SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI. MAKTAB NANGQ 18t7 PUSAT PONTIANAK JALAN SELIUNG
SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI
SULTAN KE IV 1855 M - 1872 M
BERKUASA SELAMA 17 TAHUN
SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI
BIN SULTAN SYARIF USMAN ALKADRI
Saat Penobatan 12 April 1855 M
SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI
BIN SULTAN SYARIF USMAN ALKADRI
Ibundah Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahara Binti Thaha Bin Abdullah Bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri, Wajah mengambil wajah ibunya atau ada imbas 25 % wajah Kakek nya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri
SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI
Tahun 1856 M
Register :
37.914. 1802.1855.1872
Terdaftar Sejak :
12 April 1857 M - 1278 H
Nama dan Gelar :
SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI
BIN SULTAN SYARIF USMAN ALKADRI. IBUNDA MAHARATU SURI MAHKOTA AGUNG SYARIFAH ZAHARA BINTI THAHA Bin Abdullah Bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Bin Sayid Husein Alkadri Mufti Mempawah
Lahir :
Pontianak, 27 Jumadil. kubro 1223 H / 1802 M
Wafat :
Pontianak 22 Agustus 1872 M / 19 Rabiul Akhir 1293 H
Dalam Usia :
70 Tahun
Maqam :
Komplek Pemakaman Kesultanan Qadriah Batu Layang Siantan Jalan Khatulistiwa Pontianak Timur Kota Pontianak Kalbar Indonesia 🇮🇩
Kompleks Maqam Baru Layang Jalan Khatulistiwa Siantar Pontianak Kalbar Indonesia 🇮🇩
Jumlah Istri :
6 Istri
Istri Yang di sepuhkan / Ratukan ::
MAHARATU SURI MAHKOTA AGUNG SYARIFAH FATIMAH BINTI SULTAN SYARIF KASIM ALKADRI IBUNDA RATU MINAH
Anak - anak Kandung :
38.1. Sultan Syarif Yusuf Alkadri
38.2. Ratu Syarifah Zahra Alkadri
38.3. Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far
Alkadri
38.4. Pangeran Perdana Syarif Ismail
Alkadri
Jumlah Anak-anak Kandung dari Istri - istri Sultan Syarif Hamid I Alkadri :
19 anak Laki-laki dan 3 anak Perempuan dari Ke 6 Istri - istri Sultan Syarif Hamid I Alkadri
Dari 29 anak laki-laki dan 3 anak perempuan Sultan Syarif Hamid I Alkadri atau 22 Keseluruhan anak - anak Sultan Syarif Hamid I Alkadri hanya terdapat 2 Orang anak saja yang masih mewariskan Potonya beliau adalah :
Sultan Syarif Yusuf Alkadri Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri usia saat Penobatan 22 Tahun 1872 M
1. Naskah Berupa Poto
SULTAN SYARIF YUSUF ALKADRI
BIN SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI
Dari ketiga Poto ini sayangnya poto yang ke Tiga ini di Klaim sebagai Sultan Sanggau sehingga oleh Sultan Hamid II Alkadri memerintahkan pada tahun 1984 M, agar di lepas dari Dinding Istanah Kesultanan Kadriah Pontianak karena tidak ingin menimbulkan kegaduhan padahal jelas dari Postrur pakaian hingga Keris yang berkepala Burung Garuda merupakan bukti otentik serta perbandingan dengan kedua poto Sultan Syarif Yusuf Alkadri demikian juga yang tersimpan pada Dokumen Induk Maktab NanGq 1857 secara turun temurun bahwa itu merupakan Sultan Syarif Yusuf Alkadri Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri
2. Naskah Berupa Poto
PANGERAN BENDAHARA TUA SYARIF
JA'FAR ALKADRI BIN SULTAN
SYARIF HAMID I ALKADRI
Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Dokumen poto ketika dalam kondisi sakit umur 73 Tahun
Kedua poto ini adalah Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri yang di atas ketika berusia 25 tahun, poto ini ada terpasang di Istanah Kadriah Pontianak Exs Dapur Istanah dan yang kedua ada di dalam Dokumen Maktab NanGq 1857 Pusat Pontianak, sedangkan yang pertama juga ada tetapi sudah rusak berat, lampiranya melekat sehingga ketika di buka terkelupas, sedangkan poto kedua saudaranya masih tersimpan dalam dokumen induk dalam kondisi rusak berat sehingga tidak bisa di Restorasi.
