SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI. MAKTAB NANGQ 18t7 PUSAT PONTIANAK JALAN SELIUNG

       SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI
          SULTAN KE IV 1855 M - 1872 M 
          BERKUASA SELAMA 17 TAHUN
      SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI
   BIN SULTAN SYARIF USMAN ALKADRI
       Saat Penobatan 12 April 1855 M


       SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI 
   BIN SULTAN SYARIF USMAN ALKADRI

Ibundah Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahara Binti Thaha Bin Abdullah Bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri, Wajah mengambil wajah ibunya atau ada imbas 25 % wajah Kakek nya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

     SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI
                         Tahun 1856 M 

Register :
37.914. 1802.1855.1872

Terdaftar Sejak : 
12 April 1857 M - 1278 H

Nama dan Gelar :
SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI 
BIN SULTAN SYARIF USMAN ALKADRI. IBUNDA MAHARATU SURI MAHKOTA AGUNG SYARIFAH ZAHARA BINTI THAHA Bin Abdullah Bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Bin Sayid Husein Alkadri Mufti Mempawah

Lahir : 
Pontianak,  27 Jumadil. kubro 1223 H / 1802 M

Wafat : 
Pontianak 22 Agustus 1872 M / 19 Rabiul Akhir 1293 H 

Dalam Usia :
70 Tahun

Maqam : 
Komplek Pemakaman Kesultanan Qadriah Batu Layang  Siantan Jalan Khatulistiwa Pontianak Timur  Kota Pontianak Kalbar Indonesia 🇮🇩

Kompleks Maqam Baru Layang Jalan Khatulistiwa Siantar Pontianak Kalbar Indonesia 🇮🇩

Jumlah Istri :
6 Istri

Istri Yang di sepuhkan / Ratukan :: 
MAHARATU SURI MAHKOTA AGUNG SYARIFAH FATIMAH BINTI SULTAN SYARIF KASIM ALKADRI IBUNDA RATU MINAH

Anak - anak Kandung :
38.1. Sultan Syarif Yusuf Alkadri
38.2. Ratu Syarifah Zahra Alkadri
38.3. Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far
         Alkadri
38.4. Pangeran Perdana Syarif Ismail
          Alkadri

Jumlah Anak-anak Kandung dari Istri - istri  Sultan Syarif Hamid I Alkadri :
19 anak Laki-laki dan 3 anak Perempuan dari Ke 6 Istri - istri Sultan Syarif Hamid I Alkadri

Dari 29 anak laki-laki dan 3 anak perempuan Sultan Syarif Hamid I Alkadri atau 22 Keseluruhan anak - anak Sultan Syarif Hamid I Alkadri hanya terdapat 2 Orang anak saja yang masih mewariskan Potonya beliau adalah :

Sultan Syarif Yusuf Alkadri Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri usia saat Penobatan 22 Tahun 1872 M

                 1. Naskah Berupa Poto 
        SULTAN SYARIF YUSUF ALKADRI
   BIN SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI

Dari ketiga Poto ini sayangnya poto yang ke Tiga ini di Klaim sebagai Sultan Sanggau sehingga oleh Sultan Hamid II Alkadri memerintahkan pada tahun 1984 M, agar di lepas dari Dinding Istanah Kesultanan Kadriah Pontianak karena tidak ingin menimbulkan kegaduhan padahal jelas dari Postrur pakaian hingga Keris yang berkepala Burung Garuda merupakan bukti otentik serta perbandingan dengan kedua poto Sultan Syarif Yusuf Alkadri demikian juga yang tersimpan pada Dokumen Induk Maktab NanGq 1857 secara turun temurun bahwa itu merupakan Sultan Syarif Yusuf Alkadri Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri

                2. Naskah  Berupa Poto
    PANGERAN BENDAHARA TUA SYARIF
          JA'FAR ALKADRI BIN SULTAN 
              SYARIF HAMID I ALKADRI

Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Dokumen poto ketika dalam kondisi sakit umur 73 Tahun

Kedua poto ini adalah Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri yang di atas ketika berusia 25 tahun, poto ini ada terpasang di Istanah Kadriah Pontianak Exs Dapur Istanah dan yang kedua ada di dalam Dokumen Maktab NanGq 1857 Pusat Pontianak, sedangkan yang pertama juga ada tetapi sudah rusak berat, lampiranya melekat sehingga ketika di buka terkelupas, sedangkan poto kedua saudaranya masih tersimpan dalam dokumen induk dalam kondisi rusak berat sehingga tidak bisa di Restorasi. 

