SULTAN SYARIF YUSUF ALKADRI. MAKTAB NANGQ 1857 PUSAT PONTIANAK JALAN SELIUNG
SULTAN SYARIF YUSUF ALKADRI
SULTAN PONTIANAK KE V
SULTAN SYARIF YUSUF ALKADRI BIN SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI
SULTAN KE V PONTIANAK
MENJABAT TAHUN (1872 M 1895 M) Selama 23 Tahun
Di Nobatkan sebagai Sultan Ke V di Usia 22 Tahun 1850 M - 1872 M.
Lahir Pontianak, 17 Maret 1850 M . dan Wafat Pontianak 15 Maret 1895 M.
Merupakan hasil Perbaikan dari Poto di bawah ini :
Keris Duplikat yang di pakai untuk kegiatan Da'wah, Majelis, Pengajian dan Acara Keluar Istanah untuk Syiar Da'wah Islam keliling Indonesia 🇮🇩 Nusantara yang hanya di lakukan Sultan Syarif Yusuf bin Sultan Syarif Hami
Di Keluarkan dari Dokumen Asli Maktab NanGq 1857 Pusat Peninggalan Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri adik kandung ke tiga Sultan Syarif Yusuf Alkadri bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri dari Ibunda yang sama Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Fatimah binti Sultan Syarif Kasim Alkadri yang dalam Hukum yang melakukan Nikah Sekufu mengikuti cara Sayidina Ali bin Abi Talib dengan Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, dokumen peninggalan terakhir Sultan Syarif Yusuf Alkadri tahun 1897 M - 1318 H. Di keluarkan untuk membantah dari orang-orang yang mengatakan bahwa Sultan Syarif Yusuf Alkadri tidak meninggalkan jejak berupa dokumen Poto. Karena tidak ada di Istanah, Dokumen di Istanah bukanya tidak ada melainkan di musnahkan Jepang pada tahun 1944 M pada Tragedi berdarah yang terkenal Oto Sungkup atau, Mandor Berdarah" Seluruh barang - barang di Istana termasuk Mahkita Pakaian Kesultanan, Mahkota Kedultanan dan Permaisuri serta Dokumen Istanah di dita oleh Jepang termasuk merampas perhiasan yang di pakai permaisuri dan bagi yang tidak mau menyerahkan akan di bunuh fi tempat kemudian di masukan di dalam karung untuk di bawa dan di kumpulkan di Mandor tempat Pemancingan, Sehingga harta Istanah Ludes di tangan Jepang, Dokumen isi Selamat yang merupakan satu-satunya karena berada jauh di luar Istanah yang di pegang Pangeran Bendahara V Syarif Ahmad bin Usman Cicit dari Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri. Adapun yang ada saat ini merupakan hasil Duvlikst yang di buat kembali oleh Sultan Syarif Hamid II Alkadri dan hanya ada beberapa pakaian Kerajaan yang dapat di sembunyikan di tempat lain oleh Ratu Perbu Khodijah salah satu anak Sultan Syarif Muhammad Aljadri yang selamat dari peristiwa tetsebut
MAKTAB NANGQ 1857
DEWAN PIMPINAN PUSAT
Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah
Ahlulbait Pangeran Bendahara Tua Syarif
Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
Pontianak Jalan Seliung
Sultan Syarif Yusuf Alkadri
Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
Sultan Pontianak Ke V
Menjabat Tahun 1872 M - 1895 M
Selama 23 Tahun
Poto ini pernah di pajang hingga sampai tahun 1984 M - 1405 H, Karena di Klaim Kesultanan Sanggau maka Sultan Syarif Hamid II Alkadri memerintahkan agar segera di copot dari dinding Istanah agar tidak menimbulkan gaduh
