MAQAM SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRI. MAKTAB NANGQ 1857 Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Alkadri Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Kesultanan Kadriah Pontianak. Kantor Pusat Jalang Seliung 78353

 MAQAM SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRI PENDIRI DAN SULTAN PONTIANAK KE I









Di Balik Haul Akbar  Al - Alama - Al - Alimu Sri Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Dan Ziarah Agung Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang di laksanakan setiap tahun oleh anak Cucu Keturunan, Tersimpan Kisah piluh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Beserta Keluarga Kesultanan Kadriah Pontianak Hingga Menuju Peristirahatan Terakhir Beliau. Manuskrip Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Alkadri Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri tahun 1840 M / 1255 H Wafatnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri 



Dokumen Manuskrip Poto Asli Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Yang Sudah Di Perbaiki oleh Maktab NanGq 1857 Pusat Peninggalan Pangeran Bendara Syarif Ahmad Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri tahun 1840 M / 1255 H




Maqam Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Tahun 1840 M - 1910 M sebelum Perbaikan Renovasi karena ada bagian yang Rapuh



Maqam Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Di Renovasi tahun 1910 M - Sekarang setelah Renovasi Perbaikan 



Sempitnya Ruang Maqam Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sehingga sangat sulit untuk mengambil Dokumentasi poto secara utuh 2024 M 


 Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri 

Lahir : Matan Selasa 17 Maret 1731 M / 7 Djulhizah 1551 H  Waktu Matan : 04  Subuh sebelum Azan Subuh Berkumandang, Sehingga Setelah Lahir di Azankan sekaligus Azan untuk Sholat Subuh oleh Mu'azim Masjid Kesultanan Matan Masjid Jami Kerajaan Matan / Sekarang berbah menjadi Mssjid At - Taqwa Matan bernama Tengku Di laga Daeng Azis Rahmatullah

Sehingga Azan Yang di  kumandangkan di Samping Bayi Syarif Abdurrahman Alkadri di atas kepala Bayi Syarif Abdurrahman Alkadri, juga di gunakan sekaligus untuk Sholat Subuh sebagai bentuk dari Penghargaan Sultan Matan kepada Sayid Husein Alkadri saat itu

Dari Pasangan Al - Alama Asyayid Husein Alkadri yang saat itu beliau menjabat sebagai Mufti Kesultanan Matan Ketapang

Dengan Ibunda Utin Chendramidi Cabanat / Gelar Nyai Tua Binti Sultan Muhammad Zainuddin Matan anak Ke tiga Suktan Matan, sedangkan anak Pertama Beliau Nyai Kesumba Yang menikah dengan Opu Daeng Manambon (Sayid Syekh Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah) ((Lihad Blog I Sayid Husein Alkadri Mufthi Mempawah)) 

Wafat : Pontianak,  Jum'at 28 Pebruari 1808 M / 2 Muharam 1229 H pertengahan Malam 11 : 57 WIB sudah hampir masuk tanggal 3 Muharam 1223 H,  Sehingga Beliau di Maqamkan Sabtu, 3 Muharam 1223 H / 29 Pebruari 1808 M

Dalam catatan Sejarah Maktab NanGq 1857 Manuskrip Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Alkadri sedikit ada 79 Kali Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri mengarungi Lautan Lepas Hingga Samudera Hindia, Laut Cina Selatan,  termasuk untuk sampai di Belanda yang merupakan Pelayaran terakhir beliau di tahun 1803 M  M /  1217 H 



Panitia Ziara Agung Dan Haul Akbar Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ke 255 tahun 2026 M / 1447 H,  Bersama Sultan Syarif Melvin Alkadri. SH.  Hadir Juga Syarif Alek Alkadri Batu Layang  Ketua Laskar Maqam Batu Layang Dan Dewan Laskar Ahlulbait Maktab NanGq 1857 Pusat


Di mana Pelayaran terakhir beliau harus melewati Laut Cina Selatan, Laut Myanmar, Selat Sri Langka, Laut Mumbai India, kemudian melewati pinggiran Selat Hormuz, untuk memasuki Laut Merah kemudian Teluk Adeni (Tempat Leluhurnya Opu Daeng Manambon Sayid Syekh Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah) atau awal munculnya Marga Adeni, lalu masuk ke laut Merah, tembus ke teluk Yordania saat itu Israel Belum ada, kemudian masuk laut Tengah atau Laut Yunani, Selat Spanyol,  Portugal, London barulah tiba di Belanda, merupakan Pelayaran yang sangat panjang dan melelahkan sehinga tembus hingga setengah tahun sebab setiap ada kesempatan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri selalu menyempatkan diri untuk singgah ke negara yang beliau lewati sehingga beliau di juluki sebagai Singa Samudra, Armada layar yang beliau gunakan sebanyak 17 Armada Perahu Layar



Ilustrasi Perahu Layar  Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ketika berlayar di Laut Lepas dan Samudra tahun 1803 M dan sebelumnya

Setelah pulang dari Belanda beliau tidak langsung pulang melainkan singgah di beberapa tempat termasuk Srilangka, kemudian Thailand, terakhir di Malaysia,  kemudian baru tiba di Pontianak inilah awal beliau tiba - tiba Jatuh Sakit di tahun 1804 M / 1214 M 

Ini merupakan pelayaran beliau terakhir di Belanda sebelumnya pada tahun 1779 M tanggal 11 Juli Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri juga berlayar di Belanda tetapi dengan Rute yang sedikit Berbeda sehingga tiba di Belanda lebih lama dan pulang dari Belanda tahun 1780 M

Saat itu usia Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sudah berusia 74 tahun sebuah usia yang memang sudah di anggap Sepuh akan tetapi semangat juang  yang tinggi tidak menyurutkan  tekat beliau untuk tetap berdagang dan berkarya untuk Kesultanan Kadriah Pontianak yang beliau Pimpinan sekaligus merupakan puncak Emas Kejayaan Kesultanan Kadriah Pontianak saat itu