Sultan Syarif Hamid I Alkadri termasuk Sultan yang sangat tegas dalam memimpin Kesultanan Kadriah Pontianak kecerdasan Sultan Syarif Hamid I Alkadri sebab itu dalam kerjasama dengan pihak Belanda dalam kondisi meneruskan warisan yang  Ayahnya Sultan Syarif Usman Alkadri di mana hasil pajak Kesultanan hanya tersisa 30 % saja yang telah di sepakati Ayahnya Sultan Syarif Usman Alkadri, maka beliau mengatur siasat dengan menghidupkan Baitul Mal Kesultanan Kadriah Pontianak yang di kelolah Masjid Jami Kesultanan Masjid Istanah yang saat itu Pengurus Baitul Maknya di serahkan kepada adik bungsunya Pangeran Perdana Bungsu Sysrif Ismail Alkadri bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri dari Ibunda yang sama Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Fatimah binti Sultan Syarif Kasim Alkadri

Seluruh dana Pajak Kesultanan Kadriah hampir 50 % di setor di Baitul Mal sehingga tidak terlacak oleh Residen Rentenir Belanda

Pada tanggal 11 Juni 1856 M / 1277 H sebagai Kontrak Pertama dengan pihak VOC Belanda yaitu Residen Rembang  Het Hoopd Wadterasffeling  Van Borneo (Kepala Daerah Keresidenan Boerneo Barat)  yang isi Surat Kontrak sebagai berikut :

A. Pembukaan Penerbangan Jalur Udara Pontianak Jakarta melalui Landasan Sungai Durian dengan nama "" Lapangan Kapal Terbang Soelthan Abdoel Hamied Alkadrie (beroprasional terhitung 12  April 1856 M tanggal tersebut di ambil dari tanggal penobatan belisu sebagai Soelthan Kadriah Pontianak ke IV

Setelah Sultan Syarif Hamid I Alkadri Wafat Nama Landasan Kapal terbang tersebut berubah menjadi beberapa nama : 

1. LAPANGAN KAPAL TERBANG
    SOELTHAN ABDOEL HAMIED ALKADRI
    Setelah belisu Wafat 1872 M  (1856 M
    sd 1939  M) nama tersebut bertahan     
    selama 83 Tahun hingga sampai di
    Sultan Syarif Muhammad Alkadri,  dalam
    Perjanjian tambahan pihak Belanda VOC
    Batavia tertanggal 14 September 1856
    M / 1277 H, menyetujui sebagai
   "LAPANGAN KAPAL TERBANG
    SOELTHAN SYARIEF ABDOEL HAMID
    ALKADRI"  yang berada di Lokasi Sungai
    Durian tertuang dalam dua Bahasa
    yaitu Bahasa Belanda dan Bahasa Arab
    Melayu  yang di tanda tangani kedua
    belah pihak dengan segel Westerling 
    Batavia dari Belanda dan Cap Stempel
    dan tanda tangan Sultan Syarif Hamid I
    Alkadri

         Naskah persetujuan Perjanjian 

Nama LAPANGAN KAPAL TERBANG SOELTHAN SYARIEF ABDOEL HAMID ALKADRI

Terdapat Dua Stempel dan Segel Westerling Batavia Belanda yang menangani Penerbangan Saat itu dan Cap Stempel Sultan Syarif Hamid I Alkadri hanya dokumen ini sudah tidak terbaca, dasar kertas Eropa warna kuning umum yang di pakai Sultan- Sultan Pontianak,  Stempel nya juga sudah melar tidak berbentuk dengan sempurna

            Naskah Piagam Badal Haji

Piagam  Badal Haji Dalam Bahasa Melayu Pontianak di berikan Oleh Kerajaan Saudi Arabia🇸🇦 Mentri  Kerajaan Abdoellah atas permintaan Sultan Syarif Hamid I Alkadri agar di tulis dengan Bahasa Melayu Pontianak sebagai Penghargaan Bahasa Melayu Pontianak,  tertanggal 29 October 1857 M / 1278 H sebagai Jama'ah Badal Haji

Salah Satu Piagam Badal Haji Sultan Syarif Hamid I Alkadri setelah Lapangan Kapal Terbang Soelthan Syarief Abdoel Hamid Alkadrie selesai di bangun, maka dengan Pesawat IYU KEBAL.Pertama buatan Belanda tahun 1853 M beliau berangkat ke Saudi Arabia 🇸🇦 untuk menanda tangani Kontrak Pengiriman Ulama dan Pelajar pada tahun 1857 M / 1278 H yang kemudian. di teruskan anaknya Sultan Syarif Yusuf Alkadri setelah menjadi Sultan Ke V Kesultanan Kadriah Pontianak 1872 M -  1293 H  sd 1895  M - 1316 H