Keris Asli Berkepala Burung Garuda sebagai bukti kongkrit bahwa itu Sultan Syarif Yusuf Alkadri bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri, keris tersebut sama percis apa yang di pakai oleh Sultan Syarif Muhammad bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri yang Bermahkota hanya Boleh di Pakai pada saat berpakaian Resmi Kesultanan dan Acara Resmi Kesultanan dan masih ada 1 yang belum di tampilkan dengan pakaian Kesultanan karena masih dalam perbaikan di percetakan karena poto aslinya terlalu buram sehingga mengalami kesulitan tingkat perbaikan, perbaikan tetsebut agar dapat di ketahui dan di lihat untuk generasi yang akan datang dari seluruh keturunan Sayid Husein Alkadri Mufthi Mempawah dan termasuk arsif penting Maktab NanGq 1857 Pusat , sebab jika tidak di perbaiki kerusakan tersebut akan selain parah sehingga tidak bisa di perbaiki yang ahirnya hilanglah dokumen tersebut dan saat ini masih belum terlambat dalam perbaikan tersebut agar jejak sejarah berupa bukti poto tidak musnah begitu saja jika tidak ada yang bertanggungjawab untuk melestarikanya dan tentunya semua itu tidak terlepas atas petunjuk leluhur itu sendiri
SULTAN SYARIF YUSUF
Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
Sultan Ke V
Menjabat Tahun 1872 M - 1895 M
Selama 23 Tahun
Lahir : Pontianak, 19 Rajab 1371 H-1850 M
Wafat: Pontianak,15 Maret 1895 M -1316 H
Dalam Usia : 45 Tahun
Makam : Batu layang Siantan Hulu Kecamatan Pontianak Timur Kota Pontianak Kalbar Indonesia 🇮🇩
Ayah Kandung : Sultan Syarif Hamid I bin Sultan Syarif Usman Alkadri
Ibu Kandung : Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Fatimah binti Sultan Syarif Kasim bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri
Istri Yang Di Sepuhkan : Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahra binti Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri
Maktab NanGq 1857. Karena di bawah ini Valid maka sebagai Pertimbangan yang di gunakan adalah dokumen di Bawah ini karena memiliki Stempel yang resmi diakui oleh Kesultanan Kadriah Pontianak, akan tetapi tidak bersifat baku dan suatu saat bisa saja terjadi perubahan dari pihak Kesultanan Kadriah Pontianak :
Jumlah Permaisuri : 5 dan yang tidak terdata ada 2 istri
Jumlah anak : 17 dan tidak terdata ada 5 dari kedua istri tersebut
Pelopor : KELUARGA ISTANAH SEMBILAN
Sast di nobatkan sebagai Sultan Ke V baru berusia 22 Tahun dan istrinya sedang mengandung anak pertama yang kemudian di beri nama Pangeran Ratu Mahkota Syarif Muhammad bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri
Dari 6 istri ada 3 Istri Sultan Syarif Yusuf Alkadri yang namanya hampir Sama yaitu :
1. Syarifah Zahara binti Syarif Thaha Alkadri
2. Syarifah Zahra binti Ali Almuthahar
3. Syarifah Zahara binti Abdullah Alkadri Pangeran Jaya
Sultan Syarif Yusuf termasuk Sultan yang berumur muda dari Sultan - Sultan sebelumnya akan tetapi wajahnya lebih Dewasa karena termasuk Sultan yang jarang menetap di Istanah
Beliau lebih senang g masuk di pelosok kampung dan keluar daerah untuk berda'wsh dan menyebarkan agama Islam sehingga selain sebagai Sultan isu juga terkenal sebagai Ulama bahkan hingga terkenal di luar negeri ke ulamaanya tersebut termasuk Saudi Arabia 🇸🇦
Bahkan lebih terkenal sebagai seorang Ulama ketimbang gelarnya sebagai Sultan
Di Luar Negeri beliau lebih di kenal sebagai Ulama Yusuf Alkadri sebab jarang berada di Istanah