Kondisi tubuh yang mulai Sepuh membuat beliau sering sakit - sakitan, Istrinya Ratu Kesumasari binti Raden Tumenggung Widoyoningrat Bin Sultan Hamengkubowono I selalu menemani beliau dan  membantu mencarikan obat secara diam - diam



Panitia Ziarah Agung Dan Haul Akbar Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri ke 225 Tahun 2026 M / 1447 H


Rasa sedak napas yang sudah terasa berat kian hati mengerogoti diri beliau membuat beliau merasakan kesakitan yang amat berat sampai - sampai keringat dingin membasahi  tubuh beliau

Tubuh yang tegar perlahan - lahan mulai loyo orang yang kuat dalam berbagai medan laut sehingga terkenal sebagai Macan Samudra kini mulai memudar di dalam jiwa beliau, orang yang sering di juluki sebagai Pangeran Nur Alam di setiap Persinggahan kini juga mulai memudar, Sebuah Cahaya harapan hidup kini sudah mengerogoti diri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri seorang yang perkasa dalam melawan bajak laut kininjuga mulai memudar di dalam diri beliau

Saking perkasanya sekalas Bajak Laut  Thailand 🇹🇭, Myanmar 🇲🇲 yang terkenal dapat beliau taklukan Sehingga beliau sendiri sempat di Fitnah sebagai Rajanya Bajak Laut karena kemampuan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dalam melawan Bajak Laut, tetapi beliau tidak pernah mengubris segala fitnah yang menimpa dirinya. Rasa iri dan cemburu setiap lawan karena ketidak mampuan melawan Sebuah Kesultanan Yang selalu mengibarkan Bendera Bulan bintang dan Bendera Kerajaan Yang berlogo dua Macan Penjaga Mahkota setiap melintasi Laut dan Samudra membuat bajak laut berpikir seribu kali untuk mendekati 17 Kapal Layar yang membawa milyaran Barang Dagang yang akan di jual

Yang menyebabkan dengan persaingan tersebut membuat lawan menebarkan fitnah tetapi,  akan tetapi setiap bendera perahu layar penebar fitnah tersebut tampak, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri memerintahkan agar Nahkoda Kapal mengejar mereka hingga dapat dan jangan berhenti jika belum dapat, sehingga mereka lari ketakutan di kejar oleh bendera Bulan bintang dan Bendera Dua Singa yang mengapit Mahkota Kesultanan Kadriah Pontianak

Bagaimana tidak setiap lawan bisa ketakutan sebab setiap berada di Darmaga para awak kapal, Pasukan dan pekerja 17 kapal mengatakan bahwa mereka dalam. Mengarungi samudra dengan kekuatan Pasukan Ghaib yaitu kuntilanak yang siap merobek siapa saja jika ingin berhadapan dengan Pasukan Layar berkembang Kesultanan Kadriah Pontianak, yang membuat nyali Para pesaing dan Perompak menjadi ketakutan karenanya padahal itu semua hanya sekedar gertakan Tahayul yang mereka sebarkan di Laut Samudra untuk menjatuhkan nyali lawan



Panitia Ziarah Agung Dan Haul Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri 225 Tahun 2026 M / 1447 H

Setiap kapal Penerbat fitnah yang di kejar bukanlah untuk di rompak melaikan setelah kapal - kapal tersebut di dapat yang terjadi adalah Sultan menawarkan kepada mereka apakah barang yang mereka bawa akan di jual dan kami juga membawa barang yang juga akan di jual, maka para pedaing berkata kami ingin menjual di Pulau ini dengan harga segini apakah tuan Sultan bersedia membayarnya dengan harga yang sudah dibtawarkan, maka Sultan berkata kami akan borong semua barangnya dengan harga yang lebih tinggi naik antara 10 hingga 15 % dari pembeli yang memesan sehingga mereka menjualnya, kemudian Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri menawarkan barang - barang Dagangannya dengan harga yang juga di naikan antara 10 hingga 15 bagi barang yang mereka minati, karena memang barang Dagangan Yang di Bawa oleh Sultan tidak ada pada mereka, sehingga pertukaran jual beli di Laut terjadi

Artinya kedua belah pihak sana - sama di untungkan dan saudagar meneruskan pelayaran menuju pulau yang bersangkutan, Sebab itu banyak anggota - anggota bajak laut yang ingin bertobat lalu mengikuti Sultan baik sebagai pekerja kapal, Pasukan atau Pengawal barang Dagangan

Yang kini sudah mulai pudar kekuatan tersebut seiring tubuh yang mulai layu karena penyakit mabok darat dan laut mengerogoti Tubuh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, sehingga beliau sering mengeluarkan muntah kuning yang membuat tubuhnya menjadi lemah tetapi jiwa juang sebagai seorang Raja tetap tegar di hadapan orang ramai karena berusaha beliau ditutup - tutupi  dengan istri yang sangat beliau cintai Ratu Kesumasri cucunya Sultan Hamengkubuwono I bin Sunan Amangkurat IV untuk menutup wajah pucatnya beliau biasa memakai Sal yang langsung menutupi bagian separoh wajahnya agar tidak kelihatan seperti orang sakit dan berusaha untuk berdiri tegak yang dipaksakan dan itu beliau jalani selama 4 tahun sebagai pendampingnya adalah istri beliau Ratu Kesumasri

Melihat kondisi ayahnya seperti itu Pangeran Bendahara Ahmad meminta ijin untuk menulis kisah piluh ayahnya dengan perjanjian agar tidak di buka dipablik  cukup  hanya  sekedar Catatan Sejarah yang jika Di perlukan bukalah di generasi lain (tidak sekarang) sebagai penyemangat gairah hidup berjuang untuk anak cucu agar Istanah Kesultanan Kadriah Pontianak ini tetap hidup sepanjang sejarah, maka Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Alkadri bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri pun mengangguk dan berjanji untuk tidak membukanya selama ayahnya masih duduk di Kursi Kesultanan Kadriah Pontianak (1805 M / 1220 H) 