2. LAPANGAN KAPAL TERBANG SUNGAI
    DURIAN (1941  M  sd 1942 M) bertahan
    selama 1 Tahun sebab Sultan - Sultan
    setelah Sultan Syarif  Muhammad     
    Alkadri Wafat tidak ada yang peduli
    dengan perubahan nama Lapang
    Pesawat tersebut. Keberangkatan Sultan
    Syarif Hamid I Alkadri tersebut sebagai
    uji coba Lapangan Terbang Sultan
    Syarief Abdoel Hamid Alkadrie sebagai
    uji Coba untuk Penerbangan
    internasional pertama kalinya dalam
    Sejarah Penerbangan Pontianak Saudi
    Arabia 🇸🇦, pada tahun 1857 M - 1278 H
    melalui  Lapangan kapal Terbang
    Soelthan Syarief Abdoel Hamid
    Alkadri Sungai Durian. Maka pada tahun
    1941 M berubah menjadi Lapangan
     Kapal Tersebut Sungai Durian

3. LAPANGAN KAPAL TERBANG DAI        
    NIVON  di kuasai Jepang sejak 1942 M  
    sd 1945 M bertahan selama 3 Tahun

4. LAPANGAN KAPAL TERBANG SUNGAI
    DURIAN 1945 M sd 1966.M bertahan
    selama 21 Tahun

5. LANUD SUPADIO setelah Indonesia
    merdeka dan terjadi peristiwa
    terjatuh pesawat  tahun 1966 M yang
    menewaskan Letnan Kolonel Supadio
    ketika uji coba Pesawat Super Aero.
   Termasuk Kolonel Nurtania dan bersama
    45 orang lainya sehingga hingga saat ini
    menjadi Bandara  SUPADIO TNI
    ANGKATAN UDARA 1966  M sd 2025 M
    45 Tahun dan sekarang masih bernama
    Bandara Internasional Supadio
    Pontianak, pada satu itu 1949 M
    mengunakan PESAWAT IYU KEBAL hasil
    peninggalan Belanda, setelah jatuh di
    tangan TNI Angkatan Udara menjadi
    PESAWAT HERKULIS  buatan pertama
    Belanda tahun 1853 M juga terkenal
    sebagai PESAWAT PERINTIS 45. Nama
    Bandara Supadio bertujuan untuk
    menghormati Letnan Kolonel yang
    terjatuh dalam Kecelakaan Pesawat
    Maka dengan demikian hilanglah    
    Jasa Sultan Syarif Hamid  I Alkadri di
    ambil nama orang Jawa Tahun 1966 M,
    menjadi Bandara Supadio  1966 M -
    2025 M sudah berlangsung selama 59
   Tahun hingga sekarang sebab di masa
    Sultan Syarif Muhammad Alkadri hingga
    Sultan Syarif Melvin Alkadri tidak
    satupun yang berusaha mengangkat
    kembali nama leluhurnya Sultan Syarif
    Hamid I Alkadri untuk mengembalikan
    menjadi Bandara Sultan Syarif Hamid I
    Alkadri Karena jasa beliaulah yang
    pertama yang wajib di kenang bukan
    yang lainya yang lebih tepat untuk
    Bandara Pontianak saat ini, pada tahun
    1950 M Bandara Sungai Durian menjadi
    Pangkalan terbang TNI Angkatan Udara
    kemudian di mulailah Pembangunan
    untuk di jadikan Bandara Penerbangan
    bersifat  Umum 

                    Naskah Bukti Poto

Bukti Sejarah Otentik  yang tidak bisa di bohongi Sultan Syarif Muhammad Alkadri bertolak dari Pangkalan Terbang Soelthan Abdoel Hamid Alkadri  Sungai Durian untuk Liburan Ke Batavia Jakarta bersama Dokter Khusus dengan Pesawat Khusus saat Itu Pesawat IYU KEBAL .  Ikut Maharatu Besar, Maharatu Suri,  Pangeran Muda, Pangeran Agung, dan Pangeran Adipati pada tanggal 26 Juli 1938 M

                  Naskah Berupa Poto

Pada tanggal 20 Oktober 1947 M Sultan Syarif Hamid II Alkadri bersama Ratu Mas Mahkota bertolak dari Lapangan Kapal Terbang Sultan Syarif  Abdoel Hamid Alkadri (pada tahun 1947 M namanya sudah di ganti dengan Lapangan Kapal Terbang Sungai Durian, menuju Saudi Arabia untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memberikan bantuan perjuangan Palestina melawan Israil

B. Membangun Jalur Darat dari Lamdasan
    Perintis Jalan Sungai Durian (sekatang
    Sungai Durian - Adisucipto)  untuk keluar
    masuk kendaraan dengan bertenaga
    bahan bakar bstu bara dan Uap senagai
    bahan bakarnya 