Sultan Syarif Hamid I Alkadri termasuk Sultan yang sangat tegas dalam memimpin Kesultanan Kadriah Pontianak kecerdasan Sultan Syarif Hamid I Alkadri sebab itu dalam kerjasama dengan pihak Belanda dalam kondisi meneruskan warisan yang Ayahnya Sultan Syarif Usman Alkadri di mana hasil pajak Kesultanan hanya tersisa 30 % saja yang telah di sepakati Ayahnya Sultan Syarif Usman Alkadri, maka beliau mengatur siasat dengan menghidupkan Baitul Mal Kesultanan Kadriah Pontianak yang di kelolah Masjid Jami Kesultanan Masjid Istanah yang saat itu Pengurus Baitul Maknya di serahkan kepada adik bungsunya Pangeran Perdana Bungsu Sysrif Ismail Alkadri bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri dari Ibunda yang sama Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Fatimah binti Sultan Syarif Kasim Alkadri
Seluruh dana Pajak Kesultanan Kadriah hampir 50 % di setor di Baitul Mal sehingga tidak terlacak oleh Residen Rentenir Belanda
Pada tanggal 11 Juni 1856 M / 1277 H sebagai Kontrak Pertama dengan pihak VOC Belanda yaitu Residen Rembang Het Hoopd Wadterasffeling Van Borneo (Kepala Daerah Keresidenan Boerneo Barat) yang isi Surat Kontrak sebagai berikut :
A. Pembukaan Penerbangan Jalur Udara Pontianak Jakarta melalui Landasan Sungai Durian dengan nama "" Lapangan Kapal Terbang Soelthan Abdoel Hamied Alkadrie (beroprasional terhitung 12 April 1856 M tanggal tersebut di ambil dari tanggal penobatan belisu sebagai Soelthan Kadriah Pontianak ke IV
Setelah Sultan Syarif Hamid I Alkadri Wafat Nama Landasan Kapal terbang tersebut berubah menjadi beberapa nama :
1. LAPANGAN KAPAL TERBANG
SOELTHAN ABDOEL HAMIED ALKADRI
Setelah belisu Wafat 1872 M (1856 M
sd 1939 M) nama tersebut bertahan
selama 83 Tahun hingga sampai di
Sultan Syarif Muhammad Alkadri, dalam
Perjanjian tambahan pihak Belanda VOC
Batavia tertanggal 14 September 1856
M / 1277 H, menyetujui sebagai
"LAPANGAN KAPAL TERBANG
SOELTHAN SYARIEF ABDOEL HAMID
ALKADRI" yang berada di Lokasi Sungai
Durian tertuang dalam dua Bahasa
yaitu Bahasa Belanda dan Bahasa Arab
Melayu yang di tanda tangani kedua
belah pihak dengan segel Westerling
Batavia dari Belanda dan Cap Stempel
dan tanda tangan Sultan Syarif Hamid I
Alkadri
Naskah persetujuan Perjanjian
Nama LAPANGAN KAPAL TERBANG SOELTHAN SYARIEF ABDOEL HAMID ALKADRI
Terdapat Dua Stempel dan Segel Westerling Batavia Belanda yang menangani Penerbangan Saat itu dan Cap Stempel Sultan Syarif Hamid I Alkadri hanya dokumen ini sudah tidak terbaca, dasar kertas Eropa warna kuning umum yang di pakai Sultan- Sultan Pontianak, Stempel nya juga sudah melar tidak berbentuk dengan sempurna
Naskah Piagam Badal Haji
Piagam Badal Haji Dalam Bahasa Melayu Pontianak di berikan Oleh Kerajaan Saudi Arabia🇸🇦 Mentri Kerajaan Abdoellah atas permintaan Sultan Syarif Hamid I Alkadri agar di tulis dengan Bahasa Melayu Pontianak sebagai Penghargaan Bahasa Melayu Pontianak, tertanggal 29 October 1857 M / 1278 H sebagai Jama'ah Badal Haji
Salah Satu Piagam Badal Haji Sultan Syarif Hamid I Alkadri setelah Lapangan Kapal Terbang Soelthan Syarief Abdoel Hamid Alkadrie selesai di bangun, maka dengan Pesawat IYU KEBAL.Pertama buatan Belanda tahun 1853 M beliau berangkat ke Saudi Arabia 🇸🇦 untuk menanda tangani Kontrak Pengiriman Ulama dan Pelajar pada tahun 1857 M / 1278 H yang kemudian. di teruskan anaknya Sultan Syarif Yusuf Alkadri setelah menjadi Sultan Ke V Kesultanan Kadriah Pontianak 1872 M - 1293 H sd 1895 M - 1316 H
2. LAPANGAN KAPAL TERBANG SUNGAI
DURIAN (1941 M sd 1942 M) bertahan
selama 1 Tahun sebab Sultan - Sultan
setelah Sultan Syarif Muhammad