 Kapal perahu Sultan yang kesuluruhan di rancang dengan body Sabut sehingga aman dari gempuran sekalipun ombak - ombak tersebut setinggi 30 M maka kapal tersebut di yakini tidak akan tenggelam, mereka cukup melepas layarnya saja dan melepas jangkar agar ketika di hantam ombak kapal - kapal tidak hanya dan tetap bertahan dan  tali jangkar harus sepanjang panjangnya sesuai tekanan ombok sehinga kapal tidak akan terjungkal karena tali yang panjang sehingga cukup terombang - ambing saja di laut atau Samudra ketika cuaca buruk dan exstrim,  sebab itu dari 70 Kapal perang dan Dagang Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri baik sebelum menjadi Sultan hingga beliau menjadi Sultan tidak satupun dari kapal-kapal Layar tersebut ada yang  tengelan atau pecah di hantam ombok karena bodaynya sudah di desain untuk di segala medan dan cuaca serta gelombang exstrim di laut lepas atau samudra



Ilustrasi Kapal Layar Body Sabut yang sebagian badanya dirancang tenggelam tetapi mengikuti deburan ombak sekalipun setinggi 30 Meter kapal tetap aman ketika di hempas Ombak dan kapal tetap aman berlayar, kecuali jika gelombong Exstrim yaitu gelombang Patah - Patah maka layar harus di turunkan dan kapal harus di pasang jangkar  agar mengikuti  gelombang patah - patah tersebut sebab jika tidak di lakukan body kapal bisa patah karena hempaskan gelombang patah - patah tersebut, maka kapal harus dalam posisi diam tidak bergerak dan tali jangkar harus sepanjang - Panjangnya agar kapal tidak nyungsep karena tali yang pendek dan bisa menyebabkan kapal  tenggelam karena tertarik tali jangkar yang pendek

Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang lebih mengambil paras ibunya yang merupakan jalur Ibu merupakan keturunan asli Dayak Sadaniang Kerajaan Mempawah Pertama yang di Nikahi oleh Sultan Muhammad Zainuddin Matan, sehingga wajah tersebut ada imbas wajah Ibunya yang sedikit berparas Dayak dan tidak mengambil wajah ayahnya Sayid Husein Alkadri Bin Ahmad Alkadri Jamalullail yang kini di akhir hayatnya sakit - sakitan karena puluhan  tahun hidup di laut dan Samudra, sejak menikah dengan Putri Mempawah Utin Chendramidi Binti Opu Daeng Manambon (Sayid Syekh Abu Bakar Adeni Qaulan Jazirah) membuat beliau menjadi petualang Laut dan Samudra hal itu beliau lakukan sebab ada alasan kuat yaitu untuk memenuhi Nazar Beliau yang sudah terlanjur di ucapkan untuk memiliki penerus atau keturunan sebanyak 101 anak dan karena Nazar maka wajib di tunaikan

Itulah sebabnya beliau berjuang sekuat tenaga untuk memenuhi Nazar tersebut sehingga dengan istri - istri yang ada mustahil  Nazar tersebut bisa terpenuhi, sehingga beliau harus menikahi banyak Wanita-wanita dan itu satu - satunya jalan dengan berlayar dari pulau - Ke Pulau bahkan Laut dan Samudra beliau lalui dan sebagai penunjang itu semua beliau harus berdagang,  Sehingga Nazar tersebut terpenuhi dan beliu berhasil menjadi saudagar kaya dan  mendirikan Kesultanan Kadriah Pontianak yang dibrintis sejak tahun 1771 M /  1185 H

Karena fisik yang dikuras dari usia 18 tahun  1748 M / 1162 H - 1804 M / 1219 M atau selama  55 tahun berada di Laut dan Samudra dan sangat sedikit waktu beliau berada di daratan termasuk Istanah Kesultanan Kadriah Pontianak, Sehingga di masa tua beliau mengalami ujur yang sangat berat / Stres Fisik Mabuk Laut dan Darat  yang tidak banyak di ketahui keluarga Istanah apalagi Rakyat beliau karena pandainya beliau menutupi itu semuanya,  tujuan itu beliau lakukan tidak lain agar keluarga Istanah tidak bimbang dan Rakyat menjadi was - was karena di saat itu tekanan pihak belanda sangat kuat hanya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri saja yang mampu mengimbangi tekanan dari pihak Belanda tersebut dengan menerima berbagai kerja sama dan sebagainya,  hingga beliau untuk mengurangi tekanan tersebut dengan jalan salah satunya adalah menikahi salah satu anak dari gubernur Rembang yang berada di Belanda tahun 1779 M /  1179 H, yang menyebabkan mundurnya adik kandungnya Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri Bin Sayid Husen Husein Alkadri sebagai Panglima Besar Istanah Kesultanan Kadriah Pontianak dan memilih pindah ke Segeram ke Pulauwan Natuna,  karena tidak mau bekerja sama dengan Belanda yang sering berkhianat dan Ingkar janji



CP. Breast Van Cempen,. Raad Van Nederlandse Indie 1805 M - 1815 M - 1835 M sebagai Sekretaris Residence Batavia Jakarta, yang sangat berpengaruh berusaha mengendalikan Kesultanan Kadriah Pontianak kepada Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri hingga ke Sultan Syarif Kasim Alkadri sampai ke Sultan Syarif Oesman Alkadri dan Raja dan Sultan Nusantara pada tahun-tahun tersebut. 