Sultan Syarif Yusuf bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri di Nobatkan dalam usia yang cukup muda yaitu 22 tahun melalui Rapat Sesepuh Kesultanan yang di pimpin Ibunya Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Fatimah binti Sultan Syarif Kasim Alkadri
Sebab jika di paksakan mengikuti aturan maka harus menunggu 18 tahun lagi dan itu akan menyebabkan Kesultanan akan mengalami masa kekosongan dalam waktu yang lama (Vakum / Oponigrum) maka di tempuh dengan mengunakan Alternatif ke Tiga dengan jalan "" Melalui Musyawarah Pembesar Istanah yang di Pimpin oleh Ibunya Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Fatimah binti Sultan Syarif Kasim Alkadri
Keluarga Istanah Keturunan Sultan Syarif Yusuf bin Sultan Hamid I Alkadri dan beberapa Permaisuri dan anak-anaknya ketika setelah acara resepsi pernikahan Pangeran Ratu Mahkota Syarif Muhammad bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri dengan Syecah Jamilah binti Syech Mahmud Syarwani Almaky Adaghistani Although Sayadjely Alhasani di Istanah Kadriah Kesultanan Pontianak dokumen 1893 M - 1314 H
Tiga bersaudara yaitu Pangeran Istanah Syech Ahmad bin Mahmud Syarwani, Syecah Jamilah binti Syekh Mahmud Syarwani dan Syecah Fatimah binti Syech Mahmud Syarwani Almaky Adaghistani Alghoust Asyadjely Al-Hasani
Akan tetapi kenyataan Sultan Syarif Yusuf bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri tidak sejalan dengan almarhum orang tuanya Sultan Hamid I bin Sultan Syarif Usman Alkadri dan pendahulu Sultan - Sultan setelah belisu
Sultan Syarif Yusuf Alkadri justru lebih suka berda'wah keliling Kalimantan Barat Boerneo Barat bahkan hanya sedikit waktu yang belisu sediakan untuk mengurus Kesultanan
Apalagi Sultan Syarif Yusuf Alkadri tidak sejalan dengan Kolonial Belanda dan Residen Rentenir Belanda yang sering menyusahkan Rakyat Kalimantan Barat secara umumnya
Sehingga beliau sangat jarang bertemu dengan pihak Belanda dan bahkan untuk perjanjian kontrak - kontrak pun selalu di serahkan Syech Abdul Manan Alkhalid yang di tunjuk sebagai Penasehat Kerajaan dari ayahnya sebagai Sultan ke IV Pontianak
Sekalipun beliau seorang ulama selama menjabat sebagai Sultan ada 5 kontrak yang beliau tanda tangani di antara ke 5 Kontrak kerjasama tersebut adalah Kontrak Kerjasama dengan Kerajaan Saudi Arabia🇸🇦 bidang Pendidikan dan Syiar Islam khususnya di Boerneo Barat Kalimantan Barat, sehinnga beliau sering ke tanah Arab untuk mengirim Para Pelajar yang ingin belajar di Saudi Arabia 🇸🇦. Kontrak dengan Kesultanan Riau dalam bidang da'wah dan Perdagangan dan 1 Kontrak dengan Belanda
Sebab itu Sultan Syarif Yusuf Alkadri statusnya lebih di kenal sebagai seorang ulama dari pada sebagai Sultan Pontianak jika berada di luar Negeri
Beliau di kenal sebagai Sultan hanya di Boerneo Barat saja
Sebab di manapun beliau berada tidak pernah berpakaian Mesultanan
Akan tetapi pakaian yang di kenakan berciri khas pakaian seorang ulama sebagai Dai Penda'wah yang menyebarkan agama Islam
Dan sangat jarang berpakaian Kesultanan sebagaimana ayahnya dan leluhurnya
Sebab itu dokumen Sejarah beliau sangat sedikit sekali berpakaian Kesultanan
Satu-satunya pakaian Istanah yang beliau gunaka justru di Klaim sebagai Sultan Sanggau di Jaman Stan Syarif Hamid I Alkadri