C. Memperluas Pertambangan Emas
    Loteva  Landak - Monterado yang pajak
    Penghasilannya di setor 60 % kepada
    pihak VOC Belanda di Batavia Residen
    Boerneo Barat

Akan tetapi Contract tersebut baru dapat di realisasikan dengan Contract yang di laksanakan pada tanggal 14 September 1856 M / 1277 H di tanda tangani Contract  Met Den Sultan Van  Poentianak Pangeran Ratoe Sultan Syarief  Hamid I Bin Soelthan Syarief Ousman Alkadri  sebagaimana isi Contract di atas

Setelah menyelesaikan Kontrak - Kontrak tersebut Sultan Syarif Hamid I Alkadri mempercepat Pembangunan dan Rehabilitasi Komplek Istanah Kesultanan Kadriah Pontianak sebagai hari kerja beliau di  Istanah Kesultanan Kadriah Pontianak yang terdiri dari :

A.  Pemasangan Pagar dan Gerbang
     Istanah terdiri dari :

1. Gerbang Utama
2. Gerbang Belakang Istanah
3. Gerbang kiri Sesepuh Istanah
4. Gerbang Kanan Keluarga dan Kerabat
    Istanah

B. Membangun Rumah - Rumah
 
1. Rumah Para Pangeran yang sudah
    berkeluarga
2. Rumah - Keluarga Istanah
3. Rumah - Pejabat Istanah
4. Rumah - rumah Panglima sekitar Beting
    dan Kampung Arab dan sekitar luar
    Pagar Istanah untuk Kerabat terdekat,
    termasuk membangun Kantor Maktab
    NanGq 1857 Pusat Pontianak ipada
    1858 M di  Kampung Arab agar
    Aktivitasnya tidak di ganggu Belanda
    Residen Rentenir Belanda
5. Membangun Rumah Maqam Komplek
    Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan
    Keluarga Alkadri, serta merintis
    Bangunan Musholah sederhana di lokasi
    Maqam. Kesultanan Kadriah Pontianak
    di Batu Layang serta memperluas areal
    maqam
6. Membangun Rumah - Rumah aliran
    Beting dan Kampung Arab untuk
    keluarga pinggir Kesultanan Kadriah
    Pontianak yang bekerja sebagai pelayan
.   Istanah Kesultanan Kadriah Pontianak

Pada tanggal 21 Oktober 1856 M terjadi Perjanjian LOTEPA 

Penyebabnya adalah : Etnis Cina 🇨🇳👲 di Mandor dan Mentrado tidak mau memperkerjakan penduduk Asli Etnis Dayak Suku Pedalaman  dalam hal Pengalisn Tambang Emas, Sehingga membuat Warga Suku Dayak Pedalaman  menjadi murka. 

Maka terjadilah Demontrasi Pertama di mana mereka mengerjakan Mangku Merah 🔴 untuk mengusir Etnis Cina 🇨🇳. 

Akan tetapi atas permintaan Keturunan Panglima Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri di Daritadi dan Sultan Syarif Hamid I Alkadri Peristiwa tersebut berhasil di hentikan dengan Perjanjian sebagai berikut :

1. Warga Pedalaman di ijinkan ikut
    menggali dengan Sistem upah perhari
    yang di sepakati
2. Tanah - tanah warga yang di bali harus di
    ganti rugi atau bagi hasil yang di
    sepaksti atau di beli
3. Pihak pemilik Tambang galian harus
    membayar adat sesuai Luas tanah yang
    di gali
4. Menghentikan Monopoli Kerja Kesukuan

Untuk selanjutnya Perjanjian ini di sebut Perjanjian Loteva I  (29 Oktober 1856 M) yang berhasil di selesaikan Sultan Syarif Hamid I Alkadri dengan bantuan keturunan Panglima Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri di Sungai Liat dan Darit

Pada tanggal 12 April. 1857 M / 1278 H Sultan Syarif Hamid I Alkadri dalam beberapa keterangan  di hari Isnin Belisu Mendirikan dan Mereka Lembaga Nasab dengan Nama "" NAQOBATUL ASYAYYID NASABATUL GHOIBUL QUBRO" NANGQ  yang di peruntukan untuk anak Ketiganya Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri, yang di anggap Sultan mewarisi sipat - sipat leluhurnya dalam kelebihan menyusun Nasab karena usia saat di Resmikan Pangeran baru berusia 3 Tahun maka beliau tangani sendiri, maka ketika Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri genap berusia 12 tahun sesuai aturan di usia tersebut harus di serahkan kepada Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri dengan bimbingan Leluhur dan arahan Sultan Syarif Hamid I Alkadri maka pada Kamis 12 April. 1869 M -  1290 H Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri di Nobatkan sebagai Ketua Maktab NanGq 1857 Pusat Pontianak dengan ketentuan Jabatan tetap  sejak didikan pada Isnin 12 April 1857 karena memang haknya Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri, sehingga masa kepemimpinan beliau tetap di hitung dari tanggal 12 April 1857 M / 1278.H 