Maharatu Suri Mahkota Agung Ratu Kesumasari yang merupakan cucu Sultan Hamengkubuwono I dengan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri memiliki 1 Putra dan 3 orang Putri  di antara mereka adalah :

1. Pangeran Mas Ratu Agung Syarif Oesman Alkadri ( Sultan Sultan Oesman Alkadri) 



Sultan Syarif Oesman Alkadri Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri. Ibunda Maharatu Suri Mahkota Agung Ratu Kesumasari Binti Raden Tumenggung Widoyoninggrat Cucu Sultan Hamengkubuwono I bin Sunan Amangkurat IV dari istri Putri Ayu Tejawati

2. Ratu Anom Syarifah Telah Alkadri Binti Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri. Ibunda Ratu Kesumasari cucu Sultan Hamengkubuwono I

3. Ratu Putri Syarifah Aliyah Alkadri Binti Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri. Ibunda Ratu Kesumasari Cucu Sultan Hamengkubuwono I

4. Ratu Muda Syarifah Khodijah Alkadri Binti Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri. Ibunda Ratu Kesumasari cucu Sultan Hamengkubuwono I

Selain Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Yang mengetahui keadaan Sultan saat itu adalah ke 4 anak kandung beliau dari istri Ratu Kesumasari, mereka berempatlah yang merawat secara diam - diam ayahnda Sultan selain ibunda Ratu Kesumasari

Sebab itulah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri tidak pernah lagi melakukan Pelayaran terkecuali orang-orang yang menjadi kepercayaan beliau saja yang berlayar sehingga beliau membuat Distrik-distrik Dagang  kemudian mengirim anak - anak beliau sebagai perwakilan dari Sultan dan itu memang sudah sejak lama beliau bentuk kemudian di tambah lagi mengirim anak - anak beliau dengan maksud mendidik mereka untuk belajar memahami ilmu dagang dan Pelayaran agar bisa mandiri ketika beliau sudah tiada

Pada tahun 1807 M / 1222 H Penyakit Beliau semakin parah sehingga kondisinya hanya terbaring di  tempst tidur sehingga untuk menangani Kesultanan Kadriah Pontianak beliau Meminta anaknya sementara yaitu Pangeran Mas Ratu Agung Syarif Oesman Alkadri dan Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Alkadri untuk mengatur ke Istanah dengan alasan ayahnya berlayar di malam hari

Kondisi yang memprihatinkan tersebut tidak mampu tertahan oleh ketiga anak perempuan beliau yang terus mengurung sedihnya berkepanjangan, ibunda Ratu Kesumasari berusaha menghibur anaknya agar tetap tenang dan tetap merahasiakan ke adaan Ayah-nya , Ahir tahun 1807 M Akhir berita penyakit Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri terkuak karena kehadiran Ratu Mempawah Utin Cendramidi yang meminta Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri agar menjadi wali Nikah salah satu dari cucu beliau dari anak Sultan Syarif Kaseim Alkadri

Melihat kondisi Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri separah itu Ratu Mempawah menjadi murka kepada Ratu Kesumasari Karena mendiamkan sakitnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, untuk meredahkan suasana  Sultan menjelaskan bahwa dirinyalah yang meminta merahasiakan semua itu agar seluruh keluarga tidak bimbang dan Rakyat tidak kwatir, Sehingga dengan kejadian tersebut Istri - istri Sultan yang lain berdatangan di Istanah dan Rakyat ikut bimbang mendengar kondisi Sultan yang sudah lama berada di tempat tidur, karena Sakit

Akhir awal tahun 1808 M / 1229 H di datangkanlah Tabib dari Mantan untuk mengobati Beliau, ketiga anak Sultan yang merawat beliau terus kwatir dan menangis melihat ke adaan ayahnya yang sudah tidak mampu bergerak dan beliau meminta secarik kertas membuat surat Wasiat yang nantinya di tanda tangani oleh Penambahan Mempawah Syarif Kasim Alkadri bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dengan Pangeran Mas Ratu Agung Syarif Ousman Alkadri, agar Sultan Syarif Ousman Alkadri Di nobatkan Senagai Sultan Kadriah Pontianak jika belaui sudah tiada, surat tersebut di tanda tangani ke tiganya dengan Saksi-Saksi Ratu Mempawah dan Ratu Kesumasari, alasan Surat Wasiat tersebut di buat karena tidak mungkin anaknya Sultan Syarif Kasim Alkadri bisa menjadi 2 Penguasa sebab saat ini Sultan Syarif Kasim Alkadri menjabat sebagai Raja Mempawah dengan gelar Penambahan Syarif Kasim Alkadri yang menjabat sejak tahun 1787 M - 1808 M Masih menjadi Raja Mempawah sudah 22 tahun



Ziarah Agung Dan Haul Akbar Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Bin Asyayid Asy-Syarif Husein Alkadri Mufthi Mempawah 

Tepat Hari Jum'at Malam Sabtu Pukul 11 : 57 Waktu Pontianak tanggal 28 Pebruari 180i8 M / 2 Muharram 1229 H di mana sudah mendekati tanggal 3 Muharam 1229 H / 29 Pebruari 1808 M Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Bin Asyayid Asy - Syarif Husein Alkadri Mufthi Mempawah menghembuskan Napas terakhir berpulang ke rahmatullah dalam keadaan Khusnul Khotimah dari wajah yang sudah menderita selama 4 tahun merasakan sakit yang sangat luar biasa seorang Sultan yang bijak sana mampu menahan penderitaan tanpa fi ketahui Sanak Saudara dan Rakyat yang membawa kesedihan yang berkepanjangan, Seorang Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Pendiri Kota Pontianak Dan Sultan Pertama yang dengan Ikhlas mengabdikan dirinya kepada Rakyat tanpa sedikitpun membebankan Rakyat dengan Pajak Istana atau Pajak Kesultanan. Beliau mengelola Kesultanan dengan Penghasilan dari Berdagang dari pulau ke pulau hingga kesamudra yang sangat luas menjadi Saudagar Kaya dan Sultan Terkaya di Jamanya  kini telah tiada berpulang selama - lamanya yang tidak satupun Penganti beliau sebagai Sultan berikutnya mampu mengikuti jejak langkah beliau sebagai Sultan yang tidak memungut Pajak dan upeti kepada Rakyatnya satu - satunya adalah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Bin Asyayid Asy- Syarif Husein Alkadri Mufthi Mempawah

