftar dalam poin inilah yang banyak merusak keturunan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan Panglima Laksamana I Syarif Abu bakar Alkadri, Sehingga Nasab Keluarga Besar Alkadri jadi berantakan jalurnya karena bekerjasama dengan lembaga yang tidak mengerti sama sekali dengan keturunan Sayid Husein Alkadri Mufthi Mempawah

     SULTAN SYARIF USMAN BIN SULTAN
       SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRI
MENJABAT DARI TAHUN 1819 M -  1855 M

Perna terpasang di Istanah pada Peristiwa  Pembantaian Jepang di ambil dan di musnahkan Jepang sejak 1944 M, sehingga sejak itu Dokumen di Istanah menjadi musnah berdasarkan keterangan Pangeran Bendahara Tua V Syarif Ahmad bin Usman Alkadri yang mengalami peristiwa Pembantaian Jepang tersebut

Hasil perbaikan begron belakang / Latar belakang poto merupakan pariasi  baru karena begron belakang  / latar belakang yang lama tidak jelas bagunan atau hiasan dinding sehingga di siasati mengambil bagian bagunan Istanah sebagai pariasi. Karena tujuan utamanya hanya ingin menyelamatkan poto Sultan Syarif Usman  bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sedangkan begron / pariasi latar belakang hanya sebagai pariasi agar kelihatan indah 

Dokumen Asli Peninggalan Sultan Syarif Hamid I Alkadri Bin Sultan Syarif Usman yang di serahkan kepada anaknya Pangeran Bendahara Tua Syarif Jafar bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri sebagai Dokumen Maktab NanGq 1857 Pusat Perbaikan  atas Perintah langsung leluhur Sultan Syarif Usman Alkadri bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri. Sebagaimana hasilnya  yang terdapat pada bagian atas Provil  Blog ini

                  MAKTAB NANGQ 2857
               DEWAN PIMPINAN PUSAT
Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah 
 Ahlulbait Pangeran Bendahara Tua Syarif
   Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
               Pontianak Jalan Seliung

Seting Louyat Dan Hak Cipta ada Pada :
MAKTAB NANGQ 1857

Di Lindungi Undang-Undang

Pontianak,  9 Mei 2025 M / 11 Julqaidah 1446 H
Di Terbitkan Pada Pukul : 20 : 07 WIB



Postingan populer dari blog ini

MANAQIB PANGERAN LAKSAMANA TUANKU JAKSA II SYARIF ALI MUHAMMAD ALKADRI. MAKTAB NANGQ 1857 PANGERAN BENDAHARA TUA SYARIF JAFAR BIN SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI KESULTANAN KADRIAH PONTIANAK.., JALAN SELIUNG

BLOG I SAYID HUSEIN DAN KETURUNANYA.. MAKTAB NANGQ 1857 Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Kesultanan Kadriah Pontianak. Kantor Pusat Jalan Seliung 78353

PENGURUS MAKTAB NANGQ 1857 PUSAT - WILAYAH - KAB/KOTA - LUAR NEGERI