Alkadri Wafat tidak ada yang peduli
dengan perubahan nama Lapang
Pesawat tersebut. Keberangkatan Sultan
Syarif Hamid I Alkadri tersebut sebagai
uji coba Lapangan Terbang Sultan
Syarief Abdoel Hamid Alkadrie sebagai
uji Coba untuk Penerbangan
internasional pertama kalinya dalam
Sejarah Penerbangan Pontianak Saudi
Arabia 🇸🇦, pada tahun 1857 M - 1278 H
melalui Lapangan kapal Terbang
Soelthan Syarief Abdoel Hamid
Alkadri Sungai Durian. Maka pada tahun
1941 M berubah menjadi Lapangan
Kapal Tersebut Sungai Durian
3. LAPANGAN KAPAL TERBANG DAI
NIVON di kuasai Jepang sejak 1942 M
sd 1945 M bertahan selama 3 Tahun
4. LAPANGAN KAPAL TERBANG SUNGAI
DURIAN 1945 M sd 1966.M bertahan
selama 21 Tahun
5. LANUD SUPADIO setelah Indonesia
merdeka dan terjadi peristiwa
terjatuh pesawat tahun 1966 M yang
menewaskan Letnan Kolonel Supadio
ketika uji coba Pesawat Super Aero.
Termasuk Kolonel Nurtania dan bersama
45 orang lainya sehingga hingga saat ini
menjadi Bandara SUPADIO TNI
ANGKATAN UDARA 1966 M sd 2025 M
45 Tahun dan sekarang masih bernama
Bandara Internasional Supadio
Pontianak, pada satu itu 1949 M
mengunakan PESAWAT IYU KEBAL hasil
peninggalan Belanda, setelah jatuh di
tangan TNI Angkatan Udara menjadi
PESAWAT HERKULIS buatan pertama
Belanda tahun 1853 M juga terkenal
sebagai PESAWAT PERINTIS 45. Nama
Bandara Supadio bertujuan untuk
menghormati Letnan Kolonel yang
terjatuh dalam Kecelakaan Pesawat
Maka dengan demikian hilanglah
Jasa Sultan Syarif Hamid I Alkadri di
ambil nama orang Jawa Tahun 1966 M,
menjadi Bandara Supadio 1966 M -
2025 M sudah berlangsung selama 59
Tahun hingga sekarang sebab di masa
Sultan Syarif Muhammad Alkadri hingga
Sultan Syarif Melvin Alkadri tidak
satupun yang berusaha mengangkat
kembali nama leluhurnya Sultan Syarif
Hamid I Alkadri untuk mengembalikan
menjadi Bandara Sultan Syarif Hamid I
Alkadri Karena jasa beliaulah yang
pertama yang wajib di kenang bukan
yang lainya yang lebih tepat untuk
Bandara Pontianak saat ini, pada tahun
1950 M Bandara Sungai Durian menjadi
Pangkalan terbang TNI Angkatan Udara
kemudian di mulailah Pembangunan
untuk di jadikan Bandara Penerbangan
bersifat Umum
Naskah Bukti Poto
Bukti Sejarah Otentik yang tidak bisa di bohongi Sultan Syarif Muhammad Alkadri bertolak dari Pangkalan Terbang Soelthan Abdoel Hamid Alkadri Sungai Durian untuk Liburan Ke Batavia Jakarta bersama Dokter Khusus dengan Pesawat Khusus saat Itu Pesawat IYU KEBAL . Ikut Maharatu Besar, Maharatu Suri, Pangeran Muda, Pangeran Agung, dan Pangeran Adipati pada tanggal 26 Juli 1938 M
Naskah Berupa Poto
Pada tanggal 20 Oktober 1947 M Sultan Syarif Hamid II Alkadri bersama Ratu Mas Mahkota bertolak dari Lapangan Kapal Terbang Sultan Syarif Abdoel Hamid Alkadri (pada tahun 1947 M namanya sudah di ganti dengan Lapangan Kapal Terbang Sungai Durian, menuju Saudi Arabia untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memberikan bantuan perjuangan Palestina melawan Israil
B. Membangun Jalur Darat dari Lamdasan
Perintis Jalan Sungai Durian (sekatang
Sungai Durian - Adisucipto) untuk keluar
masuk kendaraan dengan bertenaga
bahan bakar bstu bara dan Uap senagai
bahan bakarnya
C. Memperluas Pertambangan Emas
Loteva Landak - Monterado yang pajak
Penghasilannya di setor 60 % kepada
pihak VOC Belanda di Batavia Residen
Boerneo Barat
Akan tetapi Contract tersebut baru dapat di realisasikan dengan Contract yang di laksanakan pada tanggal 14 September 1856 M / 1277 H di tanda tangani Contract Met Den Sultan Van Poentianak Pangeran Ratoe Sultan Syarief Hamid I Bin Soelthan Syarief Ousman Alkadri sebagaimana isi Contract di atas