Dari peristiwa ini ada suatu hal. Yang menjadi Renungan untuk Ketua Maktab NanGq 1857 Pusat Pontianak sekarang (2025 M - 1447 H) di mana Pangeran Bendahara Tua Perbedaan Negeri VII Syarif Abdullah Al mugadam Alkadri telah berusia 3,6 Tahun, sementara dalam wasiat langsung dari ASYAYYID SYARIF HUSEIN ALKADRI MUFTHI MEMPAWAH ketika berusia 12 tahun maka wajib di wariskan di serahkan dengan catatan dalam bimbingan orang tuanya atau bimbingan Abang kandung tertuanya, artinya masa kepemimpinan sekarang hanya tersisa 8,6 Tahun lagi dan selanjutnya Wajib di serahkan kepada Pangeran Bendahara Tua Perbendaharaan Negeri VII Syarif Abdullah Almugadam Alkadri Bin Arif Candra Alkadri, hal seperti ini akan terulang yang ke 4 Kalinya sebagaimana yang terjadi kepada Pangeran Bendahara Tua II Syarif Usman Alkadri bin Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Alkadri yang menyerahkan kepengurusan kepada anaknya ketika masih berusia Muda, maka beliau di percayakan kepada Pangeran Syarif Ali Bin Sultan Syarif Muhammad Alkadri (Korban Jepang Maqam di Maqam Pahlawan Nasional Mandor 28 Juni 1944 M) hingga mampu memimpin Maktab NanGq 1857 Pusat Pontianak di sebabkan saat itu tanggal 19 Juni 1912 M - 1333 H, Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Alkadri bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri berseteru masalah pajak dengan Residen Rentenir VOC Batavia di Pontianak sehingga beliau dan Istri terpaksa memutuskan untuk Hijrah Ke Saudi Arabia 🇸🇦, setelah memiliki lagi keturunan di Saudi Arabia🇸🇦 Istrinya Syecah Fatimah Binti Syekh Mahmudi Syarwani untuk kembali di Pontianak hingga Wafat di Maqam kan di Gang Meliau Jalan Tanjungpura Pontianak dekat Maqam Ayah dan Ibunya, 

Maqam Gang Meliau Jalan Tanjungpura  Pontianak Lokasi Maqam Syecah Fatimah binti Syecah Mahmud Syarwani bersama Ayah dan Ibunya Syecah Saedah binti Abdullah Alkhotib 

sementara Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Alkadri bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri tetap bertahan di Saudi Arabia🇸🇦 hingga wafat di Maqamkan  di Kompleks Pemaqaman Al - Quds Saudi Arabia 🇸🇦

Maqam Al-Quds Saudi Arabia🇸🇦 Lokasi Maqam Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadrie

Pada tanggal 8 Mei 1858 M / 24 Ramadhan 1279 H, Sultan Syarif Hamid I Alkadri Bin Sultan Syarif Usman Alkadri terjadi Kontrak Kerja dengan Pihak Belanda dalam dua Bahasa Arab Melayu dan Belanda saat di (Dokumen asli sudah tidak terbaca) yang isinya terdiri dari Poin - poin sebagai berikut :

1. Peningkatan tanaman rempah-rempah
     Lada, Cengkeh, Kopi, Cokelat
2. Peningkatan Produksi Karet
3. Peningkatan Produksi Tambang Emas 
4. Membuka jalur perdagangan Jalan Darat
    untuk daerah Hulu yang tidak ada aliran
    sungai menuju Kapuas hasil
    kesepakatan segala bentuk Pajak harus
    di setor Kesultanan sebesar 70.% dan
    Kesultanan hanya di berikan 30 % sesuai
    kesepakatan dari Almarhum ayahnya
    terdahulu Sultan Syarif Usman bin Sultan
    Syarif Abdurrahman Alkadri

               Lampiran Kedua Naskah 
         
Bentuk Surat isi Perjanjian Kontrak tersebut di Cap Stempel kedua belah pihak di bagian atas dan di bubuhi tanda tangan di dalam Cap Stempel masing-masing 