Tangisan pecah dari anak-anak dan Istri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, karena tidak menyangka bahwa selama 4 tahun berada di Istanah menganggap Sultan Baik - baik saja ternyata beliau tidak lagi berlayar karena sakit yang beliau tutup - tutupi selama 4 tahun 1804 M - 1808 M dalam keadaan sakit yang sangat menderita dan payah tetapi tetap tegar ketika di kursi Kesultanan Kadriah Pontianak ketika memberikan titah kepada pengurus Istanah hanya 6 orang saja yang mengetahui kondisi Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang sakit parah yaitu :

1.istri beliau Ratu Kesumasari  cucu Sultan Hamengkubuwono I

2. Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Alkadri (Karena Bendahara Istanah yang mengatur keuangan Istanah serta Pencatat Nasab Keluarga Alkadri Saat itu) ibundanya Nyai Kita binti Abu Bakar Sidik istri ke 5 Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

3. Pangeran Mas Ratu Agung Syarif Oesman Alkadri (Sultan Syarif Oesman Alkadri) 

4. Ratu Anom Syarifah Telah Alkadri adik kandung Pangeran Ratu satu ibunda

5. Ratu Putri Syarifah Aliyah Alkadri adik kandung Pangeran Ratu satu ibunda

6. Ratu Muda Syarifah Khadijah Alkadri adik kandung Pangeran Ratu satu ibunda. Ke  4 mereka ini juga merupakan keturunan bangsawan dari jalur perempuan cicit - cicit dari Sultan Hamengkubuwono I, sehingga sangat di hormati oleh anak-anak dan Istri Sultan yang lainya, mereka memakluminya karena ikut merahasiakan atas titah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sendiri sehingga tidak ada yang perlu untuk di salahkan

Pada Hari Sabtu : 3 Muharam 1229 H / 29 Pebruari 1808 M Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Bin Asyayid Asy-Syarif Husein Alkadri Mufthi Mempawah di kebumikan dengan di antara ribuan Jama'ah dari Istana Kesultanan Kadriah Pontianak sesuai permintaan Al - Marhum beliau di Kebumikan Da Batu Layang dengan menggunakan Kapal Layar dari Istanah sebagai penghormatan terakhir dengan mengerakan 70 Kapal Layar menuju Batu Layang, Sesuai tradisi Islam Istanah sebelum berangkat seluruh keluarga harus melewati Jenazah ketika tandu di angkat, beliau di Sholatkan di Masjid Istanah dengan 3 kali Sholat sebab saat itu Masjid Istanah tidak mampu menampung Jamaah hingga ribuan orang

Saat tiba di batu Layang  memang sudah ada Dermaga, dermaga tersebut di buat untuk keperluan bersandarnya Kapal-kapal Layar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri karena Dermaga Istanah tidak mampu menampung semua Kapal Layar tersebut sehingga di buat Dermaga tambahan yang secara tidak di Sadari bahwa Dermaga tersebut yang sebenarnya sudah di siapkan untuk tempat mengantar Jenazah beliau jika sudah wafat, sebab saat itu jalan akses darat masih dalam bentuk Batu - Batu kasar yang sulit di lewati dengan berjalan kaki (Belum Ada Kendaraan) 

Dalam manuskrip Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Alkadri bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri tahun 1810 M - 1840 M) rangkaian acara sebelum Jasad di masukan Azan di kumandangkan kemudian mayat di masukan dengan bacaan Sholawat, Tahlil dan Tahmid, kemudian ikatan di buka muka mayat di ciumkan ketanah dan wajah menghadap kiblat, Setelah itu perlahan - Lahad papan lahat yang terbuat dari kayu ulin yang telah di ukir kali grafi Arab di susun sebagai dinding Lahat (Tidak mengunakan Peti karena sebelumnya Sultan sudah berwasiat jangan mengikuti tradisi Nasrani, Majusi atau Konghucu) untuk mengubur beliau dengan mengunakan peti, tetapi cukup mengunakan Papan Lahad / Dinding Lahad sesuai Ajaran Syariat Islam yang di contohkan ketika para Sahabat memaqamkan Baginda Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم

Setelah selesai Pemaqaman kemudian Jama'ah pengantar Jenazah semuanya duduk dan sebagai ada yang berdiri untuk membacakan Talain, Tahlilan dan Do'a kubur untuk Mayit Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang di muliakan

Dalam Manuskrip Pangeran Tuan Bujang Syarif Alwi Alkadri Bin Sayid Husein Alkadri Mufthi Mempawah tahun 1809 M, Tuanku Bujang Syarif Alwi Bin Sayid Husein Alkadri Mufthi Mempawah Rangkaian Acara di Malam tanggal 2 / 3 Muharam 1229 H / 28 / 29 Pebruari 1808 M di bacakan Surat Yasin hingga menjelang Azan Subuh dan sebagian anak cucu ada yang tetap membacakan Surat Yasin, Saat pelepasan Jenazah sekitar ba'da Sholat Ashar dari Istanah menuju Kapal Layar pengantar Jenazah sebelum kapal menuju Batu Layang di lepaskan sekali tembakan meriam Istanah untuk Penghormatan terakhir tradisi Istanah, demikian juga ketika Jasad Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri akan di masukan di Liang lahat para pasukan Istanah  memberikan Penghormatan terakhir  dengan menembakan sekali lagi Meriam