Dan Sultan Syarif Hamid II Alkadri memutuskan agar di lepaskan untuk menghindari perseteruan dengan Kesultanan Sanggau 1984 M
Keluarga Besar Sultan Syarif Muhammad Bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri Bersama istri dan anak - anaknya tahun 1938 M di Istanah Kadriah Kesultanan Pontianak
Pada saat di Nobatkan sengaja Sultan pada tahun 1872 M yang juga di hadari oleh Residen Rembang dan Rentenir Belanda di Pontianak setelah selesai penobatan Sultan Syarif Yusuf Alkadri sudah di sodorkan oleh pihak Belanda dengan perjanjian Kontrak Baru
Awalnya Sultan Syarif Yusuf Alkadri menolak dengan alasan pihak Istanah belum membuat program Kerja Istanah dan juga belum melakukan tindakan apa - apa karena itu
Sultan Syarif Yusuf Alkadri menolak menanda tangani isi kontrak tersebut tanpa membacanya
Dengan rasa kecewa pihak utusan Belanda di Batavia dan Residen Rembang kembali ke Batavia tanpa menemukan hasil
Untuk selalu selanjuttnya Residen Rembang meminta Agar Rentenir Residen Belanda yang di tugaskan di Pontianak agar mengawasi Pemerintahan Sultan Syarif Yusuf Alkadri dan mencari kesempatan waktu yang di anggap baik untuk menanda tangani Kontrak yang pernah di sodorkan kepada Residen Rembang Batavia di Jakarta
Setelah 7 tahun menjabat sebagai Sultan Pontianak baru kontrak di tanda tangani oleh Sultan Syarif Yusuf Alkadri
Adapun isi kontrak tersebut adalah sebagai berikut :
1. Ijin Pembukaan Lahan Kebun Karet Lokal yang berada di lokasi Mandor, Karangan, Menjalin, Mentrado, Sidas
2. Sebagai bentuk Persetujuan Pembibitan biji Karet / getah yang di semai dalam sebuah benteng jika sudah bertunas langsung di Pindahkan untuk di tanam di lahan yang sudah di bersihkan
3. Pembukaan lahan sesuai Poin q yang bekerja sama dengan Rakyat setempat dengan upah yang di anggap sesuai
4. Pengawasan pekerjaan di lakukan oleh Residen Rentenir Belanda yang di tugaskan di setiap Titik Perkebunan
5. Hasil dari Panen dan pajak lahan di berikan sebesar 30 Persen Kepada Kesultanan Pontianak
Setelah membaca perjanjian tersebut Sultan Syarif Yusuf Alkafri menanda tangani idi Surat tersebut dalam 2 bahasa
Yang terdiri dari bahasa Melayu Pontianak dan Bahasa Belanda yang bunyinya sebagai berikut :
Versi Bahasa Melayu :
بسم الله الرحمن الرحيم
Salam Sejahtere Untok Kite Bersame
Djengan Rahmat Tuhan nyang Maha Ese
Telah di Tjanda Tjangani Kontrak
Tjanam Karet , Distrik Mandor - Mentrado
Djengan Perjajcian 30 Persen Uotok Kuesueltanan Poentianak
Poentianak, 23 Joule 1879 M
Penanda Tjangan
Belanda Soeltan Poentianak
Van The Bush SoeltanYusuf Alkadri
Versih Bahasa Belanda :
Beste Wenden Wood ons Samen
Door de genade Van ce Almatige Good Er is een Rubherplanvontract getekend woor Het Mandor Mentrado District, meet een everenkhonst Van 30 % voor Het , Sultannat Van Qadariah Pontianak
Ondetekenaar
Van The Bush Nederland en
Sultanast Pontianak Syarif Yusuf Alkadrie
Poentianak 23 Just 1879 M
Sebenarnya banyak dokumen - dokumen Kontrask baik dari Jaman Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri hingga ke Sultan Syarif Muhammad Alkadri Perjannian kontrak dalam bahasa Belanda yang di iringi dalam Bahasa Melayu bahkan Melayu tulisan Arab Melayu, hanya saja Dokumen- Dokumen tua tersebut sudah sangat sulit terbaca karena boleh di bilang 75 % tulisanya sudah rusak samar di makan waktu dan di makan gegat / rayap