Setelah menyelesaikan Kontrak - Kontrak tersebut Sultan Syarif Hamid I Alkadri mempercepat Pembangunan dan Rehabilitasi Komplek Istanah Kesultanan Kadriah Pontianak sebagai hari kerja beliau di Istanah Kesultanan Kadriah Pontianak yang terdiri dari :
A. Pemasangan Pagar dan Gerbang
Istanah terdiri dari :
1. Gerbang Utama
2. Gerbang Belakang Istanah
3. Gerbang kiri Sesepuh Istanah
4. Gerbang Kanan Keluarga dan Kerabat
Istanah
B. Membangun Rumah - Rumah
1. Rumah Para Pangeran yang sudah
berkeluarga
2. Rumah - Keluarga Istanah
3. Rumah - Pejabat Istanah
4. Rumah - rumah Panglima sekitar Beting
dan Kampung Arab dan sekitar luar
Pagar Istanah untuk Kerabat terdekat,
termasuk membangun Kantor Maktab
NanGq 1857 Pusat Pontianak ipada
1858 M di Kampung Arab agar
Aktivitasnya tidak di ganggu Belanda
Residen Rentenir Belanda
5. Membangun Rumah Maqam Komplek
Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan
Keluarga Alkadri, serta merintis
Bangunan Musholah sederhana di lokasi
Maqam. Kesultanan Kadriah Pontianak
di Batu Layang serta memperluas areal
maqam
6. Membangun Rumah - Rumah aliran
Beting dan Kampung Arab untuk
keluarga pinggir Kesultanan Kadriah
Pontianak yang bekerja sebagai pelayan
. Istanah Kesultanan Kadriah Pontianak
Pada tanggal 21 Oktober 1856 M terjadi Perjanjian LOTEPA
Penyebabnya adalah : Etnis Cina 🇨🇳👲 di Mandor dan Mentrado tidak mau memperkerjakan penduduk Asli Etnis Dayak Suku Pedalaman dalam hal Pengalisn Tambang Emas, Sehingga membuat Warga Suku Dayak Pedalaman menjadi murka.
Maka terjadilah Demontrasi Pertama di mana mereka mengerjakan Mangku Merah 🔴 untuk mengusir Etnis Cina 🇨🇳.
Akan tetapi atas permintaan Keturunan Panglima Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri di Daritadi dan Sultan Syarif Hamid I Alkadri Peristiwa tersebut berhasil di hentikan dengan Perjanjian sebagai berikut :
1. Warga Pedalaman di ijinkan ikut
menggali dengan Sistem upah perhari
yang di sepakati
2. Tanah - tanah warga yang di bali harus di
ganti rugi atau bagi hasil yang di
sepaksti atau di beli
3. Pihak pemilik Tambang galian harus
membayar adat sesuai Luas tanah yang
di gali
4. Menghentikan Monopoli Kerja Kesukuan
Untuk selanjutnya Perjanjian ini di sebut Perjanjian Loteva I (29 Oktober 1856 M) yang berhasil di selesaikan Sultan Syarif Hamid I Alkadri dengan bantuan keturunan Panglima Mangku Merah Syarif Abdullah bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri di Sungai Liat dan Darit
Pada tanggal 12 April. 1857 M / 1278 H Sultan Syarif Hamid I Alkadri dalam beberapa keterangan di hari Isnin Belisu Mendirikan dan Mereka Lembaga Nasab dengan Nama "" NAQOBATUL ASYAYYID NASABATUL GHOIBUL QUBRO" NANGQ yang di peruntukan untuk anak Ketiganya Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri, yang di anggap Sultan mewarisi sipat - sipat leluhurnya dalam kelebihan menyusun Nasab karena usia saat di Resmikan Pangeran baru berusia 3 Tahun maka beliau tangani sendiri, maka ketika Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri genap berusia 12 tahun sesuai aturan di usia tersebut harus di serahkan kepada Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri dengan bimbingan Leluhur dan arahan Sultan Syarif Hamid I Alkadri maka pada Kamis 12 April. 1869 M - 1290 H Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri di Nobatkan sebagai Ketua Maktab NanGq 1857 Pusat Pontianak dengan ketentuan Jabatan tetap sejak didikan pada Isnin 12 April 1857 karena memang haknya Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri, sehingga masa kepemimpinan beliau tetap di hitung dari tanggal 12 April 1857 M / 1278.H