Saat itu lokasi maqam masih dalam keadaan hutan berkayu lebat dan tidak ada satupun kuburan maqam di sekitar lokasi dan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang menjadi orang yang pertama menempati Lokasi maqam tersebut sehingga di Namakan Lokasi Maqam Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Bin Asyayid Asy-Syarif Husein Alkadri Mufthi Mempawah "" Batu Layang "

Dalam Manuskrip Pangeran Tuan Bujang Syarif Alwi Alkadri Bin Asyayid Asy-Syarif Husein Alkadri Juga di sebutan para tamu Pembesar yang ikut hadir mengantar Jenazah dan Jiarah karena terlambat hadir  dari Istanah Kadriah Kesultanan Pontianak adalah :



1. Penembahan Syarif Kasim Mempawah anak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sendiri hadir sebelum beliau wafat

2. Penembahan Kerajaan Ngabang Penembahan Gusti Muhammad Aliuddin 1807 - 1833 M

3. Kesultanan Matan Ketapang  Sultan Muhammad Djamaluddin 1790  M - 1829 M

4. Kesultanan Sanggau Penembahan Haji Sulaiman Paku Negara  1785 M - 1812 M

5. Kerajaan Kesultanan  Sintang  Sultan Muhammad Qamaruddin Pangeran Ratu Kesuma Negara 1796 M - 1851 M 

6. Penembahan Kapuas Hulu Kerajaan Selimbau Pangeran Ali Bin Dewa Syah 1808 M - 1813 M (Tiba di Pontianak setelah Magrib sehingga beliau ikut Tahlilan dan esoknya baru Jiarah Ke Maqam Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

7. Penembahan Sekadau Penembahan Kesuma Negara 1808 M - 1830 M

8. Kesultanan Riau Yang Di Pertuan Muda Raja Ja'far Sultan Mahmud Syah III tiba di Pontianak setelah tiga Hari Wafatnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri  1761 M - 1812 M

9. Sultan Brunei Darussalam Sultan Muhammad Kanxul Alam Sultan ke 2q Brunei 1807 M - 1826 M  tiba  tengah malam setelah 3 hari wafatnya Sultan , esoknya 6 Muharam 1229 H beliau berjiarah ke Maqam Sultan

10. Sultan Trengganu  Ahmad bin Sultan Zainal Abidin I Suktan Ahmad Syah II  1801 M - 1809 M

11. Dan perwakilan Sultan - Sultan Lainya yang tidak hadir termasuk perwakilan Kesultanan Sambas, Dan Kedaton Susunan Yogyakarta juga tiba di hari Ketiga,  Perwakilan dari Kesultanan Banjar satu minggu baru bisa hadir di hari yang ke 7 Tahlilan dan Hataman Qur'an

Saudara - saudara kandung Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang hadir :

1. Pangeran Taun Bujang Syarif Alwi Alkadri Bin Sayid Husein Alkadri Mufthi Mempawah hadir dari sebelum Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Wafat



2. Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri  Bin Sayid Husein Alkadri Mufthi Mempawah hadir setelah 3  hari wafatnya Sultan karena berlayar Dari  Segeram Kepulauan Natuna

3. Pangera Syarif Ali Alkadri Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri hadir setelah 3 hari wafatnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri karena berangkat dari Brunei Darussalam

5. Pangeran Syarif Muhammad Alkadri Bin Sayid Husein Alkadri Mufthi Mempawah hadir sebelum wafatnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

6. Dan beberapa adik perempuan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri yang juga hadir sebelum wafatnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri hingga wafatnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Anak - Anak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan Keponakan dari saudara Kandung  dan cucu - cicit yang Hadir adalah :

1. Ratu Alif Utin Aisyah Alkadri Mempawah hadir ketika mendengar beliau sakit hingga wafatnya ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

2. Ratu Putri Syarifah Syafiah Alkadri Mempawah  Hadir saat mendengar ayahnya sakit hingga wafatnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

3. Ratu Anom Syarifah Fatimah Alkadri Mempawah  hadir ketika mendengar ayahnya wafat 

4. Ratu Muda Syarifah Khodijah Alkadri Mempawah  hadir ketika mendengar ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri wafat

5. Rstu Anom Syarifah Salmah Alkadri Banjar hadir setelah 1 minggu wafat ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

6. Rstu Putri Syarifah Humairah Alkadri Sambe Kubu Raya hadir 2 setelah wafat ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

7. Rstu Muda Syarifah Syafiah Alkadri Sambe Kubu Raya hadir 2 setahun wafat ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

8. Ratu Bungsu Syarifah Telah Aljadri hadir setelah 2 hari ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri wafat



9. Panglima Mangku Syarif Abdullah Alkadri Darit hadir saat di kebumikan 



10. Pangeran Cakra Syarif Saleh Alkadri Jakarta  Hadir setelah 5 hari di kebumikan dan beliau langsung Jiarah ke maqam ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri



11. Pangeran Hamid Alkadri Muara Angke Jakarta hadir setelah 1 minggu Wafat dan beliau langsung Jiarah ke Maqam ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri



12. Pangeran Tinggi Al - Akbar Hadikarya Natakesuma Syarif Alwi Al - Akbar Alkadri Solo Dasiknoloyo Jateng hadir setelah 9 hari wafat ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri



13. Pangeran Hadikarya Wijayakusuma Syarif Muhammad Syafruddin Najamuddin Alkadri Martapura hadir setelah 7 hari Wafat ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan langsung berjiarah ke Maqam ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri



14. Pangeran Hadikarya Tuanku Syarif Basaruddin Farug Alkadri Malang hadir setelah 9 hari wafat kakeknya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri,  saat hadir usianya masih sangat muda, poto ini adalah usia beliau di atas 50 tahun

15. Ratu Putri Syarifah Syafiah Alkadri Sanggau hadir setelah 5 hari wafat ayahnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