Pada tanggal 8 Mei 1858 M / 1279 H Gubernament Hindia Belanda sedang berada di Belitung menulis Surat kepada Sultan Syarif Hamid I Alkadri bahwa menyatakan menunda kedatangan di Pontianak karena urusan di Bangka Belitong belum Selesai (Naskah Dokumen tersebut sekarang tidak bisa terbaca) adapun maksud Gubernament Hindia Belanda untuk meneruskan Contract Hubungan Komitmen tentang besaran Pajak yang harus di setor terbaru kepada pihak Residen Rentenir VOC Batavia Belanda di Pontianak yang belum di sepaksti Sultan Syarif Hamid I Alkadrie

Pada tanggal  24 Juli 1871 M /  6 Jumadil Awal 1288 H dimasa ahir Jabatan  bahan Sultan Syarif Hamid I Alkadri di tanda tangani disepakati dengan Surat Pernyataan oleh Sultan Syarif Hamid I Alkadri Sultan Pontianak dan Tuan Residen  Rembang tentang Pengangkatan seorang Matoa Bugis  di Pulau Sepu Laut yang isi Surat pernyataan Tersebut menugaskan untuk menangani Pemerintahan di Sepi Laut untuk Perwakilan dari pihak Belanda dan Kesultanan Kadriah Pontianak dalam hal pemungutan Pajak pendapatan Sektor Perikanan di sekitarnya (Dokumen Surat sudah tidak terbaca) 

        Potongan Naskah Tidak Terbaca

Salah satu potongan Surat dari Sultan Syarif Hamid I Alkadri tentang pengangkatan Matoa Bugis untuk wilayah Sepuk Laut, potongan Surat ini juga sudah tidak bisa terbaca akan tetapi maksud isi Surat telah di jelaskan generasi Maktab NanGq 1857 terdahulu

Sultan Syarif Hamid I Alkadri termasuk Sultan yang sangat peduli dengan keluarga  sekalipun atas permintaan ibunya Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahra Alkadri binti Thaha bin Abdullah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri atau permintaan istrinya Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Fatimah binti Sultan Syarif Kasim Alkadri untuk mengirim bantuan di Pulau Natuna tepatnya di Segeram karena di dana banyak keluarga ibunya dan juga keluarga istrinya. Yaitu Pangeran Hasan bin Sultan Syarif Kasim Alkadri yang menikah dengan keturunan Wan Hamid Jamalullail dan terbanyak dari keluarga ibunya dari ayahnya Syarif Thaha bin Abdullah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri dari adik - adik kandung Pangeran Banten Syarif Abdullah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri

Bantuan biasanya di berikan dari bulan November - Desember tsetiap tahun pertama kali pada tahun 1856 M dan seterusnya

Di mana musim - musim tersebut bagi Warga Segeram di sebut Musim Kelambu  (Makan Tidur) dan Musim Selimut (Hanya Diam dirumah ) Sebab pada musim ini Alamnya Pancaroba (tidak menentu) 

Bahasa lain yang di gunakan Masyarakat Segeram disebut juga ""Musim Laut Mengamuk sehingga air laut Naik Hingga Daratan (Banjir Laut) hingga masuk di Segeram dan Dataran Natuna

Pada musim ini Melayani tidak bisa Melaut dan Pekebun juga tidak bisa menanam segala Sayur -  mayur karena terendam air yang seketika bisa datang dalam sekejab sehingga dataran rendah bisa banjir berbulan - bulan 

Atas permintaan ibunya dan istrinya maka setiap  awal bulan Oktober bantuan sudah di kirim sebagai persiapan Pangan untuk kebutuhan sehari-hari bagi keluarga Alkadri termasuk Masyarakat sekitar Segeram

Pada tanggal 4 Januari 1857 M - 1278 H Belanda dari Distrik Mentrado yaitu Distrik Residen Rembang Hed Hoopp Wasterasffeling  Van Borneo (Kepala Daerah Keresidenan Borneo Barat) Distrik Mentrado  di Bengkayang, 

Belanda mengeluarkan Surat Keputusan yang memasukkan Distrik Cina 🇨🇳 Mentrado ke dalam Wilayah Kesultanan Kadriah Pontianak yang Surst tersebut di setujui oleh Sultan Syarif Hamid I Alkadri dengan Cap Stempel Kesultanan Kadriah Pontianak dan Cap Stempel Van Borneo Barat di Pontianak

Sehingga Kekuasaan Kesultanan Kadriah Pontianak mencakup Wilayah Bengkayang, Perbatasan Wilayah Malasia Sarikin, menurut Sultan Syarif Hamid I Alkadri sekalipun Pajak di dapatkan hanya 35 % dengan jangkauan wilayah yang luas  pajak penghasilan akan semakin meningkat sehingga kesempatan untuk membangun wilayah Pasar Rakyat dari Siantan sampai Sungai Jawi dan arah Sungai raya menuju Lapangan Kapal terbang Sultan Syarif Abdoel Hamid Alkadri, Tanjungpura, sampai Pelabuhan Sungai Nipah Jeruju dapat terlaksana sehingga Pontianak menjadi satu-satunya Kota Kesultanan Qadriah terbesar di Borneo Barat (Kalimantan Barat) saat itu