Sebab itu banyak yang di salin ulang akan tetapi sangat rumit sekalipun mengunakan kaca pembesar karena hurufnya sudah melebar bahkan kembang karena lembab
Sehingga sulit untuk di perbaiki
Biasanya leluhur yang hadir membantu meluruskan tulisan tersebut karena beliaulah yang lebih paham
Dan itu bisa terjadi jika keturunya sudah di temukan, sehingga sangat sulit jika di salin sendiri
Akan tetapi tetap di upayakan semaksimal mungkin
Sri Baginda Sultan Syarif Muhammad Bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri anak tertua Sultan Syarif Yusuf Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri, Ibunda Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahra binti Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri. Pangeran Jaya Syarif Abdullah Alkadri dirinya dan keturunannya bagi Gerombolan begal Nasab yang bekerja sama dengan lembaga tertentu menyatakan Dot (wafat saat masih Bayi) itu bearti mereka tidak paham Sejarah yang sebenarnya, kawanan gerombolan ini juga merubah nama orang tua Syarifah Zahra binti Abdullah menjadi binti Thaha karena adanya kepentingan ingin mengeser Pangeran Syarif Abu Bakar bin Pangeran Perdana Syarif Mahmud Alkadri (Sultan Syarif Abu Bakar Alkadri) abahnya Sultan Syarif Melvin Alkadri. SH. dari Kusrsi Kesultanan Kadriah Pontianak sejak tahun 1987 M - 2003 M atau selama 16 tahun Kusrsi Kesultanan mengalami Kekosongan di sebabkan ada yang ingin menjadi Sultan menggeser Pangeran Syarif Abu Bakar Alkadri bin Pangeran Perdana Agung Syarif Mahmud Alkadri sehingga di proses di Pengadilan siapa yang lebih berhak, hasil sidang Pengadilan tahun 1987 M dan 2004 M tetap yang berhak Pangeran Syarif Abu Bakar Alkadri bin Pangeran Perdana Agung Syarif Mahmud Alkadri karena beliau adalah adik kandung se ibu Sultan Syarif Hamid II Alkadri dari ibunda yang sama yaitu Maharatu Suri Mahkota Agung Syecah Jamilah bin Syech Mahmud Syarwani Almaky Adaghistani Alghoust Asyadjely Al-Hasani, baik secara Hukum Syariat Islam, Adat Kesultanan dan Tradisi turun temurun beliaulah yang lebih berhak karena merupakan satu waris lurus yang tunggal . Hanya saja saat itu tekanan sama-sama dari satu jalur yaitu keturunan Sultan Syarif Usman Alkadri
Sultan Syarif Muhammad bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri bersama Ayah mertuanya Syekh Mahmud Syarwani Almaky Adaghistani Alghoust Asyadjely Al-Hasani pakaian beliau bergaris putih hingga ke kaki samping kiri Sultan Syarif Muhammad Alkadri
Setelah menanda tangani Kontrak tanggal 23 Juli 1879 M - 1300 H. Maka 3 setelah penanda tanganan Kontrak belisu berangkat lagi ke Tanah Arab Saudi Arabia🇸🇦, bertepatan dengan awal bulan Syawal 1300 setelah 1 Minggu Idul Fitri 1300 H, sedangkan untuk mengawasi kerja Kontrak beliau hanya mengutus 20 Pasukan Istanah untuk mengawasi dan melaporkan kepada Bendahara Istanah yaitu Pangeran Bendahara Syarif Ismail Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri adik kandung bungsu beliau yang saat itu Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri juga berada di luar Istanah dalam tugas melakukan penelusuran Silsilah dan Nasab Keluarga Alkadri yang berada di Jawa timur.