16. Rstu Putri Syarifah Haimunah Alkadri Tanjung Priok Kakak kandung Pangeran Syarif Hamid Alkadri Muara Angke 7 hari baru hadir dan langsung Ziarah ke Maqam ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

17. Ratu Anom Syarifah Ruqaiyah Alkadri Sekadau 5 hari baru hadir dan langsung Ziarah ke Maqam ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri,  kakak kandung Panglima Laksamana II Syarif Abu Bakar Aljadri Tibet

18. Tuanku Jaksa II Syarif Ali Alkadri Sambe, saat ayahnya wafat berada di Jakarta maka setelah 7 hari baru hadir dan langsung Ziarah ke Maqam Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

19. Ratu Cakra Syarifah Aminah Alkadri adik kandung Tuanku Jaksa II Sambe hadir setelah 5 hari wafat ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

20. Ratu Putri Syarifah Mastura Alkadri adik kandung Tuanku Jaksa II Syarif Ali Alkadri hadir 5 hari setelah wafat ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan Langsung ziarah ke Maqam ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

21. Ratu Putri Syarifah Zainab Alkadri Matan Ketapang hadir setelah 5 wafat ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan langsung ziarah ke Maqam ayahnya

22. Ratu Mudah Syarifah Badriah Alkadri hadir 5 hari setelah wafat ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan langsung ziarah ke Maqam ayahnya

23. Ratu Anom Syarifah Aluyah Alnadri Sumenep hadir setelah 15 hari wafat ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan langsung ziarah ke Maqam ayahnya

24. Rstu Putri Cakra Syarifah Maimunah Alkadri adik kandung Syarifah Aluyah Alkadri hadir setelah 15 hari wafat ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan langsung ziarah ke Maqam ayahnya

25. Ratu Anom Syarifah Nurminah Alnadri Trengganu Malaysia🇲🇾 Kakak Kandung Pangeran Cakra Syarif Ahmad Alkadri Trengganu Malaysia 🇲🇾 hadir 15 hari setelah wafat ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

26. Ratu Putri Cakra Syarifah Syechah Alkadri adik kandung Ratu Anom Syarifah Nurminah Alkadri Trengganu Malaysia🇲🇾 hadir 15 hari setelah wafat ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan langsung ziarah ke Maqam ayahnya

27. Panglima Laksamana II Syarif Abu Bakar Alkadri  Tibet Tiongkok  Cina 🇨🇳 hadir setelah 6 bulan setelah wafat ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan langsung ziarah ke Maqam ayahnya

28. Ratu Putri Sri Negara Syarifah Maimunah Alkadri Sambe hadir 5 setelah wafat ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan langsung ziarah ke Maqam ayahnya

29. Ratu Putri Perdana Agung Syarifah Aisyah Alkadri Martapura Kalsel Kakak Langsung Pangeran Syarif Kacil Syarif Alwi Alkadri Pangeran Kachil Syarif Alwi Alkadri wafat umur 17 tahun dan tidak memiliki keturunan) hadir 15 hari setelah wafat ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan langsung ziarah ke Maqam ayahnya

30. Ratu Muda Syarifah Putri Candra Alkadri Pandaigelang Banten hadir 9 hari setelah wafat ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan langsung ziarah ke Maqam ayahnya Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri



31. Panglima Hitam Paku Alam Syarif Ibrahim Alkadri Segeram Natuna hadir 3 setelah wafat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri beliau hadir bersama ayahnya, saat itu masih mudah dan poto di atas usia di atas 60 tahun



32. Raden Pangeran  Adijaya Negara Syarif Syirajuddinsyah Alkadri Segeram Natuna hadir 3 setelah wafatnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri, beliau hadir bersama ayahnya Panglima Paku Alam Syarif Ibrahim Alkadri dan Kakeknya Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar Alkadri Bin Asyayid Asy-Syarif Husein Alkadri Mufthi Mempawah, saat hsdir usianya baru 18 tahun. Poto fi atas usia 48 tahun

Anak - anak Kandung laki - laki Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri saat itu banyak yang tidak hadir karena sebelum ayahnya wafat telah berwasiat untuk tidak meninggalkan tempat, untuk menjaga Distrik Dagang yang tidak bisa di tinggalkan sehingga mereka hanya mengirim utusan Saudara Perempuan - perempuan mereka serta pesan dan salam melalui saudara - saudara perempuan tersebut selain itu juga sulitnya tranfortasi laut (Transfoftasi darat dan udara belum ada saat itu) ,  demikian juga dengan anak-anak dari Saudara Kandung Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Harus merujuk ke Maktab NanGq 1857 Pusat Kesultanan Kadriah Pontianak agar Nasab tidak Keliru dan tumpang tindih sehingga menjadi Bathil

Ketenangan : Anak-anak Putri / Perempuan Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri  dan   laki-laki / Putranya keturunan terdata dengan sempurna mengklaim sebagai keturunan mereka Wajib merujuk Ke Maktab NanGq 1857 Pusat Kesultanan Kadriah Pontianak, agar tidak salah jalur menyebabkan Nasab menjadi Keliru / Bathil sebab hampir seluruh anak perempuan tersebut menikah sesama Marga Alkadri (Menikah Sekufu) dan hanya 5 anak perempuan saja yang menikah dengan marga lain) 

Manuskrip Pangeran Tuanku Bujang Syarif Alwi Alkadri (Beliau Tidak Menikah dan Tidak memiliki Keturunan sehingga di panggil Tuanku Bujang) Bin Asyayid Asy-Syarif Husein Alkadri Mufti Mempawah, Manuskrip tahun  1812 M / 1233 H

Istri - istri Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri  Yang Hadir Saat Beliau Wafat :

1. Maharatu Suri Mahkota Agung Ratu Kesumasari binti Raden Temenggung Widiyoninggrat Cucu Sultan Hamengkubuwono I bin Sunan Amangkurat IV dari Istri Putri Ayu Tenawati menetap di Istanah yang Merawat selama 4  saat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sakit hingga wafat