Kebijakan tersebut adalah merupakan kebijakan lanjutan dari ayahnya Sultan Syarif Usman Alkadrie yang menerima Pajak 30 % yang di buat Perjanjian tambahan oleh pihak Belanda kepada Sultan Syarif Hamid Alkadri agar Sultan Syarif Hamid I Alkadri dapat menyetujui perluasan daerah kekuasaan sebab satu - satunya Kesultanan saat itu yang mudah di ajak bekerja sama hanyalah Kesultanan Kadriah Pontianak akan tetapi Sultan Syarif Hamid I Alkadri meminta Pajak 35 % , bagi Sultan jika kebijakan tersebut menguntungkan sekalipun presentasinya ke untungan Pajaknya Kecil akan tetapi dengan luasnya jangkauan Wilayah, maka nilai Pajak akan bertambah Drastis sekalipun pihak Belanda yang Pastinya lebih di untungkan

Maka ketika Sultan Syarif Hamid I Alkadri berkuasa usaha untuk memperluas wilayah kekuasaan terus beliau lakukan sekalipun usaha itu lebih menguntungkan pihak Residen Rembang VOC Batavia Jakarta  akan tetspi Wilayah Kesultanan Kadriah Pontianak lebih luas dan jangkauan Pajak lebih luas tentunya akan meningkatkan Pajak Kesultanan, sebab jumlah wajib pajak bertambah sekalipun presentasinya kecil hanya 35 % 

Untuk memperkecil konflik antar etnis maka Kesultanan Kadriah Pontianak banyak mengangkat Suku Pedalaman dari Etnis Dayak menjadi Pasukan beliau dan merangkul Sesepuh dan tokoh adat serta Panglima Dayak untuk menjadi Pasukan bahkan ada yang di angkat sebagai Pengawal beliau sehingga konflik antar etnis tidak terjadi, Selain itu Sultan Syarif Hamid I Alkadri juga menikahi Etnis Dayak Mentrado bernama Mariana dari Suku Dayak Pedalaman di Mentrado di mana ayahnya seorang Pemangku adat di Pedalaman Mentrado, sehingga para Pemangku saat itu merasa sangat senang sekali dan tidak berkeberatan jika anaknya harus memeluk agama Silam, Sultan Syarif Hamid I Alkadri juga memenuhi Adat istiadat Dayak dengan perpaduan Tradisional Kseultanan yang mereka anggap lebih mewah sementara sebagai ganti darah adat Sultan mengantinya dengan 7 ekor sapi yang membuat mereka sangat di hormati dan di junjung tinggi, yang akhir masyarakat sekitar ada yang memeluk agama Islam . Contoh - contoh tersebut tentunya bisa menjadi tauladan generasi Kesultanan Kadriah Pontianak sekarang maupun seluruh keluarga besar Alkadri, sebab Da'wah memiliki banyak cara dan Strategis dalam merangkul seseorang menjadi pengikut agama Islam, sekalipun awalnya Sultan Syarif Hamid I Alkadri tidak sedikitpun berpikiran demikian sehingga kehadiran Beliau di sambut baik, inilah yang di harapkan oleh pihak Belanda untuk menguras hasil bumi Pulau Borneo Kalimantan Barat, sebab pihak Belanda sadar jika melalui peperangan mereka dapat di pastikan kalah karena kuatnya para pamglima dan suku adat dalam bertarung sehingga mereka memanfaat  para Sultan yang berkuasa saat itu

Dari pernikahan dengan Mariana Ratu Muda Inche Mariana / Marina belisu memiliki 2 orang anak yaitu :

38. 1. Pangeran Mangkubumi Syarif
           Herlanga Aljadri dan
38.2. Pangeran Mangkubumi Syarif
          Makwie Alkadri

Di Jaman ayahnya berkuasa tahun 1850 M - 1271  H Belanda pernah menyerang Distrik Mandor - Mentrado saat itu di bantu Pasukan Penembaban Mempawah dan Kerajaan Ngabang dan Sanggau, yang merupakan Peristiwa Loteva Pertama , Loteva bersama pasukan nya di Pukul mundur karena tidak mau membayar pajak pertambangan dan ingin menguasai Distrik tersebut secara Penuh, setelah berhasil memukul Mundur Penembaban Mempawah dan Ngabang serta Sanggau meminta Kerajaan mereka Nol Pesern tidak di punguti Pajak, Pihak Belanda menyetujui Perjanjian tersebut sehingga ke tiga Kerajaan di bebaskan dari Pajak