Dari peristiwa ini ada suatu hal. Yang menjadi Renungan untuk Ketua Maktab NanGq 1857 Pusat Pontianak sekarang (2025 M - 1447 H) di mana Pangeran Bendahara Tua Perbedaan Negeri VII Syarif Abdullah Al mugadam Alkadri telah berusia 3,6 Tahun, sementara dalam wasiat langsung dari ASYAYYID SYARIF HUSEIN ALKADRI MUFTHI MEMPAWAH ketika berusia 12 tahun maka wajib di wariskan di serahkan dengan catatan dalam bimbingan orang tuanya atau bimbingan Abang kandung tertuanya, artinya masa kepemimpinan sekarang hanya tersisa 8,6 Tahun lagi dan selanjutnya Wajib di serahkan kepada Pangeran Bendahara Tua Perbendaharaan Negeri VII Syarif Abdullah Almugadam Alkadri Bin Arif Candra Alkadri, hal seperti ini akan terulang yang ke 4 Kalinya sebagaimana yang terjadi kepada Pangeran Bendahara Tua II Syarif Usman Alkadri bin Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Alkadri yang menyerahkan kepengurusan kepada anaknya ketika masih berusia Muda, maka beliau di percayakan kepada Pangeran Syarif Ali Bin Sultan Syarif Muhammad Alkadri (Korban Jepang Maqam di Maqam Pahlawan Nasional Mandor 28 Juni 1944 M) hingga mampu memimpin Maktab NanGq 1857 Pusat Pontianak di sebabkan saat itu tanggal 19 Juni 1912 M - 1333 H, Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Alkadri bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri berseteru masalah pajak dengan Residen Rentenir VOC Batavia di Pontianak sehingga beliau dan Istri terpaksa memutuskan untuk Hijrah Ke Saudi Arabia 🇸🇦, setelah memiliki lagi keturunan di Saudi Arabia🇸🇦 Istrinya Syecah Fatimah Binti Syekh Mahmudi Syarwani untuk kembali di Pontianak hingga Wafat di Maqam kan di Gang Meliau Jalan Tanjungpura Pontianak dekat Maqam Ayah dan Ibunya,
Maqam Gang Meliau Jalan Tanjungpura Pontianak Lokasi Maqam Syecah Fatimah binti Syecah Mahmud Syarwani bersama Ayah dan Ibunya Syecah Saedah binti Abdullah Alkhotib
sementara Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Alkadri bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri tetap bertahan di Saudi Arabia🇸🇦 hingga wafat di Maqamkan di Kompleks Pemaqaman Al - Quds Saudi Arabia 🇸🇦
Maqam Al-Quds Saudi Arabia🇸🇦 Lokasi Maqam Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far bin Sultan Syarif Hamid I Alkadrie
Pada tanggal 8 Mei 1858 M / 24 Ramadhan 1279 H, Sultan Syarif Hamid I Alkadri Bin Sultan Syarif Usman Alkadri terjadi Kontrak Kerja dengan Pihak Belanda dalam dua Bahasa Arab Melayu dan Belanda saat di (Dokumen asli sudah tidak terbaca) yang isinya terdiri dari Poin - poin sebagai berikut :
1. Peningkatan tanaman rempah-rempah
Lada, Cengkeh, Kopi, Cokelat
2. Peningkatan Produksi Karet
3. Peningkatan Produksi Tambang Emas
4. Membuka jalur perdagangan Jalan Darat
untuk daerah Hulu yang tidak ada aliran
sungai menuju Kapuas hasil
kesepakatan segala bentuk Pajak harus
di setor Kesultanan sebesar 70.% dan
Kesultanan hanya di berikan 30 % sesuai
kesepakatan dari Almarhum ayahnya
terdahulu Sultan Syarif Usman bin Sultan
Syarif Abdurrahman Alkadri
Lampiran Kedua Naskah
Bentuk Surat isi Perjanjian Kontrak tersebut di Cap Stempel kedua belah pihak di bagian atas dan di bubuhi tanda tangan di dalam Cap Stempel masing-masing
Pada tanggal 8 Mei 1858 M / 1279 H Gubernament Hindia Belanda sedang berada di Belitung menulis Surat kepada Sultan Syarif Hamid I Alkadri bahwa menyatakan menunda kedatangan di Pontianak karena urusan di Bangka Belitong belum Selesai (Naskah Dokumen tersebut sekarang tidak bisa terbaca) adapun maksud Gubernament Hindia Belanda untuk meneruskan Contract Hubungan Komitmen tentang besaran Pajak yang harus di setor terbaru kepada pihak Residen Rentenir VOC Batavia Belanda di Pontianak yang belum di sepaksti Sultan Syarif Hamid I Alkadrie