2. Ratu Mempawah Utin Chandramidi binti Opu Daeng Manambon saat datang meminta Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri untuk menjadi wali Nikah / saksi Nikah cucunya dari Sultan Syarif Kasem Alkadri, beliau pulang lagi ke Mempawah untuk mengurus pernikahan cucunya dan datang lagi setelah acara pernikahan fi Istanah Amantubilah Mempawah selesai hingga wafatnya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

3. Ratu Parabu Khodijah Binti Abdullah Alkadri (Menikah Sekufu) Banten (Putri Banten hadir 1 minggu saat mendengar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sakit 

4. Ratu Anom Ratu Mulia binti Abdullah Tatang (Mualaf Dayak Sambe) Sambe hadir 1 bulan sebelum wafat dan ikut membantu mereka Sri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri selama 1 bulan hingga wafatnya

5. Ratu Nyai Kita binti Abu Bakar Shodiq Alkadri (Menikah Sekufu) Sambe  hadir 1 bukan sebelum Sultan Abdurrahman Alkadri Wafat dan ikut membantu merawat bersama istri yang lain hingga wafatnya

6. Ratu Nyai Khalijah binti Umar Alkadri (Menikah Sekufu) Sanggau hadir w minggu saat mendengar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sakit dan ikut merawat selama 2 minggu bersama idtri Yang lain hingga wafatnya

7. Ratu Nyai Musi binti Husein Saggaf Batavia Jakartaa hadir 1 Minggu saat mendengar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Sakit dan ikut merawat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri bersama istri yang lain selama 1 minggu hingga wafatnya

8. Ratu Nyai Halimah binti Usman Yusuf Sekadau hadir 3 minggu saat mendengar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sakit dan ikut merawat selama 3 minggu bersama istri yang lain hingga wafatnya

9. Ratu Nyai Mangni binti Al - Umanah Alkadri  (menikah Sekufu) Hulu Sambe hadir 1 bukan sa'at mendengar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sakit dan ikut merawat selama 1 bulan bersama istri yang lain hingga wafatnya

10.  Ratu Nyai Utin Srikandi binti Umar Jamalullail pajak pembesar Kesultanan Sanggau hadir 1 bulan saat mendengar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sakit dan ikut merawat selama 1 bulan hingga wafatnya

11. Ratu Nyai Khidibah binti Abdullah Husein Alkadri (Menikah Sekufu) Matan Ketapang hadir 3 minggu sebelum wafat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan ikut merawat bersama istri yang lain selama 3 Minggu hingga wafatnya

12. Ratu Nyai Jaliah binti Abdullah Ali Al-Idrus Sumenep hadir 1 minggu sebelum wafat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan sempat merawat 1 minggu bersama istri yang lain hingga wafatnya

13. Ratu Nyai Syi'ah bin Ali Al-Magrawi Putu Sibau Kapuas Hulu  hadir saat di Maqamkan karena baru tau 3 hari sebelum wafat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

14. Ratu Nyai Ratnah Binti Abdullah Salim Al - Fatani Singgepor hadir 6 hari setelah di Maqamkan sehingga tidak dapat kesempatan merawat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan langsung Ziarah ke Maqam beliau

15. Nyai Djamaliah binti Abdurrahman Mirbhat Adeni Qaulan Zajirah Cucu dari Upu Daeng Celak Dayid Syekh Ali Adeni Qaulan Zajirah hadir 5 hari setelah wafat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri sehingga tidak ber kesempatan merawat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

16. Ratu Nyai Nirum binti Abdurrahman Alkadri (Menikah Sekufu) Matan Ketapang pangkat cucu hadir 2 minggu sebelum wafat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan ikut merawat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri selama 2 minggu hingga wafatnya

17. Ratu Nyai Luyah binti Husein Alkadri (menikah Sekufu pangkat cucu) ibunya Etnis Cina 🇨🇳 Mualaf Singkawang hadir 1 bukan sebelum wafat dan sempat merawat 1 bulan bersama istri yang lain hingga wafatnya

18. 

Semua anak - anak dari istri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri terdata dengan sempurna termasuk keturunannya, klaim terhadap salah satu dari keturunan Istri - istri Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri wajib merujuk ke Maktab NanGq 1857 Pusat Kesultanan Kadriah Pontianak, agar tidak tertukar yang menyebabkan Nasab Rusak karena Genetik Ibu kandung  yang  tertukar,  Nasab bisa menjadi lemah bahkan bisa saja terputus karena status ibu kandung yang tidak jelas (Fiktif di sebabkan tertukar) 


MAKTAB NANGQ 1857 

Kantor Pemeliharaan Dan Statistics Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Alkadri Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Kesultanan Kadriah Pontianak

Pontianak, Rabu 10 Juni 2026 M / 24 Dzulhijjah 1447 H,. 11 : 03 WIB








Setting Louyat Dan Hak Cipta Ada Pada :
MAKTAB NANGQ 1857
Di Lindungi Undang - Undang
Waktu Masuk Blog Maktab : 11 : 03 WIB




Postingan populer dari blog ini

MANAQIB PANGERAN LAKSAMANA TUANKU JAKSA II SYARIF ALI MUHAMMAD ALKADRI. MAKTAB NANGQ 1857 PANGERAN BENDAHARA TUA SYARIF JAFAR BIN SULTAN SYARIF HAMID I ALKADRI KESULTANAN KADRIAH PONTIANAK.., JALAN SELIUNG

BLOG I SAYID HUSEIN DAN KETURUNANYA.. MAKTAB NANGQ 1857 Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri Kesultanan Kadriah Pontianak. Kantor Pusat Jalan Seliung 78353

PENGURUS MAKTAB NANGQ 1857 PUSAT - WILAYAH - KAB/KOTA - LUAR NEGERI