Akan tetapi daerah yang di kuasai Belanda kemudian di serahkan menjadi wilayah Kesultanan Pontianak dengan ketentuan 70 % Pajak di serahkan kepada Belanda dan Kesultanan hanya di beri 30 % dari pajak tersebut

Dengan tindakan tersebut mbuat 3 Kerajaan murka kepada pihak Belanda, demikian cara pihak Belanda untuk mengbil ke untungan pajak dengan demikian Kekuasaan Kesultanan Kadriah Pontianak semakin luas hingga berla jut kepada anaknya Sultan Syarif Hamid I Alkadri

            SALAH SATU CAP STEMPEL
       SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI

                          KOP SURAT 
        SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI

Sama dengan Kop Surat Ayahnya, untuk selanjutnya  untuk Kop Surat mengunakan Lambang Kesultanan Kadriah Pontianak

                            LOGO ASLI 
     KESULTANAN QADRIAH PONTIANAK
         Sejak Tahun 1771 M  - Sekarang
Logo ini sudah tercantum di Surat Pengankatan / Penobatan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sejak di Nobatkan sebagai Pangeran Nur Alam Syarif Abdurrahman Alkadri oleh Sultan Banjar Sultan Tanjih Tahmidullah 1767 M -  1188 H didalam. Lampiran penobatan beliau di Banjar di mana Dua Singa yang bermakna Pangeran Nur Alam Syarif Abdurrahman Alkadri sebagai Singa Samudra dan adiknya Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri Sebagai Singa Wakar (Pelindung abang Kandungnya dan Pasukannya) yang di buat pada Mahkota Pangeran Nur Alam Syarif Abdurrahman Alkadri, Pada saat Penobatan sebagai Sultan Pontianak Pertama  1778 M., Sultan Riau Raja Haji Fisabilillah mememinta agar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri menjadikan Mahkota tersebut sebagai Lambang Istanah Kesultanan Kadriah Pontianak

setelah Sultan Syarif Kasim Alkadri Menjadi Sultan Ke II Kesultanan Kadriah Pontianak tahun 1808 M - 1819 M kedua Simbol Singa di rubah maknanya demikian juga dengan Sultan - Sultan berikutnya di sesuaikan dengan pola kepemimpinan masing-masing, sehingga makna yang sebenarnya menjadi hilang. 

Bahkan yang lebih biadab lagi banyak dari Keluarga Alkadri sendiri yang tidak mengetahui tentang Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Bin Sayid Husein Alkadri mengatakan DOT wafat masih bayi, makamnya di Batu Layang bahkan ada yang tidak mengetahui sedangkan saat itu Batu layang masih menjadi hutan Belantara, dan mereka masih tinggal di Kesultanan Matan kemudian baru Hijrah Ke Penembahan Mempawah, maka mereka - mereka ini yang menuduh Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri DOT termasuk Keluarga Alkadri yang Bego, sebab antara Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri hanya terpaut lebih tua Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri  kurang - lebih 7 tahun dari Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri sebab mereka hanya beda Ibu Kandung

Dalam Tahap Edit Data...... 


                    LOGO PERBAIKAN 
      KESULTANAN QADRIAH PONTIANAK

                      LOGO BENDERA 
     KESULTANAN KADRIAH PONTIANAK

                              LOGO 
Lago yang di Klaim Logo Tahun 1771 M -  1192 H. Logo ini yang benar adalah Logo milik Kesultanan Sulu Brunai saat. didirikan Sayid Abu Bakar Jamalullail sekitar tahun 1340.M Baca.  Lihat Manaqib Sultan Jalaluddin Haqun Waliyul Ahad Waliyul Haq Alkhatib


           
            Logo Kesultanan Sulu Brunai

Perubahan Terakhir dari Logo Kesultanan Sulu Brunai 

Logo Setelah  bersatu dengan Negara Kesultanan Brunaidarrusalam secara Keseluruhan 

Logo Kerajaan Kesultanan Brunaidarrusalam Sekarang


Postingan populer dari blog ini

MANAQIB PANGERAN LAKSAMANA TUANKU JAKSA II SYARIF ALI MUHAMMAD ALKADRI. MAKTAB NANGQ 1857 PANGERAN BENDAHARA TUA SYARIF JAFAR BIN SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI KESULTANAN KADRIAH PONTIANAK.., JALAN SELIUNG

BLOG I SAYID HUSEIN DAN KETURUNANYA.. MAKTAB NANGQ 1857 Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Kesultanan Kadriah Pontianak. Kantor Pusat Jalan Seliung 78353

PENGURUS MAKTAB NANGQ 1857 PUSAT - WILAYAH - KAB/KOTA - LUAR NEGERI