Sultan Syarif Yusuf Alkadri berharap agar pihak Belanda mematuhi Kontrak yang sudah di tanda tangani bersama
Saat berngkat ke tanah Arab Sultan Syarif Yusuf Alkadri membawsh 10 orang yang di urus untuk belajar di Mekah Saudi Arabia🇸🇦 kepada Syech Mahmud Syarwani Almaky Adaghistani Alghoust Asyadjely Al-Hasani yang ternyata justru Syech Mahmud Syarwani Almaky Adaghistani Alghoust Asyadjely Al-Hasani justru berminat untuk Hijrah ke Pontianak bersama Sultan Syarif Yusuf Alkadri dan mentio kepada Guru - guru serta keluarga Syech Mahmud Syarwani Almaky Adaghistani Alghoust Asyadjely Al-Hasani yang menetap di tanah Arab Saudi Arabia🇸🇦
Wan Syarif Ariffin bin Tuanku Syarif Sulaiman Alkadri Serawak Malaysia bin Abdul Karim bin Abdul Qodir (salah satu saudara Kandung Sultan Syarif Muhammad Alkadri) bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri ((dari Istri Syarifah Zahara binti Ali Almuthahar)) bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri , Serawak Negara Serumpun Melayu Malaysia 🇲🇾
Pada awal November 1879 M setelah bertemu Sultan Syarif Yusuf Alkadri, Syech Mahmud Syarwani Almaky Adaghistani Alghoust Asyadjely Al-Hasani memutuskan untuk Hijrah ke Pontianak mengikuti Sultan Syarif Yusuf Alkadri yang juga akan pulang ke Pontianak, keputusan bulat tersebut
Sultan Syarif Yusuf Alkadri sangat merasakan senang seki karena dengan demikian misi sawahnya untuk tetap berada di luar Pontianak menjadi tenang, karena ada yang menggantikan posisi beliau
Setelah tiba di Pontianak, sekalipun mereka berangkat bersama-sama Sultan Syarif Yusuf Alkadri menyambut Syech Mahmud Syarwani Almaky Adaghistani Alghoust Asyadjely Al-Hasani dengan baik di sertai tradisi Istanah Kadriah Kesultanan Pontianak
Setelah beberapa hari beristirahat Sultan Syarif Yusuf Alkadri, Sultan Syarif Yusuf Alkadri meminta untuk mengisi Khutbah Jumat sekaligus sebagai Imam
Selain itu Sultan Syarif Yusuf Alkadri juga meminta Syech Mahmud Syarwani Almaky Adaghistani Alghoust Asyadjely Al-Hasani menjadi duta penghubung antara Kesultanan Pontianak dengan Amir Mekah Kerajaan Saudi Arabia🇸🇦 dalam hal untuk mengirim pelajar yang nantinya akan di siapkan untuk menjadi Ulama dan Mubaligh ketika sudah selesai menuntut ilmu agama di di Saudi Arabia🇸🇦 di jaman kekuasaan Syarif Mekah
Adapun Amir - Amir Mekah yang berkuasa di antaranya adalah :
1. Husein bin Muhammad Al-Hasani Dinasti ke 79 Tahun 1877 M - 1880 M
2. Amir Mekah Abdul Muthalib bin Ghalib Dinasti 80 Tahun 1880 M - 1882 M
3. Sharif Ainurafiq Dinasti ke 81 Tahun 1882 M - 1905 M
4.
DEWAN PIMPINAN PUSAT
Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah
Ahlulbait Pangeran Bendahara Tua Syarif
Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
Pontianak Jalan Seliung
Sering Louyat Dan Hak Cipta Ada Pada :
MAKTAB NANGQ 1857
Diindungi Undang-Undang
Pontianak, Rabu 14 Mei 2025 M / 16 Julqaidah 1446 H
08 : 39 WIB