Pada tanggal 24 Juli 1871 M / 6 Jumadil Awal 1288 H dimasa ahir Jabatan bahan Sultan Syarif Hamid I Alkadri di tanda tangani disepakati dengan Surat Pernyataan oleh Sultan Syarif Hamid I Alkadri Sultan Pontianak dan Tuan Residen Rembang tentang Pengangkatan seorang Matoa Bugis di Pulau Sepu Laut yang isi Surat pernyataan Tersebut menugaskan untuk menangani Pemerintahan di Sepi Laut untuk Perwakilan dari pihak Belanda dan Kesultanan Kadriah Pontianak dalam hal pemungutan Pajak pendapatan Sektor Perikanan di sekitarnya (Dokumen Surat sudah tidak terbaca)
Potongan Naskah Tidak Terbaca
Salah satu potongan Surat dari Sultan Syarif Hamid I Alkadri tentang pengangkatan Matoa Bugis untuk wilayah Sepuk Laut, potongan Surat ini juga sudah tidak bisa terbaca akan tetapi maksud isi Surat telah di jelaskan generasi Maktab NanGq 1857 terdahulu
Sultan Syarif Hamid I Alkadri termasuk Sultan yang sangat peduli dengan keluarga sekalipun atas permintaan ibunya Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Zahra Alkadri binti Thaha bin Abdullah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri atau permintaan istrinya Maharatu Suri Mahkota Agung Syarifah Fatimah binti Sultan Syarif Kasim Alkadri untuk mengirim bantuan di Pulau Natuna tepatnya di Segeram karena di dana banyak keluarga ibunya dan juga keluarga istrinya. Yaitu Pangeran Hasan bin Sultan Syarif Kasim Alkadri yang menikah dengan keturunan Wan Hamid Jamalullail dan terbanyak dari keluarga ibunya dari ayahnya Syarif Thaha bin Abdullah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri dari adik - adik kandung Pangeran Banten Syarif Abdullah bin Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri
Bantuan biasanya di berikan dari bulan November - Desember tsetiap tahun pertama kali pada tahun 1856 M dan seterusnya
Di mana musim - musim tersebut bagi Warga Segeram di sebut Musim Kelambu (Makan Tidur) dan Musim Selimut (Hanya Diam dirumah ) Sebab pada musim ini Alamnya Pancaroba (tidak menentu)
Bahasa lain yang di gunakan Masyarakat Segeram disebut juga ""Musim Laut Mengamuk sehingga air laut Naik Hingga Daratan (Banjir Laut) hingga masuk di Segeram dan Dataran Natuna
Pada musim ini Melayani tidak bisa Melaut dan Pekebun juga tidak bisa menanam segala Sayur - mayur karena terendam air yang seketika bisa datang dalam sekejab sehingga dataran rendah bisa banjir berbulan - bulan
Atas permintaan ibunya dan istrinya maka setiap awal bulan Oktober bantuan sudah di kirim sebagai persiapan Pangan untuk kebutuhan sehari-hari bagi keluarga Alkadri termasuk Masyarakat sekitar Segeram
Pada tanggal 4 Januari 1857 M - 1278 H Belanda dari Distrik Mentrado yaitu Distrik Residen Rembang Hed Hoopp Wasterasffeling Van Borneo (Kepala Daerah Keresidenan Borneo Barat) Distrik Mentrado di Bengkayang,
Belanda mengeluarkan Surat Keputusan yang memasukkan Distrik Cina 🇨🇳 Mentrado ke dalam Wilayah Kesultanan Kadriah Pontianak yang Surst tersebut di setujui oleh Sultan Syarif Hamid I Alkadri dengan Cap Stempel Kesultanan Kadriah Pontianak dan Cap Stempel Van Borneo Barat di Pontianak
Sehingga Kekuasaan Kesultanan Kadriah Pontianak mencakup Wilayah Bengkayang, Perbatasan Wilayah Malasia Sarikin, menurut Sultan Syarif Hamid I Alkadri sekalipun Pajak di dapatkan hanya 35 % dengan jangkauan wilayah yang luas pajak penghasilan akan semakin meningkat sehingga kesempatan untuk membangun wilayah Pasar Rakyat dari Siantan sampai Sungai Jawi dan arah Sungai raya menuju Lapangan Kapal terbang Sultan Syarif Abdoel Hamid Alkadri, Tanjungpura, sampai Pelabuhan Sungai Nipah Jeruju dapat terlaksana sehingga Pontianak menjadi satu-satunya Kota Kesultanan Qadriah terbesar di Borneo Barat (Kalimantan Barat) saat itu
Kebijakan tersebut adalah merupakan kebijakan lanjutan dari ayahnya Sultan Syarif Usman Alkadrie yang menerima Pajak 30 % yang di buat Perjanjian tambahan oleh pihak Belanda kepada Sultan Syarif Hamid Alkadri agar Sultan Syarif Hamid I Alkadri dapat menyetujui perluasan daerah kekuasaan sebab satu - satunya Kesultanan saat itu yang mudah di ajak bekerja sama hanyalah Kesultanan Kadriah Pontianak akan tetapi Sultan Syarif Hamid I Alkadri meminta Pajak 35 % , bagi Sultan jika kebijakan tersebut menguntungkan sekalipun presentasinya ke untungan Pajaknya Kecil akan tetapi dengan luasnya jangkauan Wilayah, maka nilai Pajak akan bertambah Drastis sekalipun pihak Belanda yang Pastinya lebih di untungkan
Maka ketika Sultan Syarif Hamid I Alkadri berkuasa usaha untuk memperluas wilayah kekuasaan terus beliau lakukan sekalipun usaha itu lebih menguntungkan pihak Residen Rembang VOC Batavia Jakarta akan tetspi Wilayah Kesultanan Kadriah Pontianak lebih luas dan jangkauan Pajak lebih luas tentunya akan meningkatkan Pajak Kesultanan, sebab jumlah wajib pajak bertambah sekalipun presentasinya kecil hanya 35 %
Untuk memperkecil konflik antar etnis maka Kesultanan Kadriah Pontianak banyak mengangkat Suku Pedalaman dari Etnis Dayak menjadi Pasukan beliau dan merangkul Sesepuh dan tokoh adat serta Panglima Dayak untuk menjadi Pasukan bahkan ada yang di angkat sebagai Pengawal beliau sehingga konflik antar etnis tidak terjadi, Selain itu Sultan Syarif Hamid I Alkadri juga menikahi Etnis Dayak Mentrado bernama Mariana dari Suku Dayak Pedalaman di Mentrado di mana ayahnya seorang Pemangku adat di Pedalaman Mentrado, sehingga para Pemangku saat itu merasa sangat senang sekali dan tidak berkeberatan jika anaknya harus memeluk agama Silam, Sultan Syarif Hamid I Alkadri juga memenuhi Adat istiadat Dayak dengan perpaduan Tradisional Kseultanan yang mereka anggap lebih mewah sementara sebagai ganti darah adat Sultan mengantinya dengan 7 ekor sapi yang membuat mereka sangat di hormati dan di junjung tinggi, yang akhir masyarakat sekitar ada yang memeluk agama Islam . Contoh - contoh tersebut tentunya bisa menjadi tauladan generasi Kesultanan Kadriah Pontianak sekarang maupun seluruh keluarga besar Alkadri, sebab Da'wah memiliki banyak cara dan Strategis dalam merangkul seseorang menjadi pengikut agama Islam, sekalipun awalnya Sultan Syarif Hamid I Alkadri tidak sedikitpun berpikiran demikian sehingga kehadiran Beliau di sambut baik, inilah yang di harapkan oleh pihak Belanda untuk menguras hasil bumi Pulau Borneo Kalimantan Barat, sebab pihak Belanda sadar jika melalui peperangan mereka dapat di pastikan kalah karena kuatnya para pamglima dan suku adat dalam bertarung sehingga mereka memanfaat para Sultan yang berkuasa saat itu
Dari pernikahan dengan Mariana Ratu Muda Inche Mariana / Marina belisu memiliki 2 orang anak yaitu :
38. 1. Pangeran Mangkubumi Syarif
Herlanga Aljadri dan
38.2. Pangeran Mangkubumi Syarif
Makwie Alkadri
Di Jaman ayahnya berkuasa tahun 1850 M - 1271 H Belanda pernah menyerang Distrik Mandor - Mentrado saat itu di bantu Pasukan Penembaban Mempawah dan Kerajaan Ngabang dan Sanggau, yang merupakan Peristiwa Loteva Pertama , Loteva bersama pasukan nya di Pukul mundur karena tidak mau membayar pajak pertambangan dan ingin menguasai Distrik tersebut secara Penuh, setelah berhasil memukul Mundur Penembaban Mempawah dan Ngabang serta Sanggau meminta Kerajaan mereka Nol Pesern tidak di punguti Pajak, Pihak Belanda menyetujui Perjanjian tersebut sehingga ke tiga Kerajaan di bebaskan dari Pajak
Akan tetapi daerah yang di kuasai Belanda kemudian di serahkan menjadi wilayah Kesultanan Pontianak dengan ketentuan 70 % Pajak di serahkan kepada Belanda dan Kesultanan hanya di beri 30 % dari pajak tersebut
Dengan tindakan tersebut mbuat 3 Kerajaan murka kepada pihak Belanda, demikian cara pihak Belanda untuk mengbil ke untungan pajak dengan demikian Kekuasaan Kesultanan Kadriah Pontianak semakin luas hingga berla jut kepada anaknya Sultan Syarif Hamid I Alkadri
SALAH SATU CAP STEMPEL
SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI
KOP SURAT
SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI
Sama dengan Kop Surat Ayahnya, untuk selanjutnya untuk Kop Surat mengunakan Lambang Kesultanan Kadriah Pontianak
LOGO ASLI
KESULTANAN QADRIAH PONTIANAK
Sejak Tahun 1771 M - Sekarang
Logo ini sudah tercantum di Surat Pengankatan / Penobatan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sejak di Nobatkan sebagai Pangeran Nur Alam Syarif Abdurrahman Alkadri oleh Sultan Banjar Sultan Tanjih Tahmidullah 1767 M - 1188 H didalam. Lampiran penobatan beliau di Banjar di mana Dua Singa yang bermakna Pangeran Nur Alam Syarif Abdurrahman Alkadri sebagai Singa Samudra dan adiknya Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri Sebagai Singa Wakar (Pelindung abang Kandungnya dan Pasukannya) yang di buat pada Mahkota Pangeran Nur Alam Syarif Abdurrahman Alkadri, Pada saat Penobatan sebagai Sultan Pontianak Pertama 1778 M., Sultan Riau Raja Haji Fisabilillah mememinta agar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri menjadikan Mahkota tersebut sebagai Lambang Istanah Kesultanan Kadriah Pontianak
setelah Sultan Syarif Kasim Alkadri Menjadi Sultan Ke II Kesultanan Kadriah Pontianak tahun 1808 M - 1819 M kedua Simbol Singa di rubah maknanya demikian juga dengan Sultan - Sultan berikutnya di sesuaikan dengan pola kepemimpinan masing-masing, sehingga makna yang sebenarnya menjadi hilang.
Bahkan yang lebih biadab lagi banyak dari Keluarga Alkadri sendiri yang tidak mengetahui tentang Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Bin Sayid Husein Alkadri mengatakan DOT wafat masih bayi, makamnya di Batu Layang bahkan ada yang tidak mengetahui sedangkan saat itu Batu layang masih menjadi hutan Belantara, dan mereka masih tinggal di Kesultanan Matan kemudian baru Hijrah Ke Penembahan Mempawah, maka mereka - mereka ini yang menuduh Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri DOT termasuk Keluarga Alkadri yang Bego, sebab antara Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri hanya terpaut lebih tua Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri kurang - lebih 7 tahun dari Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri sebab mereka hanya beda Ibu Kandung
Dalam Tahap Edit Data......
LOGO PERBAIKAN
KESULTANAN QADRIAH PONTIANAK
LOGO BENDERA
KESULTANAN KADRIAH PONTIANAK
LOGO
Lago yang di Klaim Logo Tahun 1771 M - 1192 H. Logo ini yang benar adalah Logo milik Kesultanan Sulu Brunai saat. didirikan Sayid Abu Bakar Jamalullail sekitar tahun 1340.M Baca. Lihat Manaqib Sultan Jalaluddin Haqun Waliyul Ahad Waliyul Haq Alkhatib
Logo Kesultanan Sulu Brunai
Perubahan Terakhir dari Logo Kesultanan Sulu Brunai
Logo Setelah bersatu dengan Negara Kesultanan Brunaidarrusalam secara Keseluruhan
Logo Kerajaan Kesultanan Brunaidarrusalam Sekarang